Hari Favorit Hantu
   
  Disatu kompleks perumahan yang sedang resah karena sering muncul  
‘penampakan’........ seorang anak yang mengambil  les bahasa Inggris sambil 
lalu sambil coba mempraktekkan bahasa inggrisnya bertanya keguru lesnya ......
  “Sir....what is a ghost’s favourite day of the week to appear?....”  
  “Frightday”..........
   
   
  *           *           *           *           
   
  Milisters ysh,
   
  Melanjutkan diskusi Countermagnet City to Jkt....... senang juga bahwa telah 
masuk dua  posting yang langsung atau tidak merupakan  tanggapan ....dari mas 
BTS dan mas Muli........
  Yang dari mas Muli ... samasekali tak ada yang saya sangkal ...... saya 99% 
sependapat.......dan trimmsss...
  Sementara itu  kalau yang dari mas BTS (Re: Jkt Koq Dilawan?) kita bisa baca 
.. bahwa  intinya beliau mau bilang bahwa countermagnet city against Jkt  itu 
adalah  mission yang  impossible... dan yang dari mas Muli  sepertinya pendapat 
tentang mission yang  ‘why not’.......
   
  Agak sedikit ragu ... mau lanjut atau mau menanggapi dulu mas BTS ..... tapi 
kalau mau langsung lanjut.. agak lucu juga.... masak nggak menanggapi... tapi 
kalau   menanggapi beliau ..... pendapatnya masih yang  ‘itu-itu’ juga (sama 
seperti posting beliau  17/02 : “Konsep Countermagnet Berhasilkah”  ... yang 
sudah saya tanggapi 18/02).....
  Intinya mas BTS bilang bahwa Bodetabek adalah countermagnetnya Jkt .....  dan 
tanggapan saya : padahal jelas bahwa Jkt dan Bodetabek bukanlah kota-kota 
countermagnet cities  each other...  bukan kota yang saling bertanding ... dan 
bukan pula sebuah kota perkasa yang dicoba redakan dengan kota raksasa lain 
dengan equal function .....  tetapi ‘mereka’ adalah para kota (kota induk dan 
kawasan satelit)  yang satu sama lain saling berbagi fungsi.... bahkan secara 
integrated... 
   
  Jkt kota tempat ngantor... dan Depok, Serpong serta Bogor kota tempat 
molor......
  Jkt kota tempat kantor pusat industri dan finance.... dan Bekasi Tangerang  
tempat kawasan proses industri .....
  Jkt lebih menjadi  tempat intensive land use  dan benar-benar 
‘urban’..seperti konstruksi ruang-ruang vertikal bertingkat ganda...... 
sementara Bodetabek lebih untuk semi intensive land use dan bersifat ‘semi 
urban’.... seperti lebih untuk fungsi perumahan satu-dua lantai dan 
villa....bahkab untuk pertanian.......
  Bodetabek lebih menjadi kawasan ‘semirural’ yang memproduksi dan mensuplai 
bahan pertanian pangan ke Jkt... sementara Jkt yang lebih ‘purely urban’  lebih 
berfungsi sebagai ‘pasar’ dan konsumen ‘pelahap’ produk pertanian pangan made 
in Bodetabek ... seperti ikan, ayam, daging, sayur, telur, susu dsb.........
  Jkt menjadi tempat studio pemancar  televisi ngumpul......... sementara 
Bodetabek lebih berfungsi sebagai kota tempat  ‘penonton’ teve maupun kota 
tempat tidur banyak artis dan kru rumah produksi..........
  Jkt menjadi tempat  pelabuhan pengekpor ke LN .... dan Bodetabek menjadi 
‘hinterland’ tempat fungsi produksi........ dsb. dll. dst...lan sak 
piturutipun..........
  Jadi sebenarnya apanya sih yang countermagnet?....
  Padahal bayangan tentang countermagnet city atau ‘kota tandingan’ atau ‘kota 
penyeimbang’  (pinjam istilahnya mas EkoBK) adalah setidaknya  2 ‘kota’ atau 2 
‘kawasan metropolitan’ (masing2 beserta satelitnya).. yang saling 
‘bersaing’........  karena masing-masing memiliki peran-peran dan fungsi-fungsi 
yang setara ........
   
  Dari sini saja .... kita bisa simpulkan ........ bagaimana akan mengembangkan 
countermagnet city yang diharapkan dapat memperbaiki sistem kota secara 
nasional ........ kalau imajinasi tentang countermagnet city adalah seperti  
fenomena Jabodetabek........ ialah fenomena ‘kota induk’ yang ‘disaingi’ oleh 
kota-kota satelitnya yang dekat menempel...........
  Yah... tapi saya tentu tak boleh merasa ’benar sendiri’.... dan sampai 
disini.. saya kira milisters semuanya ysh dapat  menyimpulkan....... benarkah 
begitu ‘konsep countermagnet city‘ itu?............. 
   
  Tapi terimakasih banyak  lho mas2 BTS dan Muli atas postingnya.......
   
  Sementara demikian dan salam,
  aby
   
  "Mulya Amri" <[EMAIL PROTECTED]>   wrote:
   
  Rekan-rekan yang baik,
  Menanggapi ajakan dari Pak Abi untuk memberi pandangan alternatif, dan 
meneruskan email Pak BTS (sort of..), saya ingin nimbrung memberi alasan 
mengapa Jakarta sulit dikalahkan economic primacy-nya. Ini kaitannya bukan soal 
Jakarta sebagai ibukota, tapi sebagai pusat ekonomi.  
  Kebanyakan apa yang saya tulis ini me-refer ke pandangan planning scholars 
yang menganut aliran New Regionalism dan Marxist-Geography, macam Michael 
Storper (The Capitalist Imperative), Allen Scott (Global City-Regions) , Ed 
Soja (Postmetropolis) , Saskia Sassen (The Global City), dll.
   Salah satu premis mereka yang penting adalah "globalisasi = kapitalisme- 
isasi = urbanisasi/urban primacy/urban specificity". Ini adalah setali tiga 
uang. 
  Kapitalisme membutuhkan sistem kerja yang efisien. Dan sistem yang efisien 
adalah kalau manusia dan aktivitasnya tidak tersebar di semua/sembarang tempat, 
tapi mengumpul di sedikit tempat yang strategis. 
  Urbanisasi adalah strategi ruang yang dipilih oleh kapitalis untuk 
menjalankan kapitalisme secara efisien (Storper). 
  Dan kapitalisme akan semakin berkembang kalau dia tidak dibatasi oleh 
sekat-sekat macam batas negara. 
   Kalau kita lihat lebih detil lagi, ketika kita ngomongin globalisasi, 
sebenarnya bukan "seluruh dunia jadi lebih connected," tapi yang semakin 
connected hanyalah tempat-tempat strategis (dalam hal ini one global city with 
other global cities). Yang lain boleh dibilang "dilewat"... 
  Tempat strategis/global cities semacam London, New York, Tokyo adalah yang 
disebut Sassen sebagai "command centers of world capitalism". Jakarta bukan 
termasuk command center di skala global (mungkin skala Indonesia). 
   Dan selagi kita masih menganut sistem kapitalisme, kota-kota besar akan 
terus berkembang. Sebagian kota kecil mungkin akan berkembang, mungkin tidak. 
Daerah perdesaan akan tetap tertinggal.
   Mengapa kota besar akan terus berkembang? Karena kota mendapat "energi"nya 
dari dalam dirinya sendiri. Energi itu terutama berasal dari jumlah & kualitas 
orang/usaha yang ada di kota, serta jumlah & kualitas interaksi yang tercipta 
di antara orang-orang dan usaha-usaha itu.
  Contohnya (kembali ke kapitalisme) , sebuah usaha di zaman sekarang tidak 
bisa lagi berdiri sendiri. Usaha macam Ford di zaman dulu, yang sangat 
vertically integrated (satu perusahaan mobil membuat semua bagian mobil 
sendiri: ban, kaca, mesin, bodi, dll - bahkan menjualnya!) , sudah tidak zaman 
lagi. 
  Sejak tahun 60-an, dimulailah era Post-Fordism. Hampir semua usaha, kalau mau 
efisien, harus memilih spesialisasi. Jadilah ada perusahaan yang bikin ban 
saja, ada yang bikin mesin saja, ada yang bikin kaca saja, ada yang 
meng-assemble dan memberi merek mobilnya saja. 
   
  Perusahaan-perusaha an sekarang semakin butuh supplier (usaha lain), 
distributor (usaha lain), kontraktor/subkontr aktor (usaha lain), dan pekerja 
(individu-individu yang sebenarnya merupakan unit usaha lain).
   Semakin banyak supplier berkumpul di suatu tempat, semakin senang usaha yang 
membutuhkan supply tersebut, karena antar supplier akan bersaing dan memberikan 
harga yang paling murah. Kalau di suatu tempat hanya ada sedikit supplier, 
harganya bisa lebih mahal (kurang persaingan). 
  Demikian juga dengan kebutuhan akan tenaga kerja. 
  Di kota kecil, tenaga kerja yang dibutuhkan perusahaan sedikit, sehingga 
kalau terjadi mogok, ada pegawai yang keluar, dll, perusahaan tersebut akan 
kesulitan mencari pegawai pengganti. 
  Di kota besar, calon pegawai banyak. Bahkan pegawai berkualitas/ terdidik pun 
banyak. Jadi perusahaan tidak usah banyak khawatir soal pergantian pegawai. 
Jadilah perusahaan memilih berada di kota. 
  Terus, pegawai perusahaan butuh fasilitas umum, tempat hiburan, dll. Di kota 
kecil, jumlah orang sedikit, dan fasilitas umum/tempat hiburan sedikit (which 
is the chicken, which is the egg?). 
  Di kota besar, sebaliknya: ada banyak orang, banyak usaha, banyak fasilitas, 
banyak transaksi ekonomi. It doesn't matter anymore which is the chicken and 
which is the egg. They all come together... Sebuah kota menjadi besar karena 
dia besar. 
  Lalu, apakah tidak mungkin ada kota/daerah lain yang bisa menjadi besar, 
mengalahkan yang sudah besar? Mungkin saja. 
  Lihat contoh "Silicon Valley" dan Detroit. Dulu Silicon Valley nothing, 
sekarang besar. 
  Dulu Detroit besar, sekarang sekarat. Apa yang terjadi? Perubahan struktur 
industri di masing-masing kota. 
  Unlike New York yang usahanya beragam, Detroit sangat fokus ke industri 
(otomobil). Ketika negara-negara maju mengalami de-industrialisasi (industri 
berat "dibuang" ke negara-negara dunia ketiga), Detroit menjadi bagian dari 
kota2 di utara/timur Amerika yang sekarang disebut "rust-belt". 
  New York dulu juga berat ke industri, tapi tidak terlalu. Usaha dan orang2 di 
sana cukup variatif. 
  Ketika jaman industri beralih jadi jaman jasa (finance, etc), New York siap. 
Detroit tidak.
  Bagaimana dengan kawasan Silicon Valley? Tumbuhnya kawasan itu juga 
disebabkan perubahan struktur industri yang penting, yaitu berkembangnya jaman 
informasi menjadi setara (bahkan mengalahkan) jaman jasa. 
  Silicon Valley menjadi cradle tempat kelahiran jaman informasi. Dia tumbuh 
cepat bukan karena bersaing dengan kota-kota lain yang sudah maju, tapi karena 
dia menciptakan industri baru yang kemudian menjadi acuan dunia. 
  Ketika kota-kota lain mulai sadar bahwa sekarang adalah jaman informasi, 
mereka berusaha meniru dan membuat Silicon Valley-nya sendiri. Tapi tetap 
Silicon Valley yang asli akan lebih besar. Karena apa? Ketika kota-kota lain 
baru berusaha menarik usaha-usaha ICT ke kotanya, Silicon Valley sudah memiliki 
banyak dan beraneka ragam usaha ICT. 
  Kembali ke cerita yang pertama: Silicon Valley menjadi (semakin) besar karena 
dia sudah lebih dulu besar (in terms of ICT industry).
  Sorry sudah terlalu panjang. Mungkin pada intinya, selagi kita masih menganut 
sistem kapitalisme, yang besar akan tetap besar. Kecuali terjadi perubahan 
mendasar pada sistem industri. 
  Sebuah kota (baik besar maupun kecil) yang menjadi leader dalam perubahan 
tersebut, akan menjadi besar dan mungkin saja mengalahkan kota lain yang sudah 
lebih dulu besar... Sampai terjadi perubahan mendasar berikutnya.
  Sekian dulu untuk sementara.
  Salam,
  Muli
   
  "Bambang Tata Samiadji" <[EMAIL PROTECTED]>   wrote:
   
  Dear referensier semuanya. 

Hampir semua sepakat kalau Jakarta tidak sekedar kota besar, tetapi juga kota 
yang dominan. Juga hampir semua kita berpandangan bahwa dominasi Jakarta perlu 
dikurangi agar kota-kota lain juga berkembang pesat seperti Jakarta. 
  Konsep dan upaya telah dipikirkan dan dilakukan. 
  Konsep Counter Magnet ala Jabodetabek juga dipraktekkan. Hasilnya tidak 
efektif karena perkembangan Jakarta tidak terganggu oleh kota-kota satelitnya 
(Bodetabek).
  Buktinya sejak Counter Magnet itu dipraktekkan, Jakarta tetap berkembang 
pesat hingga meluber (spill over). Fenomena meluber dan melubernya tidak ke 
kota-kota satelitnya, tetapi ke periferi-nya yaitu Kabupaten Tangerang, Bekasi, 
dan Bogor, ...bukan pada kota-kotanya, ini membuktikan kalau "medan magnet" 
Jakarta jawara bertahan klas berat dibanding dengan penantang-penantang nya 
klas kapas. 

JAKARTA KOQ DILAWAN? Itulah subjek yang ingin saya wacanakan. Sebuah tantangan, 
dengan cara (baca konsep) apa Jakarta mau dilawan? Kalau Pak Aby menawarkan 
relokasi industri-industri footloose ke Makassar, kalau Bung Deden menawarkan 
agar mempelajari kota-kota di US melawan New York, dan Bung Eka, Bung Anin, dan 
lainnya usul untuk memindahkan fungsi ibu kotanya ke kota lain.... atau KPPOD 
(Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah) menawarkan dengan konsep daya 
saing, .. ya silakan aja tidak ada yang menghalangi. ..
   apakah investor-investor industri footloose mau pindah ke Makassar? Pasti si 
investor akan berhitung apa untungnya pindah ke Makassar? Kalau untung, nggak 
disuruh juga akan pindah sendiri. 
  Terus kalau belajar kota-kota di US itu apakah benar mereka sudah mengalahkan 
New York? .......Bukankah New York masih bergeming (tak beringsut) saja? 
  Kalau fungsi pemerintahannya dicabut (dipindah) apakah lantas diikuti fungsi 
ekonomi? .....Ini jelas tak terbukti. Dan kalau masing-masing kota sudah 
berdayasaing tinggi, seperti yang sudah diperingkatkan oleh KPPOD, sudahkan 
mampu menarik investor? ......Ternyata tak juga terbukti. 

JAKARTA KOQ DILAWAN? Mengapa Jakarta demikian kuatnya? Padahal sudah dihantam 
banjir, sudah dibebani masalah lalu lintas, sudah dirusuhi oleh pengemis, rumah 
liar, dan kriminal, mengapa Jakarta koq tetap primadona? Apakah betul karena 
pengaruh orang-orang di Senayan? Apakah betul karena fungsi ibukotanya? Apakah 
betul karena lokasinya? ... Bukanlah banyak lokasi-lokasi lain yang juga 
strategis? Apakah karena punya pelabuhan samudra? ... Bukankah Surabaya, 
Semarang, Medan, Bitung, dan Batam juga punya pelabuhan samudra? Atau mungkin 
karena history?.... . Kalau history, mestinya Palembang dengan kerajaan 
Sriwijaya yang lebih dikenal di dunia internasional jaman dulu, atau di 
Surabaya dengan Mojopahit yang mampu mengalahkan wilayah-wilayah separo 
nusantara ini hingga ke Mandagaskar? 

JAKARTA KOQ DILAWAN? Siapa (kota mana) yang mampu mengalahkan Jakarta? Tidak 
siapa-siapa, ... yang mampu mengalahkan Jakarta ya Jakarta sendiri. Biarlah 
Jakarta berkembang semampunya, biarlah membesar...sampai threshold-nya di mana? 
Ya,..lama-lama Jakarta akan beringsut secara perlahan oleh kemampuannya 
sendiri. 
  Kalau dulu Jakarta kota terpadat, sekarang kepadatan itu sudah menurun. Kalau 
Jakarta dulu pusat industri, sekarang tidak lagi. Dulu Jakarta kota pendidikan, 
sekarang sudah tidak lagi (jumlah murid SD-SMP berkurang drastis). 
  Dulu Jakarta sentral pemerintahan, sekarang tidak lagi karena sudah otonomi 
daerah. Tapi fungsi bisnis dan pusat keuangan adalah "titik apinya" yang tak 
bisa dilawan,
   tepatnya gedung tinggi di Jl. Thamrin itulah intinya, yaitu Bank Indonesia 
(Bang Sentral). 
  Bukan fungsi industrinya, bukan fungsi pemerintahannya, bukan pelabuhannya, 
apalagi orang-orang Senayan. Karena BI inilah maka kantor-kantor headquarter 
ada di Jakarta karena bank-bank koresponden seperti Citibank, HSBC-Bank, Dutch 
Bank, Bangkok Bank, Tokyo Bank tak mau jauh dengan BI. 
  Menteri Keuangan yang meng-girokan uang negara juga ada di BI, bank-bank umum 
seperti BCA, Bank Niaga, BNI, Bank Mandiri, BRI, dsb tak mau juga jauh kantor 
pusatnya dengan BI. Bukan hanya itu, BPD-BPD yang seharusnya bercokol di daerah 
tak mau ketinggalan buka cabang di Jakarta. Akhirnya gerombolan bisnis juga tak 
mau jauh dengan kantor pusat bank-bank yang ada karena sistem keuangan virtual 
sentral servernya juga di Jakarta dan bisa dimanfaatkan sewaktu-waktu dan hanya 
bisa ditransaksikan di Jakarta. 

JAKARTA KOQ DILAWAN? ...... nah kalau mau melawan Jakarta ya pindahkan saja BI. 
Maukah BI pindah? Tentu never...never. ..never.. terlalu tinggi COST-nya. 
  Apakah Jakarta mau dominan, Jakarta mau mengalah dengan kota lain, atau mau 
mengecil, atau agar kota lain bisa menjadi metropolitan, ...BI tak ada 
urusannya dengan kemauan umumnya planner atau yang mlaner . 

Hayo...dilawan donk! 

Thanks. CU. BTS. 

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke