Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Mohon maaf jika kurang berkenan.
Wassalaam.

-----
http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/bercanda-ada-batasnya.html

June 5, 2008

Bercanda Ada Batasnya
Penulis: Ummu ‘Aisyah

Saudariku muslimah, berbeda dengan sabar yang tidak ada batasnya, maka
bercanda ada batasnya. Tidak bisa dipungkiri, di saat-saat tertentu kita
memang membutuhkan suasana rileks dan santai untuk mengendorkan urat
syaraf, menghilangkan rasa pegal dan capek sehabis bekerja. Diharapkan
setelah itu badan kembali segar, mental stabil, semangat bekerja tumbuh
kembali, sehingga produktifitas semakin meningkat. Hal ini tidak dilarang
selama tidak berlebihan.

*Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun Bercanda*

Beliau *shallallahu ‘alaihi wa sallam* sering mengajak istri dan para
sahabatnya bercanda dan bersenda gurau untuk mengambil hati serta membuat
mereka gembira. Namun canda beliau tidak berlebihan, tetap ada batasnya.
Bila tertawa, beliau tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. Begitu
pula dalam bercanda, beliau tidak berkata kecuali yang benar. Sebagaimana
yang diriwayatkan dalam beberapa hadits yang menceritakan seputar
bercandanya Rasulullah *shallallahu ‘alaihi wa sallam*. Seperti hadits dari
‘Aisyah *radhiyallahu ‘anha*, *“Aku belum pernah melihat Rasullullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan
amandelnya, namun beliau hanya tersenyum.”* (HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah *radhiyallahu ‘anhu* pun menceritakan, para sahabat bertanya
kepada Rasulullah *shallallahu ‘alaihi wa sallam*, *“Wahai, Rasullullah!
Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?”* Maka Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya, *“Betul, hanya saja
aku selalu berkata benar.”* (HR. Imam Ahmad. Sanadnya Shahih)

Adapun contoh bercandanya Rasulullah *shallallahu ‘alaihi wa sallam* adalah
ketika beliau *shallallahu ‘alaihi wa sallam* bercanda dengan salah satu
dari kedua cucunya yaitu Al-Hasan bin Ali *radhiyallahu ‘anhu*. Abu
Hurairah *radhiyallahu ‘anhu* menceritakan, *“Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan Al-Hasan bin
Ali radhiyallahu ‘anhu. Ia pun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera
menghambur menuju beliau dengan riang gembira.”* (Lihat *Silsilah Ahadits
Shahihah*, no hadits 70)

*Adab Bercanda Sesuai Syariat*

Poin di atas cukup mewakili arti bercanda yang dibolehkan dalam syariat.
Selain itu, hal penting yang harus kita perhatikan dalam bercanda adalah:

1. Meluruskan tujuan yaitu bercanda untuk menghilangkan kepenatan, rasa
bosan dan lesu, serta menyegarkan suasana dengan canda yang dibolehkan.
Sehingga kita bisa memperoleh semangat baru dalam melakukan hal-hal yang
bermanfaat.

2. Jangan melewati batas. Sebagian orang sering berlebihan dalam bercanda
hingga melanggar norma-norma. Terlalu banyak bercanda akan menjatuhkan
wibawa seseorang.

3. Jangan bercanda dengan orang yang tidak suka bercanda. Terkadang ada
orang yang bercanda dengan seseorang yang tidak suka bercanda, atau tidak
suka dengan canda orang tersebut. Hal itu akan menimbulkan akibat buruk.
Oleh karena itu, lihatlah dengan siapa kita hendak bercanda.

4. Jangan bercanda dalam perkara-perkara yang serius. Seperti dalam majelis
penguasa, majelis ilmu, majelis hakim (pengadilan-ed), ketika memberikan
persaksian dan lain sebagainya.

5. Hindari perkara yang dilarang Allah Azza Wa Jalla saat bercanda.

- Menakut-nakuti seorang muslim dalam bercanda. Rasullullah *shallallahu’alaihi
wa sallam* bersabda, *“Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang
milik saudaranya, baik bercanda maupun bersungguh-sungguh.”* (HR. Abu Dawud
dan Tirmidzi)

Rasullullah *shallallahu’alaihi wa sallam* juga bersabda: *“Tidak halal
bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti muslim yang lain.”* (HR. Abu Dawud)

- Berdusta saat bercanda. Rasullullah *shallallahu ‘alaihi wa sallam*bersabda,
*“Aku menjamin dengan sebuah istana di bagian tepi surga bagi orang yang
meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di
bagian tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meski ia sedang
bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seseorang yang memperbaiki
akhlaknya.”* (HR. Abu Dawud). Rasullullah pun telah memberi ancaman
terhadap orang yang berdusta untuk membuat orang lain tertawa dengan sabda
beliau *shallallahu ‘alaihi wa sallam*, *“Celakalah seseorang yang
berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celakalah ia, celakalah
ia.”*(HR. Imam Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)

- Melecehkan sekelompok orang tertentu. Misalnya bercanda dengan melecehkan
penduduk daerah tertentu, atau profesi tertentu, bahasa tertentu dan lain
sebagainya, yang perbuatan ini sangat dilarang.

- Canda yang berisi tuduhan dan fitnah terhadap orang lain. Sebagian orang
bercanda dengan temannya lalu mencela, memfitnahnya, atau menyifatinya
dengan perbuatan yang keji untuk membuat orang lain tertawa.

6. Hindari bercanda dengan aksi atau kata-kata yang buruk. Allah telah
berfirman, yang artinya, *“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah
mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan
itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah
musuh yang nyata bagi kalian.”* (QS. Al-Isra’: 53)

7. Tidak banyak tertawa. Nabi *shallallahu ‘alaihi wa sallam* telah
mengingatkan agar tidak banyak tertawa, *“Janganlah kalian banyak tertawa.
Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.”* (HR. Ibnu Majah)

8. Bercanda dengan orang-orang yang membutuhkannya.

9. Jangan melecehkan syiar-syiar agama dalam bercanda. Umpamanya celotehan
dan guyonan para pelawak yang mempermainkan simbol-simbol agama, ayat-ayat
Al-Qur’an dan syair-syiarnya, *wal iyadzubillah!* Sungguh perbuatan itu
bisa menjatuhkan pelakunya dalam kemunafikan dan kekufuran.

Demikianlah mengenai batasan-batasan dalam bercanda yang diperbolehkan
dalam syariat. Semoga setiap kata, perbuatan, tingkah laku dan akhlak kita
mendapatkan ridlo dari Allah, pun dalam masalah bercanda. Kita senantiasa
memohon taufik dari Allah agar termasuk ke dalam golongan orang-orang yang
wajahnya tidak dipalingkan saat di kubur nanti karena mengikuti sunnah
Nabi-Nya. *Wallahul musta’an.*

***

Diringkas dari: majalah *As-Sunnah* edisi 09/tahun XI/ 1428 H/2007 M.
Artikel www.muslimah.or.id

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke