Kompas, Selasa, 07 Februari 2012

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2012/02/07/4611116p.jpg 

KOMPAS/INGKI RINALDI
Seorang teknisi berjalan di depan lokomotif uap E 1060 yang populer
dipanggil Mak Itam di Museum Kereta Api Sawahlunto, Sumatera Barat, Jumat
(2/12). Mak Itam yang sempat pensiun dan menjadi koleksi Museum Kereta Api
Ambarawa, Jawa Tengah, kini dioperasikan sebagai kereta wisata di
Sawahlunto.

OLEH INGKI RINALDI

Terowongan menembus bebatuan cadas yang dikenal sebagai Lubang Kalam
melempar Medrial Alamsyah (48) ke masa puluhan tahun silam di Sawahlunto.
Konsultan manajemen publik di lembaga SIGI Indonesia yang dipimpinnya itu
tengah mengenang kembali masa-masa kecilnya naik kereta api.

Pada Jumat di awal Desember lalu, Medrial yang aktivitasnya berpusar di
Jakarta pulang kampung ke Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. "Ini pertama
kalinya saya naik lagi setelah 'Mak Itam' kembali," kata Medrial yang
berasal dari Jorong Talawi Mudiak, Kanagarian Talawi, Kecamatan Talawi,
Sawahlunto.

Mak Itam yang dimaksud Medrial adalah julukan untuk lokomotif uap E 1060
buatan Hartmann Chemnitz di Esslingen, Jerman, pada 1965. Siang itu, sebelum
Mak Itam diberangkatkan, bunyi tombol pelepas rana yang dijepretkan sejumlah
fotografer terdengar dari berbagai titik. Beragam sudut pandang dicoba
mereka yang sebagian besar datang dari Jakarta untuk mengabadikan Mak Itam.

Namun, adalah bau asap batubara yang menyengat, gelapnya terowongan,
tipisnya udara, dan suara gemeretak rel ditimpa gelondongan roda kereta
menjadi elemen-elemen kunci. Medrial sontak teringat kawan-kawan masa
kecilnya.

"Lubang Kalam, Lubang Kalam, dan kami biasanya langsung menutup mata dan
hidung. Telat sedikit saja, mata akan jadi perih rasanya," ujar Medrial yang
masih memiliki hubungan kekerabatan dengan tokoh pers nasional, Djamaluddin
Adinegoro. Suasana di gerbong, dalam ingatan Medrial, juga sekelam suasana
di luar karena tidak tersedia lampu penerang.

Namun, hari itu, Medrial yang menumpang di gerbong E 1060 tidak lagi
merasakan gelap dan sesak karena membaui asap batubara. Gerbong itu telah
dipasangi lampu dan pendingin udara. Sekalipun bau asap masih terasa, nuansa
pekatnya sudah hilang.

Elemen kunci tentang sejarah yang hilang. Memang, interior dalam gerbong itu
masih relatif dipertahankan. Misalnya, gagang pembuka toilet berbahan
kuningan yang jika dipegang meninggalkan bau logam di telapak tangan.

Namun, perangkat dalam kamar kecil sudah diganti dengan yang baru. Demikian
pula dengan jendela yang sudah ditutup permanen. Bobot keseluruhan Mak Itam
sekitar 55 ton dan pada masanya dipergunakan sebagai penghela gerbong
batubara, dan kadangkala penumpang juga. Masa yang diingat Medrial ketika
masuk lagi dalam Lubang Kalam yang panjangnya sekitar 1 kilometer itu.

Hari itu Mak Itam beroperasi dalam kondisi tak biasa. Karena biasanya hanya
berjalan pada hari Minggu dengan tarif Rp 50.000 per orang untuk rute
Stasiun Sawahlunto- Muarakalaban yang jaraknya sekitar 8 kilometer. Bisa
juga menyewa dengan biaya Rp 1,5 juta untuk maksimal 30 orang.

Hari itu bertepatan dengan dimulainya Sawahlunto International Music
Festival, Mak Itam dioperasikan. Gratis, dengan tambahan rute hingga ke
Kanagarian Silungkang guna memberikan kesempatan bagi penumpang melihat
langsung proses pembuatan kain songket.

 

Bukhari (51), masinis Mak Itam, mengatakan, hal paling menegangkan naik
kereta ini ketika melewati Lubang Kalam. Kecepatan standar Mak Itam yang
10-15 kilometer per jam itu harus diturunkan. "Lubang Kalam bentuk
lintasannya seperti segitiga sama sisi. Naik, lalu turun. Rute baliknya juga
seperti itu," kata Bukhari.

Butuh 1 ton batubara yang dibeli dari tambang rakyat di Sawahlunto setiap
kali perjalanan pergi-pulang Mak Itam. Selain masinis, ada pula juru api,
pelayan rem, dan penanggung jawab kelistrikan. Proses pengereman yang
dikerjakan manual dari belakang gerbong setiap saat kereta berjalan mundur,
dan masuknya batubara dalam tungku pembakaran menjadi obyek menarik untuk
dilihat.

Karena umurnya sudah tua, Mak Itam kerap rewel. Repotnya, nyaris tidak bisa
ditemukan lagi suku cadang yang aus. Misalnya, baru-baru ini ketika alas
dapur pembakaran (rooster) rusak. Bukhari akhirnya memutar akal. Dibuatnya
sendiri 25 lempengan itu dari potongan rel.

Dipergunakan Indonesia hingga sebelum lokomotif uap digantikan perannya oleh
lokomotif diesel, Mak Itam kemudian dikirim ke Ambarawa, Jawa Tengah. Sempat
satu-dua kali digunakan untuk perjalanan wisata Ambarawa-Bedono pada tahun
1990-an.

Sementara itu, di Sawahlunto, mulai tebersit niat untuk menemukan lagi ikon
kota, terutama dengan dicanangkannya Sawahlunto sebagai kota peninggalan
budaya dan wisata tambang yang berbudaya.

Sejumlah pemerhati yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Kereta Api Sumbar
(MPKAS) turut berperan membawa kembali Mak Itam ke Sawahlunto pada Desember
2008.

Akan tetapi, menurut Dr Alinda Medrial, dosen arsitektur lansekap Institut
Pertanian Bogor, yang juga mengikuti perjalanan pada awal Desember lalu, Mak
Itam kehilangan konteks sejarah. Pasalnya, tidak ada penjelasan apa pun
perihal perjalanan sekitar 8 kilometer menumpangi kereta dengan lokomotif
uap itu.

Jumlah penumpang Mak Itam terus menurun. Bahkan, Kereta Wisata Danau
Singkarak rute Kota Padangpanjang-Kota Sawahlunto yang dioperasikan sejak
Februari 2009 sebagai pengumpan Mak Itam sempat berhenti beroperasi pada
Oktober 2010.

Penghentian ketika itu terkait perbaikan gerbong yang dihela lokomotif BB
204 dan berkurangnya angka penumpang menuju Kota Sawahlunto. Saat itu jadwal
perjalanan setiap Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional juga dikurangi
menjadi hari Minggu saja.

Padahal selain Mak Itam, pada rangkaian wisata itu pengunjung juga bisa
menikmati koleksi Museum Kereta Api Sawahlunto. Museum itu dulunya merupakan
Stasiun Kereta Api Sawahlunto yang didirikan Belanda pada tahun 1918.

Setelah membayar tiket masuk Rp 3.000, pengunjung bisa menikmati koleksi
foto, brankas kuno, lampu sinyal, roda kereta, dan berbagai model lokomotif
dalam skala 1/35. Pengunjung yang hendak ke Sawahlunto bisa memulai
perjalanan dari Kota Padang.

Sejumlah bus yang mangkal di kawasan Simpang Haru, Kota Padang, bisa
ditumpangi menuju Kota Sawahlunto dengan ongkos sekitar Rp 15.000. Jika
menumpang mobil biro perjalanan, ongkosnya sekitar Rp 30.000. Soal
penginapan, tidak perlu khawatir. Di kota yang tengah mengusung pariwisata
sebagai penghela perekonomian ini tersedia sejumlah hotel dengan tarif
bervariasi.

http://cetak.kompas.com/read/2012/02/07/02210273/masuk.lubang.kalam.bersama.
mak.itam

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke