Aduh aduh mas Andri wah tambah seru nih.

Mas Andri mengatakan :

Saya kira perdebatan filosofisnya belum pernah selesai, berputar-putar, dan 
terjadilah infinite loops. :-) 
"Pemusat kekuasaan" selalu "kreatif" untuk mengusulkan pembangunan apalagi yang 
dapat dilakukan di Jabodetabek. :-) 

Dan tentu saja, semakin ia dibangun, ia akan makin cerdas dan semakin kreatif 
lagi untuk tetap "memusatkan" pembangunan nasional. :-) 
Setelah bangunan berdiri, catnya harus diganti dengan Dulux.
Setelah dicat ulang, halaman ditanami palem putri, bonsai, dan adenium.
Orang yang lewat nyaris selalu ingin bertamu.
Karena banyak tamu-nya, rumahnya pun harus diperbesar.
So it goes alasan berikutnya untuk terus memusatkan pembangunan. :-)

Tanggapan saya :

Saya teringat waktu Friedman pernah datang ke PL-ITB waktu itu tentang dikotomi 
daerah maju dan daerah terbelakang. 

Akankah kita menahan dinamisme daerah maju demi untuk menciptakan penyamaan 
pertumbuhan. 

Friedman waktu itu menjawab "Don't punish the advance region for the sake of 
depressed region". Kayaknya memang itu solusinya. Kita kudu biarkan Jakarta 
maju. Namun kita konsentrasi untuk membuat penyebaran pembangunan di wilayah 
yang belum berkembang. Tapi kemudian disaat yang lain waktu kebetulan saya 
ketemu Michael Batty yg mengembangkan teori tentang stimulant. Dia mengatakan 
bahwa harus dicari keseimbangan agar stimulant tidak jatuh pada daerah yang 
terlalu virgin yang berakibat pada effort yang harus diberikan menjadi terlalu 
besar. Ini akan merugikan keseluruhan sistem. Saya juga ragu tentang trickling 
down theory. Tetapi saya harus sepakat bahwa kembangkan daerah baru tersebut 
harus dengan perhitungan yg matang. Bila tidak, kisah Brazilia dan Chandigar 
akan berulang dan berulang. Atau kalau kita mau menengok negeri kita sendiri 
Banjar Baru di Kalimantan.

Salam

bambang sp

 

Kirim email ke