Sat Feb 9, 2002 3:21 pm

Sejak Tahun 1984 sampai akhir Januari 2002 yang lalu karena pekerjaan, saya
banyak bepergian ke sejumlah kota provinsi, kabupaten dan kecamatan, tetapi
belum ke Padang dan kota-kota lainnya di provinsi Sumatra Barat. Di Pulau
Sumatera saja misalnya, saya sudah pernah mengunjungi kota-kota Banda Aceh,
Lhokseumawe, Pekanbaru, Jambi, Palembang dan Bandar Lampung, tetapi---ya
itu---Padang dan kota-kota lainnya di Sumbar dilewati saja.

Dan awal pekan yang lalu bersama dua orang rekan sekerja saya bertugas ke
Sumbar---terakhir saya kunjungi tahun 1995 untuk urusan
keluarga---mengelilingi "poros" Padang, Pariaman, Lubukbasung, Maninjau,
Bukittinggi (di kota yang sangat asri ini kami menginap semalam) dan kota
kelahiran saya Padangpanjang lalu kembali ke Padang.

Tetapi ini bukan cerita nostalgia. Ini berkenaan karena minat---dan
pekerjaan saya yang berhubungan dengan desentralisasi dan otonomi daerah
(desotda). Seperti apa perkembangan Sumbar setelah satu tahun
diberlakukannya UU 22 dan 25/99? Seperti apa Sumbar, yang dikatakan sebagai
provinsi yang paling siap dalam pelaksanaan desotda, Padahal Sumbar bukan
daerah yang kaya SDA. Padahal dalam banyak hal Sumbar tidak banyak berbeda
dengan provinsi lain, seperti Golkar yang "berhasil" menyauk suara 94% dalam
Pemilu Tahun 1997 atau cerita adanya busung lapar di beberapa tempat, serta
cerita KKN yang tidak kalah "seru" dibandingkan dengan provinsi lain.

Memang pada pada suatu sisi Sumbar dikenal sebagai daerah---meminjam Prof
Emil Salim---kawasan "industri otak". Memang masyarakat Minang dikenal
sebagai masyarakat yang egaliter, demokratis, partisipatif dan Islamis (adat
bersandi syarak, syarak bersandi kitabulah). Memang masyarakat Minang
dikenal mempunyai pranata sosial yang kuat dalam bentuk lembaga nagari

Tetapi itu dulu!

Lalu apakah semuanya itu dapat dikembalikan---termasuk memfungsikan lembaga
nagari yang Perdanya sudah ada---dengan adanya desotda dalam sekejap seperti
membalik telapak tangan?

Kalau membaca koran, dengan dibangunnya kembali lembaga nagari, beberapa
kemajuan memang sudah dicapai, tetapi cerita miring juga tidak kurang
(termasuk dari yang saya baca di koran-koran lokal selama empat hari saya
berada di sana)

Dan saya tidak perlu menunggu lama. Baru keluar dari Bandara Tabing, saya
langsung "ditodong" oleh seorang pengemis, suatu hal yang belum pernah yang
saya alami di bandara-bandara lain di Indonesia, termasuk di Bandara A. Yani
di Semarang yang dalam empat bulan terakhir ini sering saya kunjungi.

Tetapi kesan tidak enak tersebut mulai berubah setelah saya dkk ke luar kota
Padang keesokannya dalam perjalanan ke Pariaman dan kota-kota tujuan
lainnya. Hujan lebat yang sudah hampir dua pekan tidak turun, memungkinkan
kami menikmati alam Sumbar yang indah, bersih dan tidak mencitrakan sebuah
kawasan yang berkurangan secara ekonomi. 

Rekan saya, yang termuda, sebut saja Anto---seorang sarjana ternik
lingkungan dan pengusaha realestat yang cerdas---yang beristerikan seorang
perempuan Minang dan sering mengunjungi Sumbar, adalah yang paling ceria,
dan sangat bangga akan Sumbar, lebih daripada saya. "Alam Sumbar tidak kalah
cantiknya dari Bali" ujarnya berkali-kali, suatu hal yang sulit dibantah
(saya terakhir mengunjungi Bali bulan Agustus tahun lalu), lebih-lebih
ketika kami meliwati kelok empat-puluh empat yang terkenal itu di mana danau
Maninjau menghampar di bawahnya. "Spetakuler", seru Anto berkali-kali.
Tetapi Sumbar tidak hanya punya danau Maninjau. Masih ada ngarai Sianok,
danau Singkarak, danau kembar Diatas dan Dibawah dan lain-lain, hutan yang
masih asri dan lestari. Sumbar juga punya prasarana jalan raya yang relatif
cukup dengan kualitas yang baik, tetap mulus walaupun Sumbar tidak bebas
dari hujan lebat dan banjir. Minangkabau juga punya budaya yang khas yang
antara lain tercermin dari arsitektur bangunannya.

Nilai-nilai luhur dari Agama Islam yang dianut 99% orang Minang---walaupun
belakangan ini tergerus juga oleh modernisasi dan kecintaan yang berlebihan
terhadap hal-hal yang bersifat duniawi---menyebabkan orang Minang---sesuai
dengan watak Islam yang sesungguhnya---toleran terhadap penganut agama lain.
Nyaris tidak pernah ada gangguan terhadap tempat peribadatan, aset dan
keselamatan para penganut agama atau etnis lain. Tidak mengherankan, sewaktu
aksi-aksi demo anti AS marak di berbagai tempat di Indonesia, Sumbar tidak
termasuk kawasan yang oleh Kedubes AS di Jakarta  tidak dianjurkan untuk
dikunjungi oleh warga AS.

Tentu tidak bisa diabaikan pula makanannya yang khas dan enak serta sudah go
international.

Ketika rekan saya yang lain---mantan birokrat---dengan sedikit "prihatin"
mengatakan bahwa dari hampir dari Rp 200 miliar APBD Kabupaten Padang
Pariaman hanya Rp 3 M yang berasal dari PAD, sehingga Kabupaten Padang
Pariaman sangat tergantung kepada DAU, sembari terkekeh Anto menjawab, bahwa
yang "miskin" adalah Pemdanya, tetapi rakyatnya makmur, kesan yang sukar
dibantah dengan melihat kondisi rumah di sepanjang jalan yang kami lewati,
sangat berbeda misalnya dengan kondisi yang saya lihat di sepanjang jalan
Pekanbaru-Duri di Provinsi Riau yang kaya minyak di pertengahan tahun
1990-an, walaupun dalam kasus Sumbar, hal itu antara lain berkat kiriman
uang yang teratur dari para perantau Minang yang tersebar di Nusantara dan
Mancanegara.

Malah Anto yang berasal dari Jawa Tengah dan sekarang tinggal dengan
keluarganya di Bintaro, dengan setengah bergurau berkata, kalau Sumbar atau
Sumatera menjadi "negara merdeka" maka dia akan memilih "kewarnegaraan"
isterinya dan pindah ke Padang. Lalu Anto dengan lancar menguraikan sejumlah
potensi daerah Sumbar yang bisa dikembangkan, khususnya di bidang industri
parawisata, termasuk memindahkan Bandara Tabing yang waktu ini landasan
pacunya pendek sehingga tidak dapat didarati pesawat berukuran jumbo serta
dalam kondisi angin dan cuaca tertentu sukar untuk didadarati pesawat,
sehingga pendaratan terpaksa dipindahkan ke Bandara Simpangtiga Pekanbaru
atau Bandara Polonia Medan. Menurut Anto, jangan jadikan Sumbar daerah
industri, karena hal ini bisa merusak lingkungan termasuk hutan yang kondisi
dan kelestariannya waktu ini secara umum dan kasat mata jauh lebih baik di
bandingkan dengan provinsi lain.

Memang Sumbar dengan semua potensi alam, infrastruktur dan sosial memenuhi
semua syarat untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata yang tidak kalah
dengan Bali atau sejumlah kawasan wisata terkenal lainnya di nusantara dan
mancanegara, serta secara bertahap mengurangi ketergantungan kepada DAU
serta kiriman dari para perantau.

Tentu persolaannya---sesuatu hal yang "klasik" ialah bagaimana mengubah
potensi tersebut menjadi realitas. Ini tentu merupakan pekerjaan besar serta
memerlukan adanya strategi pada level nasional, regional dan lokal yang
jitu, serta didukung oleh Pemda yang menerapkan prinsip-prinsip "good
governance"

Sumatra Barat belum habis memang, tetapi untuk tetap eksis dan berkembang di
waktu yang datang diperlukan pekerjaan besar. Sumbar tidak kekurangan cerdik
pandai untuk melakukan hal ini. Yang penting kesungguhan dan sifat yang
mendahulukan tujuan jangka panjang ketimbang kepentingan sesaat atau yang
bersifat "ad hock".

[*] Dari file lama (2002) dengan beberapa koreksi kecil, yang disiapkan dan
dikirim ke sejumlah milis, termasuk Palanta RN

Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 68+), asal Padangpanjang, tinggal di Depok

Alam Takambang Jadi Guru

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke