Assalamulaikum ww.
Bapak2, Mamak2, Bundo2 dan dunsanak di Palanta nan Ambo hormati.
Pertama-tama Ambo mohon maaf karena apo nan Ambo tulis tidak ada hubungan 
dengan ber Minang-Minang.
Hanya menyalur hobby menulis mengisi waktu libur.
Tulisan ini Ambo posting juga di Kompasiana.

Kompas VS Jawa Pos

OPINI | 22 January 2012 | 06:17317 14  1 dari 1 Kompasianer menilai aktual
Saking hendak menunjukan perbedaan dan tidak mau mengekor, bos Jawa Pos 
mewanti-wanti wartawannya agar jangan menulis seperti bahasa Kompas. Jangan 
ikuti penyakit Kompas, begitu katanya saat mendidik Wartawan Muda.
Bicara Koran alias Surat Kabar, tentunya tak bisa kita lupakan dua penguasa 
Media,   Kompas dan Jawa Pos. Kompas bermula dan menguasai Nasional dari 
Jakarta atau Pusat, sedangkan Jawa Pos bermula dari daerah (Surabaya) untuk 
menguasai Nasional.

Menulis tentang Kompas di Kompasiana ini tak ubahnya saya seperti mengajari 
orang tua makan bubur. Maklum, Kompas yang terbit sejak tahun 1965 dengan oplah 
mencapai 500.000 eksemplar setiap hari, sudah dikenal oleh tiga generasi, dari 
Kakek sampai ke cucu. Saat ini, Kompas  tidak saja berhubungan dengan media 
cetak dan elektronik (Koran, Buku, Majalah, TV), mulai dari cetak mencetak 
sampai kepada memasarkan sendiri di Toko Gramedia. Tapi, juga menyediakan 
kebutuhan lainnya diluar Media seperti jaringan Hotel.

Sebaliknya Jawa Pos, Surat Kabar dengan oplah terbesar dari Surabaya membuntuti 
sepak terjang Kompas, berkembang sangat luar biasa, menaungi lebih dari 151 
surat kabar daerah dan Nasional yang beredar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, 
Sulawesi, Papua, Maluku, Bali, hampir seluruh Ibu kota Propinsi.
Perkembangan Jawa Pos yang hampir gulung tikar dengan Oplah 6.000 eksemplar, 
tak bisa dilepaskan dari kepemimpinan tangan dingin Dahlan Iskan. Dahlan Iskan 
mulai mengambil alih Jawa Pos pada tahun 2.000 dari tangan bos Tempo Eric FH 
Samola.

Disamping surat kabar, sama dan sebangun dengan Grup Kompas, Jawa Pos juga 
menerbitkan belasan Tabloid, majalah dan Televisi. Tidak itu saja, Jawa Pos 
Grup terjun ke bisnis baru diluar Media yaitu mendirikan Power Plant di Gresik 
dan Kaltim.

Kedua Grup besar Media ini, bersaing dan bertempur dengan cara berbeda. Berbeda 
segment pembaca, berbeda gaya bahasa. Perbedaan ini harus dilakukan Jawa Pos, 
karena disadari oleh Bosnya bahwa akan sulit melawan Kompas yang sudah lebih 
dahulu eksis.

Kompas bertutur dengan bahasa yang santun, lay out yang sederhana, judul yang 
tidak bombastis dan mengkritik dengan cara yang manis, membuat yang dikritik 
tidak merah kupingnya. Kalaupun ada kritikan yang menyengat, itu bukan 
dilakukan oleh Kompas, tapi dilakukan oleh Mang Usil dari sudut sempit. 
Sebaliknya Jawa Pos memilih jurnalistik bertutur.

Saking hendak menunjukan perbedaan dan tidak mau mengekor, bos Jawa Pos 
mewanti-wanti wartawannya agar jangan menulis seperti bahasa Kompas. Jangan 
ikuti penyakit Kompas, begitu katanya saat mendidik Wartawan Muda.

Perseteruan kedua Media yang menguasai pasar ini, ditunggu-tunggu oleh Media 
lainnya agar salah satu menjadi keok (kalah atau menang)  agar bisa mengambil 
manfaatnya. Namun apa yang terjadi ?. Kedua Grup ini terus tumbuh dalam suasana 
persaingan yang sehat dengan cara yang berbeda. Dan ternyata, bos besar Kompas 
dan Jawa Pos sama-sama saling mengagumi.

Perbedaan apa lagi yang bisa kita saksikan ?. Bos Kompas tetap konsisten dan 
focus dijalurnya, mengurus Surat Kabar dengan semboyan AMAT HATI NURANI RAKYAT, 
sementara Bos Jawa Pos terjun ke dunia nyata, menjadi pemain untuk mempraktekan 
apa yang ditulis selama ini. Doeloe jadi pengamat, sekarang jadi pelaku.
Akankah insan Kompas mengikuti Jawa Pos, berpartisipasi secara langsung untuk 
kemasalahatan Rakyat ?.
Sangat menarik bila bisa terealisir………..

Tulisan ini terinspirasi alias menyontek 
http://dahlaniskan.wordpress.com/2011/10/03/hidup-bahagia-jakob-oetama/

Salam
Reflus/L 54 tahun.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke