Pak BSP dan milister semuanya ysh,
   
  Maaf, setelah  demikian banyaknya  sajian  posting-posting indah dan 
bersemangat tentang daerah maju satu dua hari ini  yang sangat menarik dan 
hangat….. dimana hak-hak  kenikmatan hidup dikota besar dari kelas menengah 
kita  rupanya telah  ‘didzolimi’ oleh peraturan MenPU tentang kenaikan tarif 
tol… saya  kali ini mohon ijin untuk numpang memposting perkara masalah daerah 
tertinggal sebentar saja … dan mohon maafnya kalau jadi  agak ‘merusak suasana’ 
…. karena sedang hangat-hangatnya  bicara tentang suasana kawasan kota 
megapolitan .. lalu saya numpang sedikit bicara tentang diskusi wilayah 
tertinggal………. 
   
  Melanjutkan diskusi santai dengan pak BSP tentang topik yang sama yl…. secara 
khusus kali ini saya ingin mohon izin dari pak BSP yang baik untuk saya ingin  
mengeroyok Bapak sebentar dan sedikit saja pak…. karena posting saya berikut 
ini nadanya seperti membela pak Eka yang dalam posting pak BSP 23/08  “Morotai, 
Jangan kau rusak alamku dst …”  mendapat kritik dari Bapak… dan belum lama saya 
mendapat  ‘kosakata’ tambahan yang mantap bahwa kalau membenarkan atau 
bersepakat atau membela itu artinya juga sekaligus mengeroyok :-- )) …….
   
  Dari pak BSP : “…Pemerintah telah berhasil merusak nilai2 keguyuban dan 
nilai2 kejuangan/kegigihan /keuletan dan kearifan lokal yg terjadi di Bantul 
hanya dengan perkataan : pemerintah akan membantu masyarakat yg terkena gempa 
dengan dana 15 juta per rumah. 
  Yang muncul saat ini adalah masyarakat yg pintar bersilat lidah dan 
berbohong, masyarakat pemrotes dan pandai menanyakan hak dan kurang pandai 
memahami kewajiban.  Masyarakat bantul mendadak menjadi MASYARAKAT 
PEMINTA-MINTA. 
  Masyarakat Bantul mendadak berubah menjadi masyarakat pencuri dan masyarakat 
yang sangat lihai dalam melakukan korupsi. Mereka sudah mengenal bagaimana 
membuat stempel untuk sebuah pertanggung jawaban. Mereka sudah pandai untuk 
mensiasati kata kriteria. Suatu nilai luhur sudah hilang di Bantul. Suatu nilai 
yang kata banyak orang menjadi modal pembangunan yaitu ”social cohesiveness” 
sudah lenyap disana.
  Inikah budaya yang kita kehendaki??? Inikah kondisi yang kita kehendaki??? 
Ini adalah bila kita memaksakan kata tatanan modern kedalam tanan budaya 
tradisional. Budaya nir-uang menjadi budaya serba uang (budaya yg selama ini 
kita geluti).
  Memang alasannya bagus... itu demi untuk kemanusiaan. Tetapi hasilnya adalah 
masyarakat yang ringkih........” 
   
  Tanggapan : Dari apa yang diceritakan pak BSP selama ini tentang pengalaman 
bapak  yang teramat  luas dan canggih  tentang pengalaman  kunjungan diberbagai 
pelosok  dunia yang seakan hampir tak ada pojok dunia manapun yang belum  
pernah disinggahi,.... seperti dari New York sampai padang Serengeti di 
Afrika...... rakyat kecil dan sederhana juga mengerti bahwa setidaknya pak BSP 
adalah kesan tentang sosok priyagung yang selain elit, pandai, cerdas namun 
juga makmur dan hidupnya mapan.....
  Berbeda dengan rakyat banyak di Bantul sebagai korban gempa, yang menurut pak 
BSP kini ”mendadak menjadi masyarakat peminta-minta” ..... 
   
  Banyak daripada rumah mereka di Bantul yang hancur akibat gempa itu juga 
bukan rumah hasil karya mereka membeli lahan dan membangun rumahnya ..... 
banyak diantaranya adalah rumah ’lama’....... itu artinya sebagiannya adalah 
rumah warisan  keluarga atau leluhur .... yang konstruksinyapun bukan anti 
gempa......
  Kondisi itu sekaligus mencerminkan bahwa sebagian rakyat Bantul selama ini 
tidak mampu membeli rumah baru (sama seperti kondisi kehidupan rakyat dibanyak 
tempat lain ditanah air).......... hidupnya sehari-hari  pas-pasan atau bahkan 
tekor (barangkali seperti yang diinginkan oleh pak BSP... ’tradisional’, 
miskin, sederhana,  tidak ’kebandan’ atau tidak hedonis)......,  mencerminkan  
bahwa rakyat Bantul secara umum atau sebagiannya  tidak cukup kaya raya atau 
setidaknya tidak cukup  ’mapan’ hidupnya.....
   
  Pemerintah rezim terdahulu telah lebih dari 30 tahun lamanya menyengsarakan 
rakyat ..... dan dengan budaya korupsi, KKN dsb. telah terlebih dahulu memulai 
kerusakan moral bangsa ..... yang berakibat pada krisis hutang LN dan sulitnya 
kehidupan ekonomi rakyat ...... 
  Kalau untuk hidup sehari-hari saja sudah berat .... bagaimana rakyat Bantul 
akan menyisihkan dana untuk membangun kembali rumah yang runtuh? ... 
  Cara membuat kriteria  ’rumah yang rusak’ yang akan ’disantuni’  juga 
barangkali memberi andil juga pada ’kreativitas’ rakyat untuk ’merekayasa’ luas 
kerusakan rumah mereka...... agar mereka bisa mendapatkan santunan yang 15 juta 
rupiah itu.......
   
  Namun untuk sekedar mendapatkan uang santunan 15 juta rupiah, (ada yang angka 
sekian itu cukup, ada yang kurang) ......baiklah ... janganlah 15 juta rupiah 
..... let’s make it to be 1,5 milyar rupiah sebagai santunan korban gempa.... 
...  lalu adakah dari para milister yang terhormat  mau dengan senang hati  
rumahnya ”yang tidak anti gempa” digoyang gempa berkekuatan 7 skala richter ... 
lalu tanpa janji jaminan bahwa nyawa pasti masih menempel dibadan lalu 
maaf...., punggung dan kakinya tertimpa balok kuda-kuda atap rumah serta  istri 
atau anaknya tergencet tembok yang runtuh lalu meregang nyawa atau hidup tetapi 
kakinya remuk?........... 
   
  Jadi seyogyanya terlepas dari plus-minusnya.... upaya bantuan merekonstruksi  
perumahan korban gempa di Bantul tidak diperkecil artinya  dengan 
mengkedepankan side effect dari kebijakan itu ..... karena kalaupun rumah-rumah 
 korban gempa itu nanti berhasil direkonstruksi ...... tetap saja yang semula 
miskin dan hidupnya susah juga tidak akan mendadak kaya raya .... mereka paling 
banter juga akan kembali menghadapi ”masalah lama” ... ialah kesulitan ekonomi 
dan perjuangan keras untuk menyambung hidup sehari-hari.... dan belum tentu 
seorang dari mereka akan menggunakan uang santunan itu untuk jalan-jalan keluar 
negeri seperti yang pak BSP mampu lakukan kapan saja .........
   
  Dari pak BSP : “……Uda mengatakan bahwa mereka sekarang bergegap dan bergegas 
ingin membuat Morotai dulu menjadi Jakarta sekarang. ... Uda boleh percaya 
dengan saya. Selama 6 tahun saya berteriak kemana2. Saya mendorong terbentuknya 
Jogja yg tidak Jakarta....! !! …...”
   
  Tgp : Saya kira ini sekedar menunjukkan saja bahwa apa yang menurut pak BSP 
masyarakat sana masih tradisional atau katakanlah masih ’lugu’, tetapi 
berhubung pada tahun 1944 saja disana pernah terdapat pengalaman selama 1 tahun 
menjadi pangkalan militer 60.000 tentara AS dengan berbagai peralatan dan 
fasilitas kotanya ... sejak dari kebutuhan makanan  dalam kaleng yang beberapa 
kadang juga dibagikan kepada penduduk sampai keinstalasi pengolahan 
Coca-colanya segala kala itu juga ada disana ...sehingga bak sebuah kota... 
maka ’keluguan’ yang ekstrim masyarakat disana bak  masyarakat Badui atau Suku 
Anak Dalam  seperti yang dimaksud oleh pak BSP itu saya khawatir tidak ada 
disana.... 
   
  Bahwa beberapa masyarakat disana mengistilahkan ’menginginkan Morotai seperti 
 Jakarta’  ... saya kira ini sekedar  sebuah ungkapan dari awam saja yang dalam 
pandangan masyarakat  teknik keruangan kota  kiranya samasekali tidak ’pas’ 
.... yang kurang lebih maksudnya ”menginginkan Morotai yang udik dan tertinggal 
agar memiliki fasilitas kota yang layak dan memadai”... katakanlah setidaknya 
... ada jalan yang beraspal ..... ada jalan ’tembus’ keliling pulau .... ada 
bermacam fasilitas kota lainnya yang umum ..... 
   
  Pak BSP : ”..... Sekali lagi saya mohon maaf pada Uda bahwa dalam hal ini. 
Bagi saya harus sangat berhati-hati untuk memilih kata pembangunan di Morotai. 
Pilihan pembangunan adalah disesuaikan dengan kecepatan tanggap budaya dari 
masyarakat di wilayah tersebut................
  ……...Itu yg saya sedihkan sebagai perencana Uda. Bagi saya bangunan indah 
bukanlah segalanya. Tetapi masyarakat yg tenteram dan sejahtera menurut 
nilainya adalah yg saya dambakan. Kalau saya boleh berkata, saya akan berteriak 
bahwa saya telah gagal dalam mendampingi kemajuan Jogja…….”
   
  Tanggapan :  Bahwa barangkali ada keinginan pemerintah pusat menjadikan 
Morotai sebagai  salah sebuah ”pulau   terluar” dikawasan timur Indonesia yang 
”menghadap Pasifik” menjadi  salah satu ”kawasan strategis nasional”...... 
dimana kalau mengharapkan Biak misalnya .. barangkali isu separatisme masih 
cukup kencang disana .... atau malah sebagiannya berakar dari sana.... lalu 
Morotai kiranya lebih dipandang sebagai ”benar-benar setia pada NKRI”....  maka 
kiranya pandangan-pandangan  ”kepentingan nasional” seperti itu patut 
dipertimbangkan untuk diterima ......
   
  Sama saja kiranya seperti ”konsekwensi” bahwa Jakarta ”dipilih” menjadi 
”ibukota negara” .... lalu sebagian dari ”ketenangan hidup penduduk asli lokal 
Betawi”   seperti dikatakan oleh beberapa pihak sebagai ”terusik”....... 
kiranya dimanapun akan diletakkan ibukota negara yang sekaligus menjadi fungsi 
kota primat...... apakah di Palangkaraya .... atau di Yogya... atau di Makassar 
atau mungkin Bangka atau Merauke .... tentu  saja  tetap akan muncul 
konsekwensi  ”ketenangan dan keasrian ataupun keaslian ketenangan kehidupan 
penduduk asli lokal”nya akan terusik.... lalu muncul  istilah ’gegar budaya’ 
dsb. dsb......
   
  Jadi kiranya perlu  diakomodasikan untuk ”sama-sama diberi ruang” antara 
aspirasi pembangunan dari atau bagi masyarakat asli lokal ... dan  isu 
pembangunan keruangan demi kepentingan strategis nasional  bagi seluruh bangsa 
yang juga perlu diberi ruang ....... 
   
  Pak BSP :  ”..... Saya tidak berharap Jogja menjadi Jakarta krn Jakarta 
sebenarnya adalah kota yg sakit (baca the Megacities in Asia : UN-ESCAP). 
Meskipun akhirnya saya kalah. Saat ini saya ditangisi oleh banyak komponen 
masyarakat di Jogja akhirnya setuju  dengan pemahaman saya.
  Singapura tidak lebih baik dari Nganjuk dilihat dari sisi nilai2 kemanusiaan. 
New York tidak lebih bagus dari Temanggung. Tokyo tidak lebih nyaman dari 
Rabba-Bima. Bahkan saat ini orang jogja mulai berteriak.. kembalikan jogjaku yg 
dulu. Malioboro tidak lagi mempunyai roh. Apakah semua ini. Semua ini adalah 
bagian dari cara pandang perencana dalam melihat kata bagus/nyaman dalam 
perspektif masing2.
  Apakah keteraturan itu adalah sesuatu yg kita idamkan. Dalam tingkatan 
tertentu iya. Tetapi coba tangkap persepsi sopir di Singapura. 
  Ah hidup di Singapura menjadikan kita jadi robot uang. Kerja keras cari duit 
kemudian tax ... tax...tax. Selain itu fine... fine... fine. (bukan berarti 
baik tapi hukuman/denda) . Atau bagaimana pendapat pedagang di New York. Ah 
hidup di New York itu adalah hidup yg penuh bahaya, hidup selalu terancam. 
......”
  Tanggapan      : Fungsi dari kota-kota besar  dunia seperti Jakarta, Tokyo, 
New York atau Singapura  memang jelas berbeda dari fungsi kota-kota seperti 
Yogyakarta, Nganjuk, Rabba-Bima, Salatiga atau Leuwiliang...........
  Untuk hidup tenang bersama keluarga tentu Nganjuk lebih nyaman ... tetapi 
untuk berbisnis atau bekerja bagi mereka yang bermodal  dan berpendidikan 
tinggi .... Singapura pasti lebih nyaman  dibanding Nganjuk .... 
  Sopir taksi yang di Singapura masih mengomel  untuk urusan denda dan pajak 
.... dia pasti akan lebih lemes dan apes lagi kalau misalnya disuruh pindah 
mengoperasikan taksinya dikota Nganjuk......
  Demikian juga Temanggung lebih nyaman untuk kehidupan kaum pensiunan lanjut 
usia dibanding New York yang kosmopolit dan megapolit ........ tetapi untuk 
seorang Madonna Louise Ciccone...... Temanggung atau Michigan atau Detroit.... 
atau  bagi (ibunya) Krisdayanti binti Tranggono..... kota Batu disebelahnya 
Malang ..... atau bahkan Surabaya ... bisa dipandang sebagai ’kurang cukup 
menjanjikan’ untuk seorang calon entertainer besar dan muda dapat mengembangkan 
kariernya setinggi-tingginya menuju puncak...... dimana pilihan ideal  menurut 
keyakinan mereka adalah ternyata  New York atau Jakarta.... walau segalanya 
harus dimulai dengan 35 dollar bagi Madonna atau sebuah kamar tidur kecil 
kontrakan bagi bertiga untuk Krisda.....
  Pak BSP : ”........... Bahkan saat ini orang jogja mulai berteriak.. 
kembalikan jogjaku yg dulu. Malioboro tidak lagi mempunyai roh. Apakah semua 
ini. Semua ini adalah bagian dari cara pandang perencana dalam melihat kata 
bagus/nyaman dalam perspektif masing2........”.
   
  Tanggapan :  Saya setuju ”Kembalikan jogjaku yg dulu”..... atau  ”Eee 
owaiyooo....... Kembalikan Baliku padakuuu” ..... (lagu indah satir ciptaan 
Guruh Sukarnoputra) adalah ungkapan menyayat hati tentang hilangnya nostalgia 
keasrian daerah ’masa dulu’  yang dirusak oleh modernisasi dan semacam  suatu 
proses  ’overindustrialization’ dengan aroma kesekerakahan yang berlebih dan  
seperti salah arah......
  Tetapi saya kira ....  suasana indah nostalgik  yang ’rusak’ itu bukan lebih 
disebabkan oleh semata—mata  ”cara pandang perencana dalam melihat kata 
bagus/nyaman dalam perspektif masing2”.... , tetapi sepertinya ”pelaku 
perusakan atau  kerusakan” itu adalah lebih pada para pemilik modal dan atau 
eksekutif perusahaan ..... yang sepertinya umumnya  lebih bervisi ’ekonom’ atau 
’industrialis yang rakus’ lebih daripada  ”bercara pandang perencana” ......... 
selain bahwa masa autoritarianism yang panjang juga tidak memungkinkan 
munculnya celah kontrol pembangunan oleh masyarakat.... 
  Akh,.... gimana sih pak BSP ..... saya kok malah jadi membela habis-habisan 
planner sementara bapak malah menyalahkannya ...... yang planner itu saya atau 
Bapak sih?........
   
  Ah.. sudah terlampau panjang rasanya, sementara demikian dulu pengeroyokan 
saya kepada pak BSP yang baik, mohon ampunannya, ... mohon pamit mundur dulu 
dan  salam, .... juga salam rindu untuk jumpa lagi dengan Prof. Waworoentoe di 
Tomohon dan pak Risman Maris di Kebayoran Lama....... 
   
  Selamat berakhir pekan untuk semuanya,
  aby

       
---------------------------------
Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect.  Join Yahoo!'s user panel 
and lay it on us.

Kirim email ke