Ysh Pak Aby dan rekan sekalian.
Saya tak biasa membaca sampai selesai postingnya Pak Aby karena sering sangat panjang dan gaya tulisannya loncat-loncat. Tapi kali ini saya membaca lengkap dan saya cermati karena isu yang diangkat menarik bagi saya. Pertama saya ikut prihatin tentunya kepada bapak yang mengalami kecelakan karena separator busway. Memang kalau dilihat dari ceritanya kurang masuk akal. Kalau jalan dalam keadaan macet, kecepatan kendaraan rendah, mestinya kecelakaan itu tidak parah-parah amat. Kemungkinan si bapak itu tidak sabar dan menyalip dengan kecepatan agak tinggi,...ee..di depan ada separator..bruuzzss, jatuh. Yang jelas si bapak tidak mengenal medan jalan yang dilalui sehigga ia menabrak separator. Selain dari itu apa ya bisa ya kecelakaan nabrak separator kok bisa paru sebelah kiri bocor. Mungkin saja karena shock berat, karena si bapak perokok berat, sehingga mempengaruhi kondisi paru-parunya yang sebelumnya memang sudah sakit. Sungguh saya ikut prihatin, semoga tidak terulang kejadian itu. Mengenai Sutiyoso maju jadi presiden memang haknya. Terlalu dini tidak jadi soal, mungkin malah lebih baik. Keinginan menjadi presiden tidak terkait dengan busway. Busway memang sudah direncanakan dengan sangat matang dan berani. Keinginan jadi presiden kecuali memang maksud mulia, barangkali karena Sutiyoso merasa punya pengalaman mengelola daerah sebesar Jakarta ini. Pikiran Sutiyoso bahwa kemajuan Indonesia ini ujung tombaknya adalah daerah. Untuk itulah ia merasa mengenal betul unit daerah itu sebagai penggerak kemajuan ekonomi dan lingkungan negara. Sampai sekarang, sejak Sukarno, Suharto, Gus Dur, Mega, dan SBY belum ada yang mempunyai pengalaman selengkap Sutiyoso. Sebagai tentara ia cukup disegani dan berpengalaman teritorial, sebagai birokrat ia cerdik dan beberapa kali menangkap basah orang yang ingin menipu dia, dalam berbagai wawancara dan diskusi ia sangat cerdas dan kelihatannya mau belajar ilmu lain (termasuk ilmu tata ruang), dan ia sebenarnya juga politisi yang hebat sehingga ia jadi Gubernur 2 kali jabatan. Yang jelas pengalaman menjadi Gubernur DKI adalah modal manajemen yang mungkin mampu membawa Indonesia lebih maju. Barangkali, siapa tahu, Indonesia masa datang perlu orang seberani Sutiyoso, berani tidak populer. Ia calon alternatif yang OK. Memang benar bahwa penyelesaian berbagai permasalahan Jakarta tidak berdiri sendiri. Tetapi saya berpikir juga terlalu jauh kalau penyelesaian itu dikaitkan dengan sistem kota-kota nasional dan ketimpangan wilayah. Sistem kota-kota nasional dan ketimpangan wilayah yang sudah terjadi ini tidak bisa diputar balik begitu saja, terlalu lama untuk tidak mengatakan mustahil. Jadi rasanya juga tidak mungkin membenahi Jakarta menunggu terwujudnya sistem kota-kota ataupun relokasi industri. Membenahi Jakarta, mungkin lebih tepatnya Mteropolitan Jakarta ini, harus fokus. Cukup dibatasi sampai dengan Megapolitan Jakarta saja. Dengan demikian kerja sama antar daerah sangat penting dan perlu juga UU yang khusus. Saya memberanikan diri untuk mengatakan bahwa membenahi Metropolitan Jakarta yang sudah "jadi" (built up) ini tidak "rely on" pada perencanaan tata ruang, tetapi perencanaan enjiniring (termasuk enjiniring sosial dan keuangan) dan terobosan perundangan khususnya menyangkut pertanahan. Thanks. CU. BTS. ----- Original Message ----- From: hengky abiyoso To: [email protected] Cc: [EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, January 08, 2008 1:19 PM Subject: [referensi] Re: Busway dan Jalan Ke Istana Merdeka Milisters semuanya ysh, Posting ini khusus dibuat karena penulis tak tahan tiap hari mendengar berita terus berjatuhannya korban pengendara sepedamotor baik cedera ringan, berat sampaipun fatal akibat separator busway.... Contoh terbaru adalah seperti surat pembaca Kompas 8 Januari 2008 yang ditulis oleh Yohana, Bekasi..... : “Separator Maut Busway Tanpa Rambu Peringatan” Tanggal 18 Desember 2007 ayah saya (Bapak Dorasman) mengendarai sepedamotor dari Pondok Gede, Bekasi menuju Grogol, Jakata Barat. Saat melintas dikawasanSemanggi, Jakarta, sekitar pukul 13.30 lalulintas macet dan beliau mengikuti iring-iringan kendaraan bemotordidepannya. Karena tidak sempat mengikuti kendaraan didepannya dalam menghindari separator busway ayah saya kaget. Maka ban sepedamotor yang ditumpanginya menabrak separator yang terletak didepan hotel The SuItan mengarah ke Slipi. Serta merta ayah saya dan sepeda motornya terpelanting dan mengalami benturan langsung dengan separator busway yang berusaha dihindari. Sepeda motor rusak menghantam separator, kaca helm terbelah dua dan korbn mengalami luka2 dibagian kepala kiri, dada kiri, pmggang kiri dada kiri dan tangan kanan kiri. Sekitar pukul 21.oo korban separator ’maut’ busway itu dilarikan kerumah sakit. Hasil pemeriksaan dokter mengatakan akibat benturan, ayah saya mengalami paru-paru sebelah kiri bocor....... dst. * * * Busway di Jkt aslinya adalah termasuk ranah perencanaan transportasi dan planologi, tetapi sulit mengatakan ia tak dicampur-adukkan dengan ambisi politik kontemporer Sutiyoso men uju RI-1. Bukan apa... kalau saja seusai turun dari DKI-1 lalu Sutiyoso santai menjadi kaum pensiunan yang menikmati hari tua lalu bergerak diaktivitas sosial atau katakanlah sekalian aktif di Dewan Transportasi DKI misalnya... atau seperti Al Gore misalnya ... yang memiliki peluang amat besar untuk menjadi calon terkuat Partai Demokrat menuju USA-1 tetapi malah memilih aktif dibidang penyelamatan lingkungan......... tentu hampir semua orang akan mengatakan bahwa rintisan Sutiyoso akan pengembangan busway di DKI adalah murni dan tulus benar2 dalam kerangka meletakkan dasar ‘membenahi sistem transportasi masal DKI’.... Tetapi masalahnya adalah begitu hari ini Sutiyoso turun dari DKI-1.... esok lusanya kontan ia sudah bekoar ingin menjadi calon RI-1 di 2009... sambil padahal waktunyapun kata sementara orang juga masih terlampau pagi untuk itu...... Karenanya tak berlebihan bila muncul tudingan bahwa ambisi Sutyoso memaksakan proyek busway secara terburu-buru yang akibatnya juga kedodoran dan amburadul itu tak jauh terlepas dari jadwal ambisi pribadinya untuk sekedar meraih kursi RI-1 pada 2009 nanti....... lebih daripada sekedar ‘peletakan dasar sistem transportasi massal DKI’....... Kalau saja proyek buway itu sekedar menyebabkan kemacetan Jkt yang semakin menjadi-jadi tanpa menyangkut korban nyawa.. itu masih tak seberapa...... Kalau tak lama kemudianpun lalu 9 koridor busway itu langsung beroperasi..... atau beberapa jalur yang sudah beroperasipun ha silnya memuaskan .. seperti jumlah armadanya yang mencukupi sehingga tak menyebabkan keluhan antrean penumpang terlampau lama dan panjang........ itupun masih bisa dimengerti........ Masalahnya adalah proyek busway itu kini selain caranya serba ‘maksa’ ala orde baru....walau banyak faktornya kurang mendukung.... dengan akibat kemacetan Jkt yang semakin parah .... proyek yang baru setengah jadi inipun telah menelan puluhan korban pengendara sepeda motor yang karena dijalanan yang macet umumnya tak terdapat jarak pandang kedepan yang cukup sehingga mereka umumnya terjungkal karena kaget karena ‘mendadak bertemu’ ujungnya separator jalur busway...... atau ketika sudah berada dijalur busway karena arahan petugas lalulintas... lalu ditengah-tengah perjalanannya dijalur busway itu ia tersenggol dan terpepet diantara mobil dan separator lalu oleng dan jatuh..... yang akibatnya mulai dari luka-luka ringan, berat ataupun sampai meregang nyawa ..... * * * Kalau diperhatikan ....DR.(U)ndip Sutiyoso adalah jendral angkatan darat yang bahkan semasa Orba telah menduduki posisi tinggi (Pangdam V Jaya)... dan kita semua mengerti .... tentara kala itu adalah bukan sekedar tentara... tetapi adalah ‘kekuatan politik terkemuka kala itu.... justru jauh melebihi vitalitas politisi asli yang dari sipil ...... sehingga bagaimanapun Sutiyoso juga akhirnya sejak semula adalah ’politikus’...... walau tentu tak semua tentara dan tak semua jendral pasti suka politik ........ Dan sebagai jendral dibanyak medan perang dan politikus tentara masa orde baru yang tak terlampau jauh jaraknya dari RI-1nya.... sepertinya juga hampir tak mungkin kalau Sutiyoso juga tak memiliki karakteristik umum orde baru ......senang nekad, senang ‘maksa’ dan cuek pada keberatan publik....... Sedikit menyimpang untuk sekedar menegaskan bagaimana banyak tentara dari masa orde baru juga sekaligus piawai untuk berpolitik ......, bersama Sutiyoso..., SBY yang kini RI-1 adalah juga jendral masa orba, sempat dibawah Sutiyoso di Kodam V bahkan sempat kalau tak salah menjadi Assopol Kasad/Abri dan ternyata juga terbukti ..... diam-diam juga mampu memiliki visi politik juga ... terbukti lalu menjadi RI-1 ..... hanya bedanya ... kalau Sutiyoso seperti tak memiliki jarak psikologis dengan Suharto ... sebaliknya Sby memiliki ’jarak psikologis’ itu....... .... Sebagai menantu dari Jendral Sarwo Edi komandan pasukan elit RPKAD kala itu yang sejak Suharto duduk dikursi RI-1 lalu menyingkirkan Sarwo Edi jauh dari pusat kekuasaan.... tentu SBY yang tak memilki hubungan aliran darah dengan keluarga Suharto atau dari istrinya ... dan sebagai menantu Sarwo Edi yang tak bisa tidak berpotensi menjadi rival atau batu sandungan Suharto ... tentu sulit membayangkan SBY akan mencapai karir puncak terlalu dekat dengan RI-1 pada masa Suharto...... Adalah sepenuhnya hak konstitusional ses eorang.... dan wajar bahwa dalam menuju RI-1 maka seorang capres merasa perlu memilik track record ’prestasi’ yang mantap..... hingga maka nampaknya ‘megapolitan’ Jabodetabek (yang padahal tumbuh alamiah dengan sendirinya) dan ‘busway’ seperti ingin di klaim menjadi ‘bekal prestasi’ oleh capres kita Dr. Sutiyoso.......... * * * Sudah banyak terbukti bahwa ranah perencanaan ruang kota maupun berbagai macam issue pembangunan strategis lainnya itu tak pernah te r lepas dari bagian cengkeraman kepentingan politik kaum politisi............ sehingga karenanya bukankah lalu menjadi naif?... kalau hare gene kaum perencana masih saja berasyik-asyik tenggelam dalam kedalaman intra disiplin ilmiahnya sendiri tanpa perlu tengok kanan-tengok kiri...... dan membiarkan saja para politisi ‘mengacak-acak’ ranah perencanaan ruang sampai agak melampaui batas sekedar seseorang seperti dengan ’berdarah dingin’ ingin menjadikannya sekedar ‘bekal prestasi’ bagi mencapai ambisi politik pribadinya?......... Bagaimanapun juga Jkt sebagai kota primat negara sedang berkembang dipulau seluas 6.7% dengan 50% penduduk dari total 230 juta serta luas daratan 1.9 juta km2 pada ruang darat laut seluas 3 kalinya atau dimensi 1500km x 5000km.... adalah tak mungkin Jkt dapat menyelesaikan masalah sistem MRTnya secara internal dan seolah dengan kacamata kuda.....dan mengabaikan faktor eksternal penyebabnya seperti masalah ketimpangan Jawa-luar Jawa, Jawa-KTI, ma salah countermagnet to primate city, sistem nasional kota, sistem urbanisasi dan migrasi atau sistem relokasi industri memimpin......... Penyelesaian masalah Jakarta tidak seluruhnya terletak di Jakarta....... Wassalam, aby -------------------------------------------------------------------------------- Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Calendar Komunitas Referensi http://groups.yahoo.com/group/referensi/ MARKETPLACE -------------------------------------------------------------------------------- Earn your degree in as few as 2 years - Advance your career with an AS, BS, MS degree - College-Finder.net. Change settings via the Web (Yahoo! ID required) Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe Recent Activity 4New Members Visit Your Group Ads on Yahoo! Learn more now. Reach customers searching for you. Y! Messenger Send pics quick Share photos while you IM friends. Yahoo! Groups Endurance Zone Communities for increased fitness. .

