Rekan2 semua, khususnya Pak Roos and BTS, ysh:

Tertarik utk mengomentari pertanyaan dari Pak BTS dan Roos Akbar
mengenai siapakah planner itu dan fakta yg menunjukkan bahwa pekerjaan
tata ruang banyak dilakukan dg analisa matematik sederhana anak SD.

Pertama, saya ingin kemukakan bahwa seperti kita ketahui bahwa planner
bukanlah semata membuat spatial planning saja. Masih banyak peran
planner dalam masyarakat diantaranya saya sebutkan disini: profesi yg
memformulasikan kebijakan komunitas, membangun visi masa depan, mediator
diantara conflicting community interests, facilitator, public advisor,
etc. Inilah pula yang saya senantiasa sampaikan kepada mahasiswa saya
disini bahwa peran planner akan semakin meluas seiring dg perkembangan
masyarakat yang sangat dinamis ini.

Apakah seseorang hanya dengan kemampuan matematika anak SD bisa
menjalankan peran sebagai planner? Tentu saja tidak. Begitu pula dg
hanya mengandalkan kursus planning selama dua hari. Inilah pula yg
mendorong kita utk senantiasa mengembangan planning education di tengah2
dinamika masyarakat yang kian penuh tantangan. Apalagi bilamana kita
juga mengacu kepada kondisi pada post modernism dimana "the future of
the community is no longer primarily based on the sense of order,
comprehensibility, predictability and rationality". Bagi masyarakat post
modernism yg tidak lagi percaya pada predictability and rationality,
tentunya hasil analisa anak SD ataupun hasil analisa model ekonometrik
yg rumit tidaklah menjadi soal bagi mereka.

Kedua, saya ingin menyampaikan suatu laporan yg pernah dibuat oleh suatu
komite yg dibentuk oleh ACSP tentang jatidiri planning. Apa yang membuat
planning berbeda dg profesi lainnya. Terdapat enam buat generic themes
yg menjadi jatidiri planning dan saya menggunakan ke-enam generic themes
ini sebagai jawaban tambahan thd pertanyaan: siapakah planner itu?

Pada bagian akhir ini, saya ingin pula mengemukakan bahwa bagi planner
dimanapun ketika masyarakat menjadi semakin dinamis dan kritis thd
rationality, pendekatan perencanaan pun tentunya tidaklah lagi
berdasarkan pada rational action melainkan pada kemampuan berkomunikasi
dg berbagai stakeholders. Pendapat saya bagi pengembangan profesi
planner adalah janganlah terlalu menekankan kepada kemampuan utk
memproyeksikan masa depan dg menggunakan rationality melainkan kepada
kemampuan to make connections among interests, public agencies, and
profession and disciplines, between public and private sector and
between government and the public. These are the skills that a planner
needs to have to face greater challenges in the 21st century.

Tulisan selengkapnya saya muat di post terakhir blog saya
<http://indonesiaurbanstudies.blogspot.com/2007/07/challenges-for-planni\
ng-in-indonesia.html> . As always comments are invited.

Terima kasih.

Salam hangat dari Savannah,

Deden Rukmana
Indonesia's Urban Studies <http://indonesiaurbanstudies.blogspot.com/>



Kirim email ke