Roos Akbar, 
Saya lihat ada reaksi dan kesediaan dari sdr Buyung )alamat sysiphus atau 
kayaknya) , tapi kebetulan hilang postingnya dan alamatnya , tapi untung masih 
ada referensi dalam salah satu surat pak Roos, jadi saya mohon di forwardkan 
sajalah surat ini ke sdr Buyung, 

sdr Buyung 

memang benar saya telah menyatakan kesediaan saya untuk menyelenggarakan suatu 
seri wawancara yang terutama diarahkan kepada para pelaku mula dalam sejarah 
planologi itb, saya sendiri memang termasuk dalam kategori pelaku ini tapi 
justru oleh karena ke tersangkutan itu maka saya yang ingin menyelenggarakan 
wawancara atau interview itu, 

nah pendapat saya memang bukan suatu wawancara konvensional yang setiap penyiar 
atau reporter televisi bisa lakukan, juga tidak akan terbatas pada suatu daftar 
pertanyaan seperti yang telah disusun oleh rekan Risfan Munir (namun dengan my 
full appreciation Risfan ) dan yang telah disampaikan kepada Roos Akbar,  yah 
oleh karena pada Plano40 saya sudah di interview, saya memang tidak mau 
mengulangi wawancara (dangkal) kaya gitu lagi, juga saya mengetahui bahwa ada 
wawancara yang telah dilakukan terhadap Prof W.A.Doebele yang merupakan UN 
advisor dan dosen regional & urban planning pertama pada tahun 1959 itu, 
walaupun saya belum melihat hasil wawancara ini saya sudah bisa menduga kurang 
lebih isinya, barangkali ada juga wawancara imajiner yang diandaikan kepada 
mereka yang sudah tidak ada, wah bisa rather esoteric atau janggal. 
 yang ingin saya lakukan adalah carefully prepared structural essays yang saya 
susun sendiri sebagai latar belakang wawancara , yang memang secara sangat 
khusus akan saya tujukan pada beberapa early birds, katakan saja angkatan 
mahasiswa yang pertama yang kini masih hidup, menurut urutan kira-kira, 
Tb Moh Rais (dulu DKI Jakarta) , Oemar B. Mohtadi (dulu di Jawa Timur atau 
Surabaya) , Risman Maris (masih di Jakarta) , Prof Djoko S. (pensiun di ITB), 
Soeripto K. (terakhir di Jogya) dan mungkin masih beberapa lagi yang kini masih 
hidup tapi saya kehilangan kontak (seperti Lesman di Padang dan Nurjaeni di 
DKI) .  Nah ini jelas akan memerlukan waktu dan kerja yang lebih banyak 
daripada suatu wawancara biasa, 

nah hasil atau katakan saja lanjutan dari seri wawancara ini bisa saja kita 
jadikan suatu video atau katakan saja suatu bentuk media yang lain, apalagi 
kalau diberi illustrasi yang relevan, nah disini saya kira sangat saya harapkan 
technical advise, 

maka secara berurut mungkin pekerjaan saya adalah: 
(1) basic research dan penyusunan essay dasar  (2) penyelenggaraan structured 
interviews yang pasti berbeda-beda dan juga akan diselenggarkan tidak saja di 
bandung,  (3) further editing untuk disusun dalam suatu seri video atau multi 
media. 

dalam tahap pertama maka basic essay yang mencakup dekade 1948-1958 as a base 
decade sudah harus saya siapkan sebelum wawancara ini,  saya perkirakan pada 
bulan Juni2008 ini.  selama wawancara saya akan menyusun suatu essay yang 
mencakup post period dekade 1998-2008, yang sebenarnya merupakan 
observasi-observasi (post modern).  dekade kedua ini belum saya pikirkan 
presentasinya  tapi mungkin merupakan suatu retrospeksi dekat (near past). 

well itulah yang saya ingin lakukan. Terima kasih Pak Roos 

Pak Wawo. 
----- Original Message ----
From: Roos Akbar <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, January 25, 2008 9:38:21 PM
Subject: Re: [referensi] Plano-50 >> untuk Pak Roos

Lho kok jadi tugas saya pak?
Tugas kita bersama pak.
Mohon maaf untuk yang bukan alumni PL-ITB,
Pada 2 kali pertemuan alumni PL ITB (di Kampus dan di Pine Forest) saya 
sudah menghimbau bahwa ini adalah gawe kita. Terakhir di Pine Forest 
himbauan ini ditanggapi serius oleh API dan HMP.

Secara umum, makanya saya lemparkan di milis referensi ini tentang 
beberapa hal untuk "melihat kebelakang dan kedepan" secara sekaligus.
Saya juga sudah terima masukan dari pak Wawo tentang wawancara dengan 
pelaku sejarah (mulai pra 59 dst).
Setuju dengan pak RM, memang bukan hanya melihat kebelakang pak, tetapi 
juga ke depan. Saya menyampaikan di Pine Forest, apa-apa saja yang 
merupakan karya planner (IUIDP kah? atau apa?).

Pak Bambang SP rasanya juga sudah diminta ya untuk mengcompile diskusi 
di milis referensi ini terkait dengan beberapa isu yang memang sengaja 
sauya lontarkan.
Sementara begitu dulu pak.
Thanks masukannya.
Ditunggu pendetailannya.

Salam,
RA

Risfan M wrote:
> Pak Roos,
> Wah Plano-50 ya.
> Ini bisa mulai dari self-critic. Iya, tapi apa ndak bosen main kritik 
> terus. Kayaknya sudah 10 tahun era kritik berjalan. Ndak ada hasil. 
> Muter-muter terus. Paling-paling cari kambing hitam, menyalahkan masa 
> lalu, menyalahkan. ......
> Lha wong Republik Mimpi saja sudah di tutup kok....sudah kehilangan 
> substansi... ..yang tinggal cuma olok-olok.
> 
> Mungkin kita perlu pakai semboyan rocker El-Pamas (/Elek-elek ngene 
> arek Pandaan, Mas/!!!) - alias: *"/Jelek-jelek gini gue Planner...lo 
> mau ape?!"/*
> 
> Bahasa sopannya mungkin pakailah pendekatan sejenis /*Appreciative 
> Inquiry*/ misalnya. Metode yang biasa dipakai di dunia korporasi ini 
> belakangan dipakai juga di dunia pendampingan komunitas. Intinya 
> adalah memberikan alterna! tif dari /mindset/ "mengidentifikasi 
> persoalan" kepada /mindset/ "menggali potensi".
> 
> Gimanapun sejarah Planning atau Planner (dari 1959) di Indonesia ini 
> telah mencatat banyak hal, kontribusi, achievement, termasuk juga 
> prestasi menempati beberapa posisi strategis dalam proses pembangunan. 
> Ini perlu diidentifikasi, disyukuri, lalu dicari /'key/ /success 
> factor /(KSF)' nya, supaya dapat ditarik pelajaran untuk ke depan.
> 
> Pendekatan yang dikembangkan oleh para psikolog industri dan sosial 
> ini, memang dimaksudkan untuk menghadapi situasi dimana 'problem 
> solving' approach sudah menjurus kepada menyalahkan dan mencari(cari) 
> kesalahan, yang kebablasan. Frustrasi yang berubah jadi olok-olok diri 
> sendiri, "ludrukan" (Srimulat-an) karena frustrasi yang dalam, setiap 
> jalan keluar yang diusulkan terhadang persoalan lain lagi. Sehingga 
> perlu 'keluar dari kemelut.'
> 
> Pak Roos, lha kalo menyongsong Plano-50 kita masih Srimulatan 
> terus...../Caape deeeeh!/
> 
> Prosedur dasar Appreciative Inquiry yang 4-D itu mungkin bisa dipakai 
> untuk memulai /snowballing/ ide, materi menuju D-day Plano-50 tahun 
> depan. 4-D itu Discovery, Dream, Design, Destiny. Ya, urutannya 
> seperti proses planning.
> 
> Tapi yang penting awalnya, Discovery hal-hal positip yang dipunyai, 
> yang dicapai (bukan analisis persoalan). Coba simak contoh daftar 
> pertanyaan di bawah:
>
> 1. Ceritakan awal mula Anda menekuni profesi/pekerjaan ini,
> 2. Ceritakan tentang "pengalaman terbaik" Anda dalam memimpin suatu
> tim/unit kerja melakukan suatu perubahan positif,
> 3. Apa yang paling Anda hargai dari:
> 1. Diri Anda ...
> 2. Kepemimpinan Anda ...
> 3. Rekan kerja Anda
> 4. Unit kerja/organisasi Anda
> 4. Apa "faktor utama atau inti positif" yang melahirkan prestasi
> Anda yang terbaik?
> 5. Apabila seluruh kekuatan, kapasitas, dan keunggulan Anda
> teraktualisasikan maka sosok "idaman semacam apa yang terwujud?
>
> Ini adalah contoh pertanyaan yang bisa kita kembangkan. Bukan untuk 
> narsis, memuja profesi sendiri, tetapi untuk menemukan /'key success 
> factor'/ yang penting untuk menyongsong masa depan pasca Plano-50, 
> sesuai tantangan yang ada.
> 
> Bayangkan kalau pertanyaan itu kita ajukan kepada Pak Wawo, yang 
> selain perintis Jurusan Planologi ITB, juga Kepala Development 
> Technology Center di ITB. Kita tanyakan apa 'key success factor' 
> beliau waktu itu memperkenalkan jurusan baru, lembaga baru, yang tentu 
> saja 'ideologi' baru teknologi tepat guna, ramah lingkungan, bersama 
> masyarakat, di kalangan para 'tukang insinyur.'
> 
> Ada pak Risman Maris, yang bersama pak Poernomosidhi, merintis 
> pengembangan permukiman transmigrasi. Apa puncak prestasi yang pernah 
> dicapai dalam misi itu. Apa KSF nyadalam menghadapi tantangan ini dan itu?
> 
> Kita sering mendengar wejangan 'belajar dari kesalahan', tapi 
> menjelang Plano-50 ini Pak Roos, apa ndak sebaiknya kita 'belajar dari 
> keberhasilan' . Kita identifikasi achievements, interview tokoh-tokoh 
> (tidak harus pejabat tinggi tentu! nya) yang membesarkan Plano, yang 
> kiprahnya, idenya. Kita gali KSF nya, kita jadikan kumpulan resep 
> sukses bagi Planner masa kini.
> 
> Tentu bukan cuma Planner (orang)nya yang perlu diidentifikasi, yang 
> lebih penting adalah proses-proses yang melahirkan ide, 
> mengembangkannya jadi konsep, memobilisasi dukungan (dana, politis), 
> dan melaksanakannya di lapangan.
> 
> Ada capaian DTC, Transmigrasi, RIK, RUTR, Rencana Struktur, Tata Ruang 
> Dinamis, NUDS, IUIDP, Perencanaan Daerah Tertinggal, Pengentasan 
> Kemiskinan, Kelautan, Pariwisata dan lainnya, juga kiprah planner di 
> daerah seperti jadi Sekda, Ka Bappeda, Ka Dinas Tata Kota, konsultan 
> pembangunan (KP), LSM advokasi...dst. Yang heibat, yang biasa, yang 
> survival terus.....apa KSF nya sebagai /Die Hard/ (kok gak mati-mati 
> juga). Semua digali sukses dan KSF nya. Lalu ke depan maunya, 
> impiannya apa? Rancangan strateginya bagaimana?
> 
> Pak Roos, selamat atas tugasnya yang berat ini.....
> 
> Salam,
> *Risfan Munir*
> 
> 
> 
> 
>
> */Roos Akbar <[EMAIL PROTECTED] net.id>/* wrote:
>
> Bagi saya, jawaban pak Risfan ini clean and clear hehehe....
> Ceto welo-welo... ...
> Saya setuju sepenuhnya.
>
> Janganlah kita kemudian bingung sendiri.
> Terlontar dalam salah satu pertemuan di Pine Forest hari sabtu lalu,
> bahwa sangat suliy menyatakan bahwa suatu kota atau wilayah itu
> baik/bagus karena planner (atau siapa plannernya), tetapi begitu
> kacau,
> buruk, macet gusur sana dan gusur sini, maka selalu komentarnya
> plannernya payah hehehe.....
>
> Thanks pak Risfan.
> Tapi kalau planner melakukan self-critic boleh lah pak.
> Kalau ndak begitu tidak akan pernah maju hehehe....
> Bukan menelanjangi diri sendiri lho (walaupun ada yang berpendapat
> begitu karena disampaikannya di milis "umum").
> Saya sengaja melemparkan kembali isu ini agar teman-teman terkait
> mulai
> memikirkannya dalam rangka 50 Tahun Pendidikan Planologi di Indonesia
> (yang kebetulan saya ketuanya). Silakan,
>
> Salam,
> Roos Akbar
>
> .
>
>
> ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
> Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! 
> Search. 
> <http://us.rd. yahoo.com/ evt=51734/ *http://tools. search.yahoo. 
> com/newsearch/ category. php?category= shopping> 
>
> 
> ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
>
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG Free Edition. 
> Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.10/1241 - Release Date: 1/24/2008 
> 9:58 AM
> 

-- 
Salam,
Roos Akbar
Research Group in Urban Planning and Design
School of Architecture, Planning and Policy Development
Institute of Technology Bandung
email: [EMAIL PROTECTED] ac.id; [EMAIL PROTECTED] net.id





      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

Kirim email ke