Selamat pagi milister ysh khususnya kepada Kang Deden, Pertama, kumaha kondisi Savanah sedang panas2nya yah.... Iiih meuni hayang pisan kaditu.
Tentang posting Kang Deden terkait dengan posting Kang deden saya yang tinggal di pedalaman ini berkeinginan untuk bereaksi sebagai berikut: Who are the planner .... jawab saya egp .... he he he. Maaf saya terlalu langsung njawabnya yah. Sekali lagi punten pisan Kang Deden juga dimas BTS terhadap reaksi saya yang sangat kurang ajar. Saya judeg juga sebenarnya dengan pertanyaan tersebut. Saya kebetulan dipercaya MPKD-UGM untuk memberikan training tentang Pejabat Fungsional Madya Perencana. Merupakan proyek Bappenas. Wuah dengan 3 minggu training seorang sdh bisa menjadi Pejabat Fungsional Perencana... artinya dia secara skill diakui sebagai perencana. Mereka datang dari seluruh departemen dan badan maupun pemda. Secara formal, mereka berhak menyandang gelar perencana. Dalam hati saya ... wuih dengan 21 hari kita bisa merubah seseorang yg latar belakangnya bermacam2 menjadi seorang perencana. Bagi saya untuk menentukan seseorang itu perencana itu gampang-gampang sulit. Soalnya bagi saya untuk mengetahui diri kita, saya harus berbuat dahulu... biar orang lain yang menilai kita .... baru kita tahu siapa kita. OK saya mencoba menjadi analist .... pura2nya yah : Kang Deden menuliskan : Apakah seseorang hanya dengan kemampuan matematika anak SD bisa menjalankan peran sebagai planner? Tentu saja tidak. Begitu pula dg hanya mengandalkan kursus planning selama dua hari. Jawaban saya : Memang itulah yang dipahami masyarakat dan kita tidak bisa menolaknya. Karena memang planner selama ini dipahami sebagai keahlian yang bisa dilakukan oleh seorang tingkatan STM (ulah terlalu merendahkan pisan atuh Kang Deden - meuni hanya hitung2an tingkat SD .... he he he). Ini tidak terlepas pada masa-masa awal perencanaan tahun 1965-1980an khususnya dilaksanakan oleh teman-teman (termasuk saya) di Direktorat Tata Kota dan Tata Daerah pada tingkat pusat dan di Dinas PU dan Bappeda di daerah. Waktu itu mekanisme perencanaan demikian hebatnya dengan survey 21 hari bahkan kadang hanya 1 minggu, yang penting pergi ke Kantor Statistik kumpulkan Kabupaten/kotmadya dalam angka dan mengumpulkan data Podes, kemudian ditambah sedikit surevy pengenalan fisik lapangan dapatlah disusun sebuah Rencana Induk Kota/kabupaten. Ini berlanjut sampai dengan tahun 1990 dengan adanya variasi perubahan frame perencanaan kota/daerah (dikenal RUTRK/RKUK dlsb). Inilah yang dikatakan produk perencanaan. Pertanyaan kita apakah itu produk perencanaan???? Jawab saya IYA namun itu pada masanya. Apakah itu salah ... saya katakan tidak karena itu dibutuhkan pada masanya. Memang lalu muncul idiom rencana itu ibarat martabak .. diberi telor 1 ya martabak diberi telor 5 ya martabak. Saya jawabnya apakah kita harus membedakan RSS itu bukan rumah dan Rumah Mewah itu adalah rumah...???? Jadi bagi saya tergantung sikon dan siapa yang membutuhkan. Bagaimana masyarakat menilai perencanaan tersebut. Apakah mereka mengatakan ini produk perencanaan ??? Jawabannya IYA buktinya mereka menggunakan sebagai acuan. Nah kalau itu produk perencanaan, lalu siapakah yang membuat ..... pastilah disebut perencana. Jadi ... Who are the planner.... ????? Jawab saya ya pembuat rencana yang menghasilkan produk rencana tersebut. Seperti pematung yang memproduk patung. Lalu mengapa kejadian tersebut dibiarkan demikian (kalau kita menganggap bhw itu bukan mekanisme perencanaan). Jawab saya... karena kita pada waktu itu baru membutuhkan bentuk rencana yang seperti itu. Pergerakan pertumbuhan pada waktu itu relatif masih bisa terdeteksi dengan baik. Kota Gombong di Jawa Tengah kita rencanakan dalam 20 tahun ya akan spt apa... bisa dinilai. Kota Lubuk Sikaping idem dito. Bahkan kota yang levelnya seperti Malang dan Yogya sebagai kota menengahpun tidak mengalami perubahan yg significant. Lalu terjadilah perubahan pilar2 kehidupan sosial dan ekonomi. Siapa yang bisa menduga waktu itu ada kejadian 1997/1998. Siapa yang akan menduga bahwa sebuah SMS akan mampu menciptakan suatu mekanisme komunikasi baru. siapa yang memahami bahwa pola tingkah kita akan berubah oleh adanya ATM. Semua itu berkembang pada akhir abad 20 dan pindah ke milenium 3. Sekarang saya bisa bertanya kepada ahli manapun didunia ini. Adakah yang bisa memperkirakan perkembangan regional dalam kurun 5 tahun mendatang. Seorang futurist seperti John Naisbit saja bisa keliru dengan Megatrend 2000. Saya tidak usah mengusik tentang teori yg dikembangkan Gurnal Mirdal dalam Asian Drama yang perlu banyak revisi disana. Bagaimana teori Wild Geese yang mengembangkan Jepang sebagai ujung Wild Geese dan NIC dengan Six Miracles akan menjadi pendampingnya, mendadak runtuh dengan kemunculan China. Bahkan India pun sekarang diperkirakan menjadi raksasa baru. Siapa yang bisa memperkirakan itu. Saya tidak mau terlempar pada sebuah keputus asaan dengan melihat dunia ini. Tetapi tahukah kita bahwa sebenarnya kemajuan ekonomi Indonesia ini sebenarnya bukan produk dari para planner yang canggih dari kita. Tetapi lebih karena permainan MNC yg mendekati dengan pendekatan Economy Politic. Bahkan lebih tragisnya adalah produk dari fund managers dunia. Bagaimana Soros dengan mesinnya Quantum bisa merubah pola ruang Indonesia saat ini. Bagaimana Noreena Hertz berani mengatakan bahwa Lingkungan Hidup tidak lebih adalah permainan dari para pemegang kapital. Nah kalau itu semua kita pikirkan... mendadak saya tersadar ... benarkah kita planner. Ataukah kita tidak lebih seorang pemimpi yang membayangkan diri kita sebagai penggagas kehidupan masa depan. The real planner adalah sekelompok kecil yang ada dibelakang pemilik modal yang menggagas kemajuan suatu region dari sudut pandangnya.... dari sudut kepentingannya. Tidak yakin... coba tengok dengan sangat cermat apa yang terjadi disekeliling kita. Pengembang kota Kediri adalah pemilik Gudang Garam. Pengembang kota Kudus adalah kelompok pemilik industri rokok dan industri elektronik disitu. Gak percaya... ????? Silahkan cek. Coba teliti, bagaimana mudahnya perubahan dr sebuah gambar rencana pada wilayah seperti Jabodetabek. Saya mengalami ketika masih di Proyek JMDP dan JIAP. Ini masih skala nasional... dalam skala Global. Benarkah kita tahu bahwaq perubahan pola ruang di sekitar tembaga pura tidak lebih karena pengaruh dari pengusaha tambangnya. Bagaimana Newmont berhasil merubah rona lingkungan di Sulawesi dan Nusa Tenggara. Apakah ini bagian dr perencanaan. Bahkan di China sendiripun saat ini muncul suatu stigma baru akibat pertumbuhan yang sangat cepat tersebut. Saya melihat dan mendengar dari industriawan yang invest di China.... acid rain dlsb. Yang mengarah kepada pembentukan pola ruang yang berbeda lagi. Janganlah kita menganggap bahwa pembuat rencana yg notabene dibiayai negara baik melalui APBN maupun PABD sudah bisa dikatakan sebagai hasil merencana. Meskipun sebagian terbesar rencana tersebut tidak bisa dilaksanakan. Rencana yg tidak terlaksana adalah hanya mimpi. Saya yakin rekan2 tidak mau disebut sebagai pemimpi..... Jadi... who are the planner.... ????? Marilah kita merenungkan dulu. Janganlah kita emosi dengan kondisi ini. Karena social science will grow based on the growth of the society. Cilakanya perkembangan sosial yang terjadi saat ini tidak mengikuti garis lurus lagi, sehingga dibutuhkan suatu keahlian untuk melihat keboleh-jadian2 dengan pendekatan yang tidak biasanya. Ada banyak buku yang bisa kita cermati Peter Sange dengan Presence, the New Reality dari Drucker, the Global Change dlsbnya. Buku2 tersebut sangat tegas menunjuk bahwa perkembangan IT sebagai biang keladinya. Bagaimana dunia tanpa barrier yg konsepnya dikembangkan oleh AS yang sebenarnya merupakan alat ampuh pemegang capital. Free flow of capital, free flow of information, free workers, free flow of industry....semua menjadi tidak terduga. Apakah kita tahu bahwa dibalikkeputusan Nike saat ini perusahaan sepatu itu sedang mengincar DIY untuk menjadi based nya. Bagaimana dengan sebuah alasan simpel Sony mendadak hengkang ke Vietnam dan sekarang siap2 lagi mau masuk Indonesia. Bagaimana saat ini TPT industry yg semula merupakan sunset industry ternyata bisa kembali menjadi primadona dan ini berpengaruh ke Majalaya Bandung. Bagaimanakah kita menyadari bahwa ternyata saat ini sedang digarap serious dari pemilik modal untuk memindahkan Automotive industry ke Indonesia cq Botabek. Atau ambil contoh tetangga, bagaimana Siam Reep bisa mendadak dari sebuah kota sepi menjadi sebuah kota wisata yg sangat sibuk dalam 1 tahun dan berpengaruh kepada pola tata ruang krn sebuah installment bandara. Semua itu seperti sebuah proyeksi yg tidak teratur. Ataukah kita perlu mempelajari secara mendalam tentang Chaotic Theorm untuk menjadi planner. Atau mungkin kita lebih baik mengatakan bahwa ternyata the planner adalah para dukun ... he he he .... maaf maaf..... mohon tidak tersinggung. Salam dari Jogja, Dari orang yang mencoba belajar jadi dukun biar bisa jadi planner yang baik bambang sp ps : mungkin kita perlu melakukan meditasi untuk bisa menjadi planner yg baik sehingga bisa mengetahui apakah gejala alam yg terjadi di masa mendatang.... bukan untuk menyaingi Mama Laurent atau Gendeng Pamungkas.

