Assalamualaikum, wr.wb Tulisan ini saya persembahkan kepada : · * Bunda Nismah dan Ibu Yulmatris – yang menelponku ketika berada dalam kegalauan karena penyakit, termasuk yang pernah merespon penyakitku melalui milist ini pada awal 2010. · * Buya Zubir Amin, yang berkunjung ke rumah pada tanggal 23 januari 2012 untuk bersilaturahim. · * Semua Kawan-kawan dan dusanak yang senang menjalin silaturahim di Palanta RI ini.
" Mengumpamakan sebuah mimpi " by Evy Djamaludin Kisahku ini ini hanyalah sebuah khayalan bagai mengumpamakan sebuah mimpi. Dimanakah seharusnya kita berposisi dalam hidupku saat ini? Ini menjadi pertanyaanku. Pada suatu hari, aku mendapat kunjungan 3 (tiga) orang tamu dirumah. Aku tidak mengenal para tamu-tamu itu. Raut wajah yang datang atau profil mereka pun berbeda-beda. Meskipun aku tak mengenal secara mendalam siapakah ia, namun aku mencoba menyambut tamu itu. Bertanyalah aku kepada para tamu-tamu. “Wahai para tamu yang terhormat. Maafkan aku karena tak mengenalmu. Apa yang bisa aku lakukan untuk kalian ?. Marilah masuk kedalam rumah kami “. Atas tawaran yang santun ini, masukkah para tamu itu kedalam rumah kami. Kemudian aku menyapa kembali para tamu itu. ” Dari wajah kalian, terlihat bahwa Anda telah menempuhperjalanan yang cukup panjang. Sehingga aku perlu menyuguhi sesuatu yang dapat melepaskan haus dan dahaga Anda semua. Dengan takzim para tamu menyambutku. Kemudian salah seorang tamu itu berkata ; “ Sebenarnya kami datang kerumah Ibu, untuk mengatahui rentang perjalanan ibu bersama keluarga, demikian ketiga berucap padaku. “ Kalau begitu lain kali saja kita lakukan pertemuan, kataku kepada mereka. “ Baiklah.., kami akan datang pada saat yang tepat “, kata para tamu itu kepadaku. Setelah mereka pulang, kemudian aku menceritakan ikhwal kunjungan para tamu itu kepada anggota keluargaku. Kami sekeluarga memberikan respon yang baik atas kunjungan tamu itu dan bersiap menerima kunjungannya pada saat yang dijanjikan. Pada saat yang dijadwalkan, datanglah para tamu kami itu. Masing-masing mereka memperkenalkan diri dengan nama – nama : Kekayaan, Kesuksesan, dan Cinta. “ Hemmmm.. aneh ya nama nama tamu ini. Kata anggota keluargaku – yang bernama Nurani dan Aqli, Namanya juga cerita angan angan, sehingga nama yang hadir menjadi tidak lazim. Aqlimenginginkan KEKAYAAN –sebagai tamu yang pertama. Karena itu ia segera memanggil KEKAYAAN itu. “ KEKAYAAN.. Silahkan masuk, katanya. Mungkin engkau bisa membantu kami mendapatkan harta yang berlimpah. Keluarkanlah kiat-kiatmu…!!, Akan tetapi di sela dengan lembut oleh Nurani sambil bersuara : “Tunggu dulu sayangku, mengapa kita tak mempersilahkan KESUKSESAN yang masuk? Bukankah kita tak memerlukan KEKAYAAN lagi. Terjadiliah perdebadan antara Aqli dan Nurani. Aku menunggu dengan sabar. Aku tak memberikan reaksi. Wujud raga pada diriku, aku akan mengikuti saja hasil yang terbaik dari buah keputusan Nurani dan Aqli. Kearah manakah diriku ini dituntun. Apakah melalui Nurani atau melalui Aqli. Pegulatan dan perbedaan cara pandang antara Nurani dan Aqli ini memang selalu ada. Ia adalah perangkat yang ada didalam tubuh manusia, yang sangat aku pahami, yang tercantumi dalam Quran Surah Asy Syam ayat 7-9 : “ Dan jiwa serta penyempurnaanya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkamkepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya.” Didalam pergulatan antara keduanya, berdasarkan pandangan terhadap nilai kebendaan yang ada pada badan diri, maka Nurani dan Aqli menemukan kesepakatan bahwa kami tidak memerlukan lagi Kekayaan dan Kesuksesan. Pilihan jatuh pada tamu yang bernama CINTA. Ia memiliki profil wajah yang lembut dan menentramkan. Berbeda dengan wajahKEKAYAAN yang sangar dan temperamental. Demikian pula KESUKSESAN yang sombong dan angkuh. “ Kita memerlukan Cinta, demikian Nurani dan Aqli bersepakat. “ Kita membutuhkan kedamaian dan kehangatan melalui CINTA. Tubuh kita perlu tempat berlabuh ketika ada Nurani dan Aqli, yang turut mendampingi diri kita. Bukankah pertemuan – adalah ikatan kasih sayang diantara tubuh – nurani dan aqli akan berada dalam Rahmat Allah ketika kita memiliki kesadaran untuk selalu bersama. “ Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah irjii illa rabbiqi mardhiyah….. ( Al Fajr : 27-28) artinya : “ Wahai jiwa yang tenang ! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan di ridhai-Nya. Kita semua akan mendapatkan kunci keharmonisan, kebahagian dari padanya saat menemui ketenangan. *** Sesaat itu aku terkesima dalam khayalanku ini. Aku ingin menemukan cinta yang tulus tanpa pamrih – seperti yang aku terima dari orang tuaku kepada anak-anaknya. Tidak ada kepamrihan orang tua terhadap anak-anaknya selain ia akan mengiringi doa sepanjang perjalanan hidupnya. Kemudian aku bangkit bersama Nurani dan Aqli. Bertanya kepada tamu kami. “Siapa diantara kalian yang bernama CINTA? CINTA pun bangkit. Dan…… seketika itu pula tamu yang bernama KEKAYAAN dan KESUKSESAN serta merta bangkit pula. Dalam khayalan itu, aku terheran-heran melihat gelagat tamu-tamuku itu. Apa gerangan yang terjadi ?. Salahkah aku menjatuhkan pilihan terhadap CINTA ?. Akan proteskah KEKAYAAN dan KESUKSESAN atas pilihanku ini ?. Karena melihat ada sesuatu reaksi diluar perkiraan kami , maka aku bertanya kepada si KEKAYAAN dan si KESUKSESAN. “Saya hanya ingin mengenal lebih banyak tentang CINTA, sesuai dengan harapan keluarga saya. Mengapa kalian berdua berupaya pula untuk menyamai CINTA ?. Kedua orang tamu yang bernama KEKAYAAN DAN KESUKSESAN itu menyahut secara bersamaan. “ Ibu .. sesungguhnya sebagai isteri dan bunda anak-anakmu, Anda telah menjalankan tugas secara baik. Anda yang membuat kokoh rumah ini “. “ Kami berdua (sambil menunjuk dirinya dan temannya) yaitu KEKAYAN DAN KESUKSESAN berkunjung kerumah Anda untuk memenuhi kebutuhan Anda saat ini. Ternyata Anda memilih CINTA, dari pada KEKAYAAN dan KESUKSESAN. Kami berdua akan selalu mengiringi CINTA sampai dimana dan kemanapun ia berada. Dimana ada CINTA, disana ada KEKAYAAN dan KESUKSESAN. Kemudian keduanya - KEKAYAAN dan KESUKSESAN, melanjutkan perbicangannya lagi. “ Ketahuilah… sesungguhnya kami berdua ini buta– mata dan buta hati. KEKAYAAN tidak bisa berjalan sendiri tanpa diiringi CINTA. Demikian pula KESUKSESAN akan berjalan meraba-raba jika tidak didampingi CINTA. Dengan CINTA lah, kami bisa melihat dunia. Hanya CINTA yang bisa memberi petunjuk arah kebenaran. CINTA – adalah mata untuk kekayaan dan kesuksesan. CINTA lah yang menjadi inspirasibagi kehidupan setiap keluarga. CINTA akan membimbing setiap keluarga dalam menapaki perjalanan hidup. ** Seketika itu, puaslah rasa hati ini mendengar penjelasan para tamu kami itu. Aku terjaga dari angan-angan itu. Nyatanya apa yang diumpamakan dalam mimpi itu, akupun menemui kenyataan dengan seorang tamu yang bernama CINTA datang dalam kehidupan saya. Ketika aku dirundung kecemasan, CINTA itu datang menelponku, sambil memberikan pencerahan hati melebihi apa yang aku inginkan. Apa yang Ia tebak terhadap diriku persis sama dengan angan-angan diatas. Ternyata aku selama ini lebih mengedepankan KEKAYAAN dan KESUKSESAN dalam menjalin hubungan antar manusia. Meski telah melakukan kontak vertical dengan Penguasa Alam Aemesta ini, melalui sholat malam, sholat dhuha, dan amal ibadah lainnya. Meski lidahku - sebagai kemudi didalam melafazkan asma Allah, ternyata aku telah mengabaikan CINTA kepada sesama. Aku terlalu banyak menuntut amal kebajikan orang lain, sehingga aku menjadi sombong terhadap amalanku sendiri. Barangkali itulah sebagian dari kita, dalam menyikapi suatu ibadah dan muamalah. Akhirnya Allah SWT mentertawakan kita. Allah SWT memberikan suatu ujian keimanan dan ketakwaan atas rencana-rencana Allah yang disebut Qadhar. Hingga sampailah kita pada keputusan Allah yang dinamakan Qadha. Pertanyaanku, Bisakah diriku mendahulukan CINTA dalam silaturahmi sesama manusia ?. Seperti yang dilakukan beberapa orang yang memberikan perhatian kepada diriku ? Yang turut mendoakanku secara ikhlas. Barangkali ini menjadi bahan koreksi bagiku dan mudahan akan menjadi pengobat bagi gangguan jasmaniku saat ini. Silaturahmi sesama dalam wujud memberi perhatian – mengayomi – welas asih – menyantuni anak yatim dan kaum dhuafa adalah realisasi dari Cinta sesama itu. Bahkan bila perlu – akan di wariskan kepada keturunan kita sebagai warisan hati nurani yang tak ternilai harganya. (sumber cerita ; anonymous – kemudian disunting menjadi inspirasi penulis di web blog Istana Kunang Kunang) Dirilis di Puspiptek, Serpong, Tangsel 24 Desember 2009 Wassalam, ~ 3vy Nizhamul~ (Kawasan Puspiptek, Kota Tangerang Selatan) http://hyvny.wordpress.com -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
