Salam dusanak sadonyo, Bicara tentang wilayah ini, menimbulkan keinginan saya untuk menanggapinya, yaitu: 1. Dimana dan sejauhmana peran 2 orang etnis china, yang sudah diberi gelar adat oleh KAN dinegeri ini. Paling tidak mereka ikut andil melestarikan kampuang chino itu. Tapi memang rasanya tidak mungkin karena salah satunya, china medan. 2. Bila dikaitkan dengan UU No 11/2010 tentang Cagar Budaya—perubahan UU No 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya, maka di kota Padang menurut saya, cagar budaya itu tidak saja pondok tetapi meliputi satu kawasan dari wilayah Muaro, hingga Palinggam, Pasa Gadang pusat saudagar pribumi, Alang Laweh, Gantiang, pasa Ambacang, diponegoro hingga Nipah. Diwilayah ini ada kampuang Kaliang, kampuang Nieh, ada tanah kaum yang masih bertahan di wilayah Simpang Anam hingga kini. Sekarang Tinggal sedikit saja lagi bangunan kuno yang masih bertahan. 3. Diwilayah inilah (pondok)saya punya kenangan masa kecil bergaul dengan anak chino dan anak kaliang. Kemana mereka gerangan sekarang ini ? Persis di pondok itu ada Surau Haji Syarif, tempat saya mengaji bersama anak2 kaliang itu. Dan kena "Cikuih" dek sang haji. jika tak lancar mengaji. Surau itu masih ada hingga sekarang. Tahukah anda justru cikuih itu adalah salah cara mengenali anak dengan dirinya sebelum mengenal Tuhannya 4. Jika ada yang menyebut lain, saya menyebut kawasan ini "Nagari Manicika". Kawasan yang jadi kenangan karena disini pernah ada 4 suku bangsa bermukim, yaitu: China, Kaliang, Belanda, Pribumi melayu. Dari pembauran bangsa ini, keluarga kami yang pribumi melayu menerima adaptasi kuliner yang mungkin tidak begitu banyak dikenal oleh yang lain, seperti : bistik kentang ada di simpang pondok, dalca, gulai kambing, putumayang, dll. Es duren pulau karam itu baru hadir k.l th 70 an. Jika Pemda setempat punya kesadaran tentang pelestarian kota lama Padang itu maka secara unik kota ini akan setara dengan kota lainya di Indonesia yang punya peninggalan bangsa lain. Sayangnya instansi yang terkait semisal dinas tata bangunannya tak paham dengan kondisi ini. Perhatikanlah jembatan Siti Nurbaya yang aneh menurut pandangan saya. Nilai manfaatnya tidak seberapa. Demikianla tanggapan yang panjang ini sebagai rasa cinta saya atas Kota kelahiran saya dalam motto - Padang kota Tercinta, kujaga dan ku bela. Terima kasih, Wassalam, Evy Nizhamul Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
-- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
