Salam Pembebasan, Saya ingin menanggapi komentar yang disampaikan bung MK Heri Satono dan bung Risfan Munir.
Langsung ke pokok masalahnya, pertama-tama saya akan mengomentari soal "isme" yang diberi catatan khusus oleh bung Satono. Saya menangkapjika keliru tolong diluruskanbung Satono ini masih mengidap isme phobia yang dicekokkan Orba-Soeharto selama kurang lebih 32 tahun melalui berbagai aparatus ideologipendidikan, agama dan bahasa. Padahal, jika kita memahami sejarah modern dan jernih melihat pada kenyataanmulai dari kenyataan berpikir kita yang diterjemahkan pada perilaku dan tindakan keseharian hingga tindakan monumentalkita sama sekali tidak pernah lepas dari isme tertentu, apapun ismenya. Isme di sini saya terjemahkan secara sederhana sebagai faham. Jadi, disadari atau tidak kita tidak pernah lepas dari itu. Jika bung Satono memahami isme secara sempit hanya sebatas tataran itukonteks Orbaterus terang saja saya tidak terlalu risaumeski tetap menambah kerutan kening saya. Hal yang merisaukan saya terutama adalah cara berpikit bung Satono yang tampaknya belum (atau tidak?) melihat kaitan yang tak terpisahkan antara "isme"baik yang didasari filsafat materialisme maupun idealismedengan struktur dalam teori-teori dalam ilmu sosial khususnya. Saya kira bung Satono sudah mengetahui mengapa misalnya teori modernisasi begitu dominan di dunia ini, atau teori ekonomi Adam Smith yang sekarang bermetamorfosissetelah mengalami krisis ketika diterjemahkan dalam strategi state-led developmentmenjadi neoliberalisme. Buku dan studi yang membahas itu sangat banyak. Saya bisa sebut misalnya Mazhab Frankfurt yang habis-habisan membongkar kepentingan-kepentingan yang melekat dalam teori-teori sosial modern untuk melawan pandangan "bebas nilai" dalam ilmu pengetahuan. Berkat usaha merekalah mitos yang mengatakan bahwa teori sosial bebas nilai dan kepentingan menjadi terkuak. Jadi, menurut saya, soal isme itu adalah keniscayaan dalam bangunan teori sosial. Itu tidak akan terhindarkan. Jika menghindari itu, berarti ilmu sosial mati. Komentar kedua soal tragedi pembunuhan Benazir Bhutto. Jika memandang persoalan itu dari kacamata seorang politisi yang haus kekuasaan atau mereka yang pro status quo tentu saja peristiwa pembunuhan Benazir cenderung dilihat secara simplistis sebagai hasil dari sebuah perang memperebutkan kekuasaan. Sebatas itu saja. Titik sampai di situ tidak ada soal lain selain mempertahankan dan merebut kekuasaan. Namun, jika kita cukup punya wawasan sosiologis yang luas, tragedi pembunuhan Benazir bisa kita letakkan dalam konteks kajian yang lebih luas dan dalam. Lebih dari itu sangat relevan dengan soal-soal yang digarap kawan-kawan planolog. Saya katakan relevan, karena kita bisa meletakkan itu dengan persoalan-persoalan besar yang dihadapi dunia saat ini, yaitu neoliberalisme dan kapitalisme global. Bung Satono atau mungkin kawan-kawan lain sudah pernah membaca bukunya Naomi Klein, The Shock Doctrine: The Rise of Disaster Capitalism (2007). [Sebagai catatan, kalau belum tahu, silahkan kunjungi situsnya (www.naomiklein.org). Saya kira di Indonesia buku itu sudah ada. Jika belum, anda bisa menghubungi kawan-kawan Kelompok Kerja Rumah Kiri yang berdomisili di Bandung] Singkat saja, apa yang terjadi di Pakistan, khususnya pembunuhan terhadap Benazir tidak lepas dari konstelasi ekonomi-politik global yang pelaku utamanya adalah korporasi-korporasi besar. Menurut Naomi, "kapitalisme bencana" itu sangat radikal dalam dua makna. Pertama, dia mampu merombak sebuah tatanan masyarakat dan lingkungannya secara mendasar, dan kedua, hanya bisa terjadi dalam kondisi tidak normalpeperangan dan konflik, kebangkrutan ekonomi, terorisme dan bencana alam. Nah, jika itu dikaitkan dengan apa yang terjadi di Pakistan saya kira tidak lepas dari itu semua. Diletakkan dalam konteks itu Pakistan saat ini sedang mengalami sebuah kejutan/guncangan, mengalami shockperiksa saja berita-berita tentang itu post pembunuhan Benazir. Perhatian jangan berhenti sampai di situ, coba dilanjutkan ada hal-hal apa saja yang nanti masuk ke Pakistan, berapa banyak projek yang akan lahir, berapa banyak korporasi yang akan masuk dan seterusnya. Untuk membandingkan, kita bisa periksa buku-buknya John Perkis tentang kerja dan peran seorang Economic Hit Man dalam dinamika politik nasional sebuah negara. Atau ikuti wawancara-wawancara Perkins dengan Amy Goodman dari www.democracynow.org. "Doktrin Kejut"demikian saya menerjemahkan Shock Doctrinesebagai sebuah ideologi yang mendasari kaum kapitalis (korporasi/MNC) untuk mengeksploitasi sumber kekayaan alam dan manusia demi keuntungan bisa terjadi di manapun, karena gagasannya menegasikan negara berkembang dan negara maju seperti yang dipakai dalam konsep state-led development. Badai Katrina di New Orleans misalnya, yang memuluhlantakkan pemukiman, sarana pendidikan dan sebagainya justru menjadi jalan terbaik bagi korporasi dan pengusung privatisasi pendidikan memasuki New Orleansyang terkenal memiliki serikat guru kuat dan basis pendidikannya adalah pendidikan publikuntuk merombak tatanan yang selama ini selalu gagal ditembus kebijakan-kebijakan yang pro korporasi dan privatisasi. Atau bagaimana Tsunami di Thailan menjadi jalan terbaik untuk menghapuskan pemukiman nelayan dan dirombak dengan resort-resort mewah tatkala korban bencananya masih shock untuk menghadapi dan melanjutkan kehidupannya. Bahkan, separuh pemukiman mewah sudah berdiri di saat para pengungsi korban badai Katrina masih berada dalam tenda-tenda Palang Merah. Atau di Aceh yang mungkin kawan-kawan planologi di Indonesia lebih mengetahuinya. Jadi, jika mau menanggapi tragedi pembunuhan Benazir saya kira akan lebih baik menariknya ke sana, bukan dengan prasangka terhadap isme-isme tertentu. Lebih dari itu, jika kita mau jujur, tidak ada perspektif teori sosial apapun yang memiliki orientasi pada kepentingan rakyat banyak selain teori-teori yang berdiri di sayap kiri. Jangan berprasangka dulu, "kiri" yang saya maksud bukan kiri terminologinya Orba-Soeharto. Apa itu? Ceramah Cornel West (Princeton University) dalam The 2007 Left Forum di New York pada Maret 2007 tahun lalu menjelaskan dengan gamblang sebagaimana saya kutip berikut ini: What does it really mean to be a leftist in the early part of the 21st century? What are we really talking about? And I can just be very candid with you. It means to have a certain kind of temperament, to make certain kinds of political and ethical choices, and to exercise certain analytical focuses in targeting on the catastrophic and the monstrous, the scandalous, the traumatic, that are often hidden and concealed in the deodorized and manicured discourses of the mainstream. That's what it means to be a leftist. So let's just be clear about it. So that if you are concerned about structural violence, if you're concerned about exploitation at the workplace, if you're concerned about institutionalized contempt against gay brothers and lesbian sisters, if you're concerned about organized hatred against peoples of color, if you're concerned about a subordination of women, that's not cheap PC chitchat; that is a calling that you're willing to fight against and try to understand the sources of that social misery at the structural and institutional level and at the existential and the personal level. That's what it means, in part, to be a leftist. That's why we choose to be certain kinds of human beings. That's why it's a calling, not a career. It's a vocation, not a profession. That's why you see these veterans still here year after year after year, because they are convinced they don't want to live in a world and they don't want to be human in such a way that they don't exercise their intellectual and political and social and cultural resources in some way to leave the world just a little better than it was when they entered. That's, in part, what it means to be a leftist. Nah, saya kira cukup jelas apa yang dimaksud kiri oleh West dan sejauh ini saya sepakati. Mudah-mudahan pemahaman kiri yang selama ini hanya kita peroleh dari rezim Orba sedikit demi sedikit mulai terkikis. Hal lain yang ingin sedikit saya komentari adalah soal propaganda. Menurut saya, yang menjadi masalah itu bukan "propaganda" an sich, tapi materi yang dipropagandakannya. Jadi, propaganda menurut saya adalah hal yang sah bahkan harus dilakukan sejauh itu menyangkut kepentingan banyak orang secara benar. Lebih dari itu, ilmu pengetahuan hingga agama jika tidak dipropagandakan apa kabar dunia. Tanggapan lainnya untuk bung Risfan Munir. Saya tidak perlu berpanjang lebar, karena bung Risfan saya nilai lebih analitis dalam melihat postingan tentang pembunuhan Benazir. Dalam beberapa hal, uraian saya di atas menguatkan apa yang sudah dikemukakan bung Risfan dalam postingan sebelumnya. Untuk sementara demikian tanggapan yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang tepat sehingga dapat meyinggung. Jika ada hal-hal yang saya sampaikan dianggap keliru, saya senang jika kawan-kawan di milis ini membantu membenahinya. Sekian dulu terima kasih. Putri Wulandari Gardono Anggota Kelompok Kerja Rumah Kiri

