Pak Aby, Pak EkoBK, dan rekan milister lainnya

 

Yah,mungkin kata  “dengan hati” dari pak Aby bisa diganti “ dengan
professional” ….. 

 

Hal yang diuraikan Pak Aby dan Pak EkoBK mengenai ke ”setengah hatian”atau
“ketidak profesionalan”  para penguasa penataan kota itu lah yang membuat
saya menulis posting beberapa waktu dulu,…. Yang menurut saya menunjukkan
bahwa para penguasa penataan kota itu masih “katrok”, “kampungan”, “ndeso”
…. (tanpa menjelekk-jelkkan wong ndeso dan orang yang tinggal di kampung
loh) Sungguh tidak fair meminta para pendatang dari segala pelosok desa yang
datang ke Jakarta untuk meninggalkan sifat ruralnya  dan beradaptasi dengan
“gaya hidup kota”,… sedangkan para penguasa penataan kotanya itu sendiri
ternyata masih memelihara primordialisme-nya, tidak professional pula,…..
masih menata ruang dengan “tradisional”…. Sekedar gusur, tidak becus dengan
informasi kota, layanan kota,dll….

 

Best regards,

 

Benedictus Dwiagus S.

HYPERLINK "http://bdwiagus.blogspot.com"bdwiagus.blogspot.com 

 

Planning: Much works remain to be done before we can announce our total
failure to make any progress ,...

 

 

 

   _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of hengky abiyoso
Sent: 29 January 2008 09:12
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [referensi] JAKARTA, A SINKING GIANT??

 

Mas Cak Eko Budi yang Kurniawan, Kang Deden yang Rukmana dan milister ysh,

 

Saya teringat pak Tatag Wiranto salah satu  elit planner di Indonesia yang
mungkin terlalu sibuk dan terlalu tinggi statusnya  untuk ikutan ‘main’
dimilis egaliter ini  pernah mengemukakan tentang ‘penggolongan’ planner
seperti  berikut : 

strategic planner, 

regional economic planner,

urban and regional environment township planner,

transportation planner,

municiple infrastructure planner,

rural development planner,

housing & community planner.....-...

Yang tentu kalau kita mau khusus mendiskusikan ‘penggolongan’ tersebut juga
kita akan menghasilkan ‘perumusan’ yang berbeda-beda lagi .... dan belum
tentu anda cukup  sepakat  dengan perumusan seperti diatas
tersebut....-......

Tetapi mengapa ‘penggolongan’  itu saya sebutkan dibagian awal posting ini
.... karena saya percaya ‘penggolongan’ itu ada kaitannya dengan visi  atau
pola pandang planner dalam menjalankan profesinya .........

Sayangnya adalah dalam praktek tak banyak planner yang menjadi ‘penguasa
kota’.... atau  ‘penguasa wilayah’..... dan   yang lebih banyak ‘para
penguasa’ itu adalah  para politikus (dimasa orba tentara adalah juga
politikus andal), dan ‘penguasa’ dari banyak disiplin ilmiah bukan
planning....-.......  

Disatu sisi sebenarnya ini ada ‘untungnya’...-. ialah dengan demikian untuk
banyak sekali ’urusan city planning’ yang tidak beres  .. itu dapat dibilang
sebagai “bukan salah planner”.... karena para penguasa kota itu adalah
umumnya bukan ‘of planning school graduate’....-.... atau ‘sudah dinasehati
tetapi tetap ndableg’ misalnya ....  dan dengan demikian masyarakat planner
sebenarnya bisa ‘aman-aman’ saja ........ hanya  tinggal masalahnya  apakah
masyarakat planner mau ‘aman’nya saja terus?......-.......

Kalau mau ‘aman’ saja terus ... jelas bahwa dimata masyarakat  posisi mereka
akan terus melorot bukan lagi pada level ‘terhormat dan disegani’ .......
dan bukan tidak mungkin akan semakin sering menjadi bahan olok-olok
kesemrawutan penataan kota ............-. 

 

Tetapi saya kira memang ... kalau kita mau bicara tentang ‘city
planning’.... atau bicara lebih ‘sempit’ lagi seperti misalnya tentang
segala tetek bengek detil  tentang  ‘city maintenance’ atau ‘city service’
...... memang  aneh kalau dibilang kita sudah punya ribuan planner dan
arsitek ...... yang tentu maunya dikalangan masyarakat intelektual .. untuk
urusan penataan kota mereka harus tidak ketinggalan perlu juga disebut
sebagai  ‘ahlinya penataan kota’ juga ......... Tetapi nyatanya  masyarakat
umum sering mengambil yang sederhananya saja dan yang faktualnya saja
...........

Soal ‘penggusuran’ misalnya ... yang tak bisa tidak berkait dengan proses
urbanisasi dan migrasi  yang menjadi latar belakang  sebelumnya..-....  kita
lihat para ‘penguasa kota’  lebih senang memakai kacamata kuda itu .........
mereka sering lebih  banyak terlihat ‘menggusur’ saja karena mereka memiliki
‘wewenangnya’.-.....

Ada sih sesekali memikirkan lokasi ‘penampungannya’ .........  tetapi para
‘penguasa penataan kota’ itu nyatanya tidak banyak bicara tentang ‘strategi
pengelolalan arus migrasi/ urbanisasi secara nasional’ yang jelas berkait
dan sebab-sebab dari ‘penggusuran’ itu ....

Ada sesekali sebuah langkah ‘re-migrasi sesaat’ ... seperti kala habis
lebaran Pemda DKI merazia penduduk, mengongkosinya lalu mengirimnya kembali
kedaerah asal ..... tetapi apakah begitu cara ’ahlinya penataan kota’ yang
sekaligus ‘penguasa kota’  menangani masalah migrasi dan
urbanisasi?.-....... apakah S3 di Jerman mengajarkan seperti itu?........-..

Soal ‘sepele’ penataan kota yang sederhana dan mudah seperti masalah tanda
penunjuk loket, jurusan dan harga tiket seperti  disetasiun Gambir yang
disorot mas Eko ...  sepertinya membereskan perkara kecil seperti itu tidak
usah memakai  ‘ahlinya yang harus luar biasa’ ..... yang rasanya cukuplah
‘memakai hati’  seperti suggestionnya pak Kandipi dari Papua itu.........
dan itu memang seharusnya ‘tidak harus oleh planner’.....-. tetapi kalau
hal-hal demikian terjadi dimana-mana.-.. apakah masyarakat planner dan
arsitek (enak aja arsitek mau nggak ikutan  disentil) terus mau ‘diam
saja’?....

Tetapi  masalah ’sepele’  urusan ‘city furniture’ atau ’street furniture’
dibilang ’kecil’ tetapi nyatanya menyebar dimana-mana .. dan membuat pusing
kepala......-.

Jalan Fatmawati atau Jl. Raya Pasar Minggu yang panjang itu misalnya ....
kalau sesekali anda mau mencobai menjadi pengantar surat atau pencari alamat
..... anda akan pusing tujuh keliling ... mendapatkan bahwa nomor-nomor
bangunan ternyata samasekali  tidak urut ....... Setelah no. 38 anda bisa
saja mendapatkan disebelahnya adalah no. 144, lalu sebelahnya lagi no.
17!.........-. Anda baru ‘beruntung’ kalau mencari alamat ruko no. 124 P
kemudian telah berhasil mendapatkan no.124A... karena umumnya nomor demikian
urut abjad ABCDE dst.....

Di Bekasi... jalan protokolnya tiap hari  dicuci dan disemprot air dengan
truk tangki.... nomor-nomor bangunan ada walaupun juga tidak selalu urut ...
tetapi yang hebat adalah hampir disetiap ujung jalan protokol di Bekasi anda
tak akan menemukan papan nama jalan yang lazimnya dipasang dengan tiang
diletakkan diujung jalan.......

Yah... mungkin maksudnya  sang ‘penguasa kota’ disana  adalah anda boleh
memilih .... pilih kota dengan street furniture yang lengkap’ tetapi
jalan-jalannya kotor dan berdebu ... atau pilih kota yang walau  tidak ada
papan penunjuk nama jalan tetapi jalan aspalnya bersih tanpa
debu!.......-... 

*           *           *

Sebenarnya kalau mau digali lebih dalam urusan semacam penunjuk informasi
disetasiun Gambir tadi ... jelas bahwa itu ada kaitan kuat dengan  ‘less
information means business’ ...   yang kalau digali lagi erat kaitannya
bahwa kesejahteraan di level bawah PJKA teramat kurang... yang ini berkait
dengan ‘bengkaknya jumlah birokrasi’ RI yang 4  juta orang ... yang tentu
saja ‘berat’ bagi pemerintah untuk  memberikan aturan gaji PNS yang ideal
seperti Malaysia atau apalagi Singapura yang PNSnya konon ‘hanya’ sekitar
100 ribu orang saja ..........

Kalau sudah begini ........ bagaimana   planning tidak mau  ‘tanpa malu
menjadi sapujagat’ ... sering-sering melirik kekerjanya BKKBN juga ....
sambil ngomel bisa mengendalikan jumlah penduduk nasional dengan lebih baik
nggak sih?........-agar angka-angka bisa lebih ideal?......-.

 

Jadi kembali lagi .... apa yang secara hiperbolik dan sinikal diungkapkan
dalam artikel di Jakarta Post itu memang bukan ‘asal’ saja ........ termasuk
utamanya bagaimana para developer bagai singa lapar terus membeli ruang dan
mengolahnya menjadi properti mewah dan mahalnya setinggi langit dan ‘tak ada
program for the poor’..... dan pihak yang terkait diam saja terus ....
nyatanya  semuanya itu merupakan fakta lapangan yang kuat........  

Kalaupun diatas saya katakan ‘planner’ bisa terus ‘aman-aman’ saja ....
karena kesemrawutan kota lebih  ditangani oleh ‘penguasa kota yang dalam
praktek umumnya bukan planner’... dan tak selalu mereka mau mendengarkan
‘nasehat planning ‘ yang baik...... tetapi ‘masyarakat planning yang diam”
juga adalah sesuatu salah besar ........setidaknya tidak menjalankan  ‘amar
ma’ruf nahi munkar’......-........

Maka itu sekali lagi saya ambil contoh .... DKI yang nomor satunya sekarang
adalah ‘the real  ‘wow expert of city planning”....-...  kita lihat
bagaimana langkah-langkahnya.-.. dalam menangani fisik kota Jkt,
kependudukan kota Jkt, maupun kewiraswastaan penduduk Jkt .....  

Kalau mau dibilang planner lokal ... tetapi kok bisa selalu gesit
mendiskusikan  ‘kerjasama interregional’ seperti soal urusan lokasi ‘TPA
Sampah’  dengan propinsi lainnya... atau ‘lumayan visioner’ untuk urusan
‘integrated MRT system’ dan megapolitan dengan propinsi sekitarnya..-...
jadi pasti bukan sekedar ‘local planner’ saja ........ 

Tetapi kalau mau dibilang  ‘inter-regional development planner’ lha kok
urusannya hanya lebih  dengan ‘propinsi dekat tepat disekitar saja’ untuk
urusan sampah.... dan lebih untuk ‘mengirim kembali migran yang tak
dikehendaki untuk propinsi lain sebagai propinsi asal migrasi?....-....bukan
tentang countermagnet untuk JKTuntuk alternatif akomodasi tujuan migrasi
atau urbanisasi misalnya?...-.........   

Kalau mau dibilang ‘strategic planner’ (pinjam istilahnya pak Tatag) .....
kok belum terdengar visinya tentang itu yang berskala nasional  ya?....   

Nah, setidaknya kita nanti bisa  menggolongkannya  ...... DKI-1 itu dalam
kategorisasinya pak Tatag nanti  termasuk ‘golongan planner apa’.........-..
kalau ternyata setelah 5 tahun nanti  tak jelas juga atau malah muncul
kejutan hebat .... termasuk sebagai golongan planner apa ..... barangkali
kategorisasi pak Tatag perlu direvisi lagi ........ atau setidaknya perlu
dibuat versi kategorisasi lain disamping itu ........

Siapa tahu suggestion dari pak Kandipi Kaori dari Papua tentang ‘Merencana
Dengan Hati’   bisa menjadi paradigma baru kategorisasi golongan
spesialisasi planner di Indonesia ........ seperti barangkali saja menjadi
lebih sederhana ...... misalnya saja (hanya misal lho) planner (dengan hati)
lokal,  planner (dengan hati) regional, Planner (dengan hati)
inter-regional, dan terakhir “Planner Dengan Hati Nasional” atau ‘Planner
With Nationalism Heart’.......-.atau mungkin ada kategorisasi lain dari mas
Eko, kang Deden, pak Eka atau teman lainnya?....-.........-..  

 

Wassalam,

aby



eko budi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 

Pak Deden yg baik,

 

artikel ini dipublish di Jakarta Post, berikut link nya:

 

HYPERLINK
"http://www.thejakartapost.com/weekender/4point.asp"http://www.thejakar-tapo
st.com/-weekender/-4point.asp

 

artikel atau opini tersebut memang ditulis dengan bhs yg provokatif sehingga
memprovoke pemikiran pembaca... perihal evidence dari mana sehingga dia
menulis bahwa Jakarta tidak punya "city planners", saya kira itu ungkapan
hiperbolik..-.namun maksudnya jelas... yg disebut memang "city planners"
tapi implikasinya ke mana2 khususnya para pengambil keputusan di Pemda DKI,
apakah tidak pernah berkonsultasi dengan "city planners" selama ini? apakah
para "city planners" yg bekerja di Pemda DKI (termasuk gubernur sekrg
bukan?) tidak pernah menerapkan ilmunya dlm kebijakan yg dibuat? atau
masalah DKI bukan hanya di bawah wewenang Pemda DKI? seperti yg kemarin
didiskusikan oleh Pak Aby, Pak BTS, dkk lain...dst..-.dst...

 

Menurut hemat saya, Jakarta sebagai ibu kota Indonesia merupakan "image"
dari Indonesia itu sendiri... ini tentu bukanlah sebuah statement yg benar
mengingat bahwa Indonesia "bukan" Jakarta... yg saya maksudkan adalah bahwa
bagi orang2 asing, ibu kota sebuah negara secara umum menggambarkan kondisi
masyarakat negara tersebut: tingkat budaya, modernitas, keteraturan, dll... 

 

dan memang cukup menyedihkan kalau kita menyadari bahwa di hub utama
transportasi nasional seperti stasiun Gambir, kondisinya masih (dulu) sangat
menyedihkan.-.. beberapa tahun yg lalu, kalau saya mau ke Bandung, saya
perhatikan schedule yg ditempel sudah kadaluwarsa, bahkan petunjuk di loket
mana kita bisa membeli tiket kereta ke Bandung pun tidak ada, tidak ada
petunjuk di bahwa loket A untuk Argo dan B untuk parahyangan.-..sampai2
pernah suatu waktu bahkan harga tiket juga tidak dicantumkan dengan
jelas...sebagai orang yg terbiasa menggunakan jasa kereta untuk
Jakarta-Bandung, hal2 tsb tidak lah menjadi soal karena saya sudah hafal
harus pergi ke loket mana, kapan waktunya, dan berapa harga tiketnya...
namun saya bayangkan kalau seorang warga Jakarta lainnya yg pasti harus
bertanya untuk bisa mendapatkan informasi... lha kalau orang asing? lalu
kalau yg dia tanya kebetulan calo? dst dst... kalau stasiun kereta api
seperti ini adanya di Gombong atau Bojonegoro, saya masih bisa maklum, tapi
di Jakarta? di pusat ibu kota yg lokasinya berdekatan dengan istana negara,
monas, dll... saya kira kalau kita bicara soal stasiun Senen atau Kota lebih
hopeless lagi...ketika seorang asing mendapati kondisi stasiun seperti ini
berada di Jakarta, tentu image dia tentang masyarakat Indonesia secara
keseluruhan adalah masyarakat yg tidak kompeten....-ini masa beberapa tahun
yg lalu, saya tidak tahu saat ini, semoga sudah ada pembenahan di Gambir dan
stasiun lain... ini hanya sebuah contoh yg tidak terkait dengan "city
planners"...

 

kalau kita baca RTRW Jakarta, dapatkah kita mengatakan bahwa kita
(Indonesian planners) selama ini terlalu fokus / terjebak lebih pada "land
use and infrastructure planning"? atau UU dan NSPM lain yg disiapkan oleh
Ditjen Penataan Ruang yg terlalu fokus pd "land use and infrastructure
planning"? sehingga mengabaikan aspek2 penting yg lain dlm perencanaan
kota...

 

Pak Risfan dan Pak BTS mungkin tertarik masalah ini terkait dengan "city
image" yg mempengaruhi "city competitiveness"-... terutama dlm konteks
globalisasi.-..

 

salam hangat,

 

E.

 

 

 

 

  


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.15/1248 - Release Date: 28/01/2008
21:32



No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.15/1248 - Release Date: 28/01/2008
21:32
 

Kirim email ke