Apakah yang ditulis Pak Deden dan Pak Eko (di bagian bawah) ini terjadi karena prinsip yang dianut oleh pengembangan di kota? Secara umum, atas nama efisiensi dan juga perkembangan ekonomi, kota berkembang dengan prinsip siapa kuat dia menang. Tidak heran, kalau kemudian mereka yang tidak kuat seperti pedagang kaki lima, usaha-usaha kecil menjadi terpinggirkan. Kenapa saya katakan atas nama efisiensi, alasan klasik yang muncul untuk "mengusir" kegiatan yang diberi label "sektor ekonomi informal" antara lain kemacetan, kekumuhan, bahkan terkadang kriminalitas yang kerap ditemukan di lokasi-lokasi tersebut. Sesuatu yang mengganggu.
Maaf, saya belum membaca email-email sebelum ini seluruhnya. Hanya menurut saya, semua ini kembali ke keberpihakan pemerintah tersebut. Beberapa waktu lalu waktu saya ke Manado, "downtown" bersih PKL. Ibu yang menemani saya berkata,"Walikota berhasil membuat mereka keluar". Saya balik bertanya,"tanpa keributankah?". Jawabannya sudah diduga. Ribut, pedagang marah dst. Saya pikir, ada yang lebih tahu tentang itu di milis ini. Ketika hal seperti itu terjadi, berbagai aturan yang dibuat (baik perda, pengaturan desain, pengaturan kawasan dan lain sebagainya) seharusnya menjadi alat untuk mengatur bukan sih, dan pengaturan itu harus dibuat untuk kualitas hidup penduduk yang lebih baik. Saya hanya sering tergelitik, apakah memang efisiensi tidak bisa sejalan dengan kemakmuran? Apakah pengembangan kota harus dibuat semata demi pembangunan ekonomi? Salam Mellyana Deden Rukmana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Jakarta memang kota yang tidak ramah untuk orang miskin! Mereka terus terpinggirkan. Ruang di Jakarta adalah untuk mengakomodasikan kepentingan orang yg tidak miskin (saja). Mohon saya dikoreksi bilamana salah. Eko BK wrote: Setuju Pak Deden, tapi apa bukan ini terjadi tdk hanya di Jkt tapi juga di berbagai metropolis lainnya? kaum miskin yg secara spasial terpinggirkan... segregasi sosial bercampur dg segregasi spasial...kalau di Afsel dicampur lagi dg segregasi etnik...makin kompleks... belum lagi kalau dimensi waktu ikut bermain... kalau pagi sebuah ruang kantor di LA berisi pegawai kerah biru dari etnik afro-american atau hispanik yg bertugas membersihkan kantor tsb.. sementara setelah itu ruang tersebut di isi pegawai kerah putih, eksekutif dari kelompok sosial WASP (White, Anglo Saxon, Protestant)...

