Cak Eko Budi, kang Deden, mas Dwi dan milisters ysh,
Dari Re: Jakarta The Singking Giant?
"eko budi" <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
.......kalau kita baca RTRW Jakarta, dapatkah kita mengatakan bahwa kita
(Indonesian planners) selama ini terlalu fokus / terjebak lebih pada "land use
and infrastructure planning"? atau UU dan NSPM lain yg disiapkan oleh Ditjen
Penataan Ruang yg terlalu fokus pd "land use and infrastructure planning"?
sehingga mengabaikan aspek2 penting yg lain dlm perencanaan kota...
Dari Who Are Planners 2007 Posting no. 22 Kalau Bukan Fisik lalu apa? :
"eko budi" <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
"....sedikit pertanyaan : 1. Kalau bukan perencana fisik, maka planner
perencana apa ya? Dibuku manual comprehensive city planning terbitan APA
misalkan disebutkan bahwa city planning, spatial planning, land use planning
memiliki arti yang sama dan berorientasi pada physical planning... tak heran
apabila dimana-mana Pak Risman Maris dimana-mana selalu meneguhkan bahwa
spatial planing adalah physical planning.... atau ...."
* * *
Dari dua macam pertanyaan diatas.... pastilah jawab dari cuplikan posting
pertama diatas sedikit banyak adalah iya .........
Dan dari pertanyaan pertama pula ...... kita seperti juga telah mengerti
jawabnya ......bahwa .... hampir pasti pendekatan klasik dari sains
perencanaan ternyata tak lagi akan terus-menerus memadai untuk menjawab
persoalan Jakarta pada khususnya ... atau masalah tata ruang Indonesia pada
umumnya........sedikitnya sejak Jakarta 1950..... sampai masa 58 tahun
sesudahnya atau kini.........
Zaman terus-menerus bergulir ..........
Setidaknya sejak dari ketika proporsi penduduk perkotaan dunia dulu masih
sekitar 3% saja yang bahkan kala itu revolusi industri belum lahir...........
Lalu lahirlah kemudian revolusi industri yang ditandai dengan penemuan
prinsip mesin uap pada 1769 di Inggris sebagai kelanjutan dari
penemuan-penemuan sebelumnya..... yang lalu momentum itu selanjutnya
mengubah kehidupan dunia secara revolusioner................
Lalu sejak itu industri yang semula hanya lebih berupa industri kecil dan
berskala desa ...serta dengan tenagakerja yang cukup dipenuhi oleh penduduk
desa setempat .... kemudian meningkat pesat menjadi industri berskala
besar.... sehingga kebutuhan tenaga kerja tak lagi tercukupi dengan penduduk
desa setempat atau desa tetangga.... tetapi bahkan harus dipenuhi dengan
tenaga kerja dari desa yang lebih jauh lagi... sehingga awal dari revolusi
industri itu juga sekaligus mengawali munculnya berbagai fenomena baru...
seperti perjalanan ketempat kerja ....... adanya kota industri.......
adanya kota yang kotor, kelam, kumuh tidak higienis.... lalu... munculnya
kebutuhan membangun kota-kota baru masa awal revolusi industri ....... yang
bersamaan waktunya dengan itu bersemi pula tunas pertumbuhan sains
perencanaan...........
Bahwa sampai tahun 1900-an proses urbanisasi di Inggris misalnya dapat
dikatakan telah usai (sekitar sains perencanaan telah bertumbuh kembang
selama tak kurang dari 60 tahun)..... yang ditandai dengan berpindahnya sampai
sebanyak 80% penduduk desanya keperkotaan diseluruh negeri ..........
Tetapi dihampir semua negara sedang berkembang ....... atau khususnya di
Indonesia .......segalanya serba berbeda dan jelas serba tertinggal.....
terlebih bahwa kita dalam keadaan dijajah oleh bangsa asing.........
Bila negara maju untuk pertama kalinya mulai memiliki kebutuhan
mengembangkan new town lebih karena alasan berkembangnya kota-kota industri
dan urbanisasi yang tak lagi sehat .......... tetapi negeri seperti Indonesia
yang pada tahun-tahun 1950-an boleh dikatakan belum ada industri dan
urbanisasi.......... pertama kali membutuhkan mengembangkan new townnya
(Niew Gondangdia dan Menteng, lalu Kebayoran Baru) lebih karena alasan bahwa
untuk pertama kalinya Nederland-Indie harus mempunyai kota yang
sepantasnyalah perlu mengadopsi mobil dan sistem jalannya dalam sistem tata
kotanya yang modern ........ karena pada kedatangan semula VOC ke Indonesia
dulu sistem mobil belumlah diketemukan...... sehingga kendaraan cukuplah kereta
kuda dan jalan-jalan cukuplah jalan dari tanah saja ...... dan keadaan serta
kebutuhan mulai berubah pada 1950.....
Apa yang menarik adalah bahwa kala itu ...kata orang-orang Inggris yang
berkunjung ke Batavia... Niew Batavia malah lebih indah dibanding
Singapura........
* * *
Utamanya setelah kemerdekaan RI ...........dimana Jkt adalah ibukota
sekaligus kota primat ....... kegiatan kotanya tak lagi sekedar mengurus
administrasi negeri ... tetapi juga merupakan pusat perdagangan dan industri
...... dan akhirnya juga menjadi pusat tujuan urbanisasi dari segala penjuru
pelosok negeri .......... lalu demikian juga ...... kota-kota lainnya juga
berkembang seiring dengan bertumbuhnya ekonomi dan industri serta ledakan
jumlah penduduk yang dengan itu Indonesia menduduki no. 4 terbesar
dunia........... jelas bahwa kebutuhan planning tak lagi sekedar kebutuhan
menata ruang secara fisik semata .... namun juga kebutuhan lain yang sangat
erat dan tak dapat dipisahkan ... ialah menata ruang sosial ekonomi
bangsa...... yang bersama-sama dengan matra lain ... perlu bekerjasama erat
untuk mensukseskan pembangunan.............
Bila semula kebutuhan planning lebih berupa city planning (fisik) .... dan
belum sampai kepada kebutuhan urban planning (sos-ek)......... maka
belakangan apa yang erat mutlak tak dapat dipisahkan adalah kebutuhan akan
urban planning ......dimana jumlah penduduk yang terus meningkat... secara
kurang ideal tidak diimbangi dengan ... pertumbuhan tingkat kualitas
pembangunan......... dimana bahkan sebenarnya secara nasional dengan
bergulirnya zaman .....kebutuhan akan urban planning kini perlu lebih
diletakkan sedikit didepan dari city planning.............
* * *
Selain kerusakan lingkungan yang memprihatinkan ....... apa yang lebih
memprihatinkan dan lebih merupakan penyebab dari kerusakan lingkungan itu
adalah ledakan jumlah penduduk yang tak mampu diimbangi dengan perluasan
kesempatan kerja yang memadai ...... yang akibatnya kemudian adalah lingkaran
setan ... berupa kerusakan lingkungan tadi itu... lalu kemiskinan, kurangnya
pendidikan, buruknya mutu kesehatan bangsa, areal tanaman pangan yang harus
terus-menerus diperluas......urbanisasi yang tak mampu terkelola dengan baik
.... dan ledakan jumlah penduduk yang memaksa kebutuhan perluasan areal
tanaman pangan kemudian akan selalu berbenturan dengan kebutuhan
pelestarian lingkungan atau konservasi alam............
Bahwa bila dari semula sains perencanaan terbiasa berdiri didepan dalam hal
aspek pembangunan kualitas kehidupan yang ideal yang semula cukuplah berupa
ideal city planning seperti masa-masa 1950 ......... nyatanya dengan keadaan
yang terus berubah... yang utamanya menyangkut pertambahan jumlah penduduk
yang luar biasa pesat (Jkt 1954 : 1.6-1.8 juta, 1974 : 4 juta, 2008 :
Jabodetabek : 16 juta)....... yang itu (akibat juga dari korupsi hutang LN)
kemudian memunculkan masalah utama berupa angka pengangguran yang terlampau
tinggi (10%, normalnya 4%) ... yang sesungguhnya dampak buruknya lebih dahsyat
dibanding kemacetan lalulintas (Meutia Hafidz dari Metrotv mengatakan berbeda
: disandera dengan todongan senjata di Iraq jauh lebih mengerikan daripada
sekedar terjebak kemacetan di Jkt)......... kegagalan angka swasembada pangan
yang terus dilampaui oleh pertumbuhan jumlah penduduk ..... lalu belakangan
Indonesia juga menjadi negeri penghasil minyak bumi
sekaligus pengimpor minyak bumi karena juga a.l. akibat pertumbuhan jumlah
penduduk..... dimana akibat lonjakan harga minyak dunia.... harga-harga juga
melambung.. dan semakin menambah kondisi kemiskinan bangsa Indonesia .........
Sementara itu para penguasa kota yang kadang kala saja kebetulan adalah
juga planner (tetapi belum tentu juga bahwa asalkan oleh planner lalu
pastilah penataan kota akan beres)......... dimana banyak tindakannya (yang
tidak harus selalu dengan kesepakatan dari planner) tidaklah selalu
mencerminkan langkah-langkah perencanaan atau pengelolaan kota yang bijak
..... sementara kalau saja masyarakat perencanaan kita (pinjam istilah mas Eko
: Indonesian planners) masih akan terus saja berkutat pada pandangan city
planning (saja) dan tak berkenan untuk lebih bergeser ke ranah urban
planning (perluasan kesempatan kerja, redistribusi populasi)........ padahal
bahwa pergerakan populasi seperti migrasi dan urbanisasi adalah juga akibat
dari daya tarik gemerlap kota .............
Jelas bahwa itu sama saja halnya dengan pilihan bahwa masyarakat planners
seperti tak lagi berminat pada tradisi berdiri ditempat terdepan dan
terhormat dalam pembangunan kualitas hidup manusia ............. dan padahal
siapa lagi atau masyarakat intelektual mana lagi akan lebih concern dan kapabel
pada masalah redistribusi populasi dan perluasan penciptaan kesempatan kerja
dalam dimensi keruangan?...................
Wassalam,
aby
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.