Cak Eko Budi dan referensiers,
   
  Kalau ditanya soal city competitiveness, wah ....? Kalau saya bekerja 
untuk/di Kota Tangerang, Medan, Makassar, Batam....maka artikel di Jakarta Pos 
itu akan saya pajang di mana-mana, agar investor tidak ke Jakarta, tapi ke 
kota-kota tersebut.
   
  Bagi Jakarta sendiri, saya kira berat karena masalahnya (internal, kiriman) 
makin akut, sedang resources dan kemampuan manajemen pembangunan ada batasnya. 
Dalam kondisi tersebut tentunya akan selalu dilematis, apakah akan memperbaiki 
kondisi Jakarta seluruhnya, atau mengembangkan "etalase" saja. Membangun 
sesungguhnya atau citra semata. Prioritas pada perbaikan kondisi fisik, atau 
sosial ekonomi.
   
  Kelihatannya policy DKI ingin galak terhadap pendatang (urbanisan) yang tidak 
siap dari daerah, pada sisi lain mengundang tamu (wisatawan, investor). Maka 
melanjutkan kebijakan gubernur sebelumnya dengan 'membersihkan' RTH. Prioritas 
pada aspek fisik ini membawa risiko tergusurnya banyak 'penghuni' pertamanan 
tersebut. Pada kasus taman Barito 400an pedagang kena dampak, ini kabarnya 
membuat 2000an pekerja kehilangan pekerjaannya. Pembebasan RTH yang lain, yang 
meliputi 55.540m2 mengakibatkan 16 komunitas kehilangan tempat tinggal. Pilihan 
ini mulai mengundang banyak kritik. Tergantung DKI bagaimana memilih dan 
melaksanakan prioritasnya, dan bagaimana memenangkan opini publik. Akankah 
gubernur sekarang setegas pendahulunya, apalagi tahun depan lagi pemilu 
nasional? Mungkin dia berusaha mengejar waktu.
   
  Dari segi prasarana yang tidak bisa ditunda adalah bagaimana mengatasi banjir 
ditambah naiknya air laut, dan transportasi kota. Kedua masalah ini menuntut 
kerjasama baik dengan daerah sekitar, dengan departemen, instansi, maupun dengn 
masyarakat, karena masalahnya begitu luas. Kepandaian DKI untuk menarik 
perhatian Pemerintah (Pusat) juga sangat diperlukan, karenanya dalam banyak hal 
kewenangan ditangan Pemerintah.
   
  Kemarin di 'pita berita' TV terbaca adanya policy pengurangan subsidi 
pendidikan (dasar-menengah) untuk dialihkan kepada percepatan pembangunan jalur 
busway koridor sekian, sekian. Ini tentunya juga bisa mengundang reaksi 
masyarakat.
   
  Keterpaduan antar pihak adalah hal yang sulit, dialog antar daerah, antar 
lembaga, selalu sulit. Mungkin karena tidak ada trust, takut diserobot duluan. 
Selain antar daerah, dalam kasus Jalan Tol Pluit-Bandara, yang boleh dikata 
sebagai "pintu gerbang" ibu kota dari manca negara, kenapa tidak bisa 
'dikhususkan' untuk ke Bandara pp saja. Pendapatan jalan tol kan bisa 
dikompensasi dari jalur lain, seperti mengatasi jalan sepi. Saya tidak tahu 
karena Jasa Marga gak mau rugi, atau Pemda DKI dan Tangerang yang minta dibuka 
pintu begitu banyak. Kesimpulannya: Tidak ada prioroitas, atau tidak ada 
kerjasama.
   
  Masalahnya begitu besar, sumbernya juga banyak yang di luar kuasa DKI, itu 
semua instansi, daerah, jalan sendiri-sendiri. Solusi yang ditempuh nasional 
tampaknya bukannya mempromosikan Batam, Medan, Makasar, tapi pembangunan 
jembatan Jawa - Sumatera, yang kemungkinan besar justru memperbesar arus ke 
Jakarta.
   
  Sekali lagi peluang bagi, ini peluang bagi pemerintah daerah Medan, Batam, 
Makasar, Tarakan untuk memanfaatkan artikel "Jakarta: The Sinking Giant" itu. 
Termasuk New Town seperti Karawaci, sebaiknya invest membangun jalan tol 
langsung ke Bandara, minta dukungan Pemprov Banten. 
   
  Sebagai anak bangsa tentu kita lebih rela kalau tamu dan investor ke 
kota-kota tersebut daripada mereka lari ke KL, Ho Chi Minth City dst. 
   
  Tapi investor itu siapa sih. Apa perlunya investor datang kesini, yang datang 
kan uangnya dan eksekutifnya. Pemodal perlunya kan pokoknya RoI nya bagus. Yang 
penting kan infrastruktur memadai, buruh tidak mogok, peraturan tidak macam2. 
Dan saat ini kebanyakan investor yang datang adalah yang melihat Indonesia 
sebagai 'pasar raksasa', dan sumber alam yang masih banyak. Bukan yang melihat 
potensi SDM, baik skill nya atau murah nya. Mungkin mereka juga kurang peduli 
seperti apa Jakarta, asal ongkos produksi, logistik, buruh murah, aturan tidak 
macam-macam.
   
  Salam,
  Risfan Munir
  blog ecoplano
   
   
   
  

eko budi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
             
  Pak Risfan dan Pak BTS mungkin tertarik masalah ini terkait dengan "city 
image" yg mempengaruhi "city competitiveness"... terutama dlm konteks 
globalisasi...
   
  salam hangat,
   
  E.
   
   


      Recent Activity
    
      7
  New Members

Visit Your Group 
      Y! Messenger
  Files to share?
  Send up to 1GB of
  files in an IM.

    Lawn & Garden
  on Yahoo! Groups
  For all things
  green and growing.

    Popular Y! Groups
  Is your group one?
  Check it out and
  see.



  .

 
                         

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke