Halo Koko dan rekan milis sekalian. Selamat Tahun Baru 2008.
Koko, saya juga membaca tulisan "Enam Ruas Tol Bisa Atasi Kemacetan" di KOMPAS. Pada kesempatan ini saya mau komentar aja pendapat Bung Tubagus khusus soal penghancuran jalan tol. Memang enak sih kalau cuman komentar. Tubagus (T) : "Pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota di Jakarta adalah upaya kontraproduktif dalam pembangunan transportasi kota. Rencana itu disodorkan sebagai cara mudah menyelesaikan persoalan kemacetan," kata Tubagus Haryo Karbyanto, anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta. BTS : Apa iya kontraproduktif dan cara gampangan? Tujuan jalan tol (alternatif) itu tentunya untuk memperlancar transportasi di dalam kota. Sebelum dibangun tentu sudah ada penelitian, ada desainnya, dan amdalnya. Investasinyapun juga sangat mahal (Rp 30 triliun). Jadi ya tidak mudah tho? T : Penghancuran tol "Pemerintah sama sekali tidak belajar dari kesalahan di negara lain, yang telah lebih dahulu membangun tol dalam kota. Setelah menyadari kesalahannya, mereka menghancurkan tol-tol dalam kota. Sedangkan kita malah berniat membangunnya," ujar Tubagus Haryo. Penghancuran tol dalam kota dilakukan Wali Kota Seoul Myung Bak Lee di Korea Selatan serta dua kota di Amerika Serikat, yakni San Fransisco dan Boston. Keberadaan jalan tol dalam kota diakhiri karena memicu peningkatan arus kendaraan pribadi sehingga penghancuran merupakan solusi terampuh untuk mengakhirinya. Tahun 2006, Seoul pun dianugerahi Sustainable Transport Award sebab berhasil merestorasi kota dengan meruntuhkan jalan layang tol di tengah kota sepanjang 4 mil (sekitar 6,5 km). Otoritas Kota Seoul juga menyisakan pilar-pilar tol sebagai monumen, sebagai "peringatan keras" kepada kota lain agar tidak mengekor kesalahan mereka. Koridor memanjang yang dulunya lahan tol di tengah kota lalu dialihfungsikan sebagai areal publik. Tiap malam koridor ini dimanfaatkan sebagai arena bermain anak-anak. Kota Seoul pun bertransformasi dari kota berwajah dingin dengan hutan-hutan betonnya menjadi kota yang lebih manusiawi. BTS : Evidence adanya penghancuran jalan tol cukup mengagetkan saya. Kebetulan saya pernah seminggu di Seoul. Yang mana ya, saya koq tidak pernah ditunjukkan ada monumen penghancuran jalan tol di Seoul. Mestinya Bung Tubagus memperlihatkan dengan foto. Lagipula apa betul penghancuran itu karena alasan memicu peningkatan arus kendaraan pribadi? Saya lihat sendiri, penggunaan mobil pribadi di Seoul smasih tetap tinggi dan ada kemacetan lalu lintas sampai jam 12 malam. Di Seoul banyak sekali dibangun rusun-rusun, tetapi memang benar di sana begitu kaya open space dan hijau. Menurut saya, penghancuran jalan-jalan tol itu (mungkin maksudnya jalan layang - yang tidak selalu tol) bukan karena alasan mengurangi arus kendaraan, tetapi mungkin lebih pada revitalisasi kota Seoul. T : Tubagus Haryo khawatir lambat laun lalu lintas di tengah kota Jakarta akan terkunci. Dalam studi tahun 2002-2003, pada sejumlah titik keluar jalan tol dan perempatan jalan terindikasikan kelebihan volume kendaraan pada jam-jam sibuk. Bila idealnya menampung maksimal 90.000-100.000 kendaraan per jam, tetapi di ruas jalan itu kendaraan yang melintas dapat 150.000 unit per jam. BTS : Betul, memang bisa diduga lalu lintas akan terkunci. Tapi itulah fungsi dari studi dan desain untuk dapat menghindarkan kejadian yang tidak diinginkan. Tapi angka 90-000 - 100.000 kendaraan perjam apa nggak salah, artinya 25-28 kendaraan perdetik? T : Sebaliknya, pertumbuhan rata-rata kendaraan sekitar 10 persen per tahun. Dalam sehari rata-rata diajukan sekitar 300 STNK mobil baru. BTS : Yah,..... apa bisa pertumbuhan kendaraan dikontrol 10% per tahun. Thanks. CU. BTS ----- Original Message ----- From: Haryasetyaka To: milist refensi ; perkotaan milis ; Boulevard ITB Sent: Thursday, January 03, 2008 10:29 AM Subject: [referensi] Fw: Fwd: Penghancuran jalan tol

