--- Mellyana Frederika <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Apakah yang ditulis Pak Deden dan Pak Eko (di bagian bawah) ini
> terjadi
> karena prinsip yang dianut oleh pengembangan di kota?

Bu Melly, kalau menurut saya ya kalau lahan diserahkan sepenuhnya ke
mekanisme market begitulah jadinya, yg tdk punya uang minggir... tapi
kalau kita berbicara masalah terpinggirkannya "ruang tinggal", tidak
apa2 toh orang miskin tinggal terkluster di pinggiran/ luar kota (kasus
suku betawi) selama basic needs nya terpenuhi, dan jg ada sistem
transportasi yg baik dan terjangkau fare nya utk bisa ke pusat kota...
bahkan di welfare states di mana negara kerap mengintervensi pasar,
termasuk pasar lahan, toh segregasi ruang tinggal ini tdk bisa
dihindari.. kita ingat kasus bakar2an di pinggiran Paris dan kota2
besar Perancis beberapa tahun lalu yg terjadi di kluster2 perumahan
murah etnik minoritas...tapi ini masalah segregasi sbg manifestasi dari
relasi antara power, perjuangan kelas (marxian), dan kemiskinan.. bukan
masalah informal economy...

Masalah orang miskin tdk selalu terkait dg informal economy atau
sebaliknya...mohon dibedakan antara keduanya... office boy dg gaji 300
rb tergolong miskin, tapi (seharusnya) formal... tukang nasi goreng
kebon sirih itu informal, tapi bisa menyekolahkan anak2nya ke US, jelas
tdk miskin ...saya kira banyak studi2 yg telah menjelaskan bahwa sangat
mungkin utk menarik keuntungan besar dlm informal economy, meskipun tdk
banyak terjadi... 

Bicara informal economy, yg sering kali terjadi adalah kembali ke
permasalahan "definisi" dari "informal economy"... sebagian scholars
mendefinisikan informal economy bukan sbg "unregistered business",
tetapi lebih pd "small scale business"...memang terdpt kompleksitas di
sini, apakah "becak" itu informal? small scale? kalau dia dimiliki oleh
orang kaya yg punya puluhan becak disewakan, maka dia sudah bukan small
scale lagi, terlepas dr masalah registered or not...berlaku jg utk
tukang bubur ayam, es cendol, dll. yg bisa saja dimiliki oleh satu
orang sbg bagian dari bisnis yg cukup besar... so, it's not that
simple.. bicara informal economy tdk selalu berarti kemiskinan...

Kalau "terpinggirkan" dalam konteks ruang kerja PKL, memang satu syarat
yg harus dipegang oleh pemerintah negara berkembang adalah: menerima
keberadaan informal economy sebagai suatu bagian dari sistem kota itu
sendiri... saya kira sudah banyak tulisan ttg ini, juga di Indonesia,
yg menganjurkan pemerintah mengakomodasi kebutuhan ruang dari informal
economy...

> Kenapa
> saya katakan atas nama efisiensi, alasan klasik yang muncul untuk
> "mengusir"
> kegiatan yang diberi label "sektor ekonomi informal" antara lain
> kemacetan,

Kecuali masalah kemacetan, saya tdk tahu kalau informal economy banyak
terkait efisiensi ekonomi kota... belum pernah baca studi ttg itu...jg
belum pernah meneliti ttg itu...

Salam,
Eko.



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke