Pak Mod, Pak RM1 (Risman M), Pak RM2 (Risfan M) dan milisters ysh, Mohon
ijinkan saya untuk melanjutkan diskusi santai dengan membahas posting pak
Risfan 27 Nop 2007 ..... Agglomeration, Cluster dan Social Capital.....
sebagai model pendekatan untuk mendorong pertumbuhan daerah ......
* * *
Pertama ....... Patrick Geddes sebagai bapak teori perencanaan wilayah ....
banyak daripada pemikirannya menjadi pedoman dasar yang kuat dari studi PWK
lebih lanjut...... namun satu hal yang perlu kita catat adalah bahwa......
karakteristik daripada tantangan awal pembangunan wilayah di AS dan Indonesia
sangatlah jauh berbeda ...........
Dari sisi aspek sosiologis-antropologis ... sebagai bangsa imperialis,
orang Eropa utamanya Inggris yang berkolonisasi kedaratan Amerika, lalu
kemudian mendirikan negara sendiri.. AS... mereka bebas untuk menginvasi bagian
mana saja dari daratan Amerika yang mereka suka .. serta dengan cara apa saja
yang mereka suka .... tanpa perlu ada kesungkanan atau hambatan apapun yang
terlampau berarti dari pribumi Indian ........
Sementara di Indonesia ...... sebagai sesama bangsa .... suku anu yang
aktivitas ekonominya dipropinsi suku anu lainnya nampak agak sedikit
ekspansif... sudah bisa menjadi catatan atau lebih jauh menjadi masalah.....
Dari aspek geografik ....... AS, Jepang atau Itali yang dibuat contoh.....
adalah berupa negara-negara daratan .... atau setidaknya Jepang dan Itali
yang memiliki pulau-pulau (Honshu, Kyushu, Hokkaido, Sardinia, Sicilia ) ...
penduduk mayoritasnya lebih dari 75% tinggal pada daratan terbesarnya ......
sehingga masalah migrasi bukan menjadi persoalan yang penting..... Sementara
kita ........... memiliki masalah ketimpangan konsentrasi demografik yang
ekstrim .... Jawa, 6.7% wilayah dihuni 50% dari total penduduk yang 230 juta
jiwa ........
Dari aspek mengawali peningkatan pembangunan daerah ..... karena sebagai
negeri daratan .....AS dapat mengembangkan jaringan jalan KA dan mobil dari
pantai timur kepantai barat dengan relatif mudah ..... sehingga selain itu
memperlancar proses migrasi SDM dari pantai timur kepantai barat ..... yang
kelak akan menjadi faktor pendukung pemerataan pembangunan daerah di AS.... .
urusan selanjutnya dari agenda pembangunan daerah dengan demikian dapat
lebih difokuskan pada aktivitas ekonomi dan inovasi teknologi ...........
Sementara itu kalau bangsa kita ........ belum-belum agenda pemerataan
pembangunan daerah kita sejak awal sudah dihadang dengan masalah ketimpangan
Jawa-luar Jawa atau Jawa dan KTI yang dipisahkan oleh laut-laut yang luas dan
ganas......... sehingga masalah sistem transportasi antar pulau telah menjadi
masalah utama sejak awal ........
Dari aspek ekonomi ........ dari latar belakang bangsa imperialis yang
secara ekonomis terus memimpin dalam hal kemakmuran......... nuansa agenda
dari pembangunan daerah di AS adalah lebih kepada terus meningkatkan
kemakmuran bangsa yang telah terbiasa memimpin dunia ............ sementara
kita .... mengawali pembangunan daerah dengan cita-cita pengentasan
kemiskinan .......
Jadi sama-sama memakai teori dari Patrick Geddes...... kita dan AS beda
kondisinya bagai bumi dan langit..........
* * *
Dari referensi Michael Porter yang merumuskan cara pandang cluster kegiatan
ekonomi sebagai inti daya saing daerah/negara...... dengan mengambil contoh
Silicon Valley, maupun studi kasus di Italia serta Jepang ...... yang mengarah
pada tumbuhnya industrial complex yang kompetitif .........
Kita harus ingat ... bahwa perekonomian industri dari negara-negara maju
tersebut adalah banyak diantaranya merupakan perekonomian industri teknologi
tinggi yang bersifat inovatif ...... sehingga selain pasarnya yang secara
internasional luas ..... hak-hak patent yang didapat memungkinkan
dikumpulkannya nilai-nilai tambah yang tinggi sekali .........
Kalau membandingkan atau menghubungkannya dengan contoh industri kecil kita
(logam) di Cisaat/ Cibadak, Sukabumi atau Jepara (ukiran kayu) .... yang
selain bahwa sektornya hanya industri kecil (tradisional) ... dan aktivitas
produksinya maupun model harga produknya hanya didikte oleh perusahaan besar
atau broker pemberi order ....... rasanya kita seperti benar-benar kebanting
........
Dari contoh social capital yang terbentuk di Pasar Glodok, Mangga Dua atau
Tanah Abang seperti disebutkan oleh pak Risfan ...... bahwa toko apa saja bisa
menjual apa saja ... karena didasari oleh kesetiakawanan yang tinggi diantara
sesama pedagang......... benar bahwa konsepcluster memang kuat mendasari
aglomerasi kegiatan serta terbentuknya social capital itu .......
Tetapi penting untuk diperhatikan ....... bahwasocial capital dalam
cluster itu terbentuk karena kuat didasari pula oleh spatial capital yang
terbentuk dengan baik pula disana.....
Seperti kita ketahui .......... pusat perdagangan seperti Mangga Dua,
Glodok atau Tanahabang ..... selain bahwa clusters itu sebelumnya telah
eksis selama beberapa generasi ... sehingga dari penghuni lama
anak-keturunan disana telah saling mengenal sejak lama ...... spatial formnya
yang baru berupa pusat perbelanjaan bertingkat yang tetap tidak meninggalkan
bentuk-bentuk lama ruko selain tentu saja kios..... yang umumnya seragam dan
lokasinya tetap terkonsentrasikan memadat ...... pola spatial demikian
menimbulkan banyak kebersamaan diantara para sesama pedagang .........
Para pedagang akhirnya ibarat seperti anak-anak sekolah satu kelas dan
satu angkatan ..... seperti bahwa mereka setiap hari selalu mengumpul pada
gedung yang sama ..... buka dan tutup toko pada jam yang sama ..... merasakan
dan menghadapi banyak masalah yang sama ... seperti masalah hubungan
antara pedagang dan pengelola gedung ..... masalah kenaikan tarif-tarif umum
seperti listrik, BBM, pajak atau tingginya biaya sekolah anak yang dampaknya
dirasakan bersama ...... dsb..........
Kebersamaan itu selain menumbuhkan keakraban ... menyebabkan berbagai macam
informasi dapat berkembang dengan cepat pula diantara mereka ....... sehingga
data-data pribadi atau rekam jejak diantara merekapun juga saling cepat
tersebar ... sehingga sepanjang reputasi dagang seseorang masih terdengar
sebagai baik ..... maka saling kepercayaan itu terus mengalir lancar ..
tetapi sebaliknya.... begitu seseorang terdengar tersandung kasus .....
seluruh pasarpun segera serentak mendengarnya pula dan waspada ..... dan
kepercayaan itu untuk sementara bisa saja ditarik .............
Sekarang terakhir ... pertanyaannya adalah bagaimana kita akan
mengembangkan social capital itu ...........
Dari studi kasus Glodok-Manggadua ... setidaknya kita melihat... bahwa
social capital itu sedikit banyak diawali mula-mula dengan spatial capital
dulu ...... yang domisilinya menyebabkan seseorang pada mulanya dapat menjadi
bagian dari komunitas ..........
Pada zaman sekarang .... dimana keberadaan seseorang dipasar tidak harus
sebagai pemilik kios (konotasinya: tak akan lari kemana) tetapi bisa saja
sekedar hanya sebagai penyewa kios..... yang kapan saja bisa mudah
menghilang dari sana ...... itu juga menjadi bagian dari perhitungan
komunitas ...serta masyarakat pemasok atau pemberi kredit
Jadi kita melihat .... demikian pentingnya arti spatial capital dalam
pembentukan social capital...........
Sejauh ini masyarakat planning dan masyarakat arsitektur karena
sehari-hari terbiasa bekerja dalam tim lintas disipliner ... karenanya mudah
bersifat adaptatif .......
Kalau dibilang perlu dibangun social capital dalam rangka pembangunan
ekonomi ..... ya ...segera tanggap dan mempelajari .... dan sepertinya ...
kalau tidak salah ....social capital mutlak memerlukan spatial capital juga
..........
Tinggal masalahnya kini ... masyarakat ekonomi yang terbiasa merasa sebagai
commander in chief dalam pembangunan ekonomi.......dan seperti belum
terbiasa percaya pada spatial enjinering ...... bisakah mereka serba sedikit
mendengarkan pertimbangan-pertimbangan spatial advices seperti itu ..........
Kembali lagi....... Agglomeration, Cluster dan Social Capital.....
sebagai model pendekatan untuk mendorong pertumbuhan daerah .... dan pola
pikir yang tanpa harus melihat system kota-kota seperti yang digunakan oleh
Michael Porter (Competitive Advantage of the Nations) saat merumuskan cara
pandang cluster kegiatan ekonomi sebagai inti daya saing daerah/
negara.........
Barangkali kita masih perlu banyak bermawas diri ....... perlu menyadari
bahwa banyak hal mendasar masih perlu dibenahi terlebih dahulu .... banyak
teori dasar keruangan dan pembangunan perlu diadaptasi dulu disesuaikan dengan
kondisi kita ..... sebelum akhirnya kita dapat melaju ditrack pembangunan yang
mantap.........
Wasalam,
aby
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.