Mas Andri yang Budiman ysh, Terima kasih atas kendagelan saya ... he he he.
Mas Andri Budiman menyampaikan Thn 2003 saya nginap di Malioboro, nyari batik. Ada tukang becak yg terus mbuntutin saya dan istri. Minta kami naik becaknya keliling Alun-alun. Cuma 1000 rupiah. Saya mau beri 1000 begitu saja, beliau ysh gak mau. "Saya nggak ngemis, Pak." Sementara penjabat kita.....;-) Kalau ini juga kejadian yang saya alami yang sangat merubah pola pikir saya tentang orang miskin, orang terbelakang dlsb yang suka dianggap oleh para pakar sebagai yang perlu dikasihani. Ini mungkin bisa nyangkut kepada permasalahan bgmn kita berpikir tentang daerah terbelakang. Kejadiannya tahun 2004. Waktu itu, saya belajar dari seorang sesepuh tentang bagaimana memahami masyarakat. Pertama, saya diminta berpuasa 3 hari. Kemudian, pada hari keempat saya diminta untuk secara acak mencari tukang becak yang sudah tua dijalan. Kemudian saya harus meminta dia pergi kesebuah warung makan yg relatif bagus tetapi tidak mahal. Jarak dibuat cukup jauh. Kemudian saya harus ajak tukang becak itu makan. Setelah itu saya harus memberikan uang sebagai pengganti 25% dari apa yang ada di dompet saya. Kata orang tua tersebut, saya akan mengenal siapakah sebenarnya si miskin itu dan siapakah yang harus dikasihani. Benar setelah saya berpuasa 3 hari. Paginya saya pergi mencari tu8kang becak dan ketemu di sebuah pasar di jalan diponegoro. Tanpa menawar saya langsung minta dia pergi ke suatu tempat berjarak 1 km ke sebuah warung yg terkenal. Becak itu saya minta berhenti. Setelah itu saya minta tukang becak itu untuk ikut makan bersama saya. Saya mendapatkan sebuah jawaban yang benar2 mengejutkan : "Matur nuwun den, saya sudah makan tadi pagi". Saya jawab, lho sekarang khan sudah jam 11 sudah cukup siang. Saya meminta gak usah makan, minum juga gak apa2. Jawabnya "Wah matur nuwun, bagi saya makan itu cukup pagi tidak baik terlalu kenyang" ... Wuih mak deg saya... ingat diri saya yang kalau makan suka lupa diri. OK deh kalau begitu.. saya berkata. Sambil mengambil uang dari dompet ternyata disana ada 400 ribu jadi saya sampaikan 100 ribu pd tukang becak tersebut. Lebih terkejut lagi saya... terima kasih den tapi ini terlalu banyak untuk saya... dan kalimat yang mas Andri terima waktu itu juga saya terima... kulo dede (bukan) pengemis. Dengan cekatan diambilnya uang 70 ribu dan dikembalikan ke saya. Sejak saat itu saya tahu siapakah sebenarnya si miskin itu. Salam bambang sp

