Begitulah pak, kita hendaknya tidak memilih pendekatan secara steril (dualistik atau sektoral lainnya, yang keterbagiannya mungkin tidak pernah ada dalam realita). Seperti ekologi, keragaman masalah perlu didekati dengan pendekatan beragam sesuai dengan potensi solusi masing-masing namun secara sinergi. Dalam hal ini, yang perlu diperhatikan adalah keserasian di kawasan 'interface' (perbatasan/peralihan/transaksi fisik maupun non-fisik). Dan mungkin masa datang pendekatan penataan ruang juga merupakan pendekatan keruangan bagi kegiatan pembangunan yang beragam yang mengutamakan penataan bersama (partisipatif/interaktif) di interfaces tersebut, bukan hanya di dalam (iner) 'batas buatan' selama ini.
Wasalam, Abimanyu 2008/5/4 risfano <[EMAIL PROTECTED]>: > Terlepas dari kasus Aceh-nya, saya kira debat klasik antara "top- > down vs bottom-up", "normative vs empiric", "blue-print planning vs > people-based planning" ini memang akan berjalan terus. Masing-masing > tentu punya argumen plus/minus nya. > > Kalau saya coba memahami. Yang people-based, bisa langsung cepat > melakukan action-plan bersama masyarakat. Ini juga didukung dengan > situasi kemendesakan, dan ketersediaan dana yang melimpah. Pokoknya > masyarakat selamat dan menghuni rumah dan sarananya dengan segera. > > Pada sisi lain, bagi pihak yang pendekatannya konvensional > birokratis, biasanya memang menuntut koordinasi, mapping-program, > dst, dst. Tujuannya mungkin baik, tetapi bisa dibayangkan adanya > mata rantai rapat koordinasi, dan proses perencanaan penganggaran > yang berlapis-lapis, yang...begitulah. > Apalagi soal pengawasan, jaman sekarang action Pemda yang spontan > yang maksudnya baik untuk menjawab kebutuhan mendesak, bisa > diperkarakan oleh pengawas yang berbasis prosedur konvensional. > > Akan ada manfaatnya diskusi lanjut untuk proses pemahaman yang lebih > baik, terutama untuk jangka panjang. Paling tidak dalam penentuan > target-target dan strategi pendekatannya supaya pemerintah juga > memperhitungkan kemampuan dan keberdayaan masyarakat. Jangan seperti > di kota besar, jumlah rumah dan tempat kerja yang direncanakan akan > dibangun, dibanding rumah dan usaha rakyat yang digusur dan > inisiatif yang dimatikan, kalau dikalkulasi impas atau malahan > berkurang, sementara tingkat ketergantungannya kian meninggi. > > Salam, > Risfan Munir > > > --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>, > "andiplano" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Yth Pak Ekadj, Pak Aunur, Pak AGus dan rekan-rekan milis. > > > > Saya terlibat dengan NGO Asing sejak bulan kedua di Aceh. Saya > > membantah pendapat rekan sebelumnya kalau ada miskoordinasi dalam > > pelaksanaan rehab dan rekon karena banyak kepentingan asing. Pada > > kenyataan yg saya lihat Bappenas tidak mampu melakukan koordinasi > dan > > berlanjut oleh BRR. Saya mengkritik orang-orang pemerintah pada > saat > > itu sampai saat ini tidak ikhlas utk membangun Aceh. > > Saya tertarik dg pendekatan Pak Ekadj yg ditulis pada waktu itu > spt > > dibawah ini. Seandainya pembanguan Aceh dapat dilakukan dengan > > skenario itu sepertinya uang 32 trilyun tidak akan sia-sia selama > > ini ...... > > Mohon maaf sebelumnya. > > Wassalam. > > @ndi > > > > --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>, > "tataruang" <ekadj@> wrote: > > > > > > > > > Yth. pak Wawo, pak Risman, serta seluruh rekan-rekan Komunitas > > > Referensi yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu, > > > Sedikit pemikiran di weekend yang lalu yang mudah-mudahan dapat > > > mengembangkan diskusi kita. Namun hendaklah dimaklumi, > > > bahwa `pendekatan spasial-kultur' ini hanyalah `salah satu > > > pendekatan' di samping berbagai pendekatan lain yang telah > > > dikemukakan. Sekelebat ini coba kita eksperimentasi sesuai > dengan > > > keinginan mas Asnawi dan ibu Dian. > > > Berbagai pemikiran yang telah dikemukakan oleh mas BTS, pak > Erwin, > > > ibu Ramalis, pak Risfan, pak Andi, mas Asnawi, bang Je, ibu > Dian, > > > pak Farid, pak Amin, pak Atok, pak Tatok, dan lain-lainnya > (kayak > > > meng-absen nih) agar juga dipertimbangkan dan dikembangkan. > > Termasuk > > > info-info dari mbak-mbak yang manis Nita dan Mayang, serta pak > Sri, > > > dan lain-lainnya. Kalau bisa kiranya rekan yang ikutan Tim Pokja > > > dapatlah menanggapi juga. Disinilah saatnya kita mencari runding > > > yang seiya, kata yang sebuah. > > > > > > 13. Istilah kultur keruangan hampir bisa dipadankan dengan > > > pengertian struktur dan pola pemanfaatan ruang yang populer pada > > > saat ini, yaitu suatu pemahaman yang setara di antara masyarakat > > > mengenai konstelasi peruntukan ruang yang mewadahi peri > kehidupan > > > masyarakat yang mendiaminya. Pada tingkat tercapainya keserasian > > > hubungan antara masyarakat dan ruang, maka kultur keruangan ini > > > telah terbentuk. Sebuah contoh yang baik mengenai hal ini adalah > > > pola kehidupan masyarakat di Bali, walau pada saat ini telah > mulai > > > banyak bergeser. Sistem keseimbangan ruang ini telah menciptakan > > > rasa saling mempercayai dan saling menghargai di antara > masyarakat > > > Bali dalam memposisikan masing-masing dirinya di setiap titik > ruang > > > di bumi Bali. Contoh yang lain adalah masyarakat Minangkabau, > yang > > > malah telah mempertimbangkan sistem eksternalitas (merantau) > > sebagai > > > sebuah bentuk mempertahankan keseimbangan ruang. Pola kehidupan > > > masyarakat Bugis juga kental dengan kultur keruangan. Saya pikir > > > cukup banyak contoh dari khazanah nusantara lainnya yang dapat > > > digali dan dipelajari. Untuk masyarakat Aceh, duduk merapatkan > diri > > > di lapik nan sehelai di atas tanah nan sebingkah, saya menemukan > > > sebuah kata, yaitu `hijrah'. Namun begitu adatlah nan akan > > menjawab, > > > pusaka nan menerima, dan lembaga nan menolong. > > > > > > 14. Kultur keruangan ini bisa rusak, bergeser, atau tidak > > > berorientasi sama sekali seiring dengan perkembangan waktu dan > > > berubahnya pola kehidupan. Karenanya kultur keruangan ini harus > > > dijaga dan dipelihara; dan bilamana ada tuntutan perubahan, maka > re- > > > orientasi harus dibangun secara jelas. Untuk Aceh, dis-orientasi > > ini > > > telah terjadi sejak akhir abad 19 hingga saat ini, sehingga > menurut > > > saya, kultur keruangan ini harus diperbaiki atau dibangun baru. > > > Sebuah contoh yang saat ini dilakukan adalah menarik orientasi > > > permukiman ke arah upland, sehingga perlu dilakukan upaya > hijrah. > > > Dalam upaya yang paling pragmatis yang dapat dilakukan oleh > > > Pemerintah saat ini adalah membentuk sebuah titik orientasi baru > > > sebagai langkah awal, yang menurut saya dapat dilakukan dengan > > > memindahkan pusat pemerintahan. Selanjutnya kultur keruangan > untuk > > > seluruh Aceh dapat ditata, yaitu katakanlah dengan menerapkan > > > struktur dan pola pemanfaatan ruang secara konvensional. Kanun > > diisi > > > lembaga dituang. > > > > > > 15. Fenomena hijrah adalah fenomena Rasulullah, yaitu > mendapatkan > > > wilayah baru untuk bisa mengembangkan kehidupan secara `lebih > > > leluasa'. Hijrah menuntut konsekuensi yang luar biasa, yang > dapat > > > berupa pengorbanan identitas asal-usul, kepemilikan, atau segala > > > sesuatu yang telah dipahami secara biasa; namun harus > dilandaskan > > > pada niat yang tinggi terhadap kehidupan yang lebih baik. > > Masyarakat > > > Aceh, meninjau contoh ke nan sudah mencari tuah ke yang menang, > > > sebagian di antaranya adalah komunitas hijrah di masa lalu. > Rekaman > > > sejarah menyebutkan di awal abad 16 gelombang hijrah ini datang > > dari > > > Semenanjung Malaysia. Sebuah legenda yang lebih tua malah > > > menyebutkan berasal dari ranah Iraq saat ini, yang merupakan > > lasykar > > > kerajaan dan pelarian politik. Dengan dasar ini, seharusnya > tidak > > > susah untuk menawarkan peluang hijrah kepada masyarakat yang > > menjadi > > > korban tsunami; dengan ketentuan : ada titik cerah yang dapat > > > dilihat dari kejauhan di tanah pengharapan yang baru, untuk > > > menggapai pituah : padi masak, jagung mengupil, ternak > berkembang > > > biak, masyarakat aman sentosa, pemimpin kita disembah orang pula. > > > > > > 16. Sesuai dengan pandangan hukum (mas BTS) dan ilmu peradaban, > > > tanah bekas bencana dapat dikategorikan sebagai tanah musnah, > dan > > > selayaknya tidak dikembangkan dalam jangka panjang. Terkecuali > pada > > > suatu masa, tersedia ilmu pengetahuan dan moral yang cukup untuk > > > merevitalisasikannya. Untuk sementara waktu diperlukan suatu > sistem > > > peralihan dan sistem pengampuan untuk mengelolanya, dan dalam > > > situasi saat ini Pemerintah (Pusat dan Daerah) berada dalam > posisi > > > yang tepat. Alternatif lain kalau mengikuti keinginan pasar > bebas, > > > yaitu Pemerintah belum diyakini sebagai wali bagi masyarakat, > > > Pemerintah dapat menjalankan mekanisme insentif `dan' > disinsentif > > > sebagaimana diatur dalam UUPR 'secara bijak'. Namun dalam upaya > ini > > > kita tidak akan memaksa (seperti contoh dalam berita di bawah). > > > > > > Pak Wawo, pembagian prosentasi itu bukan dalam bentuk `usaha' > > > tapi `perhatian'. Sedangkan mengenai `uraian hikmah' itu, ada > > sebuah > > > contoh seperti yang kita lihat pada introduksi tulisannya pak > > > Suwardjoko. Ada suatu tahapan metodologi yang bisa dikembangkan > > > meliputi muhasabah-muraqobah-muattabah-mujadalah-tawakkal > > > (introspeksi-pengawasan-perbaikan-usaha-berserah diri). > > > > > > Hulu budi, telaga undang, muaranya untuk kemaslahatan masyarakat > > jua. > > > > > > Wassalam, > > > -ekadj. > > > > > > > > > > > > sebuah berita hari ini dari kompas.com: > > > > > > > > > "Hantu" Itu Bernama RUTR > > > > > > > > > MENCARI Desa Ulee Pata di Kecamatan Jaya Baru, Aceh Besar, pada > > > malam hari bukanlah pekerjaan mudah. Malam terasa sangat pekat, > > > sunyi mencekam dan sejauh mata memandang hanyalah hamparan > kosong > > > dengan bayang-bayang onggokan puing. Hampir semua bangunan di > > > wilayah itu telah rata dengan tanah akibat hantaman tsunami, 26 > > > Desember 2004 lalu. > > > > > > Gerimis meningkahi malam diselingi gemuruh guntur. Namun, ketika > > > mobil memasuki wilayah Kecamatan Jaya Baru, gerimis hilang > seperti > > > ditelan malam. Mobil sempat terperosok dan salah arah dua kali > > > sehingga harus berbalik di jalan sempit yang hampir sebagian > besar > > > permukaan aspalnya terkelupas. > > > > > > Patokan kami hanyalah seberkas sinar yang kelihatan seperti > noktah > > > dari kejauhan. Sinar itu berasal dari sebuah neon bertenaga > diesel > > > yang dipasang di atas bangunan kayu dengan pelataran yang paling > > > bersih dibandingkan sekitarnya. Sebelum tsunami datang, bangunan > > > yang kini berfungsi sebagai mushala sekaligus tempat berteduh > bagi > > > 30 laki-laki itu adalah Meunasah Ulee Pata. > > > > > > "Silakan-silakan…. Di sini terang kan. Generator ini sumbangan > Mbak > > > Wardah dan teman-temannya dari UPC (Konsorsium Miskin Kota- > Red)," > > > sambut Syaiful (47), satu dari tujuh laki-laki yang sedang duduk- > > > duduk di tempat itu. Katanya, beberapa hari lalu, juga ada > jurnalis > > > dari NHK Jepang berkunjung ke tempat itu untuk merekam gambar- > > gambar. > > > > > > Angin laut yang kencang membuat suara gemertuk dari bendera > merah > > > putih yang dikibarkan di depan meunasah. Deburan ombak terdengar > > > sayup menerpa bibir pantai. Di beberapa titik terlihat kepulan > asap > > > dari tumpukan puing-puing. > > > > > > "Di sini kami semua duda," lanjut Syaiful dengan suara keras. Ia > > > tidak bergurau. Bencana itu menyisakan hanya 176 dari 1.200 > warga > > > desa itu, termasuk Syaiful dengan hanya satu dari delapan > anaknya, > > > istri, dan lebih dari 60 anggota keluarganya. > > > > > > "Semua yang kami miliki sudah habis, kecuali tanah ini. Ini > hidup > > > kami, karena itu kami akan tetap di sini," kata Syaiful yang > > diamini > > > Alaidin (35), warga lainnya. > > > > > > Percakapan melebar. Mulai dari cerita duka, lalu bergerak ke > > > keinginan kuat untuk melanjutkan hidup dan bertahan di tempat > itu, > > > dugaan bahwa bekas permukiman mereka diincar investor yang akan > > > mengubahnya menjadi kawasan resor mewah, sampai ke intimidasi > halus > > > agar mereka tidak lagi kembali ke tempat itu. > > > > > > "Banyak isu di sini. Ada yang bilang banyak penyakitlah, banyak > > > setanlah. Bahkan pejabat menakut-nakuti agar kami tidak kembali > > > karena alasan keamanan yang tidak terjamin. Saat pertama kembali > ke > > > sini, kami memang mendengar seperti bunyi tembakan," kata > Syaiful. > > > > > > "Bagi kami, kalaupun ada suara-suara gaib, itu adalah saudara- > > > saudara kami juga. Kenapa harus takut?" timpal Alaidin. > > > > > > "Tidak ada suara-suara seperti itu," sergah Syaiful. Bagi > mereka, > > > hantu bukanlah roh yang bergentayangan, tetapi master plan > itulah. > > > > > > "Mau ada tsunami sehari tiga kali, kami tidak takut. Kematian > sudah > > > ada yang mengatur. Bencana kemarin adalah takdir yang harus kami > > > terima. Bagi kami, waktu DOM (daerah operasi militer) lebih > berat > > > karena semua serba dibatasi," ujar Syaiful. > > > > > > SYAIFUL dan kawan-kawannya sudah tahu tentang Rencana Umum Tata > > > Ruang (RUTR, master plan) baru bagi Provinsi Nanggroe Aceh > > > Darussalam yang disodorkan Jakarta oleh Badan Perencanaan > > > Pembangunan Nasional dan Departemen Pekerjaan Umum. > > > > > > Berdasarkan master plan itu, kawasan pantai akan dibagi dalam > > > sembilan zona, yang menurut kesimpulan mereka, akan menjauhkan > > > mereka dari laut. Padahal, warga yang tersisa adalah nelayan dan > > > petambak. > > > > > > "Tata ruang seperti itu akan membunuh kami dua kali," tandas > > Syaiful. > > > > > > Bagi dia dan kawan-kawannya, partisipasi warga, yang katanya > > diusung > > > dalam pembuatan master plan, caranya bukan seperti itu. Dia > masih > > > melanjutkan, "Kalau mau mendengarkan suara kami, datang dan > duduk > > > bersama kami di sini. Lihat situasi yang sebenarnya di sini. > Bukan > > > kami yang harus ke kota." > > > > > > Syaiful berkisah, saat tsunami pertama datang pada tahun 1819, > > > menurut moyangnya, warga yang tersisa hanya lima orang, Mereka > > > bertahan di kawasan yang dulunya bernama Cakra Donya dan terus > > > berkembang. > > > > > > Itu sebabnya Syaiful dan kawan-kawan tak keberatan bila warga > dari > > > desa lain datang ke Desa Ulee Pata untuk membangun barak dan > > > seterusnya hidup di sana bersama mereka. Akan tetapi, mereka > > menolak > > > keras relokasi atau apa pun istilahnya, yang intinya memindahkan > > > mereka dari tempat itu. > > > > > > Dengan sikap seperti itu, mereka siap menerima konsekuensinya. > Toh > > > bagi mereka, alam telah menyediakan segala sesuatunya. > > > > > > "Kami makan dengan ikan, kepiting, udang segar yang sangat mudah > > > didapat. Kami sudah 15 hari di sini. Hidup kami lebih sehat > > daripada > > > orang kota dan tidak kekurangan. Lihatlah, bayam itu kami lempar > > > begitu saja, tanpa pupuk, tanpa air. Sekarang sudah tumbuh > besar. > > > Tanah di sini subur sekali," kata Syaiful seraya menyorotkan > > > senternya ke arah tanaman bayam di samping meunasah. Ia juga > > > menunjukkan tanaman ketela pohon yang mulai bertunas. > > > > > > Hidayat, lelaki paling muda di tempat itu, mengaku heran dengan > > ulah > > > pemerintah yang hanya berbicara soal proyek pascatsunami atas > nama > > > kesejahteraan untuk warga Aceh. > > > > > > Katanya, "Kalau mau membantu dengan ikhlas, cukup bantu kami > dengan > > > sarana untuk menangkap ikan." > > > > > > "Kami akan segera pulih. Insya Allah, dua tahun lagi," tegas > > > Syaiful. Laki-laki yang semula memiliki 15 tambak dengan luas > > > sekitar enam hektar itu memandang ke laut lepas. Suaranya > bergetar. > > > > > > Malam kian tua. Dari meunasah itu bayangan rumah yang kembali > > > dibangun dari kayu-kayu bekas terlihat semakin jelas, sejelas > > > optimisme mereka untuk melanjutkan hidup dan berkehidupan. > (PEPIH > > > NUGRAHA/ MARIA HARTININGSIH) > > > > > > > >

