Assalamulaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Bapak, Ibu yang kami hormati.......,

Tragedi
 ibu SR (kalau boleh disebut seperti itu) adalah hanya satu dari sekian 
ratusan bahkan mungkin ribuan peristiwa pencemeehan sekelompok 
murid-murid terhadap gurunya dewasa ini di negeri ini. Yang terjadi 
sebenarnya adalah bahwa dunia pendidikan kita sedang dan telah mengalami 
degradasi dari seluruh aspek dan segi dalam berbagai bentuk dan dimensinya. 

Kalau kita bertanya kepada orang-orang doeloe yg juga bersekolah akan 
nampak keadaan seperti bak siang jo malam di dunia pendidikan itu. Sbg 
contoh misalnya, apabila seorang guru sampai di pintu gerbang sekolah dg
 sepeda ontelnya, maka murid-murid akan datang mengejar utk mendorong 
sepeda itu ke tempat parkiran.
Bagaimana keadaan sekarang? 

Contoh yang kedua: Jika seorang guru keluar kelas untuk suatu keperluan
 dan kemudian meletakkan "kopiah" nya di atas meja, maka selama kopiah 
tersebut nongkrong di atas meja sang guru, selam itu pula kelas tersebut
 akan berjalan dengan tertib dan tenang.
Bagaimana dengan keadaan sekarang?

Contoh ketiga: Doeloe namanya PS (pe-es), sewaktu-waktu ia datang ke 
sekolah, untuk mengetahui dan memeriksa proses penyelenggaraan kegiatan 
belajar mengajar beserta dg alat kelengkapannya, maka selama pak PS ada 
di dalam lingkungan sekolah, Kepala Sekolah dan para guru benar-benar 
merasakan sedang diinspeksi. Begitu tingginya wibawa seorang PS, maka 
ada ungkapan kalau inyo datang sekolah cando kuciang dibawaokan lidih.
Adakah sekarang seperti itu?
Amboi........, konon kabarnya nan awak danga kalau pengawas datang, ado
 caro nan dipakai, ditraktir ka rumah makan, pulang beko diagiah buah 
tangan.
Sim-sim salabin semuanya beres

Doeloe pendidikan 
itu sistemik. Semua elemen dan intuisi berjalan dan berfungsi 
sebagaimana mestinya. Keadaan sosial yg demikian melahirkan pribahasa: 
"Sang Guru Untuk Digugu", dan kemudian melahir derivat pribahasa: "Guru 
kencing berdiri ~ murid kencing berlari". Pribahasa yang kedua ini 
dilahirkan benar-benar sebagai peringatan bagi sang guru untuk mawas 
diri. Karena mawas diri, guru doeloe memang BERWIBAWA.

Doeloe 
pendidikan berjalan benar, jujur dan zakelijk. Kalau ujian lulus ya 
lulus karena memang memenuhi syarat utk lulus. Tidak lulus ya  tidak 
lulus karena tidak terpenuhi syarat untuk lulus. Pendidikan yang 
berjalan dgn benar, jujur dan zakelijk itu melahirkan orang-orang yang 
berkarakter. 

Tapi lain doeloe lain sekarang. Yang tidak lulus 
diolah supaya bisa menjadi lulus, mulai dari nyontek berjamaah sampai 
dengan pembocoran kisi-kisi. Bayangkan banyak sekolah-sekolah yang 
mencapai tingkat kelulusan di atas 90% lebih, tapi ketika masuk ke 
sekolah di atasnya (dan atau ke PT) yg dapat diterima kurang dari 50%, 
bahkan murid-murid yg lulus dengan prediket memuaskan banyak yang tidak 
lulus masuk PT.

Pendidikan adalah hulu utk membangun masa depan
 negeri ini. Oleh sebab itu pendidikan harus berjalan dengan jujur dan 
zakelijk, agar pendidikan hari ini juga bisa dan mampu melahirkan 
orang-orang berkaliber dan berkarakter seperti H. Agus Salim, Drs. 
Mohammad Hatta, Tan Malaka, Mr. Muhammad Yamin, M. Natsir, Hamka dll



________________________________
 From: Lies Suryadi <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]> 
Sent: Saturday, January 21, 2012 5:30 PM
Subject: Bls: [R@ntau-Net] 26 Siswa Dipaksa Injak Al-Quran
 



Inilah antara lain tantangan berat untuk mewujudkan pendidikan berkarakter.
 
Suryadi
Dari: Nofend St. Mudo <[email protected]>
Kepada: RN - Palanta RantauNet <[email protected]> 
Dikirim: Sabtu, 21 Januari 2012 10:41
Judul: [R@ntau-Net] 26 Siswa Dipaksa Injak Al-Quran

Guru Pasaman Langsung
Dinonaktifkan

Padang Ekspres • Sabtu, 21/01/2012 13:11 WIB • Heldi Satria • 647 klik

Pasaman, Padek—Warga Pasaman geger akibat ulah oknum guru berinisial SW di 
salah satu SMA
 negeri di Pasaman. Pasalnya, guru itu menghukum 26 siswanya dengan cara 
menginjak Al Quran. 26 siswa tersebut kini trauma, dihantui rasa berdosa.

hanya uang. Ketika rekruitmen sudah salah, output nya pun tidak benar. Guru itu 
semestinya orang-orang terpilih, bukan orang yang hanya berorientasi pada 
uang,” tegas Duski.

Kedua, penyebabnya karena adanya degradasi dari pembentukan pribadi 
(internalisasi) dari seseorang sebagai bagian dari masyarakat yang memilih 
profesi guru.

Selain faktor internal dan eksternal, juga disebabkan lemahnya faktor 
pengawasan, walau selama ini perangkat pengawasan itu sudah dimulai dari 
tingkat yang paling rendah hingga tingkat tertinggi. Namun demikian, pengawasan 
ini masih belum berjalan maksimal. 
“Pengawasan ini belum berjalan menyuluruh,” jelas Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN 
Imam Bonjol Padang itu.

Ke depan, perlu tindakan pembinaan berkelanjutan. Ada sanksi
 tegas ketika seorang guru bersalah, dan ada penghargaan ketika seorang guru 
mendapat prestasi.
“Penegakan disiplin juga harus ditingkatkan. Dinas terkait harus memperkuat 
komitmennya dalam bekerja. Jangan cepat puas, terus melakukan pembenahan,” 
pungkasnya. (ldy/bis/mg17/mg16)

[ Red/Redaksi_ILS ]
http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=21937&utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

Wassalam
Nofend | 35-L | Cikasel

Sent from Pinggiran JABODETABEK®

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim
 email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke