Eyang Abiyoso  ysh,

Nuwun sewu kalau cucumu ini memang suka 'risau' dan 'ngelamun' ga
juntrungan, dan  membuat gundah  dan resah Mayapada dan mungkin juga
Suralaya.  Resah, karena  dari pertapaan satu ke pertapaan lain, dari hutan
wingit di puncak gunung sampai pulau terpencil hingga "kerem ing tirta"
(untung masih ada Mas Djarot) sering merasa 'terasing' dan belum menemukan
obat manjur penenang jiwaku dan sesamanya, paling kurang mendekati kehebatan
'jamus kalimusada'.
Dari pertapaan pertama, cucunda risau karena sesama cantrik mementingkan
egonya, mungkin karena didikan bahwa "I" (dalam huruf besar) lebih besar
daripada "you" atau "they" yang cuma huruf kecil saja, sehingga yang penting
adalah eksistensi karya dengan 'merk' perancangnya, bukan manfaat berlanjut
bagi pemakainya, apalagi kaum papa (hanya sedikit yang mau jadi 'mengotori
kakinya ke lumpur tanpa nama' untuk membantu mereka). Dari pertapaan kedua
kerisauan muncul akibat kuantifikasi, penyederhanaan, hingga spesialisasi
(akibat kebutuhan hidup sendiri mungkin)  mengakibatkan  manusia dan alam
cuma dilihat sebagai sumber daya, yang ada mata, hidung, kaki dan dompet,
bukan keutuhan insan budaya yang selalu berkemang,  atau tanah,  pohon,
emas dan  peluang  eksploitasi, tanpa berkepentingan perlunya waktu jeda
untuk pulih atau proses belajar untuk meningkatkan kualitas. Kalau  tidak
potensial ya dianggap pencilan, keluarkan dari  variabel, atau substitusi
dengan barang import, dsbm dstm. Semua seolah tetap, barang mati dan
stabil,sehingga fenomena masa lalu bisa diproyeksikan ke masa datang. Bahkan
ada yang mengangap bahwa rencana tata ruang dulu baru pembangunan, bukan
tujuan dan konsep pembangunan manusia dan tempat hidupnya dulu baru
mengembangkan cara dan alat, termasuk menata ruang, dsb. Kekecewaan berat
lainnya adalah orientasi ke yang kuat dulu, ke kota dulu baru daerah
belakang sebagai penopang. Bagaimana daerah non-kota? bagaimana daerah tak
berpenduduk?
Pertapaan ketiga, ternyata cuma melihat daerah non-kota dan tak berpenduduk
sebagai  angka-angka  statistik  dengan bahasa (lagi-lagi) ekonomi, sehingga
lahir konsep 'mono kultur' di region yang 'mega bio-cultural-diversity'.
Padahal  region  dengan  diversitas tinggi biasanya populasinya kecil,
berbeda dengan negeri sabrang yang diveristasnya terbatas tetapi populasinya
besar. Mungkin perlu ke pertapaan lain.
Pertapaan keempat memandang dari sisi lainnya, bagaimana makan
sedikit-sedikit biara sisanya lebih lama. Juga kurang sadar tanah-air kita
yang bukan cuma daratan.
Saya masih belajar ke pertapaan di dunia nyata, ingin agar bangsa kita bisa
makan banyak gizi sekaligus hanya memberi makanan ke lingkungan hidupnya.
Sehingga kalau bangsa tempe sebagai ciri kita, ya walaupun mahal, warga
termiskinpun mampu menikmatina secara memadai. Kalau musti dibahas model
perilaku ekonominya, ya hanya sebagai pemahaman apa yg telah terjadi dimasa
lalu kalau disederhanakan, bukan jadi rumus masa depan....
Semoga tidak selalu menjadi mimpi. Mohon suwuk pemberi semangat selalu.
Sungkem,
Abimanyu


2008/1/22 hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>:

>   Khusus untuk 'cucuku' tersayang Abimanyu ysh, dan mohon maaf untuk
> milister semuanya ysh kalau tak sengaja turut membaca posting ini .......
> harap cepat  didelete saja......
> Cuk,..... trimakasih banyak atas simpati prihatinmu kepada kakek ....
> semoga keprihatinan cucuku memperoleh pahala yang besar sekali dari
> SangHyang Tunggal Hingkang Murbeng Dumadi ... dan biarlah sepupumu  si
> Djarot 'Gatotkaca' itu nanti pahalanya  biar kecil  saja  kalau ia tidak  mau
> ikutan berprihatin  untuk kakek.........
> Terimakasih banyak bahwa analisis cucu tentang efektivitas media untuk
> wacana pembangunan  rupanya ada juga serba sedikit bermanfaat bagi
> sebagian milister kita ........
> Satu hal kecil yang barangkali perlu juga ditambahkan menyangkut
> perbandingan efektivitas antar media adalah bahwa media radio dan visual
> mempunyai satu keterbatasan bahwa  'ia hanya dapat dinikmati pada hari dan
> jam yang amatsangat  tertentu' ..... sehingga untuk itu  orang harus
> mengingat-ingat terus, tak jarang harus mengalahkan acara aktivitas
> lainnya...  atau dimana diluar itu orang akan 'gagal' untuk
> menikmatinya......kecuali  diluar itu bila seseorang ingin  menikmatinya
> sebagai 'siaran tunda' ... ia harus pertama menyuruh seseorang untuk
> mengerjakan perekaman ... dan tentu untuk itu harus disediakan alat khusus
> perekam  maupun juga playernya.... diperlukan sumber energi seperti
> listrik atau baterai..... juga mungkin tempatnya harus tertentu (dekat
> outlet listrik)....
> Sementara itu tentang keluwesan dari media cetak ........ penundaan waktu
> membaca dapat dilakukan dengan demikian mudahnya ..... kapan dan dimana saja
> tanpa waktu yang terbatas.... tanpa untuk itu diperlukan  alat-alat bantu
> khusus seperti energi listrik, alat player dsb......
> Mengenai poin (3) bahwa kata cucu  konteks tata kota secara umum telah
> cukup banyak diulas dalam media ...... benar cuk... tapi maafkan kakek ya
> cuk, menurut kakek itu lebih merupakan wacana tentang 'city planning' pada
> sebuah kota saja..... dimana yang amat sering... yang dibicarakan disitu
> adalah  lebih tentang 'bagaimana fisik kota agar lebih indah dan lebih
> sehat'.... dan masih kurang tentang "bagaimana agar sistem kota-kota secara
> nasional dari Sabang sampai Merauke dapat menciptakan kesempatan kerja yang
> lebih luas lagi bagi anak bangsa" yang 10 juta TK-nya sekarang sedang
> menganggur, 100 juta orangnya masih miskin (sambil KB masih kedodoran) .....
> sedangkan kalau mereka bekerja diluarnegeri .... adaaaaa saja.... dihukum
> matilah ... disiksa-lah... tidak dibayar upahnya-lah.... hamil-lah...
> disetrika punggungnya-lah.... mulan jamilah-lah....dsb. dsb.....
> *           *           *
> Sekarang  menyangkut masalah lain... ialah tentang  pertapaanmu yang
> terdahulu .... arsitektur .... yang ketika kakek singgung  kemarin sempat
> membuat cucuku masygul.....maafkan kakek lagi cuk, rasanya ada sedikit salah
> faham  cucu disitu........
> Sejauh yang kakek amati selama ini ........ dimana dalam praktek
> pembangunan nasional ini  para ekonom dan politikus masih akan terus
> menjadi 'para panglima pembangunan' .... dan umumnya mereka lebih memahami
> bahasa verbal, bahasa ekonomi  atau "bahasa non-keruangan"  tetapi umumnya
> tidak banyak mengerti "bahasa keruangan"......... dimana mereka seperti
> masih saja menganggap masyarakat  'sipil-perencanaan' sebagai semacam
> 'tukang menggambar saja' yang tentu hampir pasti  hanya dianggap enteng  saja
> .......
> Kakek melihat bahwa  peran perjuangan masyarakat sipil-perencanaan adalah
> 'bagaimana meyakinkan para panglima pembangunan' itu.... bahwa
> sipil-perencanaan  atau "bahasa keruangan" atau "spatial language"
> memegang peran yang penting dan harus diletakkan dimuka dalam pembangunan
> nasional ......... dimana itu justru  tentang 5 matra yang kemarin telah
> cucu kemukakan itu.......
> Kemudian berhubung kodrat manusia yang dibatasi oleh banyak
> 'keterbatasan'.... utamanya menyangkut 'keterbatasan total waktu belajar
> dalam hidup ini'....  yang tak mungkin dihabiskan seluruhnya dipertapaan
> .... sehingga menyebabkan sebagai contoh pakdemu  Yudistira itu  misalnya
> lebih banyak mengemukakan tentang 3 matra misalnya ---- yang ini juga akan
> kiranya lebih merupakan pandangan dari hampir masyarakat planning
> didunia----  dimana itu memang karena  merupakan konsekwensi dari
> kehidupan modern dunia yang mau tak mau lebih elegan dan canggih  kalau
> dibagi-bagi dalam model specialization yang dalam... tak ubahnya seperti
> didunia masyarakat pertabiban misalnya... pertabiban dibagi dalam
> specialization yang banyak sekali .... dan itu samasekali tidak pernah
> mengecilkan arti dari masing-masing departemen didalamnya seperti neurologi,
> hepatologi, dentistry, pulmonologi, optalmologi,  dst........ dan seperti
> nampak bahwa para ksatria dan dewi-dewi spesialis  pertabiban itu juga
> nampak sangat gagah-gagah dalam seragamnya berwarna putih..........
> Atau lihatlah ... betapa gagahnya para prajurit diistana Hastinapura dan
> Amarta itu ... mereka sekarang dibagi-bagi dalam  specialization juga ....
> dalam angkatan-angkatan seperti untuk menjaga laut yang dipimpin oleh kakang
> sepupumu Harya Antasena .... angkatan darat yang biasa dipimpin oleh
> ayahandamu sendiri Arjuna  bersama Bima papinya sepupumu si Gatot Djarot
> itu...... dan tak ketinggalan pasukan angkatan udara yang tangguh berupa  
> ribuan
> burung garuda, burung pipit dan burung blekok yang dipimpin oleh panglimanya
> ... ialah siapa lagi kalau bukan sepupumu si marsekal Gatot Djarot,
> satu-satunya  anak kampung  Pandawa yang bisa terbang itu.......
> Berbeda dengan dinegara maju .... dimana peran fungsi sipil-perencanaan
> merupakan sesuatu yang tak lagi perlu diperdebatkan  .... dan merupakan  
> "sesuatu
> yang termasuk diletakkan dibaris depan  tak pernah terpisahkan dalam
> konsep pembangunan"........... Kakek mengamati .... bahwa singkat kata .....
> dinegeri Hastinapura dan Amarta  ini  'para panglima pembangunan nasional'
> masih belum perpandangan demikian ...... yang ini juga diakibatkan juga
> "belum pernah nampak menonjol data empirik dari record pembangunan keruangan
> kita"... yang itu juga apa boleh buat.. diakibatkan juga bahwa masyarakat
> sipil-perencanaan di Hastinapura selama ini belum pernah berjuang secara
> all-out.... bagi bangsa dan bagi rahayat kecil..........
> Salah satu dari sebab seretnya keberhasilan  pemerataan pembangunan negeri
> Hastinapura ini .... selain karena disebabkan oleh korupsi oleh karena
> sistem pemerintahan yang dijalankan oleh  eyang jendral Sangkuni dan para
> kroninya  itu ..... sebab lain adalah karena belum sepenuhnya  bahasa
> keruangan (spatial language) dipergunakan dalam proses pembangunan di
> Hastinapura ini ..............
> Itu sebabnya cuk,  demikian lamanya kakek sendirian sebisanya, walau kakek
> sebenarya hanya sekedar pertapa jalanan saja,   selalu kapan saja
> memungkinkan kesempatannya .... selalu mengkampanyekan manfaat  mulia dan
> arti strategis dari bahasa keruangan itu (planning,  architecture,
> lansekap, interior, kalau lingkungan sudah oleh Walhi dkk)  dalam
> pembangunan sosial ekonomi negeri Hastinapura ini ............
> Masalahnya kemudian cuk...., kalau bicara tentang sosial ekonomi ruang
> ..... dimedan milis...... dari panah-panah yang beterbangan berseliweran
> diudara itu .... sering kakek lihat banyak mereknya adalah 'planologi' entah
> made in  negara mana..... dan yang memakai merk architecture kakek lihat
> sangat-sangat jarang sekali  cuk.........
> Malah suatu kali dulu .... ketika kakek mencoba-coba bicara tentang
> arsitektur untuk suatu desa dekat Palopo yang masih termasuk negeri
> Hastinapura ini  juga  ....eeee.. justru tahu-tahu malah kakek dipanah
> sendiri oleh sepupumu si Gatot Djarot itu ..... yang ketika itu baru-baru
> saja turun dimedan milis ini.... yang katanya kakek telah lancang melanggar
> garis demarkasinya arsitek .........
> Itu sebabnya  cuk..... samasekali kakek tidak pernah bermaksud
> meremehkanmu yang telah melanglang buana bahkan sampai kenegeri antah
> berantah dan  Junggring Salaka itu...... dari yang 5 matra itu ..... kalau
> pakdemu dan kawan-kawannya ternyata lebih  terspecialized  untuk  mengemukakan
> yang 3 matra itu kepada para "panglima pembangunan" itu ..... dimana padahal
> matra budaya dan waktu menurutmu tak boleh pernah dipisahkan ......lalu
> apa salahnya sih cuk  kalau  kamu  dengan ikhlas dan rela menggenapinya  dan
> melengkapinya..... dan bersama masyarakat dari pakdemu itu lalu menjadi
> teamwork yang solid begitu?..... demi untuk kejayaan Hastinapura ini?.......
> Lagipula kalau kakek tahu persis bahwa kamu dan juga sepupumu  si Gatot
> Djarot itu sangat mumpuni untuk wacana arsitektur itu ...... salahkah kalau
> kakekmu ini mempercayakan detailing tentang masalah yang 2 matra dan  
> pentingnya
> arsitektur itu kepada "para panglima pembangunan" ini kepadamu berdua
> ....... untuk melengkapi matra yang 5 itu?..... dan apakah kamu pikir
> masyarakat ilmiahnya pakdemu itu dapat berjalan sendirian ke "para panglima
> pembangunan" itu tanpa yang 2  itu?........ .
> Bukan apa cuk..... matra yang 3 itu .. yang justru sempat cucu  kecam ...
> walau hanya 3 saja ... tetapi giliran menyangkut masalah simiskin atau
> 'pengentasan kemiskinan' atau "penciptaan kesempatan kerja" atau migrasi
> atau relokasi industri  misalnya...... itu juga  sudah beratnya bukan
> main..... sehingga mohon jangan pernah anggap enteng masyarakat ilmiahnya
> pakdemu  juga .... dan belum tentu juga masyarakat arsitektur yang
> nampaknya mulai ingin cucu tinggalkan dan lupakan  (tetapi kakek percaya
> kalau cucuku Gatotkaca tetap bangga dan konsisten disitu, dan memang kakek
> amat banyak perlu  nanya tentang itu)  .........  apakah masih sempat
> memikirkan 'kesempatan kerja untuk simiskin' sementara mereka harus
> berkonsentrasi pada ranah budaya dan estetika ruang........ bahkan maaf ....
> cucuku Gatot yang bandel tetapi baik itu secara jujur mengakui ke kakek
> ..... tidak banyak menggeluti masalah ekonomi atau pasar .......
> Maka akhir kata .... kalau saja  cucu mau mengerti dan kasihan ke kakek
> ......., ooh betapa  ngenesnya kakekmu ini ........ masa mudanya hanya
> habis dijalananan, dipasar, dihutan, disawah dan diworkshop serta
> ditoko......  tak pernah turut duduk dipemerintahan  (jadi maka tak pernah
> akan turut bicara tentang strategi pembangunan dan mendapatkan pensiun hari
> tua dari Hastinapura)....  ataupun  kakek juga tak pernah ikut menjadi
> murid  dipertapaan tempat para ksatria itu belajar memanah dan memainkan
> pedang  ..... ..... tetapi nyatanya di Hastinapura ini kakek masih saja
> terus harus berkampanye untuk itu ... tentang manfaat mulia ilmu memanah dan
> ilmu memainkan pedang itu ........  tak hanya kepada  "para panglima
> pembangunan" yang lebih banyak berupa para ekonom dan para politisi ......
> malah ternyata kakek juga harus terus berdiri dimedan yang udaranya terus
> penuh dengan anak panah yang  tajam berseliweran ini .... tegakah cucuku
> Abimanyu  meninggalkan kakekmu yang tua ini sendirian?..............
>
> Wassalam,
> kakek aby
>
>  *"abimanyu takdir alamsyah" [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>*wrote :
> *
> Eyang Abyoso dan refencer lainnya ysh,
> Saya turut prihatin atas kemasgulan eyang yang pertanyaannya belum
> terjawab. Cucunda akan mencoba mencari jawabnya (semoga tidak di "rumput
> yang bergoyang" ya?).
> 1. Mengenai komunikasi dengan masyarakat (pemangku kepentingan pengguna
> ruang) dalam pembicaraan tentang ruang kota, saya setuju perlunya media
> massa sebagai sarana yang efektif. Sama seperti upaya mengkomunikasikan
> masalah hak asasi, demokrasi, otonomi, lingkungan hidup, dan kelautan yang
> semula kurang berkembang sekarang sudah menjadi pembicaraan sehari-hari di
> berbagai media.
> Yang belum adalah (sama dengan diskusi di milist ini) perlu  'moderator'
> yang selalu concern dan bijak serta tidak  terkesan menguasai (seperti
> kekhawatiran: "siapa  pengendalinya"?, atau sekadar "penyampaian kebijakan
> pemerintah").
> Yang penting juga adalah bagaimana unsur pemerintah terkait (yang ahli
> atau yang sedang menjabat) maupun stake-holder lain yang berhubungan juga
> menyaring dan menjaring manfaatnya, tidak sekadar menganggap sebagai saluran
> pelepas tension grass-root (agar tidak demo?), tetapi mengantisipasi dan
> mengolahnya menjadi hal yang lebih konkrit.
> Menurut pengamatan saya, surat kabar mungkin masih lebih efektif sebagai
> media fisik yang dapat disimpan dan dipelajari ulang secara luas (kadang
> masih dibaca walaupun korannya sudah menjadi kertas pembungkus), daripada
> radio yang terbatas pendengarnya, atau televisi yang penyediaan
> wakturuangnya juga kalah dengan kepentingan iklan (sehingga banyak yang
> diedit sesuai skenario penayangan yang "sesuai pasar").
>
> 2. Mengenai kandungannya tentu berbeda dengan milis ini, yang membernya
> memang yang berminat. Perlu lebih populer dan dengan bahasa awam (sesuai
> kelas pembaca medianya). Tetapi perlu dipersiapkan sebelumnya skenario
> isinya dan calon penulisnya, kalau memang arah  komunikasinya  menuju  ke
> konsep tertentu.
> Yang penting adalah sipemilik media tidak menganggap apa yang akan
> disampaikan tidak sesuai misi medianya.
> Dari kumpulan tayangan dan tulisan lima tahun terakhir ini, menurut
> pengamatan saya melalui "video clip" di tv , serta tulisan berlanjut
> (termasuk dari pejabat yang masih berfungsi) di surat kabar semakin
> memasyarakat daripada sebelum strategi komunikasi masalah nelayan, wisata
> bahari, pulau-pulau kecil dan masalah kelautan dlainnya diterapkan oleh DKP,
> LSM dan pemangku kepentingan lain di bidangnya.
> 3. Saya sebetulnya merasa bahwa konteks tata kota secara umum telah cukup
> banyak diulas dalam media, bahkan konteksnya cukup kaya dan terkait atau
> diintegrasikan dengan aspek-aspek lain. Memang tidak selalu dalam bahasa
> "sosial-ekonomi" saja, namun juga sosial-budaya, lingkungan hidup, hak
> asasi, kesehatan, bencana, dll. yang menurut saya cukup sah dan lebih
> membumi serta sesuai permasalahan yang dihadapi masyarakat yang beragam.
> Memang konteks yang sesuai harapan Eyang Abyoso mungkin kurang terungkap,
> karena yang menulis bukan (belum?) Eyang sendiri.
> Seperti di milis ini, setiap tulisan merupakan ringkasan konteks tertentu
> dalam konsep tertentu pula. Konsep pemikiran setiap pemikir (perencana,
> perancang, filosif, sosiolog, ekolog, dll) dalam bidang yang sama dari
> angkatan yang sama pula dapat berbeda-beda, apalagi yang menganut paradigma
> berbeda.
> Pendekatan pemikiran berbasis isu dengan yang berbasis teori juga dapat
> saling bertentangan. Hasilnya? Sesuatu yang membuat pembacanya berpikir dan
> mau memilih yang terbaik adalah lebih menarik dan bermanfaat daripada
> sesuatu yang sudah matang dan tidak dapat diubah lagi (ingat bahwa
> waktu-ruang- kultural bangsa kita sangat beragam).
> Keberagaman  paradigma yang dianut tersebut kami rasakan juga pada saat
> menyusun konsep bersama dari berbagai perguruan tinggi pemikiran bagi revisi
> UU Penataan Ruang yang lalu. Dan UUPR 26/2007 yang akhirnya diresmikan juga
> membuktikan bahwa upaya penyamaan pandangan bersama dalam masukan tersebut
> juga hanya sebagian yang diterima DPR RI kita.
>
> Mungkin baru tiga butir itu dulu tanggapan yang cucunda dapat sampaikan ke
> Eyang dan sederek lainnya. Belum dapat Wahyu Cakraningrat lagi...
>
> Sungkem,
> Abimanyu
>
> ------------------------------
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it
> now.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51733/*http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ>
> 
>

Kirim email ke