Tanggal 25 January 2012
TAUFIK EFFENDI

Dalam sebuah pertemuan terbatas di Solok, membuahkan hal-hal yang
bernas, mem bumi dan patut ditindaklanjuti oleh para pihak tentang
pelaksanaan pendidikan karakter.
Kendati dalam waktu yang terbatas, kapasitas orang-orang yang hadir
juga terbatas, tetapi ‘dialog mendadak’ berkenaan dengan pendidikan
yang terjadi spontan ketika Dewan Pendidikan Sumatra Barat bersama
berkunjung ke daerah itu.
Pertemuan itu sebenarnya bertujuan mengkoordinasikan peran Dewan
Pendidikan Sumbar dikaitkan dengan Dewan Pendidikan kabupaten/kota,
dan di Kabupaten Solok adalah kunjungan perdana Kepala Dinas
Pendidikan Sumbar.

Dialog bermula dari isu aktual pendidikan saat ini, pendidikan
karakter. Ada juga yang menyebut istilah pendidikan berkarakter dengan
pendekatan-pendekatan yang lebih makro.
Tetapi berkenaan dengan definisi pun para pihak belum sepakat; apakah
pendidikan karakter, mungkin agak dekat dengan istilah pendidikan budi
pekerti atau pendidikan yang mengintegrasikan iman taqwa dengan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang keduanya pernah dilaksanakan dalam
sistem pendidikan di negara ini, atau pendidikan berkarakter dengan
pendekatan lebih luas, mencakup potensi personal peserta didik?
Tetapi, dialog akhirnya memang mengerucut pada pendidikan karakter
dalam pengertian bagaimana membenahi perilaku peserta didik ke arah
budi pekerti mulia, berakhlak, dan mempraktikkan aspek moralitas dalam
perike-hidupannya.
Ini ditegaskan Ketua Dewan Pendidikan Sumbar, Buya Bagindo M Letter,
yang dengan lantang mengungkapkan kegelisahannya ihwal moralitas
generasi muda saat ini.

Oleh karena itu, mesti ada tindakan kongkrit dari para pendidik, orang
tua dan masyarakat supaya moralitas generasi muda tetap terjaga dalam
koridor budi pekerti yang baik, serta mempunyai perangai nan elok.

Buya Bagindo M Letter juga menyebutkan, dalam kurun 30 tahun terakhir
terjadi ketidakseimbangan pendidikan, sehingga aspek kognisi
(pengetahuan), afeksi (perilaku) dan psikomotorik (ketrampilan) tidak
disentuh secara merata dan proporsional. Dikatakan, fikir
(pengetahuan), zikir (perilaku) dan mahir (ketrampilan), menjadi
penyebab kacau-balaunya kondisi saat ini (termasuk moralitas).

Lalu, Kepala Dinas Pendidikan Sumbar, Syamsulrizal mengatakan,
pihaknya telah membuat modul pendidikan karakter yang mulai 2012 ini
akan diujicobakan di 19 SMP perwakilan kabupaten/kota.

Dikatakan, pendidikan karakter ala Sumbar dipadukan dari konsep
pendidikan karakter nasional plus pendekatan Islam dan adat istiadat.
Lantas dialog ini dimakinkerucutkan gagasan Wakil Bupati Solok Desra
Ediwan yang mengaitkan konsep Dinas Pendidikan Sumbar dengan filosofi
adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah (ABS-SBK). Bukankah
konsep dan filosofi ABS-SBK itu, jika diimplementasikan dalam praktik
kehidupan, akan mewujudkan karakter generasi yang berperangai elok?

Berkelindan dengan itu, saat ini diupayakan pula penguatan-penguatan
peran tungku tigo sajarangan (TTS), sehingga pendidikan karakter
berbasis ABS-SBK akan komplementer dengan semakin melembaganya peran
TTS di Minangkabau.

Musyawarah-musyawarah TTS (MTTS) di samping membicarakan isu-isu
aktual di nagari juga perlu membahas kondisi-kondisi terkini berkenaan
dengan kurenah anak kemenakan, sekaligus upaya-upaya nyata dalam
rangka menggiring generasi muda Minangkabau untuk berperilaku sesuai
ABS-SBK.

Gagasan Desra Ediwan yang menegaskan peran agama dan adat sebagai
basis pendidikan karakter patut ditindaklanjuti. Jika saat ini sudah
selesai disusun modul pendidikan karakter oleh Dinas Pendidikan
Sumbar, bahkan diujicobakan mulai 2012, belum terlambat seandainya
perlu dilebihdalami, sehingga ABS-SBK tidak hanya sebagai jargon
belaka, tetapi memperoleh wadah untuk penerapannya di seantero
Minangkabau.
Implementasi kongkrit dari ABS-SBK, terutama dalam upaya internalisasi
nilai-nilai agama dan adat kepada peserta didik, akan semakin membumi
jika dimasukkan dalam pendidikan karakter yang segera akan
dilaksanakan itu.

Bahkan sinergitas pendidikan karakter yang diintrodusir secara
nasional dengan ABS-SBK akan semakin memperluas spektrum pengaruh
pendidikan karakter itu sendiri, tidak hanya sebatas peserta didik,
tetapi akan mengharuskan keterlibatan orangtua, mamak, ninik mamak,
dan masyarakat (TTS) ikut aktif mengawal penerapannya.

Dengan demikian, isu genit pendidikan karakter yang hingga saat ini
masih amat menarik diikuti dan ramai diperdebatkan di ruang-ruang
media, untuk Minangkabau agaknya sudah memperoleh jawaban, sesuai
gagasan Desra Ediwan, pendidikan karakter berbasis ABS-SBK. (*)

http://hariansinggalang.co.id/pendidikan-karakter-berbasis-abs-sbk/
-- 
Wassalam
Nofend | L-35 | CKRG

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke