Selamat pagi milisters pak Aby dan pak Koko yg saya kagumi, Saya benar2 mendapat kehormatan bahwa saya menjadi topik keributan karena kebawelan saya tentang Morotai. Mungkin ada baiknya saya ingin mendudukkan permasalahan lebih proporsional. Saya kira saya tidak perlu menjawab dawuhnya dan geramnya pak Aby kepada saya krn saya begitu ngotot sehingga masuk ke jalur pribadi saya. Krn bagi saya justru di milist ini saya ingin mengajak rekan2 lebih melihat substansi dibandingkan melihat siapa dia siapa saya. Saya yakin pak Aby tujuannya baik untuk menyadarkan saya bahwa saya harus lebih merunduk. Terima kasih sekali atas lecutan pak Aby.
Saya ingin mendudukkan tentang program 'pembangunan'Morotai ini dengan kacamata kehati-hatian. Memang benar bahwa Morotai pernah menjadi strategic base dari Sekutu pada perang dunia ke 2 (tahun 1943-1945). Memang benar bahwa pada waktu itu orang2 sdh pernah melihat mobil (hanya jeep willys dan sebangsanya), memang benar mereka pernah melihat gedung (sebatas kantor dan hanggar dan beberapa rumah sederhana seperti barak dan rumah pejabat militer). Semua itu adalah hal baru bagi mereka. Namun ada satu hal yg mereka punyai yaitu budaya. Saya bahkan sangat tegas disini kata budaya dengan B besar sekali. Kata budaya ini tidak semata mereka punya tarian atau nyanyian, tetapi mereka punya adat istiadat dan framework of thinking dan action. Hal ini sangatlah mahal saat ini. Point pertama saya : Artinya disini adalah bahwa memang masyarakat Morotai sudah kenal mesin2 modern tetapi dalam konteks keterpaksaan dan penuh dengan ketakutan. Ini jelas akan berbeda dengan nilai budaya yg secara sukarela mereka anut. Dalam waktu 60 tahun lebih ini dengan cepat mereka akan mencoba melupakan itu (saya membuat analogi yg dikemukakan kalau tidak salah pak Aby sendiri dengan kasus Kamboja). Selanjutnya Pak Aby, saya mencoba tidak untuk menggunakan contoh2 luar negeri unttuk menghindarkan pemelencengan arah diskusi. Saya ingin melihat bagaimana proses budaya Jawa Tengah khususnya di kota2 Jawa Tengah bagian selatan. Jaman tahun 1980an saat mulai dikenalkannya modernisasi secara eksesive masih banyak orang tua di Jawa Tengah yg mendendangkan doa Kidung Rumekso ing Wengi sebagai sebuah warisan budaya untuk melindungi anaknya dari unsur jahat malam hari. Mereka saat ini justru melihat Trans TV atau TPI dengan lagu dangdut maupun film2 barat. Tidak ada yg salah hanya satu yaitu siapkah masyarakat yg lugu itu menerima berondongan kata "budaya baru" yg notabene lebih kompleks dan membutuhkan pencernaan yg lebih jauh. Pada saat masyarakat "maju" melihat film orang berciuman mereka dengan cepat dapat menyaring arti penglihatan itu. Tapi bagi orang yang lugu itu bisa berarti sebuah pelajaran baru. Disini yang saya melihat betapa masyarakat Morotai dalam kondisi vulnerable. Point kedua saya : masyarakat Morotai perlu dipersiapkan secara budaya untuk dapat memahami apa yang bakal dia lihat sehari-hari pada masa mendatang setelah proyek raksasa ini terlaksana. Tanpa persiapan tersebut maka akan muncul budaya yg baru yg bisa sangat berbahaya bagi penduduk Morotai itu sendiri. Saya juga ingin mengatakan bahwa kita oke-oke saja membuat bangunan yg indah-indah. Ibarat Sheik di Abu Dabi membuat Palm of Jumeirah yg katanya sebagai salah satu waterfront city termegah didunia. Yang justru saya ingin menyampaikan, saya ingin berbisik kepada para planner yg terhormat (nah kan pak Aby saya juga memberi penghormatan kepada planner) janganlah melihat kepada bentuk gambar yang indah, tetapi lihatlah pada kenyamanan masyarakat disana masuk dalam bangunan itu. Saya enggan menggunakan kata masyarakat tidak siap, nanti ndak dikira saya diskriminatip pada masyarakat tradisional. Saya justru membela mereka. Kasus di Palembang tahun 1980an benar2 memberi pelajaran kepada saya. Pada waktu itu dibangun Mall indah Palembang Indah Baru (maaf bila namanya sedikit meleset tapi itu yang didekat 24 ilir). Bangunannya benar2 megah dan lantainya dari keramik putih yang kinclong2. Apalacur.... setiap hari disiapkan petugas mungkni lebih dari 8 orang yg membawa pel basah. Hal ini disebabkan dengan sangat enaknya masyarakat Palembang masuk ke Mall tersebut dengan membawa lumpur yg menempel di sandalnya yg sederhana. Salah siapa ini??? Menurut saya, ini salah perencana. Dia tidak memperhatikan kesiapan masyarakat dalam mendisain bangunan. Mengapa tidak dipilih bentuk dan warna lantai yg bisa mendorong terciptanya pembelajaran bagi masyarakat. Point saya yg ketiga : planner tidak boleh semata2 hanya melihat hitungan ekonomis dan rasa keindahan semata, tetapi perlu lebih dikenali bagaimana budaya masyarakat. Mereka memang tidak statis, tetapi kenalilah pada awal pembukaan fasilitas itu, masyarakat dapat dengan cepat bisa menyesuaikan diri. Jangan diberi lonjakan budaya yg terlalu jauh. Akhirnya saya ingin menegaskan disini bahwa saya tidak anti terhadap pembangunan di wilayah timur Indonesia. Silahkan bangun megalopolitan disana. Namun saya justru mengajak teman2 perencana maupun pemerhati rencana untuk bersepakat bahwa meng-install sesuatu secara artifisial yg jauh dari pola adat setempat hanya akan menciptakan marginalisasi dari masyarakat setempat tersebut. Saya bisa mengambil contoh sejak dari marginalisasi masyarakat Betawi, marjinalisasi masyarakat Lhok Seumawe sebagai 2 contoh nyata. Meskipun benar masyarakat Bali ikut dalam proses modernisasi, dalam bentuk pembangunan berpola inklusivitas, namun ternyata muncul ekses2 yg harus dicermati. Point ke empat saya : janganlah kita menciptakan pembangunan yg menyebabkan masyarakat tradisional tersingkir. Dan bila secara sadar ingin memasukkan masyarakat tradisional menjadi subyek pembangunan, perlu dilaksanakan secara hati2. Demikian tambahan saya, semoga akan dapat lebih menjelaskan sikap saya tentang proyek mercu suar Morotai tersebut. Saya tidak anti planner (meskipun dulu waktu saya di DTKTD pernah mau membentuk IAAP singkatan dari Ikatan Ahli Anti Perencanaan krn kesal dengan sikap menggampangkan dari sebagian besar perncana2 waktu itu dlm menghadapi permasalahan), saya hanya anti perencana yang terlalu memudahkan permasalahan dan tidak cermat dalam melakukan pengamatan sebelum menorehkan garis dalam gambar rencana. Karena yg kita hadapi adalah manusia sebagai subyek bukannya obyek. Mohon maaf kalau posting saya keruang berkenan di rekan2 sekalian. Salam dari jogja bambang sp

