Pak Ekadj Ysh dan semua warga milis Referensi ysh juga,

Adalah sebuah kehormatan bagi saya mendapat kesempatan untuk banyak 
belajar dari para pakar planning dalam milis ini selama ini. Terima 
kasih, meskipun beberapa waktu saya sangat pasif karena keterbatasan 
keilmuan saya. Ya saya harus mengakui bahwa arsitektur merupakan 
basis pokok saya, dan planning sebagai dimensi tambahan lain yang 
sangat penting bagiku disamping dimensi-dimensi yang lain. Tentu 
saya sangat berbahagia jika kelak juga dapat berjumpa darat dengan 
sahabat semua pada acara yang sedang digagas Pak Ekadj berkat 
inspirasi Eyang Wawo !

Tetapi harus saya katakan disini bahwa reaksi-reaksi atau 
keterlibatan saya selama ini lebih berbasis pada muud, bukan 
keilmuan yang mantap. Saya begitu mengagumi beberapa rekan yang 
keterlibatannya sangat mantep karena memang berdasarkan keilmuan dan 
praksis yang dialami dalam hidup sehari-hari melalui berbagai tugas 
dan jabatan. Istilahnya, saya iseng-iseng terlanjur sayang, tetapi 
pola muud ya tetap digunakan sebab nggak bisa yang lain; isaku 
iki :) Saya teringat keterlibatan saya pertama kali di milis ini 
karena gemes sama Pak Aby yang mengaku bukan planner dan bukan 
arsitek tetapi begitu berani me-launching desain Bukit Sutera dulu 
itu. Salut buat Pak Aby, yang berhasil menarik perhatian saya untuk 
kejeblos di milis ini !

Reaksi yang lain selama waktu berikutnya ya karena sedang paralel 
dengan kegiatan riset yang saya lakukan di Timor,....kebetulan aja 
cocok – paralel, maka jadilah saya menikmati perjalanan di lapangan 
sambil menggoda-goda forum milis ini melalui gagasan-gagasan mbeling 
yang saya lontarkan masa lalu....pendekatan antropo-friendly, 
fenomenologi, preservasi budaya dan konservasi budaya, serta 
berjuang menaikkan teori lokal sambil meletakkan teori-teori lain 
dalam kurung untuk direnungkan.....

Nah, sekarangpun saya ingin berbagi lagi. Jika kita perhatikan, 
diskusi selama ini ada tema yang sebenarnya cocok dengan fenomena 
posmodernisme: perjumpaan antar budaya ke arah pemahaman pluralisme. 
Tentu pluralisme ini sangat bermacam-macam isinya (pluralisme dalam 
arti luas) yang intinya adanya dialog dua unsur yang karakternya 
berbeda untuk kemudian hendak dipersatukan menjadi sebuah paduan 
harmonis yang positif ! Katakanlah, tradisional mau berjumpa dengan 
yang modern, atau yang lain. Fenomena dialektika tampaknya menjadi 
situasi yang ada di kawasan-kawasan yang kita diskusikan di milis 
ini; misalnya di Morotai.

Email saya kemarin tampaknya juga menunjuk tema ini: adakah dalam 
planning juga terjadi perubahan jaman, arus perubahan dari pemikiran 
pra-modern bergerak ke modern dan menuju ke pos-modern ? begitu kira-
kira pertanyaan saya. Ini juga muud Pak, sebab saya sekarang juga 
sedang mempertimbangkan Posmodernisme sebagai bagian dari pemikiran 
saya...... Dalam arsitektur konon posmodernisme adalah kelanjutan 
dari modernisme yang ingin melakukan kritik dan koreksi terhadap 
kelemahan-kelemahan paradigma sebelumnya.

Jika dalam modernisme ada ciri yang dikemas dalam ungkapan "no-
where; no-memory; no-content" yang artinya semua serba baru tanpa 
kaitan dengan sejarah atau masa lalu, maka dalam posmo semuanya itu 
ingin dikoreksi, ingin diperbaiki, ingin diluruskan agar alam dan 
manusia dapat lestari ! Pada sisi pemikiran, ingin dilakukan 
HIBRIDISASI atas unsur-unsur yang saling berjumpa, dengan salah satu 
kunci bahwa teori-teori dari dunia barat hendaknya disikapi sebagai 
sejajar dengan teori-teori lokal. Ya ini pluralismenya, barat diakui 
sama dengan timur; teori lokal hendak diakui sebagai sejaar dengan 
teori lain yang sudah mapan. Ada desakralisasi teori-teori keilmuan 
barat oleh kalangan posmodernisme; sebab kebenaran bersifat plural 
dan ada dimana-mana !

Dalam arsitektur, misalnya, teori – teori perkotaan dari ahli asing 
ya disikapi sama dengan teori – teori yang diciptakan oleh ahli – 
ahli lokal. Kita perlu menghagai misalnya Teori Toleransi Ruang dari 
Dermawati Djoko Santoso (2006) atau Teori Rukun Kota dari Edy 
Purwanto (2007); keduanya doktor baru lulusan arsitektur UGM. Kedua 
teori itu lahir dari rahim ruang Malioboro dan melalui proses 
penggodogan dengan paradigma fenomenologi ! 

Artinya, jikalau ingin membangun Malioboro yang sekarang berubah dan 
terus berubah karena berbagai nilai yang terus berkembang disana ya 
harus memperhatikan kedua teori deskriptif itu. Jika dipilih jalan 
ala posmodernisme ya digabungkanlah teori fenomena lokal tersebut 
dengan teori lain dari khasanah budaya lain yang dianggap cocok 
untuk meningkatkan kualitas kehidupan di Malioboro itu. Jadi nggak 
sembarangan mencomot teori dari khasanah budaya lain segera 
diterapkan di dalam lingkungan kehidupan bangsa kita secara serta-
merta tanpa melibatkan fenomena lokal (yang diekstrak dalam teori 
lokal).

Mengapa mempertanyakan posmo dalam planning ? Saya juga 
mempertanyakan hal yang sama dari sosiologi ke arsitektur. Dalam 
sosiologi Jerman ada sejarah perdebatan tentang metode antara dua 
kubu, yaitu kubu metode ilmu alam dan kubu ilmu kemanusiaan. Juga 
ada filsuf yang meyakini bahwa metode erkleren tepat untuk ilmu 
alamiah (Naturwissenschaften) dan metode vertehen tepat untuk ilmu-
ilmi kemanusiaan (Geisteswissenschaften). Idenya, perdebatan tentang 
metode juga mestinya terjadi di dunia arsitektur yang sarat dengan 
dimensi alam-fisika dan kemanusiaan. Cara yang sama saya gunakan 
untuk mempertanyakan di dalam planning, tetapi persoalannya adalah 
pergeseran paradigma dari pra-modern, modern dan posmodernisme (jika 
ada). Sebab di dalam posmo terjadi proses perjumpaan atau eklektisme 
yang dilihat sebagai fenomena positif ! Mohon maaf jika ide diskusi 
ini terlalu sederhana, mungkin pernah menjadi perdebatan seru di 
kalangan masyarakat planning dan kebetulan saya nggak atau belum 
tahu :)

Pak saya ingin tetap menjadi arsitek, dan yang berwawasan planning, 
sebab obyek kajian yang menarik bukan bangunan melainkan kelompok 
bangunan atau lingkungan perumahan, misalnya. Bagi saya desain 
bangunan ya menarik tetapi skala lain yang lebh luas memang lebih 
menarik, maka riset saya ya tentang tata ruang – tata spasial desa 
tradisional di Timor ! Semoga kelak hasilnya ada gunanya untuk 
membantu Pak Aby dan rekan lain yang mengembangkan ruang kehidupan 
di Indonesia Timur atau kawasan lain yang secara teoritis memiliki 
unsur-unsur yang paralel. Tujuannya adalah melibatkan fenomena lokal 
sebagai subyek dalam pembangunan, bukan sekedar obyek yang pasif dan 
dikenai teori-teori dari luar-nya.

Salam,
Djarot


Kirim email ke