Mailister ysh,

Membaca tulisan pak Ekadj, mas Nugraha dan mbak Hartiningsih,  saya jadi
terkenang kepada pengalaman pada awal 2005 yll. Nelayan lokal tidak menunggu
bantuan, dan segera menata kembali sisa-sisa bencana dan membangun rumah
mereka setempat, walau tinggal beberapa anggota keluarga yang tersisa. Apa
yang disampaikan para nelayan Aceh Utara sangat serupa dengan tulisan
tersebut. Kami sudah 'dua kali' mengalami Tsunami (maksudnya buatan manusia
maupun alami), kami tidak takut dengan yang ketiga. Kami nelayan, tidak bisa
tinggal jauh dari pantai....dst, dsb.'. Bahkan: 'kami sanggup membangunkan
rumah bagi kaum 'dhuafa', tetapi rumah yang direncanakan itu bukan buat
kami'. 'Biarkan kami tinggal dan hidup disini, walaupun tidak memperoleh
bagian sumbangan seperti yang tinggal di tenda atau barak'..... Walaupun
saat itu mereka tidak memiliki apa-apa, namun mereka berasal dari tingkat
kultur yang 'berbeda' dengan 'kaum dhuafa'....

Tentu saja banyak juga yang lebih suka tinggal di tenda, dengan 'aqua'
berlimpah, ...selain yang sudah tidak punya 'asa' lagi untuk bertahan hidup
mandiri...Pendekatan kultural saat itu lebih banyak diutamakan kepada upaya
'mengurangi trauma' (yang kata salah satu pakar psikologi  'sejak jaman
Belanda' ???).  Padahal sebagian komunitas pesisir setempat siap bekerja
dalam kondisi apa adanya, sesuai dengan tempat dan cara hidupnya. 'Yang kami
perlukan perahu, rumah bisa kami buat seadanya dulu....'. Saat itu
pakar-pakar di Pusat masih menyusun konsep-konsep pembangunan model daratan,
sambil menunggu 'peta' dari 'US Army'...?. Program membangun bersama
masyarakat akhirnya (sekitar 3 bulan kemudian) berjalan juga, dengan biaya
dan pelaku yang terlibat semakin banyak. Sumbangan perahu juga akhirnya
datang, bahkan melebihi kebutuhan semula, termasuk kepada yang semula bukan
nelayan (?)....
Awalnya kultur mereka telah terlanjur terabaikan, ....dan mungkin sebagian
telah berkembang ke kultur baru yang ...tidak selalu dapat diduga.

Perlu diingat kembali bahwa komunitas yang berada di wilayah administratif
'Aceh', memiliki banyak ragam kultur dan tata cara kehidupan yang tidak
serupa. Bahkan mereka berkomunikasi dengan bahasa yang tidak selalu
sama....Jadi......'Aceh' yang mana?.

Masa lalu memang kadang menyedihkan atau menggelikan...yang penting
bagaimana menyiapkan masa sekarang untuk masa depan yang tidak sektoral dan
sentralistik lagi....

Salam,

Abimanyu


On Sun, Apr 27, 2008 at 2:46 PM, andiplano <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>   Yth Pak Ekadj, Pak Aunur, Pak AGus dan rekan-rekan milis.
>
> Saya terlibat dengan NGO Asing sejak bulan kedua di Aceh. Saya
> membantah pendapat rekan sebelumnya kalau ada miskoordinasi dalam
> pelaksanaan rehab dan rekon karena banyak kepentingan asing. Pada
> kenyataan yg saya lihat Bappenas tidak mampu melakukan koordinasi dan
> berlanjut oleh BRR. Saya mengkritik orang-orang pemerintah pada saat
> itu sampai saat ini tidak ikhlas utk membangun Aceh.
> Saya tertarik dg pendekatan Pak Ekadj yg ditulis pada waktu itu spt
> dibawah ini. Seandainya pembanguan Aceh dapat dilakukan dengan
> skenario itu sepertinya uang 32 trilyun tidak akan sia-sia selama
> ini ......
> Mohon maaf sebelumnya.
> Wassalam.
> @ndi
>
> --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>,
> "tataruang" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >
> > Yth. pak Wawo, pak Risman, serta seluruh rekan-rekan Komunitas
> > Referensi yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu,
> > Sedikit pemikiran di weekend yang lalu yang mudah-mudahan dapat
> > mengembangkan diskusi kita. Namun hendaklah dimaklumi,
> > bahwa `pendekatan spasial-kultur' ini hanyalah `salah satu
> > pendekatan' di samping berbagai pendekatan lain yang telah
> > dikemukakan. Sekelebat ini coba kita eksperimentasi sesuai dengan
> > keinginan mas Asnawi dan ibu Dian.
> > Berbagai pemikiran yang telah dikemukakan oleh mas BTS, pak Erwin,
> > ibu Ramalis, pak Risfan, pak Andi, mas Asnawi, bang Je, ibu Dian,
> > pak Farid, pak Amin, pak Atok, pak Tatok, dan lain-lainnya (kayak
> > meng-absen nih) agar juga dipertimbangkan dan dikembangkan.
> Termasuk
> > info-info dari mbak-mbak yang manis Nita dan Mayang, serta pak Sri,
> > dan lain-lainnya. Kalau bisa kiranya rekan yang ikutan Tim Pokja
> > dapatlah menanggapi juga. Disinilah saatnya kita mencari runding
> > yang seiya, kata yang sebuah.
> >
> > 13. Istilah kultur keruangan hampir bisa dipadankan dengan
> > pengertian struktur dan pola pemanfaatan ruang yang populer pada
> > saat ini, yaitu suatu pemahaman yang setara di antara masyarakat
> > mengenai konstelasi peruntukan ruang yang mewadahi peri kehidupan
> > masyarakat yang mendiaminya. Pada tingkat tercapainya keserasian
> > hubungan antara masyarakat dan ruang, maka kultur keruangan ini
> > telah terbentuk. Sebuah contoh yang baik mengenai hal ini adalah
> > pola kehidupan masyarakat di Bali, walau pada saat ini telah mulai
> > banyak bergeser. Sistem keseimbangan ruang ini telah menciptakan
> > rasa saling mempercayai dan saling menghargai di antara masyarakat
> > Bali dalam memposisikan masing-masing dirinya di setiap titik ruang
> > di bumi Bali. Contoh yang lain adalah masyarakat Minangkabau, yang
> > malah telah mempertimbangkan sistem eksternalitas (merantau)
> sebagai
> > sebuah bentuk mempertahankan keseimbangan ruang. Pola kehidupan
> > masyarakat Bugis juga kental dengan kultur keruangan. Saya pikir
> > cukup banyak contoh dari khazanah nusantara lainnya yang dapat
> > digali dan dipelajari. Untuk masyarakat Aceh, duduk merapatkan diri
> > di lapik nan sehelai di atas tanah nan sebingkah, saya menemukan
> > sebuah kata, yaitu `hijrah'. Namun begitu adatlah nan akan
> menjawab,
> > pusaka nan menerima, dan lembaga nan menolong.
> >
> > 14. Kultur keruangan ini bisa rusak, bergeser, atau tidak
> > berorientasi sama sekali seiring dengan perkembangan waktu dan
> > berubahnya pola kehidupan. Karenanya kultur keruangan ini harus
> > dijaga dan dipelihara; dan bilamana ada tuntutan perubahan, maka re-
> > orientasi harus dibangun secara jelas. Untuk Aceh, dis-orientasi
> ini
> > telah terjadi sejak akhir abad 19 hingga saat ini, sehingga menurut
> > saya, kultur keruangan ini harus diperbaiki atau dibangun baru.
> > Sebuah contoh yang saat ini dilakukan adalah menarik orientasi
> > permukiman ke arah upland, sehingga perlu dilakukan upaya hijrah.
> > Dalam upaya yang paling pragmatis yang dapat dilakukan oleh
> > Pemerintah saat ini adalah membentuk sebuah titik orientasi baru
> > sebagai langkah awal, yang menurut saya dapat dilakukan dengan
> > memindahkan pusat pemerintahan. Selanjutnya kultur keruangan untuk
> > seluruh Aceh dapat ditata, yaitu katakanlah dengan menerapkan
> > struktur dan pola pemanfaatan ruang secara konvensional. Kanun
> diisi
> > lembaga dituang.
> >
> > 15. Fenomena hijrah adalah fenomena Rasulullah, yaitu mendapatkan
> > wilayah baru untuk bisa mengembangkan kehidupan secara `lebih
> > leluasa'. Hijrah menuntut konsekuensi yang luar biasa, yang dapat
> > berupa pengorbanan identitas asal-usul, kepemilikan, atau segala
> > sesuatu yang telah dipahami secara biasa; namun harus dilandaskan
> > pada niat yang tinggi terhadap kehidupan yang lebih baik.
> Masyarakat
> > Aceh, meninjau contoh ke nan sudah mencari tuah ke yang menang,
> > sebagian di antaranya adalah komunitas hijrah di masa lalu. Rekaman
> > sejarah menyebutkan di awal abad 16 gelombang hijrah ini datang
> dari
> > Semenanjung Malaysia. Sebuah legenda yang lebih tua malah
> > menyebutkan berasal dari ranah Iraq saat ini, yang merupakan
> lasykar
> > kerajaan dan pelarian politik. Dengan dasar ini, seharusnya tidak
> > susah untuk menawarkan peluang hijrah kepada masyarakat yang
> menjadi
> > korban tsunami; dengan ketentuan : ada titik cerah yang dapat
> > dilihat dari kejauhan di tanah pengharapan yang baru, untuk
> > menggapai pituah : padi masak, jagung mengupil, ternak berkembang
> > biak, masyarakat aman sentosa, pemimpin kita disembah orang pula.
> >
> > 16. Sesuai dengan pandangan hukum (mas BTS) dan ilmu peradaban,
> > tanah bekas bencana dapat dikategorikan sebagai tanah musnah, dan
> > selayaknya tidak dikembangkan dalam jangka panjang. Terkecuali pada
> > suatu masa, tersedia ilmu pengetahuan dan moral yang cukup untuk
> > merevitalisasikannya. Untuk sementara waktu diperlukan suatu sistem
> > peralihan dan sistem pengampuan untuk mengelolanya, dan dalam
> > situasi saat ini Pemerintah (Pusat dan Daerah) berada dalam posisi
> > yang tepat. Alternatif lain kalau mengikuti keinginan pasar bebas,
> > yaitu Pemerintah belum diyakini sebagai wali bagi masyarakat,
> > Pemerintah dapat menjalankan mekanisme insentif `dan' disinsentif
> > sebagaimana diatur dalam UUPR 'secara bijak'. Namun dalam upaya ini
> > kita tidak akan memaksa (seperti contoh dalam berita di bawah).
> >
> > Pak Wawo, pembagian prosentasi itu bukan dalam bentuk `usaha'
> > tapi `perhatian'. Sedangkan mengenai `uraian hikmah' itu, ada
> sebuah
> > contoh seperti yang kita lihat pada introduksi tulisannya pak
> > Suwardjoko. Ada suatu tahapan metodologi yang bisa dikembangkan
> > meliputi muhasabah-muraqobah-muattabah-mujadalah-tawakkal
> > (introspeksi-pengawasan-perbaikan-usaha-berserah diri).
> >
> > Hulu budi, telaga undang, muaranya untuk kemaslahatan masyarakat
> jua.
> >
> > Wassalam,
> > -ekadj.
> >
> >
> >
> > sebuah berita hari ini dari kompas.com:
> >
> >
> > "Hantu" Itu Bernama RUTR
> >
> >
> > MENCARI Desa Ulee Pata di Kecamatan Jaya Baru, Aceh Besar, pada
> > malam hari bukanlah pekerjaan mudah. Malam terasa sangat pekat,
> > sunyi mencekam dan sejauh mata memandang hanyalah hamparan kosong
> > dengan bayang-bayang onggokan puing. Hampir semua bangunan di
> > wilayah itu telah rata dengan tanah akibat hantaman tsunami, 26
> > Desember 2004 lalu.
> >
> > Gerimis meningkahi malam diselingi gemuruh guntur. Namun, ketika
> > mobil memasuki wilayah Kecamatan Jaya Baru, gerimis hilang seperti
> > ditelan malam. Mobil sempat terperosok dan salah arah dua kali
> > sehingga harus berbalik di jalan sempit yang hampir sebagian besar
> > permukaan aspalnya terkelupas.
> >
> > Patokan kami hanyalah seberkas sinar yang kelihatan seperti noktah
> > dari kejauhan. Sinar itu berasal dari sebuah neon bertenaga diesel
> > yang dipasang di atas bangunan kayu dengan pelataran yang paling
> > bersih dibandingkan sekitarnya. Sebelum tsunami datang, bangunan
> > yang kini berfungsi sebagai mushala sekaligus tempat berteduh bagi
> > 30 laki-laki itu adalah Meunasah Ulee Pata.
> >
> > "Silakan-silakan…. Di sini terang kan. Generator ini sumbangan Mbak
> > Wardah dan teman-temannya dari UPC (Konsorsium Miskin Kota-Red),"
> > sambut Syaiful (47), satu dari tujuh laki-laki yang sedang duduk-
> > duduk di tempat itu. Katanya, beberapa hari lalu, juga ada jurnalis
> > dari NHK Jepang berkunjung ke tempat itu untuk merekam gambar-
> gambar.
> >
> > Angin laut yang kencang membuat suara gemertuk dari bendera merah
> > putih yang dikibarkan di depan meunasah. Deburan ombak terdengar
> > sayup menerpa bibir pantai. Di beberapa titik terlihat kepulan asap
> > dari tumpukan puing-puing.
> >
> > "Di sini kami semua duda," lanjut Syaiful dengan suara keras. Ia
> > tidak bergurau. Bencana itu menyisakan hanya 176 dari 1.200 warga
> > desa itu, termasuk Syaiful dengan hanya satu dari delapan anaknya,
> > istri, dan lebih dari 60 anggota keluarganya.
> >
> > "Semua yang kami miliki sudah habis, kecuali tanah ini. Ini hidup
> > kami, karena itu kami akan tetap di sini," kata Syaiful yang
> diamini
> > Alaidin (35), warga lainnya.
> >
> > Percakapan melebar. Mulai dari cerita duka, lalu bergerak ke
> > keinginan kuat untuk melanjutkan hidup dan bertahan di tempat itu,
> > dugaan bahwa bekas permukiman mereka diincar investor yang akan
> > mengubahnya menjadi kawasan resor mewah, sampai ke intimidasi halus
> > agar mereka tidak lagi kembali ke tempat itu.
> >
> > "Banyak isu di sini. Ada yang bilang banyak penyakitlah, banyak
> > setanlah. Bahkan pejabat menakut-nakuti agar kami tidak kembali
> > karena alasan keamanan yang tidak terjamin. Saat pertama kembali ke
> > sini, kami memang mendengar seperti bunyi tembakan," kata Syaiful.
> >
> > "Bagi kami, kalaupun ada suara-suara gaib, itu adalah saudara-
> > saudara kami juga. Kenapa harus takut?" timpal Alaidin.
> >
> > "Tidak ada suara-suara seperti itu," sergah Syaiful. Bagi mereka,
> > hantu bukanlah roh yang bergentayangan, tetapi master plan itulah.
> >
> > "Mau ada tsunami sehari tiga kali, kami tidak takut. Kematian sudah
> > ada yang mengatur. Bencana kemarin adalah takdir yang harus kami
> > terima. Bagi kami, waktu DOM (daerah operasi militer) lebih berat
> > karena semua serba dibatasi," ujar Syaiful.
> >
> > SYAIFUL dan kawan-kawannya sudah tahu tentang Rencana Umum Tata
> > Ruang (RUTR, master plan) baru bagi Provinsi Nanggroe Aceh
> > Darussalam yang disodorkan Jakarta oleh Badan Perencanaan
> > Pembangunan Nasional dan Departemen Pekerjaan Umum.
> >
> > Berdasarkan master plan itu, kawasan pantai akan dibagi dalam
> > sembilan zona, yang menurut kesimpulan mereka, akan menjauhkan
> > mereka dari laut. Padahal, warga yang tersisa adalah nelayan dan
> > petambak.
> >
> > "Tata ruang seperti itu akan membunuh kami dua kali," tandas
> Syaiful.
> >
> > Bagi dia dan kawan-kawannya, partisipasi warga, yang katanya
> diusung
> > dalam pembuatan master plan, caranya bukan seperti itu. Dia masih
> > melanjutkan, "Kalau mau mendengarkan suara kami, datang dan duduk
> > bersama kami di sini. Lihat situasi yang sebenarnya di sini. Bukan
> > kami yang harus ke kota."
> >
> > Syaiful berkisah, saat tsunami pertama datang pada tahun 1819,
> > menurut moyangnya, warga yang tersisa hanya lima orang, Mereka
> > bertahan di kawasan yang dulunya bernama Cakra Donya dan terus
> > berkembang.
> >
> > Itu sebabnya Syaiful dan kawan-kawan tak keberatan bila warga dari
> > desa lain datang ke Desa Ulee Pata untuk membangun barak dan
> > seterusnya hidup di sana bersama mereka. Akan tetapi, mereka
> menolak
> > keras relokasi atau apa pun istilahnya, yang intinya memindahkan
> > mereka dari tempat itu.
> >
> > Dengan sikap seperti itu, mereka siap menerima konsekuensinya. Toh
> > bagi mereka, alam telah menyediakan segala sesuatunya.
> >
> > "Kami makan dengan ikan, kepiting, udang segar yang sangat mudah
> > didapat. Kami sudah 15 hari di sini. Hidup kami lebih sehat
> daripada
> > orang kota dan tidak kekurangan. Lihatlah, bayam itu kami lempar
> > begitu saja, tanpa pupuk, tanpa air. Sekarang sudah tumbuh besar.
> > Tanah di sini subur sekali," kata Syaiful seraya menyorotkan
> > senternya ke arah tanaman bayam di samping meunasah. Ia juga
> > menunjukkan tanaman ketela pohon yang mulai bertunas.
> >
> > Hidayat, lelaki paling muda di tempat itu, mengaku heran dengan
> ulah
> > pemerintah yang hanya berbicara soal proyek pascatsunami atas nama
> > kesejahteraan untuk warga Aceh.
> >
> > Katanya, "Kalau mau membantu dengan ikhlas, cukup bantu kami dengan
> > sarana untuk menangkap ikan."
> >
> > "Kami akan segera pulih. Insya Allah, dua tahun lagi," tegas
> > Syaiful. Laki-laki yang semula memiliki 15 tambak dengan luas
> > sekitar enam hektar itu memandang ke laut lepas. Suaranya bergetar.
> >
> > Malam kian tua. Dari meunasah itu bayangan rumah yang kembali
> > dibangun dari kayu-kayu bekas terlihat semakin jelas, sejelas
> > optimisme mereka untuk melanjutkan hidup dan berkehidupan. (PEPIH
> > NUGRAHA/ MARIA HARTININGSIH)
> >
>
>  
>

Kirim email ke