Khusus untuk ‘cucuku’ tersayang Abimanyu ysh, dan mohon maaf untuk milister 
semuanya ysh kalau tak sengaja turut membaca posting ini ....... harap cepat  
didelete saja...... 
  Cuk,..... trimakasih banyak atas simpati prihatinmu kepada kakek .... semoga 
keprihatinan cucuku memperoleh pahala yang besar sekali dari SangHyang Tunggal 
Hingkang Murbeng Dumadi ... dan biarlah sepupumu  si Djarot ‘Gatotkaca’ itu 
nanti pahalanya  biar kecil  saja  kalau ia tidak  mau ikutan berprihatin  
untuk kakek.........
  Terimakasih banyak bahwa analisis cucu tentang efektivitas media untuk wacana 
pembangunan  rupanya ada juga serba sedikit bermanfaat bagi sebagian milister 
kita ........
  Satu hal kecil yang barangkali perlu juga ditambahkan menyangkut perbandingan 
efektivitas antar media adalah bahwa media radio dan visual mempunyai satu 
keterbatasan bahwa  ‘ia hanya dapat dinikmati pada hari dan jam yang amatsangat 
 tertentu’ ..... sehingga untuk itu  orang harus mengingat-ingat terus, tak 
jarang harus mengalahkan acara aktivitas lainnya...  atau dimana diluar itu 
orang akan ‘gagal’ untuk menikmatinya......kecuali  diluar itu bila seseorang 
ingin  menikmatinya sebagai ‘siaran tunda’ ... ia harus pertama menyuruh 
seseorang untuk mengerjakan perekaman ... dan tentu untuk itu harus disediakan 
alat khusus perekam  maupun juga playernya.... diperlukan sumber energi seperti 
listrik atau baterai..... juga mungkin tempatnya harus tertentu (dekat outlet 
listrik).... 
  Sementara itu tentang keluwesan dari media cetak ........ penundaan waktu 
membaca dapat dilakukan dengan demikian mudahnya ..... kapan dan dimana saja 
tanpa waktu yang terbatas.... tanpa untuk itu diperlukan  alat-alat bantu 
khusus seperti energi listrik, alat player dsb......  
  Mengenai poin (3) bahwa kata cucu  konteks tata kota secara umum telah cukup 
banyak diulas dalam media ...... benar cuk... tapi maafkan kakek ya cuk, 
menurut kakek itu lebih merupakan wacana tentang ‘city planning’ pada sebuah 
kota saja..... dimana yang amat sering... yang dibicarakan disitu adalah  lebih 
tentang ‘bagaimana fisik kota agar lebih indah dan lebih sehat’.... dan masih 
kurang tentang “bagaimana agar sistem kota-kota secara nasional dari Sabang 
sampai Merauke dapat menciptakan kesempatan kerja yang lebih luas lagi bagi 
anak bangsa” yang 10 juta TK-nya sekarang sedang menganggur, 100 juta orangnya 
masih miskin (sambil KB masih kedodoran) ..... sedangkan kalau mereka bekerja 
diluarnegeri .... adaaaaa saja.... dihukum matilah ... disiksa-lah... tidak 
dibayar upahnya-lah.... hamil-lah... disetrika punggungnya-lah.... mulan 
jamilah-lah....dsb. dsb..... 
  *           *           *
  Sekarang  menyangkut masalah lain... ialah tentang  pertapaanmu yang 
terdahulu .... arsitektur .... yang ketika kakek singgung  kemarin sempat 
membuat cucuku masygul.....maafkan kakek lagi cuk, rasanya ada sedikit salah 
faham  cucu disitu........
  Sejauh yang kakek amati selama ini ........ dimana dalam praktek pembangunan 
nasional ini  para ekonom dan politikus masih akan terus menjadi ’para panglima 
pembangunan’ .... dan umumnya mereka lebih memahami bahasa verbal, bahasa 
ekonomi  atau “bahasa non-keruangan”  tetapi umumnya tidak banyak mengerti 
“bahasa keruangan”......... dimana mereka seperti masih saja menganggap 
masyarakat  ‘sipil-perencanaan’ sebagai semacam ‘tukang menggambar saja’ yang 
tentu hampir pasti  hanya dianggap enteng  saja ....... 
  Kakek melihat bahwa  peran perjuangan masyarakat sipil-perencanaan adalah 
’bagaimana meyakinkan para panglima pembangunan’ itu.... bahwa 
sipil-perencanaan  atau “bahasa keruangan” atau “spatial language” memegang 
peran yang penting dan harus diletakkan dimuka dalam pembangunan nasional 
......... dimana itu justru  tentang 5 matra yang kemarin telah cucu kemukakan 
itu.......
  Kemudian berhubung kodrat manusia yang dibatasi oleh banyak 
‘keterbatasan’.... utamanya menyangkut ‘keterbatasan total waktu belajar dalam 
hidup ini’....  yang tak mungkin dihabiskan seluruhnya dipertapaan .... 
sehingga menyebabkan sebagai contoh pakdemu  Yudistira itu  misalnya lebih 
banyak mengemukakan tentang 3 matra misalnya ---- yang ini juga akan kiranya 
lebih merupakan pandangan dari hampir masyarakat planning didunia----  dimana 
itu memang karena  merupakan konsekwensi dari kehidupan modern dunia yang mau 
tak mau lebih elegan dan canggih  kalau dibagi-bagi dalam model specialization 
yang dalam... tak ubahnya seperti didunia masyarakat pertabiban misalnya... 
pertabiban dibagi dalam specialization yang banyak sekali .... dan itu 
samasekali tidak pernah mengecilkan arti dari masing-masing departemen 
didalamnya seperti neurologi, hepatologi, dentistry, pulmonologi, optalmologi,  
dst........ dan seperti nampak bahwa para ksatria dan dewi-dewi spesialis  
pertabiban itu
 juga nampak sangat gagah-gagah dalam seragamnya berwarna putih..........
  Atau lihatlah ... betapa gagahnya para prajurit diistana Hastinapura dan 
Amarta itu ... mereka sekarang dibagi-bagi dalam  specialization juga .... 
dalam angkatan-angkatan seperti untuk menjaga laut yang dipimpin oleh kakang 
sepupumu Harya Antasena .... angkatan darat yang biasa dipimpin oleh ayahandamu 
sendiri Arjuna  bersama Bima papinya sepupumu si Gatot Djarot itu...... dan tak 
ketinggalan pasukan angkatan udara yang tangguh berupa  ribuan burung garuda, 
burung pipit dan burung blekok yang dipimpin oleh panglimanya ... ialah siapa 
lagi kalau bukan sepupumu si marsekal Gatot Djarot, satu-satunya  anak kampung  
Pandawa yang bisa terbang itu.......    
  Berbeda dengan dinegara maju .... dimana peran fungsi sipil-perencanaan 
merupakan sesuatu yang tak lagi perlu diperdebatkan  .... dan merupakan  
“sesuatu yang termasuk diletakkan dibaris depan  tak pernah terpisahkan dalam 
konsep pembangunan”........... Kakek mengamati .... bahwa singkat kata ..... 
dinegeri Hastinapura dan Amarta  ini  ‘para panglima pembangunan nasional’ 
masih belum perpandangan demikian ...... yang ini juga diakibatkan juga “belum 
pernah nampak menonjol data empirik dari record pembangunan keruangan kita”... 
yang itu juga apa boleh buat.. diakibatkan juga bahwa masyarakat 
sipil-perencanaan di Hastinapura selama ini belum pernah berjuang secara 
all-out.... bagi bangsa dan bagi rahayat kecil.......... 
  Salah satu dari sebab seretnya keberhasilan  pemerataan pembangunan negeri 
Hastinapura ini .... selain karena disebabkan oleh korupsi oleh karena sistem 
pemerintahan yang dijalankan oleh  eyang jendral Sangkuni dan para kroninya  
itu ..... sebab lain adalah karena belum sepenuhnya  bahasa keruangan (spatial 
language) dipergunakan dalam proses pembangunan di Hastinapura ini 
..............
  Itu sebabnya cuk,  demikian lamanya kakek sendirian sebisanya, walau kakek 
sebenarya hanya sekedar pertapa jalanan saja,   selalu kapan saja memungkinkan 
kesempatannya .... selalu mengkampanyekan manfaat  mulia dan arti strategis 
dari bahasa keruangan itu (planning,  architecture, lansekap, interior, kalau 
lingkungan sudah oleh Walhi dkk)  dalam pembangunan sosial ekonomi negeri 
Hastinapura ini ............
  Masalahnya kemudian cuk...., kalau bicara tentang sosial ekonomi ruang ..... 
dimedan milis...... dari panah-panah yang beterbangan berseliweran diudara itu 
.... sering kakek lihat banyak mereknya adalah ‘planologi’ entah made in  
negara mana..... dan yang memakai merk architecture kakek lihat sangat-sangat 
jarang sekali  cuk......... 
  Malah suatu kali dulu .... ketika kakek mencoba-coba bicara tentang 
arsitektur untuk suatu desa dekat Palopo yang masih termasuk negeri Hastinapura 
ini  juga  ....eeee.. justru tahu-tahu malah kakek dipanah sendiri oleh 
sepupumu si Gatot Djarot itu ..... yang ketika itu baru-baru saja turun dimedan 
milis ini.... yang katanya kakek telah lancang melanggar garis demarkasinya 
arsitek .........  
  Itu sebabnya  cuk..... samasekali kakek tidak pernah bermaksud meremehkanmu 
yang telah melanglang buana bahkan sampai kenegeri antah berantah dan  
Junggring Salaka itu...... dari yang 5 matra itu ..... kalau pakdemu dan 
kawan-kawannya ternyata lebih  terspecialized  untuk  mengemukakan yang 3 matra 
itu kepada para ”panglima pembangunan” itu ..... dimana padahal  matra budaya 
dan waktu menurutmu tak boleh pernah dipisahkan ......lalu apa salahnya sih cuk 
 kalau  kamu  dengan ikhlas dan rela menggenapinya  dan melengkapinya..... dan 
bersama masyarakat dari pakdemu itu lalu menjadi teamwork yang solid 
begitu?..... demi untuk kejayaan Hastinapura ini?.......
  Lagipula kalau kakek tahu persis bahwa kamu dan juga sepupumu  si Gatot 
Djarot itu sangat mumpuni untuk wacana arsitektur itu ...... salahkah kalau 
kakekmu ini mempercayakan detailing tentang masalah yang 2 matra dan  
pentingnya arsitektur itu kepada “para panglima pembangunan“ ini kepadamu 
berdua ....... untuk melengkapi matra yang 5 itu?..... dan apakah kamu pikir 
masyarakat ilmiahnya pakdemu itu dapat berjalan sendirian ke “para panglima 
pembangunan“ itu tanpa yang 2  itu?........ . 
  Bukan apa cuk..... matra yang 3 itu .. yang justru sempat cucu  kecam ... 
walau hanya 3 saja ... tetapi giliran menyangkut masalah simiskin atau 
’pengentasan kemiskinan’ atau ”penciptaan kesempatan kerja” atau migrasi atau 
relokasi industri  misalnya...... itu juga  sudah beratnya bukan main..... 
sehingga mohon jangan pernah anggap enteng masyarakat ilmiahnya pakdemu  juga 
.... dan belum tentu juga masyarakat arsitektur yang nampaknya mulai ingin cucu 
tinggalkan dan lupakan  (tetapi kakek percaya kalau cucuku Gatotkaca tetap 
bangga dan konsisten disitu, dan memang kakek amat banyak perlu  nanya tentang 
itu)  .........  apakah masih sempat memikirkan ‘kesempatan kerja untuk 
simiskin’ sementara mereka harus berkonsentrasi pada ranah budaya dan estetika 
ruang........ bahkan maaf .... cucuku Gatot yang bandel tetapi baik itu secara 
jujur mengakui ke kakek ..... tidak banyak menggeluti masalah ekonomi atau 
pasar ....... 
  Maka akhir kata .... kalau saja  cucu mau mengerti dan kasihan ke kakek 
......., ooh betapa  ngenesnya kakekmu ini ........ masa mudanya hanya habis 
dijalananan, dipasar, dihutan, disawah dan diworkshop serta ditoko......  tak 
pernah turut duduk dipemerintahan  (jadi maka tak pernah akan turut bicara 
tentang strategi pembangunan dan mendapatkan pensiun hari tua dari 
Hastinapura)....  ataupun  kakek juga tak pernah ikut menjadi murid  
dipertapaan tempat para ksatria itu belajar memanah dan memainkan pedang  ..... 
..... tetapi nyatanya di Hastinapura ini kakek masih saja terus harus 
berkampanye untuk itu ... tentang manfaat mulia ilmu memanah dan ilmu memainkan 
pedang itu ........  tak hanya kepada  “para panglima pembangunan” yang lebih 
banyak berupa para ekonom dan para politisi ...... malah ternyata kakek juga 
harus terus berdiri dimedan yang udaranya terus penuh dengan anak panah yang  
tajam berseliweran ini .... tegakah cucuku Abimanyu  meninggalkan kakekmu yang 
tua
 ini sendirian?..............
   
  Wassalam,
  kakek aby
   
  
  
  "abimanyu takdir alamsyah" [EMAIL PROTECTED] wrote : 
  Eyang Abyoso dan refencer lainnya ysh,
Saya turut prihatin atas kemasgulan eyang yang pertanyaannya belum terjawab. 
Cucunda akan mencoba mencari jawabnya (semoga tidak di "rumput yang bergoyang" 
ya?).
  1. Mengenai komunikasi dengan masyarakat (pemangku kepentingan pengguna 
ruang) dalam pembicaraan tentang ruang kota, saya setuju perlunya media massa 
sebagai sarana yang efektif. Sama seperti upaya mengkomunikasikan masalah hak 
asasi, demokrasi, otonomi, lingkungan hidup, dan kelautan yang semula kurang 
berkembang sekarang sudah menjadi pembicaraan sehari-hari di berbagai media. 
  Yang belum adalah (sama dengan diskusi di milist ini) perlu  'moderator' yang 
selalu concern dan bijak serta tidak  terkesan menguasai (seperti kekhawatiran: 
"siapa  pengendalinya"?, atau sekadar "penyampaian kebijakan pemerintah"). 
  Yang penting juga adalah bagaimana unsur pemerintah terkait (yang ahli atau 
yang sedang menjabat) maupun stake-holder lain yang berhubungan juga menyaring 
dan menjaring manfaatnya, tidak sekadar menganggap sebagai saluran pelepas 
tension grass-root (agar tidak demo?), tetapi mengantisipasi dan mengolahnya 
menjadi hal yang lebih konkrit. 
  Menurut pengamatan saya, surat kabar mungkin masih lebih efektif sebagai 
media fisik yang dapat disimpan dan dipelajari ulang secara luas (kadang masih 
dibaca walaupun korannya sudah menjadi kertas pembungkus), daripada radio yang 
terbatas pendengarnya, atau televisi yang penyediaan wakturuangnya juga kalah 
dengan kepentingan iklan (sehingga banyak yang diedit sesuai skenario 
penayangan yang "sesuai pasar"). 


  2. Mengenai kandungannya tentu berbeda dengan milis ini, yang membernya 
memang yang berminat. Perlu lebih populer dan dengan bahasa awam (sesuai kelas 
pembaca medianya). Tetapi perlu dipersiapkan sebelumnya skenario isinya dan 
calon penulisnya, kalau memang arah  komunikasinya  menuju  ke konsep tertentu. 
  Yang penting adalah sipemilik media tidak menganggap apa yang akan 
disampaikan tidak sesuai misi medianya. 
  Dari kumpulan tayangan dan tulisan lima tahun terakhir ini, menurut 
pengamatan saya melalui "video clip" di tv , serta tulisan berlanjut (termasuk 
dari pejabat yang masih berfungsi) di surat kabar semakin memasyarakat daripada 
sebelum strategi komunikasi masalah nelayan, wisata bahari, pulau-pulau kecil 
dan masalah kelautan dlainnya diterapkan oleh DKP, LSM dan pemangku kepentingan 
lain di bidangnya. 
  3. Saya sebetulnya merasa bahwa konteks tata kota secara umum telah cukup 
banyak diulas dalam media, bahkan konteksnya cukup kaya dan terkait atau 
diintegrasikan dengan aspek-aspek lain. Memang tidak selalu dalam bahasa 
"sosial-ekonomi" saja, namun juga sosial-budaya, lingkungan hidup, hak asasi, 
kesehatan, bencana, dll. yang menurut saya cukup sah dan lebih membumi serta 
sesuai permasalahan yang dihadapi masyarakat yang beragam. 
  Memang konteks yang sesuai harapan Eyang Abyoso mungkin kurang terungkap, 
karena yang menulis bukan (belum?) Eyang sendiri.
  Seperti di milis ini, setiap tulisan merupakan ringkasan konteks tertentu 
dalam konsep tertentu pula. Konsep pemikiran setiap pemikir (perencana, 
perancang, filosif, sosiolog, ekolog, dll) dalam bidang yang sama dari angkatan 
yang sama pula dapat berbeda-beda, apalagi yang menganut paradigma berbeda. 
  Pendekatan pemikiran berbasis isu dengan yang berbasis teori juga dapat 
saling bertentangan. Hasilnya? Sesuatu yang membuat pembacanya berpikir dan mau 
memilih yang terbaik adalah lebih menarik dan bermanfaat daripada sesuatu yang 
sudah matang dan tidak dapat diubah lagi (ingat bahwa waktu-ruang- kultural 
bangsa kita sangat beragam). 
  Keberagaman  paradigma yang dianut tersebut kami rasakan juga pada saat 
menyusun konsep bersama dari berbagai perguruan tinggi pemikiran bagi revisi UU 
Penataan Ruang yang lalu. Dan UUPR 26/2007 yang akhirnya diresmikan juga 
membuktikan bahwa upaya penyamaan pandangan bersama dalam masukan tersebut juga 
hanya sebagian yang diterima DPR RI kita. 

Mungkin baru tiga butir itu dulu tanggapan yang cucunda dapat sampaikan ke 
Eyang dan sederek lainnya. Belum dapat Wahyu Cakraningrat lagi...

Sungkem,
Abimanyu



       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke