Salam
  Pak Eka/ moderator,  menindaklanjuti usulan saya tentang isian baru peserta 
referensi, mohon kiranya dapat dibuat Topik Mingguan atau bulanan yang lebih 
serius. karena rasanya kalau tiap hari ada bahasan sperti sekarang ini saya 
jadi kewalahan memperbaiki jurus saya. Sekiranya ada topik Minggunan atau 
Bulanan yang dibuat dari isu harian maka tiap bulan akan bisa disusun Prosiding 
dari tiap pemakalah. materi Prosiding ini menjadi bahan diskusi 
bulanan/triwulanan bagi forum ini atau Forum IAP.
  Salam
  Semoga setelah ini bisa lebih aktif
   
  

- ekadj <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
              Referensiers ysh,
  Saya kutip kembali pernyataan Pak Wawo: “… sedikitnya memerlukan diskussi 
yang se sungguh serious mungkin, hal ini saya tidak sangsikan dalam milis ini, 
tetapi media internet walaupun sangat effisien kadang-kadang mengurangi 
kedalaman atau depth, tapi sebetulnya itu juga tidak usah merupakan problema 
bagi kita. …” Berdasarkan menara transmisi BTS saya, pesan Pak Wawo tertangkap 
cukup jelas sehingga tidak ada kebingungan dalam menafsirkannya. 
  Sudah saatnya kita melangkah lebih maju, dari media virtual ke forum diskusi 
untuk membahas beberapa topik diskusi kita. Suatu pertemuan yang dilangsungkan 
saban bulan saya kira sudah saatnya dibutuhkan untuk mematangkan silaturahmi 
dan tingkat pemahaman kita. Dan hal ini akan coba saya tawarkan kepada beberapa 
rekan muda untuk mau mengorganisirnya. Mungkin kita perlu semacam tim kecil dan 
sedikit pendanaan untuk menentukan lokasi pertemuan dan menyiapkan sedikit 
juadah. Untuk di Jakarta saya tawarkan kepada Pak Dwiagus, Elkana, Harya, dan 
Panpan.
  Berhubung sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan, saya perkirakan 
bisa dilaksanakan pasca lebaran sambil berhalal bilhalal; atau kalau perlu 
sambil ngabuburit?
  Beberapa topik saat ini kelihatannya cukup matang kita diskusikan. Pertama, 
pengembangan daerah terpencil yang masih perlu formulasi dan strategi 
penanganan. Saya melihat formulasi Pak BTS masih perlu pendalaman dan 
penyesuaian, terutama penerapannya dalam aspek keruangan. Saya melihat masih 
ada kelompok besar dalam hal ini: 1 mazhab pengembangan lokasional seperti yang 
diuraikan Pak BTS, dkk, 2 mazhab pengembangan pusat pertumbuhan seperti yang 
diuraikan Pak Aby, dkk, 3 mazhab pengembangan koridor pertumbuhan seperti yang 
diuraikan Pak Rofiq, Eko, dll 4 mazhab kesejatian kultural seperti yang 
diuraikan Pak BSP, Djarot, dll, dan 5 kelompok tidak bermazhab. Mohon maaf atas 
simplifikasi ini, namun saya sangat ‘memprihatinkan’ terhadap ‘penyakit 
kelemahan substansi’ yang menghinggapi ‘sebagian besar’ masyarakat Indonesia 
hingga saat ini.
  Kedua, kebijakan tarif jalan tol yang saat ini begitu mengemuka dan 
kelihatannya ‘sangat banyak ahlinya’ di milis ini. Bermula dari kegelisahan Pak 
BTS sebagai anggota masyarakat, kemudian telah mendapat tanggapan dari Pak 
Dwiagus, Harya, Irwan, dan terakhir Panpan. Satu point disini adalah aktivitas 
liberal dinilai secara sosialistik. Satu pemecahan kiranya adalah mencari 
landasan filosofis tentang pembangunan dan pengembangan jaringan jalan tol, 
terutama untuk kota-kota besar, atau secara khusus untuk Pulau Jawa. Satu 
perbandingan saya sampaikan adalah ketika MLIT menginisiasi kebijakan 
Shinkansen ke dalam RPJP/RTRWN Jepang pada tahun 1969, saya harap Pak Irwan dan 
Bu Puspita di Tokyo Uni mau berbagi. Satu tantangan ke depan yang akan kita 
hadapi adalah ‘pembangunan infrastruktur’ harus ‘sangat murah’ di masa depan 
dimanapun lokasinya di Indonesia ini. Pembahasan kita tidak sia-sia, karena 
saya mensinyalir cukup banyak pembuat kebijakan yang ikut dalam milis
 ini, seperti dari Bina Marga, Jasa Marga, Menneg BUMN, kontraktor, pendidik, 
pengguna, hingga rakyat yang tinggal di kolong tol. Sehingga kalau nanti kita 
akan melangsungkan seminar dan silaturrahmi, diharapkan akan cukup efektif.
  Ketiga, manajemen pertanahan sebagaimana diungkapkan oleh bosnya Pak Panpan, 
yang merupakan ‘inti’ dari berbagai permasalahan. Termasuk berbagai topik lain 
yang kita sudah pernah bahas, Morotai, ALKI, dlsb.
  Saya perkirakan sementara waktu seminar dan halal bil halal akan kita adakan 
sekitar 1-2 minggu setelah lebaran, mudah-mudahan Pak Wawo bisa hadir, waktu 
dan tempat menyusul. Beberapa bahan kompilasi mungkin sudah bisa disampaikan, 
Pak Aby? Untuk rekan-rekan muda kapan waktu cobalah kita berkumpul dulu 
merundingkan hal ini.
  Untuk Pak Mod, kelihatannya sudah mulai membatasi keanggotaan milis ini, 
sehingga perlu partisipasi kita bersama. Salam.
   
  -ekadj


  <[EMAIL PROTECTED]>
Re: [referensi] Membangun Daerah Terpencil
            Rekan rekan BTS, Aunur, dan milis lainnya, 
  Semestinya  pembahasan dasar masalah  'membangun daerah terpencil' yang telah 
dikemukakan oleh  BTS, sedikitnya memerlukan diskussi yang se sungguh serious 
mungkin, hal ini saya tidak sangsikan dalam milis ini, tetapi media internet 
walaupun sangat effisien kadang-kadang mengurangi kedalaman atau depth, tapi 
sebetulnya itu juga tidak usah merupakan problema bagi kita. Saya ingin mencoba 
secara singkat saja dahulu
  Pendekatan Biehl/Rondinelli  mungkin saya ingin elakkan, walaupun 
bagaimanapun kita tidak bisa melepaskan diri dari ekonomi regional dan lebih 
lagi masalah financing. Yang ingin saya coba adalah mungkin melanjutkan analisa 
LAS dan SMART rekan BTS ini serta mengkaitkannya dengan observasi rekan Aunur, 
yang merindukan akan punahnya budaya nasi tiwul, ikan asin, jeruk nipis,  
maupun atap rumbia, ataupun arsitektur rumah atau kapal  kayu asli, terhadap 
gelombang indomie, coca cola, fiberglass, atau bahan bangunan yang 
techno-industrial mungkin lebih unggul tapi barangkali tidak terlalu 'smart' 
(cerdas). 
  Barangkali juga ada semacam 'arus balik'  dari selera consumer sekarang atau 
masa depan. Kelihatannya nasi tiwul, gudeg kranggan, ataupun tinutuan dan sagu 
akan ada comeback-nya in the most exclusive dining circles, begitu pula mungkin 
atap rumbia tidak saja untuk post traditional tourist nomads, atau kapal pinisi 
kayu,  namun memang tetap 'exclusive' . Memang in the meantime begitu banyak 
sampah yang masih kita produksi untuk konsumen yang begitu serakah,  sehingga 
terpaksa dicari pemecahan daur ulang lagi. Tapi ini lagi menjadi masalah 
teknologi entah yang terlampau cepat atau justru terlalu tahan lama seperti  
infrastruktur yang rada underutilized.  Wah, kayaknya kita jadi bingung 
sendiri. 
  Salam sabtu dari Tomohon, Pak Wawo.  


  
  .
 
  
---------------------------------
    Walla! Mail - get your free 3G mail today
  

                         


       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

Kirim email ke