Milisters semuanya ysh,
Posting ini khusus dibuat karena penulis tak tahan tiap hari mendengar berita
terus berjatuhannya korban pengendara sepedamotor baik cedera ringan, berat
sampaipun fatal akibat separator busway....
Contoh terbaru adalah seperti surat pembaca Kompas 8 Januari 2008 yang
ditulis oleh Yohana, Bekasi..... :
Separator Maut Busway Tanpa Rambu Peringatan
Tanggal 18 Desember 2007 ayah saya (Bapak Dorasman) mengendarai sepedamotor
dari Pondok Gede, Bekasi menuju Grogol, Jakata Barat. Saat melintas
dikawasanSemanggi, Jakarta, sekitar pukul 13.30 lalulintas macet dan beliau
mengikuti iring-iringan kendaraan bemotordidepannya. Karena tidak sempat
mengikuti kendaraan didepannya dalam menghindari separator busway ayah saya
kaget. Maka ban sepedamotor yang ditumpanginya menabrak separator yang
terletak didepan hotel The SuItan mengarah ke Slipi.
Serta merta ayah saya dan sepeda motornya terpelanting dan mengalami
benturan langsung dengan separator busway yang berusaha dihindari.
Sepeda motor rusak menghantam separator, kaca helm terbelah dua dan korbn
mengalami luka2 dibagian kepala kiri, dada kiri, pmggang kiri dada kiri dan
tangan kanan kiri.
Sekitar pukul 21.oo korban separator maut busway itu dilarikan kerumah
sakit. Hasil pemeriksaan dokter mengatakan akibat benturan, ayah saya mengalami
paru-paru sebelah kiri bocor....... dst.
* * *
Busway di Jkt aslinya adalah termasuk ranah perencanaan transportasi dan
planologi, tetapi sulit mengatakan ia tak dicampur-adukkan dengan ambisi
politik kontemporer Sutiyoso menuju RI-1.
Bukan apa... kalau saja seusai turun dari DKI-1 lalu Sutiyoso santai menjadi
kaum pensiunan yang menikmati hari tua lalu bergerak diaktivitas sosial atau
katakanlah sekalian aktif di Dewan Transportasi DKI misalnya... atau seperti
Al Gore misalnya ... yang memiliki peluang amat besar untuk menjadi calon
terkuat Partai Demokrat menuju USA-1 tetapi malah memilih aktif dibidang
penyelamatan lingkungan.........
tentu hampir semua orang akan mengatakan bahwa rintisan Sutiyoso akan
pengembangan busway di DKI adalah murni dan tulus benar2 dalam kerangka
meletakkan dasar membenahi sistem transportasi masal DKI....
Tetapi masalahnya adalah begitu hari ini Sutiyoso turun dari DKI-1.... esok
lusanya kontan ia sudah bekoar ingin menjadi calon RI-1 di 2009... sambil
padahal waktunyapun kata sementara orang juga masih terlampau pagi untuk
itu......
Karenanya tak berlebihan bila muncul tudingan bahwa ambisi Sutyoso memaksakan
proyek busway secara terburu-buru yang akibatnya juga kedodoran dan amburadul
itu tak jauh terlepas dari jadwal ambisi pribadinya untuk sekedar meraih kursi
RI-1 pada 2009 nanti....... lebih daripada sekedar peletakan dasar sistem
transportasi massal DKI.......
Kalau saja proyek buway itu sekedar menyebabkan kemacetan Jkt yang semakin
menjadi-jadi tanpa menyangkut korban nyawa.. itu masih tak seberapa......
Kalau tak lama kemudianpun lalu 9 koridor busway itu langsung beroperasi.....
atau beberapa jalur yang sudah beroperasipun hasilnya memuaskan .. seperti
jumlah armadanya yang mencukupi sehingga tak menyebabkan keluhan antrean
penumpang terlampau lama dan panjang........ itupun masih bisa
dimengerti........
Masalahnya adalah proyek busway itu kini selain caranya serba maksa ala
orde baru....walau banyak faktornya kurang mendukung.... dengan akibat
kemacetan Jkt yang semakin parah .... proyek yang baru setengah jadi inipun
telah menelan puluhan korban pengendara sepeda motor yang karena dijalanan
yang macet umumnya tak terdapat jarak pandang kedepan yang cukup sehingga
mereka umumnya terjungkal karena kaget karena mendadak bertemu ujungnya
separator jalur busway...... atau ketika sudah berada dijalur busway karena
arahan petugas lalulintas... lalu ditengah-tengah perjalanannya dijalur busway
itu ia tersenggol dan terpepet diantara mobil dan separator lalu oleng dan
jatuh..... yang akibatnya mulai dari luka-luka ringan, berat ataupun sampai
meregang nyawa .....
* * *
Kalau diperhatikan ....DR.(U)ndip Sutiyoso adalah jendral angkatan darat yang
bahkan semasa Orba telah menduduki posisi tinggi (Pangdam V Jaya)... dan kita
semua mengerti .... tentara kala itu adalah bukan sekedar tentara... tetapi
adalah kekuatan politik terkemuka kala itu.... justru jauh melebihi vitalitas
politisi asli yang dari sipil ...... sehingga bagaimanapun Sutiyoso juga
akhirnya sejak semula adalah politikus...... walau tentu tak semua tentara
dan tak semua jendral pasti suka politik ........
Dan sebagai jendral dibanyak medan perang dan politikus tentara masa orde
baru yang tak terlampau jauh jaraknya dari RI-1nya.... sepertinya juga hampir
tak mungkin kalau Sutiyoso juga tak memiliki karakteristik umum orde baru
......senang nekad, senang maksa dan cuek pada keberatan publik.......
Sedikit menyimpang untuk sekedar menegaskan bagaimana banyak tentara dari
masa orde baru juga sekaligus piawai untuk berpolitik ......, bersama
Sutiyoso..., SBY yang kini RI-1 adalah juga jendral masa orba, sempat dibawah
Sutiyoso di Kodam V bahkan sempat kalau tak salah menjadi Assopol Kasad/Abri
dan ternyata juga terbukti ..... diam-diam juga mampu memiliki visi politik
juga ... terbukti lalu menjadi RI-1 ..... hanya bedanya ... kalau Sutiyoso
seperti tak memiliki jarak psikologis dengan Suharto ... sebaliknya Sby
memiliki jarak psikologis itu....... ....
Sebagai menantu dari Jendral Sarwo Edi komandan pasukan elit RPKAD kala itu
yang sejak Suharto duduk dikursi RI-1 lalu menyingkirkan Sarwo Edi jauh dari
pusat kekuasaan.... tentu SBY yang tak memilki hubungan aliran darah dengan
keluarga Suharto atau dari istrinya ... dan sebagai menantu Sarwo Edi yang tak
bisa tidak berpotensi menjadi rival atau batu sandungan Suharto ... tentu sulit
membayangkan SBY akan mencapai karir puncak terlalu dekat dengan RI-1 pada
masa Suharto......
Adalah sepenuhnya hak konstitusional seseorang.... dan wajar bahwa dalam
menuju RI-1 maka seorang capres merasa perlu memilik track record prestasi
yang mantap..... hingga maka nampaknya megapolitan Jabodetabek (yang padahal
tumbuh alamiah dengan sendirinya) dan busway seperti ingin di klaim menjadi
bekal prestasi oleh capres kita Dr. Sutiyoso..........
* * *
Sudah banyak terbukti bahwa ranah perencanaan ruang kota maupun berbagai
macam issue pembangunan strategis lainnya itu tak pernah terlepas dari bagian
cengkeraman kepentingan politik kaum politisi............ sehingga karenanya
bukankah lalu menjadi naif?... kalau hare gene kaum perencana masih saja
berasyik-asyik tenggelam dalam kedalaman intra disiplin ilmiahnya sendiri
tanpa perlu tengok kanan-tengok kiri...... dan membiarkan saja para politisi
mengacak-acak ranah perencanaan ruang sampai agak melampaui batas sekedar
seseorang seperti dengan berdarah dingin ingin menjadikannya sekedar bekal
prestasi bagi mencapai ambisi politik pribadinya?.........
Bagaimanapun juga Jkt sebagai kota primat negara sedang berkembang dipulau
seluas 6.7% dengan 50% penduduk dari total 230 juta serta luas daratan 1.9
juta km2 pada ruang darat laut seluas 3 kalinya atau dimensi 1500km x
5000km.... adalah tak mungkin Jkt dapat menyelesaikan masalah sistem MRTnya
secara internal dan seolah dengan kacamata kuda.....dan mengabaikan faktor
eksternal penyebabnya seperti masalah ketimpangan Jawa-luar Jawa, Jawa-KTI,
masalah countermagnet to primate city, sistem nasional kota, sistem urbanisasi
dan migrasi atau sistem relokasi industri memimpin.........
Penyelesaian masalah Jakarta tidak seluruhnya terletak di Jakarta.......
Wassalam,
aby
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.