Mak Itam dan Pencopet Cerita ringan disore hari. Mamak Darwin Bahar dan dunsanak Palanta nan Ambo Hormati. Membaca kisah Mak Itam alias Kereta Api yang menembus terowongan Lubang Kalam, mengingatkan kami pada cerita masa lalu. Cerita tentang Pencopet yang mencuri piti Amai nan pulang dari berdagang. Pencopet selalu beraksi saat Mak Itam berjalan di Lubang Kalam. Entah sudah berapa kali piti Amai dicopetnya. Apa boleh buat, Amai tak bisa mengenali sang pencopet karena gelap gulita. Tapi, suara gesekan tangan pencopet menggerayangi Tas dapat di dengar oleh Amai. Beberapa kali juga tangan pencopet bersentuhan dengan badan Amai. Kesal karena sudah sering dicopet, timbul ide Amai yang sangat briliant. Kebetulan Amai selalu makan sirih. Disaat pencopet beraksi, Amai meludahi sang Pencopet. Keluar dari Lubang Kalam, melihat seseorang yang bajunya menempel warna merah, bekas Air ludah. Amai berteriak sambil memegang sang pencopet. Maliangggggg................. Wassalam Reflus/L. 54 Th.
Sent from my iPad On 8 Feb 2012, at 04:13, "Darwin Bahar" <[email protected]> wrote: > Kompas, Selasa, 07 Februari 2012 > > http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2012/02/07/4611116p.jpg > > KOMPAS/INGKI RINALDI > Seorang teknisi berjalan di depan lokomotif uap E 1060 yang populer dipanggil > Mak Itam di Museum Kereta Api Sawahlunto, Sumatera Barat, Jumat (2/12). Mak > Itam yang sempat pensiun dan menjadi koleksi Museum Kereta Api Ambarawa, Jawa > Tengah, kini dioperasikan sebagai kereta wisata di Sawahlunto. > > OLEH INGKI RINALDI > > Terowongan menembus bebatuan cadas yang dikenal sebagai Lubang Kalam melempar > Medrial Alamsyah (48) ke masa puluhan tahun silam di Sawahlunto. Konsultan > manajemen publik di lembaga SIGI Indonesia yang dipimpinnya itu tengah > mengenang kembali masa-masa kecilnya naik kereta api. > > Pada Jumat di awal Desember lalu, Medrial yang aktivitasnya berpusar di > Jakarta pulang kampung ke Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. ”Ini pertama > kalinya saya naik lagi setelah ’Mak Itam’ kembali,” kata Medrial yang berasal > dari Jorong Talawi Mudiak, Kanagarian Talawi, Kecamatan Talawi, Sawahlunto. > > Mak Itam yang dimaksud Medrial adalah julukan untuk lokomotif uap E 1060 > buatan Hartmann Chemnitz di Esslingen, Jerman, pada 1965. Siang itu, sebelum > Mak Itam diberangkatkan, bunyi tombol pelepas rana yang dijepretkan sejumlah > fotografer terdengar dari berbagai titik. Beragam sudut pandang dicoba mereka > yang sebagian besar datang dari Jakarta untuk mengabadikan Mak Itam. > > Namun, adalah bau asap batubara yang menyengat, gelapnya terowongan, tipisnya > udara, dan suara gemeretak rel ditimpa gelondongan roda kereta menjadi > elemen-elemen kunci. Medrial sontak teringat kawan-kawan masa kecilnya. > > ”Lubang Kalam, Lubang Kalam, dan kami biasanya langsung menutup mata dan > hidung. Telat sedikit saja, mata akan jadi perih rasanya,” ujar Medrial yang > masih memiliki hubungan kekerabatan dengan tokoh pers nasional, Djamaluddin > Adinegoro. Suasana di gerbong, dalam ingatan Medrial, juga sekelam suasana di > luar karena tidak tersedia lampu penerang. > > Namun, hari itu, Medrial yang menumpang di gerbong E 1060 tidak lagi > merasakan gelap dan sesak karena membaui asap batubara. Gerbong itu telah > dipasangi lampu dan pendingin udara. Sekalipun bau asap masih terasa, nuansa > pekatnya sudah hilang. > > Elemen kunci tentang sejarah yang hilang. Memang, interior dalam gerbong itu > masih relatif dipertahankan. Misalnya, gagang pembuka toilet berbahan > kuningan yang jika dipegang meninggalkan bau logam di telapak tangan. > > Namun, perangkat dalam kamar kecil sudah diganti dengan yang baru. Demikian > pula dengan jendela yang sudah ditutup permanen. Bobot keseluruhan Mak Itam > sekitar 55 ton dan pada masanya dipergunakan sebagai penghela gerbong > batubara, dan kadangkala penumpang juga. Masa yang diingat Medrial ketika > masuk lagi dalam Lubang Kalam yang panjangnya sekitar 1 kilometer itu. > > Hari itu Mak Itam beroperasi dalam kondisi tak biasa. Karena biasanya hanya > berjalan pada hari Minggu dengan tarif Rp 50.000 per orang untuk rute Stasiun > Sawahlunto- Muarakalaban yang jaraknya sekitar 8 kilometer. Bisa juga menyewa > dengan biaya Rp 1,5 juta untuk maksimal 30 orang. > > Hari itu bertepatan dengan dimulainya Sawahlunto International Music > Festival, Mak Itam dioperasikan. Gratis, dengan tambahan rute hingga ke > Kanagarian Silungkang guna memberikan kesempatan bagi penumpang melihat > langsung proses pembuatan kain songket. > > > > Bukhari (51), masinis Mak Itam, mengatakan, hal paling menegangkan naik > kereta ini ketika melewati Lubang Kalam. Kecepatan standar Mak Itam yang > 10-15 kilometer per jam itu harus diturunkan. ”Lubang Kalam bentuk > lintasannya seperti segitiga sama sisi. Naik, lalu turun. Rute baliknya juga > seperti itu,” kata Bukhari. > > Butuh 1 ton batubara yang dibeli dari tambang rakyat di Sawahlunto setiap > kali perjalanan pergi-pulang Mak Itam. Selain masinis, ada pula juru api, > pelayan rem, dan penanggung jawab kelistrikan. Proses pengereman yang > dikerjakan manual dari belakang gerbong setiap saat kereta berjalan mundur, > dan masuknya batubara dalam tungku pembakaran menjadi obyek menarik untuk > dilihat. > > Karena umurnya sudah tua, Mak Itam kerap rewel. Repotnya, nyaris tidak bisa > ditemukan lagi suku cadang yang aus. Misalnya, baru-baru ini ketika alas > dapur pembakaran (rooster) rusak. Bukhari akhirnya memutar akal. Dibuatnya > sendiri 25 lempengan itu dari potongan rel. > > Dipergunakan Indonesia hingga sebelum lokomotif uap digantikan perannya oleh > lokomotif diesel, Mak Itam kemudian dikirim ke Ambarawa, Jawa Tengah. Sempat > satu-dua kali digunakan untuk perjalanan wisata Ambarawa-Bedono pada tahun > 1990-an. > > Sementara itu, di Sawahlunto, mulai tebersit niat untuk menemukan lagi ikon > kota, terutama dengan dicanangkannya Sawahlunto sebagai kota peninggalan > budaya dan wisata tambang yang berbudaya. > > Sejumlah pemerhati yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Kereta Api Sumbar > (MPKAS) turut berperan membawa kembali Mak Itam ke Sawahlunto pada Desember > 2008. > > Akan tetapi, menurut Dr Alinda Medrial, dosen arsitektur lansekap Institut > Pertanian Bogor, yang juga mengikuti perjalanan pada awal Desember lalu, Mak > Itam kehilangan konteks sejarah. Pasalnya, tidak ada penjelasan apa pun > perihal perjalanan sekitar 8 kilometer menumpangi kereta dengan lokomotif uap > itu. > > Jumlah penumpang Mak Itam terus menurun. Bahkan, Kereta Wisata Danau > Singkarak rute Kota Padangpanjang-Kota Sawahlunto yang dioperasikan sejak > Februari 2009 sebagai pengumpan Mak Itam sempat berhenti beroperasi pada > Oktober 2010. > > Penghentian ketika itu terkait perbaikan gerbong yang dihela lokomotif BB 204 > dan berkurangnya angka penumpang menuju Kota Sawahlunto. Saat itu jadwal > perjalanan setiap Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional juga dikurangi > menjadi hari Minggu saja. > > Padahal selain Mak Itam, pada rangkaian wisata itu pengunjung juga bisa > menikmati koleksi Museum Kereta Api Sawahlunto. Museum itu dulunya merupakan > Stasiun Kereta Api Sawahlunto yang didirikan Belanda pada tahun 1918. > > Setelah membayar tiket masuk Rp 3.000, pengunjung bisa menikmati koleksi > foto, brankas kuno, lampu sinyal, roda kereta, dan berbagai model lokomotif > dalam skala 1/35. Pengunjung yang hendak ke Sawahlunto bisa memulai > perjalanan dari Kota Padang. > > Sejumlah bus yang mangkal di kawasan Simpang Haru, Kota Padang, bisa > ditumpangi menuju Kota Sawahlunto dengan ongkos sekitar Rp 15.000. Jika > menumpang mobil biro perjalanan, ongkosnya sekitar Rp 30.000. Soal > penginapan, tidak perlu khawatir. Di kota yang tengah mengusung pariwisata > sebagai penghela perekonomian ini tersedia sejumlah hotel dengan tarif > bervariasi. > > http://cetak.kompas.com/read/2012/02/07/02210273/masuk.lubang.kalam.bersama.mak.itam > > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti > subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
