Nuwun sewu Pak De (bukan Om) Samiadji ysh, kalau saya percaya bahwa kita sekurang-kurangnya dapat memahami nilai ruang 3 matra seisinya hanya bila sebagai kesatuan dengan waktu dan kultur. Tidak ada pemahaman ruang yang netral dari waktu dan kultur pemahamnya. Jadi tanpa memahami secara 5 dimensional kita cuma bicara sesuatu yang maya. Jaman Einstein dan Minkowsky saja kita sudah menyebut spacetime (wakturuang), dan konsep ruang tanpa waktu sudah dianggap mati. Apalagi kalau cuma berbais konsep dua dimensional (land use), bukan saja sangat sempit dan jangka pendek, tetapi malah tidak punya nilai apa-apa. Begitu lho Pak De pemahamanku.
Sungkem, Abimanyu 2008/1/18 Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]>: > Ysh. keponakan saya Abimanyu.... aku khan Samiadji (Yudistira), Om-mu. > > Saya juga selalu masih belajar dan mencari. Tak pandang itu ilmu lawas, > ilmu yang anyar, ilmu kiriman (import), ilmu lokal, ilmu liberal, ilmu > syariah, ...semuanya itu netral saja. Nilai ruang dalam 3 matra, yaitu > ekonomi, ekologi, dan sosial oleh Chapin saya menilai masih relevan. Tinggal > kita si perencana, atau si pemegang kekuasaan, atau siapapun, dalam > implementasi tidak boleh terjebak dalam pemikiran sempit jangka pendek. > > Terimakasih diingatkan. CU. BTS. > > > > ----- Original Message ----- > From: abimanyu takdir alamsyah > To: [email protected] > Sent: Friday, January 18, 2008 3:33 PM > Subject: Re: back to spatial capital RE: [referensi] Re: Jkt Setelah 100 > Hari 'Ditangan Ahlinya'.... > > > > > >

