Assalamu'alaikum warahmarullahi wabarakatuh. "............minusnya angkatan kerja di nagari-nagari karena budaya merantau telah menyebabkan timbulnya 'brain drain' dari nagari2 ke kota-kota........", nampaknya memang dilema dan fenomenal. Kalimat tersebut di atas kalau ditulis dalam bentuk bangunan kalimat yang lain misalnya "...........di tengah tinggginya kebutuhan angkatan kerja terdidik di nagari-nagari terjadi perpindahan (migrasi) orang-orang terpelajar ke kota (rantau).........."., maka timbul pertanyaan betulkah atau benarkah hal yang demikian terjadi karena semata-mata budaya merantau yang tinggi dari anak nagari dan atau tidakkah ada faktor atau varian lain yang sebenarnya mendorong dan memicu angkatan kerja terdidik untuk bermigrasi dari desa ke kota (rantau). Dan sejauh mana degradasi sosio-kultural yang melanda semua aspek dan tataran kehidupan di nagari-nagari selama ini yang menyebabkan orang-orang terpelajar agak enggan tinggal di desa. Tidakkah angkatan kerja terdidik dan terpelajar itu bermigrasi ke kota (rantau) karena mengharap sesuatu dan menghindar dari sesuatu?
Akan halnya tenaga tukang yang berasal dari pulau Jawa yang mendapat apresiasif dari urang awak untuk ini ambo punya cerita yang mungkin ada korelasinya. Suatu waktu saya naik bus be AC dari Bukit Tingga ke Jakarta. Secara berkebetulan di sebelah saya duduk penumpang lain seorang laki-laki. Usianya sekitar 35-an tahun. Pakaiannya bersih dan rapi, tapi hanya saja wajahnya nampak agak keras dan kasar. Kami mengobrol dan ketika berkenalan (bersalaman) kulit telapak tangannya ternyata juga terasa keras dan kasar. Dalam ngobrol-ngobrol itu kami mengenalnya, dia adalah seorang petani sayur-mayur seperti kentang, kol, tomat, bawang dll. Berasal dari Jawa Tengah dan merantau ke Bukit Tinggi, bertani dengan menggarap lahan terlantar (mungkin disewa dengan harga yang murah) Dalam suatu percakakapan antara lain dia berkata; "Saya heran dengan orang-orang disini. Tanahnya subur dan gembur, apa saja ditanam tumbuh dengan baik, tapi seharian mereka lebih senang duduk-duduk dan mengobrol di lapau....", ihhh.........." katanya. "Apa tidak rugi itu, kok begitu katanya lagi.......". "Nampaknya mereka malas bekerja", katanya menambahkan. Dari kutipan pembicaraan perantau Jawa tersebut, terdengar kata malas yang derivatnya adalah, malas-malasan ~ pemalas dan seterusnya. Pertanyaannya adalah apakah "pemalas" itu memang merupakan stereotip atau karakter dari sebagian urang awak, seperti disebut oleh petani J tersebut. Kalau iya, bagaimana cara merubahnya dan berapa lama rentang waktu yang diperlukan untuk perubahan tersebut.......? Terima Kasih. Oh ya pak Suryadi. Tulisannya sudah saya baca, sangat bagus dan sangat konfrehensif, mencerminkan keluasan pengetahuan dan wawasan penulisnya. Saya sangat tertarik, sekaligus saya mohon izin untuk mengopi-paste tulisan tersebut untuk di-file-kan. Terima Kasih. Wassalam, Ambiar Lani Jakarta-Bekasi ________________________________ From: Lies Suryadi <[email protected]> To: "[email protected]" <[email protected]> Cc: "[email protected]" <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; farhan muin <[email protected]>; asril tanjung <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; ermansyah jamin <[email protected]>; ambiar lani <[email protected]> Sent: Tuesday, January 10, 2012 6:59 AM Subject: Bls: [R@ntau-Net] CTATAN Untuk Pak Mochtar Naim; Membangun Sumbar dengan Membangun Nagari. Assalamualaikum ww.wb., Komentar Pak Ambiar terhadap artikel Bapak Mochtar Naim merefeksikan perubahan dramatis kehidupan ber-nagari di Minangkabau. Menurut Ambo, artikel Pak Mochtar (yang Ambo baco lewat e-paper Haluan online) juo kurang membahas masalah minusnya angkatan kerja di nagari-nagari karena budaya merantau telah menyebabkan timbulnya 'brain drain' dari nagari2 ke kota-kota (baca: rantau). Bagaimana mengatasi kekurangan tenaga kerja potensial ini dalam upaya memaksimalkan pembangunan nagari? Atau kita mendatangkan tenaga kerja dari luar. Sebenarnya fenomena 'serbuan' tenaga kerja dari luar ini sudah kelihatan sekarang. Misalnya, di nagari2 sekarang banyak ditemukan tenaga2 tukang orang Jawa dan Sunda. Mereka mengisi kekurangan tenaga2 tukang orang Minangkabau sendiri. Dan mereka sangat kompetitif: rajin bekerja dan mau digaji lebih murah. Dalam temubual dengan orang2 di kampung, Ambo mendapat kesan bahwa masyarakt kita apresiasif sekali kepada tukang2 dari Jawa dan Sunda ini. "Tukang2 urang awak ko banyak marokok daripado karajo. Banyak wakatu abih dek maota sajo. Nyo lakek'an seng salai, tu lah baranti lo dulu marokok. Kalau tukang2 Jawa tu rajin bakarajo, indak rugi awak maupah doh", begitu kata mereka. Masih sehubungan dengan masalah nagari di Minangkabau, kemaren saya coba pula menggerak2kan pena untuk mendiskusikan fenomena pemekaran nagari yang kelihatannya makin jadi tren sekarang. Artikel itu muncul di Haluan edisi Senin 9 Januari 2012. Saya positngkan link-nya di sini. Mudah2an bermanfaat pula bagi Dunsanak di palanta. Saya sangat senang jika mendapat komentar2 yang berharga dari Mamak2, Kakak2, serta Adidunsanak di lapau ini. http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=11687:tentang-pemekaran-nagari-&catid=11:opini&Itemid=83 Wassalam, Suryadi (46 thn) Dari: Ambiar Lani <[email protected]> Kepada: rantau net <[email protected]> Cc: "[email protected]" <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; farhan muin <[email protected]>; asril tanjung <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; ermansyah jamin <[email protected]>; ambiar lani <[email protected]> Dikirim: Senin, 9 Januari 2012 8:38 Judul: [R@ntau-Net] CTATAN Untuk Pak Mochtar Naim; Membangun Sumbar dengan Membangun Nagari. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Rantau Net beserta dengan para pengunjungnya yang kami hormati. Sehubungan dengan tulisan Pak Mochtar Naim dengan judul "Membangun Sumbar dengan Membangun Nagari" yang ditayangkan oleh Rantau Net tanggal 02 Januari 2012 yang lalu, kami juga terpanggil untuk menanggapinya. Sehubungan tanggapan kami tersebut agak panjang, maka dengan ini kami kirimkan kepada Rantau Net dalam bentuk attachment atau lampiran. Kami mengharapkan kiranya Rantau Net berkenan untuk memuatnya sehingga dapat menjadi pembanding bagi para pengunjung yang lainnya. Terima Kasih. Wassalam, Ambiar Lani L/59/Jakarta-Bekasi. -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
