Pak Roos Akbar dan sekalian juga Pak Risfan Munir, Walaupun saya tidak mengikuti pertemuan-pertemuan alumni PLITB, yang telah diikuti oleh a.l. Pak Roos Akbar dan teman-teman lain, saya terpaksa juga menggunakan milis ini karena memang paling mudah mencakup semua yang tergabung ataupun berminat, walaupun bukan merupakan alumni atau anggauta PLITB. Saya sendiri juga bukan alumni PLITB, walaupun tidak dapat menyangkal keterkaitan - nah memang sejak rapat PRODI di ITB Kamis 24 Jan yang lalu saya semestinya masih mengikuti rapat pada Sabtu 26 Jan, tapi maklumlah saya sudah harus kembali lagi ke Tomohon, jadi lebih lagi saya perlu gunakan milis ini ,.... punten kepada milis dan ....punten kepada Pak Roos. Berikut beberapa catatan tambahan:
1. Gagasan untuk menyelenggarakan suatu seri wawancara terhadap yang saya namakan pelaku-pelaku pertama dilingkungan PLITB, itu tidak saja oleh karena generasi inilah yang kini makin langka dan pasti akan lebih langka lagi . Jadi diantara pelaku-pelaku pertama ini yah mungkin para alumni pertama yang kini masih hidup, this is clear tapi maksud saya bahwa merekalah yang akan mewawancara saya, well this needs time and good preparation, nah untuk maksud ini saya sudah bersedia untuk menyusun semacam daftar pertanyaan yang jauh lebih analitis daripada yang biasanya kita lihat oleh pewawancara di tv, sebagai contoh: .. hal-hal apakah yang mungkin merupakan faktor utama untuk suatu prakarsa pendidikan planologi khusus di itb, memang ada beberapa jawaban yang sudah cukup diketahui, tetapi ada juga yang belum pernah didengar. ... pertanyaan yang lebih sukar adalah kira-kira daya persepsi saya ataupun para mahasiswa pertama dibandingkan dengan keadaan sekarang, .. jawabannya menuju kesuatu evolusi pendapat alumni. 2. Mengingat hal diatas saya memang sudah menyusun suatu esai khusus yang mencakup satu dekade dari tahun 1948- sampai tahun 1958, ini jelas merupakan akar-akar sejarah planologi dalam tafsiran saya. Mungkin esai ini akan dapat selesaikan sebelum seluruh seri wawancara itu akan berlangsung. 3. kalau mungkin wawancara ini juga dilakukan terhadap pelaku yang kini ada diluar negeri seperti W.A.Doebele (serta istrinya dahulu) dan mungkin yang lain yang masih hidup - hal mana memang perlu ditelusuri lagi. Dalam kategori ini mungkin bisa disebut mereka yang ada dan masih hidup di Inggris (mungkin Djoko S. bisa sebut, kalau hal ini feasible saya ingin melakukan wawancara ini juga, tapi waktu yang ada hanya pada akhir tahun 2008 ini. Roos saya juga tahu bahwa beberapa usaha mula sudah dikerjakan seperti penyusunan sejarah planologi seperti telah dikumpulkan oleh Andi U. atau yang telah dikumpulkan pada peringatan plano40 dan sebelumnya. Juga daftar pertanyaan wawancara sistimatis sudah ada, tapi yang ingin saya lakukan adalah lebih banyak in depth ke akar-akarnya lagi, tidak usah kita ulangi hal yang sama lagi. Jadi saran kesimpulan saya justeru men ciutkan plano50, dalam volume, tapi lebih besar dalam nilainya nah ini jelas dalam konteks kegunaan untuk masa depan. Saya rasa bahwa mungkin mula-mula memang boleh ambisius tanpa batas, tapi pada waktu 2009 itu sudah di edit sehingga sangat terbatas dalam pelaksanaan tapi dokumentasinya sih bisa sangat banyak. Secara terpisah saya juga sedang persiapkan suatu gagasan yang saya ingin sampaikan pada Pak Boy K. gagasan ini mengenai kediaman saya di Neglasari 4 di Ciumbuleuit. Pada waktu ini sedang dipertimbangkan kemungkinan sebagai (1)book atau documents deposit (2) suatu research library atau tempat membaca/ research, lalu ini berkembang lagi (3) suatu production center yang terutama menghasilkan electronic publications atau research products. dan akhirnya (4)suatu asrama kecil mungkin untuk bertapa, tapi juga untuk interchange and meditation. wah memang mimpi saya. tapi biarlah barangkali cukup feasible. Sekali lagi terima kasih Roos A. ----- Original Message ---- From: Roos Akbar <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Friday, January 25, 2008 9:38:21 PM Subject: Re: [referensi] Plano-50 >> untuk Pak Roos Lho kok jadi tugas saya pak? Tugas kita bersama pak. Mohon maaf untuk yang bukan alumni PL-ITB, Pada 2 kali pertemuan alumni PL ITB (di Kampus dan di Pine Forest) saya sudah menghimbau bahwa ini adalah gawe kita. Terakhir di Pine Forest himbauan ini ditanggapi serius oleh API dan HMP. Secara umum, makanya saya lemparkan di milis referensi ini tentang beberapa hal untuk "melihat kebelakang dan kedepan" secara sekaligus. Saya juga sudah terima masukan dari pak Wawo tentang wawancara dengan pelaku sejarah (mulai pra 59 dst). Setuju dengan pak RM, memang bukan hanya melihat kebelakang pak, tetapi juga ke depan. Saya menyampaikan di Pine Forest, apa-apa saja yang merupakan karya planner (IUIDP kah? atau apa?). Pak Bambang SP rasanya juga sudah diminta ya untuk mengcompile diskusi di milis referensi ini terkait dengan beberapa isu yang memang sengaja sauya lontarkan. Sementara begitu dulu pak. Thanks masukannya. Ditunggu pendetailannya. Salam, RA Risfan M wrote: > Pak Roos, > Wah Plano-50 ya. > Ini bisa mulai dari self-critic. Iya, tapi apa ndak bosen main kritik > terus. Kayaknya sudah 10 tahun era kritik berjalan. Ndak ada hasil. > Muter-muter terus. Paling-paling cari kambing hitam, menyalahkan masa > lalu, menyalahkan. ...... > Lha wong Republik Mimpi saja sudah di tutup kok....sudah kehilangan > substansi... ..yang tinggal cuma olok-olok. > > Mungkin kita perlu pakai semboyan rocker El-Pamas (/Elek-elek ngene > arek Pandaan, Mas/!!!) - alias: *"/Jelek-jelek gini gue Planner...lo > mau ape?!"/* > > Bahasa sopannya mungkin pakailah pendekatan sejenis /*Appreciative > Inquiry*/ misalnya. Metode yang biasa dipakai di dunia korporasi ini > belakangan dipakai juga di dunia pendampingan komunitas. Intinya > adalah memberikan alterna! tif dari /mindset/ "mengidentifikasi > persoalan" kepada /mindset/ "menggali potensi". > > Gimanapun sejarah Planning atau Planner (dari 1959) di Indonesia ini > telah mencatat banyak hal, kontribusi, achievement, termasuk juga > prestasi menempati beberapa posisi strategis dalam proses pembangunan. > Ini perlu diidentifikasi, disyukuri, lalu dicari /'key/ /success > factor /(KSF)' nya, supaya dapat ditarik pelajaran untuk ke depan. > > Pendekatan yang dikembangkan oleh para psikolog industri dan sosial > ini, memang dimaksudkan untuk menghadapi situasi dimana 'problem > solving' approach sudah menjurus kepada menyalahkan dan mencari(cari) > kesalahan, yang kebablasan. Frustrasi yang berubah jadi olok-olok diri > sendiri, "ludrukan" (Srimulat-an) karena frustrasi yang dalam, setiap > jalan keluar yang diusulkan terhadang persoalan lain lagi. Sehingga > perlu 'keluar dari kemelut.' > > Pak Roos, lha kalo menyongsong Plano-50 kita masih Srimulatan > terus...../Caape deeeeh!/ > > Prosedur dasar Appreciative Inquiry yang 4-D itu mungkin bisa dipakai > untuk memulai /snowballing/ ide, materi menuju D-day Plano-50 tahun > depan. 4-D itu Discovery, Dream, Design, Destiny. Ya, urutannya > seperti proses planning. > > Tapi yang penting awalnya, Discovery hal-hal positip yang dipunyai, > yang dicapai (bukan analisis persoalan). Coba simak contoh daftar > pertanyaan di bawah: > > 1. Ceritakan awal mula Anda menekuni profesi/pekerjaan ini, > 2. Ceritakan tentang "pengalaman terbaik" Anda dalam memimpin suatu > tim/unit kerja melakukan suatu perubahan positif, > 3. Apa yang paling Anda hargai dari: > 1. Diri Anda ... > 2. Kepemimpinan Anda ... > 3. Rekan kerja Anda > 4. Unit kerja/organisasi Anda > 4. Apa "faktor utama atau inti positif" yang melahirkan prestasi > Anda yang terbaik? > 5. Apabila seluruh kekuatan, kapasitas, dan keunggulan Anda > teraktualisasikan maka sosok "idaman semacam apa yang terwujud? > > Ini adalah contoh pertanyaan yang bisa kita kembangkan. Bukan untuk > narsis, memuja profesi sendiri, tetapi untuk menemukan /'key success > factor'/ yang penting untuk menyongsong masa depan pasca Plano-50, > sesuai tantangan yang ada. > > Bayangkan kalau pertanyaan itu kita ajukan kepada Pak Wawo, yang > selain perintis Jurusan Planologi ITB, juga Kepala Development > Technology Center di ITB. Kita tanyakan apa 'key success factor' > beliau waktu itu memperkenalkan jurusan baru, lembaga baru, yang tentu > saja 'ideologi' baru teknologi tepat guna, ramah lingkungan, bersama > masyarakat, di kalangan para 'tukang insinyur.' > > Ada pak Risman Maris, yang bersama pak Poernomosidhi, merintis > pengembangan permukiman transmigrasi. Apa puncak prestasi yang pernah > dicapai dalam misi itu. Apa KSF nyadalam menghadapi tantangan ini dan itu? > > Kita sering mendengar wejangan 'belajar dari kesalahan', tapi > menjelang Plano-50 ini Pak Roos, apa ndak sebaiknya kita 'belajar dari > keberhasilan' . Kita identifikasi achievements, interview tokoh-tokoh > (tidak harus pejabat tinggi tentu! nya) yang membesarkan Plano, yang > kiprahnya, idenya. Kita gali KSF nya, kita jadikan kumpulan resep > sukses bagi Planner masa kini. > > Tentu bukan cuma Planner (orang)nya yang perlu diidentifikasi, yang > lebih penting adalah proses-proses yang melahirkan ide, > mengembangkannya jadi konsep, memobilisasi dukungan (dana, politis), > dan melaksanakannya di lapangan. > > Ada capaian DTC, Transmigrasi, RIK, RUTR, Rencana Struktur, Tata Ruang > Dinamis, NUDS, IUIDP, Perencanaan Daerah Tertinggal, Pengentasan > Kemiskinan, Kelautan, Pariwisata dan lainnya, juga kiprah planner di > daerah seperti jadi Sekda, Ka Bappeda, Ka Dinas Tata Kota, konsultan > pembangunan (KP), LSM advokasi...dst. Yang heibat, yang biasa, yang > survival terus.....apa KSF nya sebagai /Die Hard/ (kok gak mati-mati > juga). Semua digali sukses dan KSF nya. Lalu ke depan maunya, > impiannya apa? Rancangan strateginya bagaimana? > > Pak Roos, selamat atas tugasnya yang berat ini..... > > Salam, > *Risfan Munir* > > > > > > */Roos Akbar <[EMAIL PROTECTED] net.id>/* wrote: > > Bagi saya, jawaban pak Risfan ini clean and clear hehehe.... > Ceto welo-welo... ... > Saya setuju sepenuhnya. > > Janganlah kita kemudian bingung sendiri. > Terlontar dalam salah satu pertemuan di Pine Forest hari sabtu lalu, > bahwa sangat suliy menyatakan bahwa suatu kota atau wilayah itu > baik/bagus karena planner (atau siapa plannernya), tetapi begitu > kacau, > buruk, macet gusur sana dan gusur sini, maka selalu komentarnya > plannernya payah hehehe..... > > Thanks pak Risfan. > Tapi kalau planner melakukan self-critic boleh lah pak. > Kalau ndak begitu tidak akan pernah maju hehehe.... > Bukan menelanjangi diri sendiri lho (walaupun ada yang berpendapat > begitu karena disampaikannya di milis "umum"). > Saya sengaja melemparkan kembali isu ini agar teman-teman terkait > mulai > memikirkannya dalam rangka 50 Tahun Pendidikan Planologi di Indonesia > (yang kebetulan saya ketuanya). Silakan, > > Salam, > Roos Akbar > > . > > > ------------ --------- --------- --------- --------- --------- - > Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! > Search. > <http://us.rd. yahoo.com/ evt=51734/ *http://tools. search.yahoo. > com/newsearch/ category. php?category= shopping> > > > ------------ --------- --------- --------- --------- --------- - > > No virus found in this incoming message. > Checked by AVG Free Edition. > Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.10/1241 - Release Date: 1/24/2008 > 9:58 AM > -- Salam, Roos Akbar Research Group in Urban Planning and Design School of Architecture, Planning and Policy Development Institute of Technology Bandung email: [EMAIL PROTECTED] ac.id; [EMAIL PROTECTED] net.id ____________________________________________________________________________________ Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search. http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

