Pak Aby.... dan milister ysh, Untuk mendukung VIY 2008 kita harus bebas dari bencana dulu..... kalau bencana melulu ya yang mau berwisata jadi sungkan...., tapi mungkin kita justru bisa menjual bencana ini menjadi paket wisata ya...? ........ Sebenarnya nilai peghormatan pada tamu itu, masih menempel bekasnya pada kita semua. Sebagai bangsa yang berbudaya timur, memang itulah kultur kita. Hanya masalahnya.. setelah reformasi kemarin ... banyak nilai-nilai itu yang mulai luntur.... terutama pada generasi mudanya... termasuk saya. Namun kalau nilai-nilai tersebut di "konservasi" kembali dalam bentuk gerakan ..... saya optimis kultur itu akan dengan cepat bisa kembali. Mungkin perlu ahli sosiologi yang memberikan resep dan mengkampanyekan resep tersebut dengan cara yang tepat melalui Instansi dan LSM yang berkompeten dalam bidang tersebut. Kenapa LSM....? , pengalaman saya dilapangan, dalam menyampaikan pesan kelompok ini lebih unggul..... pemerintah jangan sungkan membayar LSM dalam hal ini.
Tujuan wisata diluar Bali dan Jawa memang hampir tak terdengar..., menurut hemat saya hal itu dikarenakan... "Wisdom" kita umumnya lebih menyukai wisata yang bukan wisata lingkungan (Ecotourism) mereka lebih menyukai wisata kota dan fantasi (artinya ya diluar Jawa Bali harus semakin dirangssang terbentuknya metropolitan2 baru), sementara potensi yang ada didaerah umumnya adalah wisata lingkungan dengan aksesibilitas yang tidak nyaman. Namun untuk investor yang kreatif , kondisi seperti ini justru menjadi peluang... untuk menjaring "Wisman" yang senang dengan wisata lingkungan. Contoh di Kalsel sekarang Pemko Banjarmasin telah membuat kapal wisata (kapal kecil) yang jalurnya melayari sungai Martapura yang membelah kota Banjarmasin. Di Kalteng ada investor yang telah membuat semacam kapal pesiar untuk melayari S.Kahayan, S.Kapuas dan S.Sebangau... (Mas BTS sudah pernah lihat kapalnya...) Nah ini masalahnya..... kalau dulu tamu itu dihormati tidak peduli asalnya... sekarang kalau bule dihormati... tapi kalau wisatwan domestik dicuekin..... padahal pemasukannya kan banyak dari wisdom kan Pak Aby..... dan naga-naganya bule yang berwisata ke tempat kita suatu saat akan mendapat perlakuan sama dengan wisdom dari masayarakat generasi dibawah saya..... kenapa....? ya karena kultur nya makin terkikis oleh kultur Globalisasi. (ini menurut hemat saya.. mohon diluruskan kalau tidak pas). Dengan potensi alam dan budaya kita... saya sependapat bahwa pariwisata nerupakan lumbung uang yang potensial bagi negara kita. Hanya masalahnya siapkah kultur masyarakat kita berinteraksi dengan kultur mereka.... jangan-jangan akan banyak Amrozi lainnya..... karena selain membawa dampak positif.. juga tidak sedikit dampak negatifnya..... Bule ke Thailand banyak.... karena "surga dunia" ada disana kata mereka. Apakah bulenya salah... tentu tidak... karena ada mekanisme supply demand. Bayangkan kalau misalnya keadaan di Bali sana terjadi di Aceh atau di Martapura... tempat saya tinggal.... saya sudah bisa bayangkan dampaknya... bisa terjadi kerusuhan berbau SARA.... tapi kan tidak harus seperti itu.... nah formulasi yang seperti apa yang pas.... agar dolar masuk ke semua daerah kita...."wisdom" dan "wisman" happy dan negara kita juga happy.. Kayaknya memang diperlukan seorang yang mampu memformulasikan "Every body happy management" dalam hal ini. Salam "Bingka Kentang" (Penganan Khas dan favorit di Kalsel) Heri hengky abiyoso wrote: > > /*MK Heri Satono <heri_satono@ **telkom.net* <http://telkom.net/>*>*/* wrote:* > Ysh rekan millister semua, > he he . .. meskipun agak emosional, tapi saya gak tersinggung kog mbak > putri... > setelah saya pikir-pikir ternyata wawasan saya memang sempit... karena > saya berpikir > menggunakan "isme" juga , yakni "Universalisme" .. ........ > - - - - - - > > Untuk rekan Heri Satono yang nampaknya senang membahas masalah > pembangunan > didalam negeri dan menurut saya itu samasekali tidak berwawasan > sempit..... > Juga untuk milisters semuanya ysh, > Menteri Pariwisata mentargetkan kunjungan 7 juta wisatawan asing pada > tahun 2008 > dengan harapan pemasukan devisa sebesar 6.4 > milyar dollar atau sekitar 57.6 triliun > rp. dan telah memerintahkan pesawat-pesawat Garuda kita mencantumkan tulisan > ‘Visit > Indonesia Year 2008’ ....... > Sementara itu pakar manajemen Rhenald Kasali mengingatkan bahwa promosi > tanpa > kesiapan yang > cukup dilapangan bisa ‘berbahaya’... dalam arti... bisa berpotensi > menghasilkan kekecewaan .... baik bagi pembelinya (kapok) maupun bagi > ‘penjualnya’ > (rencana jadi berantakan).......... > Sebenarnya target kerja Menbudpar amat sangat wajar dan tak dapat dikatakan > sebagai asal....... karenanya perlu untuk dibantu........ > * * * > Industri pariwisata belakangan disebut–sebut sebagai industri terbesar > dunia lebih > daripada industri manufaktur....... > Pada tahun 2001, industri pariwisata menciptakan GDP sebesar 3,3 > trilyun dolar AS. > Angka ini, menurut perhitungan UNEP, mewakili hampir 11% dari total > GDP dunia.......... > Dari segi penyerapan tenaga kerja, Badan Pariwisata Dunia (WTO) > melukiskan bahwa > satu dari delapan pekerja di dunia ini kehidupannya tergantung > langsung ataupun tidak > langsung dari pariwisata........ > Pada tahun 2001, pariwisata telah menciptakan kesempatan kerja bagi > 207 juta orang > atau lebih dari 8% kesempatan kerja di seluruh dunia....... > Bagi Indonesia, pariwisata sejatinya adalah penyumbang devisa terbesar > pertama diluar > migas. Posisinya makin menjadi salah satu penentu kemajuan ekonomi > nasional....... > Sebagai contoh, pada tahun 2001 tak kurang dari 5,1 juta turis > berkunjung ke Indonesia > dengan kontribusi sebesar 5,3 milyar dolar AS. Menurut Bali Tourism > Board (BTB), > stimulus perekonomian nasional yang diciptakan pariwisata tahun 2000 > mencapai > Rp 150 trilyun....... Masing-masing diperoleh dari wisatawan > mancanegara (wisman) > Rp 55 trilyun, wisatawan domestik Rp 77 trilyun, investasi sektor > pariwisata oleh > pemerintah dan swasta Rp 16,5 trilyun dan pengeluaran anggaran > pemerintah pusat > dan daerah mencapai Rp 1,1 trilyun............. > Pertumbuhan ini tidak berdiri sendiri. Perkembangan pariwisata di > Tanah Air tak lepas > dari pesatnya kepariwisataan global dalam lima dasawarsa terakhir. > Terutama, dilihat > dari jumlah wisatawan internasional maupun dari penyerapan tenaga > kerja....... > Kalau pada tahun 1950 jumlah wisatawan mancanegara baru sekitar > sekitar 25 juta > orang..... pada tahun 2000 angkanya mencapai 698,8 juta orang. Jumlah > penerimaan > pariwisata tahun 1950 diperkirakan hanya 2,1 milyar dolar AS, > sedangkan pada tahun > 2000 mencapai angka 475,8 milyar dolar AS........... > Kalau dikatakan bahwa mesin penggerak dalam penciptaan tenaga kerja > pada abad > ke-19 adalah pertanian... lalu pada abad ke-20 mesin penggeraknya > adalah industri > manufaktur....... dapat dikatakan pada abad ke-21 ini mesin penggerak > tersebut adalah > pariwisata......... > Bagi Indonesia, peranan pariwisata makin terasa, terutama setelah > melemahnya peranan > minyak dan gas... Kunjungan wisatawan mancanegara menunjukkan trend > naik dalam > beberapa dasawarsa....... Tahun 1969, Indonesia hanya dikunjungi oleh > 86.067 wisman, > kemudian meningkat menjadi 5.064.217 ditahun 2000....... > Kedatangan wisman tersebut telah memberikan penerimaan devisa yang > sangat besar > kepada Indonesia....pada tahun 2000 mencapai 5,748 milyar dolar > AS........... > Berbagai lembaga internasional meramalkan bahwa pada tahun-tahun > mendatang, > peranan pariwisata dalam perekonomian dunia akan makin meningkat. > Lebih-lebih bagi > kawasan Asia-Pasifik, yang akan mengalami pertumbuhan pesat, melebihi > pertumbuhan > kawasan Amerika dan Eropa yang selama ini mendominasi pariwisata > dunia........ > * * * > Mengenai bagaimana kesiapan masyarakat pariwisata kita....... nampaknya Bali > yang > 80% penduduknya hidup dari pariwisata... atau bahkan dari wisata asing.... > mereka > hampir pasti telah sangat siap dengan itu..... hanya bagaimana kawasan > lain..... itulah > yang agak memprihatinkan........ > Logikanya ..... sebelum suatu kawasan siap dengan kedatangan wisman.... > sebagai > ‘pemanasan’.... akan sangat baik kalau berbagai kawasan wisata domestik biasa > > ‘berlatih’ dahulu atau men-drill kemampuan kesiapan itu dengan membangun > dulu > dasar-dasar filosofi kepariwisataan yang baik > ......... > Bagaimana ketak-siapan masyarakat pelaku industri wisata kita ... kiranya > dapat > digambarkan dari suntingan berikut dari sebuah artikel di Kompas 29 Desember > 2007 > tentang Wisata....... > > Wisata Budaya: ....“Mari Belajar Menghormati Tamu...”. > > /...........“Kalau mau kembali ke Padang sebaiknya lewat Bukittinggi lalu > ambil jalan / > /kekiri kearah Padang Panjang. Sebelum masuk kota Padang Panjang, cobalah / > /singgah dan makan siang dirumah makan padang dilembah yang diapit dua gunung > / > /disana. Suasana dan pemandangan alamnya > dijamin rancak bana.”....../ > Rekomendasi itu sungguh menggiurkan........ Menikmati santap siang diruang > terbuka > sambil memandang cekungan yang berada diantara 2 gunung (Singgalang dan > Marapi) > yang selalu berkabut tentulah akan menjadi pengalaman yang > menakjubkan......... > Pengalaman melewati tikungan super tajam berkelok-kelok (terkenal dengan > sebutan > Kelok 44) disepanjang kawasan cagar alam yang berada di Pegunungan Bukit > Barisan > pada ruas Danau Maninjau –Bukittinggi sungguh elok......... > Perut seperti dikocok-kocok begitu mobil bergerak ditikungan menanjak yang > membentuk sudut lancip bahkan ada yang kurang dari 45 derajat. Ditengah > ‘kengerian’ > tetapi disisi lain pesona alam kawasan inipun tak kalah menawan. > Vegetasi kawasan perbukitan dengan fauna monyet hampir ditiap tikungan, saat > melewati daerah hunian, seperti di Matur, tampak keindahan sawah terasering > yang > berundak-undak........... > Setelah bentang alam ini dilewati, lembah yang diapit dua gunung yang > dijanjikan > itupun masih menunggu untuk dinikmati saat bersantap siang......... > Rekomendasi itu tidak keliru, menikmati masakan padang sambil memandang > pesona lembah yang berada diantara gunung Singgalang dan Marapi memang bisa > memancing sensasi tersendiri terutama saat cuaca mendung dan > berkabut......... > Tetapi ketika rombongan sampai disana .... yang terjadi justru kenyataan lain > ......... > Keindahan alam itu seakan menguap begitu saja manakala berhadapan dengan > sikap > para pelaku bisnis pariwisata yang —mereka sadari atau tidak—ikut mendukung > upaya > pencitraan kawasan ini sebagai daerah tujuan wisata....... > Ungkapan dalam dunia kepariwisataan bahwa tamu adalah raja dan turis > (siapapun dia > serta darimanapun asalnya) ibarat utusan dewa yang dikirim kepada manusia > untuk > membawa rezeki, belum sepenuhnya dipahami maknanya........ > Tradisi menghormati tamu masih sebatas kata-kata, belum dalam bentuk > tindakan........... > > Contoh kecil adalah sikap para pramusaji disatu rumah makan padang dilembah > yang diapit Gunung Singgalang dan Marapi menjelang Padang Panjang.......... > Kaku tanpa senyum bila dimintakan sesuatu........ > Juga lamban dan terlihat ogah-ogahan saat melayani pesanan tamu........ > Beberapa diantara mereka bahkan terlihat asyik sendiri > menonton sinetron yang > menampilkan cerita dan adegan-adegan konyol ditelevisi......... > Teh tawar yang dipesan harus diingatkan berulang-ulang dan baru diantar > setelah > rasa pedas masakan padang yang menyengat itu kian terasa menggelitik > lidah......... > Begitupun saat salah satu pramusaji menghitung jenis sajian apa saja yang > disantap > pelanggan, sikap ogah-ogahan masih terlihat............. > > Bagi sebagian orang sangat boleh jadi peristiwa kecil semacam itu sudah > menjadi > keniscayaan, atau dalam bahasa kaum penganut paham permisif,.. “Itulah > Indonesia... > Itulah realitas sosial dan dari dunia keseharian kita yang harus > dimaklumi”........ Akan > tetapi dalam perspektif > dunia kepariwisataan, hal-hal kecil yang merujuk pada sikap > dan perilaku seperti justru bisa jadi kendala serius upaya pemerintah memacu > tingkat > kunjungan wisata dinegeri ini......... > > Dalam banyak kasus pembangunan kepariwisataan di Tanah Air, tak terkecuali di > Sumatera Barat, kecenderungan mengedepankan daya > tarik alam memang masih jauh > lebih kental daripada upaya mengembangkan potensi-potensi lain........ > Faktor kesiapan sumber daya manusia yang akan mendukung iklim kepariwisataan > yang sehat hampir tak disentuh........ > > “Jika ingin mengembangkan suatu kawasan sebagai daerah tujuan wisata, > pandangan > > masyarakat terhadap tamu memang harus diubah. Tradisi menghormati tamu > sebagaimana banyak terdapat dalam ungkapan tradisi tutur dibanyak suku bangsa > kita, benar harus dapat dibuktikan lewat perilaku kehidupan > sehari-hari”......, demikian > kata Mukhlis PaEni, Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film (NSBF) Departemen > Kebudayaan dan Pariwisata........... > Tahun 1970-an kepariwisataan Thailand masih jauh tertinggal dibanding > Indonesia. > Thailand bahkan sempat ‘berguru’ ke Bali.............. > Setelah melalui serangkaian uji coba yang gagal lantaran semula mengutamakan > peningkatan dan promosi, Thailand akhirnya menemukan formula utama: tradisi > menghormati tamu harus dikembangkan. Bersamaan dengan itu berbagai budaya > tradisi yang unik dan khas yang ada di Negeri Gajah Putih —termasuk dalam hal > makanan— juga dikembangkan............. > Karena turis dianggap sebagai utusan dewa yang dikirim untuk memberi rezeki > kepada > manusia, seluruh lapisan masyarakat Thailand memberi contoh nyata > bagaimana memperlakukan turis seolah seperti dewa....... turis haruslah > dijamu > dan dilayani sebaik-baiknya. > > Hasilnya... sekarang kepariwisataan Thailand berkembang sangat pesat. Orang > berduyun-duyun datang kesana dan kini jumlahnya jauh lebih banyak daripada > wisatawan ke Indonesia”........... > > Selain memupuk tradisi menghormati tamu, pengembangan dunia kepariwisataan > juga tak bisa mengandalkan keelokan alam semata. > Produk kebudayaan termasuk ekspresi budaya-budaya tradisi, yang hidup > dimasyarakat, harus bisa dikelola menjadi ‘mata uang’ baru tanpa harus > kehilangan > rohnya sebagai produk budaya tradisi......... > Menikmati pesona alam semata, ibarat kehidupan tanpa ruh........@ > > * * * > Kalau kita perhatikan...... kawasan-kawasan pariwisata kita yang potensial > dan > proven dikunjungi oleh banyak wisman pada umumnya tak sekedar berupa obyek > keelokan alam saja seperti air terjun ... pantai atau pulau yang indah...... > tetapi > juga keelokan budaya serta keelokan arsitektur.......seperti Bali.. > Borobudur.. > Toraja... Nias... Batak....dan kedepan juga bukan tidak mungkin obyek > pariwisata > buatan dengan basis local amenity resources......, harga-harga yang murah > serta > budaya keramah-tamahan...... > Membangun industri pariwisata nasional ......... bagi beberapa daerah yang > belum > maju benar dalam sektor itu... nampaknya masyarakatnya tidak dapat > dilepaskan > begitu saja... dan lalu disuruh mengembangkan dengan sendirinya.... tanpa > campurtangan dan bimbingan yang kuat dari pemerintah......... > Sebenarnya pemerintah tidak cukup hanya cemas dengan anggaran promosinya > saja yang kecil dibandingkan dengan Singapura atau Malaysia misalnya ...... > tetapi seharusnya justru perlu untuk lebih bingung lagi dengan ‘anggaran > pendidikan masyarakat untuk pariwisata’.......... > > Seperti satu dua contoh kasus dibandara Polonia atau Ngarai Sianuk di > Sumatera > Barat tadi .... yang menggambarkan ketak-siapan masyarakat lokal pelaku > industri > pariwisata........... > Kalau diperhatikan.....kita berangkat berawal dari proporsi masyarakat > agraris yang > kuat ....... sementara itu pariwisata adalah ‘kegiatan > non-pertanian’....dimana > ‘kesiapan’ untuk itu masih banyak terhambat oleh resistensi pendapat sebagian > kalangan pemerintah sendiri yang masih menentang dan menganggap ‘buruk’ > urbanisasi ..... serta masih menganggap orang desa yang 'berpindah' profesi > menjadi > non-petani seolah sesuatu yang keliru........ > Demikian juga kalau mengingat betapa kerusakan alam kita yang selain karena > illegal logging....sebagiannya juga karena ekstensifikasi lahan > pertanian......sampai > kelereng-lereng bukit... yang menyebabkan banyak tanah longsor dan korban > jiwa ....... > seharusnya seluruh kalangan pemerintah mulai ‘satu kata’ untuk menyadari > bahwa > urbanisasi tidak buruk dan bahkan ’perlu’..... dan alih profesi sebagian > petani atau orang > desa dari total penduduk sebanyak 230 juta ini menjadi profesi non-pertanian > adalah justru > juga mengurangi resiko kerusakan lingkungan yang lebih buruk....... > > Kembali ke contoh ketak-siapan seperti digambarkan pada artikel Kompas > tadi.......... > Tak ada banyak cara lain kecuali bahwa pihak dinas pemerintah daerah harus > secara periodik rajin-rajin mengumpulkan para pengusaha lapangan bisnis > pariwisata > daerah..... membagi para pengusaha kecil pelaku wisata dalam > kelompok-kelompok > kecil binaan dan penyuluhan.... tak ubahnya pada zaman Harmoko dulu muncul > Kelompencapir..... untuk sering-sering memberikan ceramah tentang ‘perilaku > sadar > wisata’.... memberikan gambaran tentang betapa besarnya potensi pariwisata > nasional kita bagi kesejahteraan > bangsa.... memberikan penyuluhan etika industri > pariwisata seperti selain ramah .. juga agar sadar kebersihan........ > Sadar menyiapkan fasilitas toilet ‘amat bersih’ .. yang tak harus gratis... > dan boleh > menarik ongkos daripadanya asalkan dijamin ‘bersih dan wangi’ ...... > Juga agar untuk wisatawan domestik tidak memberikan tarif-tarif yang ‘tak > masuk > akal’ seperti segelas teh manis seharga 10 ribu rp. dan sebaliknya kepada > wisatawan > asing bolehlah memasang harga dengan ‘nilai tambah yang wajar’...... dsb. > dsb........... > Sementara orang mengatakan Pariwisata adalah lokomotif pembangunan ekonomi > nasional > kita..... > Banyak pernik-pernik kecil industri pariwisata dapat dimulai > dari langkah paling kecil > gratis strategis dengan hasil terbesar........... senyum tulus dan > keramah-tamahan kepada > wisatawan yang berkunjung........ dan last but not least ..... kerja keras > dari aparat > pemerintah untuk rajin-rajin turun untuk pembinaan dilapangan ....... > > Wassalam > aby > > > ------------------------------------------------------------------------ > Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! > Search. > <http://us.rd.yahoo.com/evt=51734/*http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping> > > Komunitas Referensi http://groups.yahoo.com/group/referensi/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

