ada yang menyebutnya dengan plannologic

  ----- Original Message ----- 
  From: arinynta 
  To: [email protected] 
  Sent: Saturday, May 03, 2008 9:24 PM
  Subject: Re: [referensi] Re: Vokal Atau Diam Itu Emas



  sebelum menulis yg panjang2 saya mau berbagi cerita dulu, semasa tahun2 awal 
kuliah. 
  dalam perjalanan dari jakarta-bandung, di kereta parahyangan, saya sempat 
bercakap2 dengan seorang bapak, teman sebangku. 
  bapak: kuliah apa di ITB? 
  saya: planologi. 
  bapak: oh soal tanam2 itu ya.
  saya: bukan, tapi tentang kota.
  bapak: oh saya kira dari asal kata plant...
  saya: ?!$&?! (bingung maksudnya)

  kala lain di moda yg sama... maklum travel belum ada waktu ada.
  pemuda: hebat bisa masuk di ITB. ambil apa?
  saya: planologi
  pemuda: kehutanan ya.
  saya: !!!!???? 
  (beberapa waktu kemudian saya baru tahu, ternyata di departemen kehutanan ada 
bagian/unit planologi. entah urus apa, mungkin tata tanaman hutan atau tata 
ruang hutan ya....)

  jadi memang benar, jangankan tata ruang, soal planologi saja tak banyak orang 
paham..

  salam....


  ----- Original Message ----

  From: risfano <[EMAIL PROTECTED]>
  To: [email protected]
  Sent: Saturday, May 3, 2008 8:36:10
  Subject: [referensi] Re: Vokal Atau Diam Itu Emas



  Pak Wawo, Mbak Arini, Pak Hengky, dan rekans,



  Selain "silence is golden" barangkali lagu lain yang juga enak didengar 
"sound of silence". Pesannya, mendengar memang lebih sulit.



  Wah, Pak Wawo, waktu baca nama mbak Arini, saya jadi terkenang pada Bu Arini 
Waworoentoe. Pak Wawo, kalau boleh bernostalgia. Ada "kenangan terindah," waktu 
kuliah Kimia Dasar, karena siang yang panas, telat, kebagian duduk dikursi 
terdepan. Dan, kantuk tak tertahan. Akibatnya 'kena pukul gulungan kertas' 
beliau. 



  Anyway. membaca posting mbak Arini yang mengajak agar "keplanologian" lebih 
vokal, tergelitik saya untuk urun posting. Ajakan ini bisa dijawab: ya nulis 
saja. Ajakan vokal bisa diartikan "keras", tapi mungkin dalam keadaan damai 
"social marketing" bisa jadi alternatif.Memang sedih, punya profesi yang 
cakupan analisisnya luas kok tidak "terlibat atau dilibatkan" dalam wacana 
publik. Persoalannya kemudian pemilihan tema.



  Kata Shakespeare, What's in a name? Colenak walau diganti namanya, dicocol 
tetap enak. Mungkin itu untuk dunia hakikat, tidak untuk marketing.



  Contohnya kata "perencana". Kadang terpikir untuk bertanya, saya ini 
"perencana" atau "ahli tata ruang" atau "perencana kota" atau "ahli perkotaan". 
Berdasar pengalaman, brand "perencana" ya disambut oleh khalayak dengan 
labelling sebagai perencana. Otomatis saya memposisikan dan orang menempatkan 
saya kesisi perencanaan. Tidak bicara pelaksanaan.Ini beda misalnya dengan 
"insinyur sipil" atau "ahli keuangan" atau "ahli manajemen" yang dianggap wajar 
berkecimpung di bagian perencanaan, pelaksanaan, atau pengawasan.



  Kedua, kata "tata ruang". Harus diakui ini memang bukan kata yang langsung 
menyentuh kebutuhan (hak) dasar masyarakat yang mereka rasakan sehari-hari. 
Beda dengan kata pendidikan, kesehatan, ekonomi (harga pangan, lapangan kerja). 
Sedikit tidak langsung dengan kebutuhan masyarakat adalah kata "lingkungan 
hidup", juga "perhubungan" , karena masih bisa dirasakan. Tapi "tata ruang"? 
Orang masih lebih familiar dengan kata "pembangunan daerah", atau "perkotaan." 

  Karenanya, beberapa waktu yang lalu saya usulkan familiarisasi kata 
"perencana kota", "perencana daerah". Atau bahkan "ahli pekotaan", "ahli 
pembangunan daerah." Tak berlebihan kan, karena nama sekolahnya "Perencanaan 
Wilayah & Kota" (Urban & Regional Planning, bukan Urban Spatial Planning). Di 
CV tertulis urban planner, tapi kalau di-Indonesia- kan jadi "perencana tata 
ruang kota". (Note: saya maksudkan ini diskusi profesi keplanologian, bukan 
membahas nama Ditjen, atau Dit tertentu - mereka tentunya lingkupnya jelas, 
tapi sebuah profesi kan bukan untuk melayani satu Ditjen/Dit - yang begitu 
namanya diklat departemen).



  Mungkin akan lain kalau positioning, lalu branding-nya adalah "perencana 
wilayah" atau "perencana kota" atau "ahli perkotaan". Isyu perkotaan, 
pembangunan daerah muncul tiap hari jadi pembicaraan publik, baik dari aspek 
lingkungan hidup, transportasi, ekonomi, pariwisata, persampahan, prasarana. 
Dan, kita semua bisa bicara karena di sekolah "perencanaan wilayah dan kota" 
kita pelajari aspek-aspek itu. Sementara kalau Arini mencari kata "tata ruang" 
di media publik, memang belum tentu seminggu sekali muncul.



  Menurut saya kata "tata ruang" (persepsi saya) membawa asosiasi kepada 
hal-hal yang teknis, di studio, di kantor Bappeda, Dinas Tata Ruang. Beda 
dengan kata "lingkungan hidup", lebih dirasakan keterlibatan masyarakat nya. 
Dengan membuang sampah pada tempatnya, memisahkan plastiknya, orang sudah 
merasa berpartisipasi menyelamatkan "lingkungan hidup". Kalau mereka batuk 
sedikit, pilek itu urusan "kesehatan". Anak bayar sekolah plus pungutan, itu 
urusan "pendidikan" . Jadi mudah sekali menghadirkan hal itu ke kehidupan 
sehari-hari. Begitu pula kata "hemat energi" yang sedang dirasakan lonjakan 
harganya oleh semua orang. Tapi kata "tata ruang" ke ibu-ibu rumah tangga? Is 
it ring a bell?



  Saya berani bicara begini karena,  sekali lagi nama sekolahnya resminya masih 
PWK, bukan PTR. Di dunia namanya juga URP, TCP. Jadi rezim dan persepsi 
aktornya saja membatasi diri mem-frame mind-set anggotanya pada term "tata 
ruang."



  Mungkin positioning atau branding itu pada suatu masanya menguntungkan. 
Pangsa pasar luas. Masa itu wilayah nasional, provinsi, kabupaten, kota belum 
punya rencana tata ruang. Tapi pasar kan dinamis, berubah. Hampir semua daerah 
saat ini sudah punya RTR, tinggal pelaksanaan dan pengisian dengan komponen 
sektoralnya.



  Saya pikir kelompok bidang keahlian transportasi, manajemen perkotaan, 
pariwisata, kelautan (pesisir) dan lainnya, di kampus dan di dunia kerja telah 
berkembang sesuai kebutuhan masyarakat. Banyak planolog kerja disitu. So, ada 
baiknya mind-set planolog digeser, diperluas. Dari positioning/branding  di 
"tata ruang" kepada PWK (khittah asalnya), atau yang minatnya sudah 
terspesialisasi dan terdiferensiasi bisa memposisikan diri menjadi ahli 
manajemen perkotaan, ahli (perencana) transportasi, ahli pariwisata, dst.



  Positioning kita sebagai perencana "tata ruang" atau perencana fisik juga ada 
limitasinya. Planolog bukan pemain tunggal, karena ada arsitek, urban designer, 
yang lebih fisik, lebih detail, (dan lebih kuat brand image-nya disitu). Jadi 
posisitioning sebagai "perencana fisik" tidak serta membuat planolog kokoh 
sebagai 'tuan di negeri sendiri' juga. Di lapangan planolog malah lebih kuat 
dari arsitek pada proyek-proyek pembangunan daerah, kota, perdesaan yang 
bertitik-berat pada 'manajemen pembangunan' , yang memainkan adonan 
"sosial-ekonomi- fisik". Sementara dunia real-estate memang domain 
arsitek/urban- designer. Kalau planolog ke situ, memang ada satu-dua yang 
sukses (di manajemen?), tapi umumnya ya di pinggiran saja.



  Demikianlah, sebelum vokal, promoting, ada baiknya terlebih dulu melakukan 
lagi segmentasi pasar, lalu targeting pasar-pasar mana, isyu-isyu mana yang mau 
dibidik. Gampangnya diidentifikasi saja kemana sebaran para alumni bekerja,dan 
apa yang mereka kerjakan. Planning kah? Tata ruang-kah? (Tentu perlu dibatasi 
yang masih dalam lingkup "pembangunan" , "kota" atau "wilayah" atau "perdesaan")



  Lalu lakukan repositioning. Dalam spektrum PWK yang lebar itu kita mau 
memposisikan diri dimana? Kita ingin masyarakat mengenal kita sebagai ahli apa 
(bisa luas, bisa sempit), yang menjadi brand kita. 

  Sebagian orang tentu ada yang tidak setuju dengan repositioning ini. Karena 
bagi mereka fokus "tata ruang" sudah final. (Sekali lagi ini bukan soal nama 
sebuah Ditjen/Dit, tapi lingkup profesi keplanologian). Sebagian yang tak 
setuju dari kalangan dosen. Karena orientasi mereka dari sisi 'produksi' bukan 
dari sisi 'pasar'. Kepada mereka saya juga balik tanya, kenapa nama sekolahnya 
PWK, bukan PTR?



  Kembali kepada kerisauan mbak Arini, mengapa keplanologian tidak menjadi 
wacana publik. Menurut saya bukan 'dunia meninggalkan kita', tapi kitalah yang 
lari, mengurung diri dalam gua sempit "tata ruang". Kalau kita memposisikan 
diri sebagai "perencana kota/daerah" , atau "ahli manajemen perkotaan", maka 
wacana publik harian itu menjadi relevan bagi kita, dan kita merasa diri 
relevan bicara.



  Saya senang mbak Arini menggunakan istilah keplanologian, lebih generik. 
Mind-set, positioning, branding ini penting karena berarti juga bagaimana kita 
memposisikan diri dalam pergaulan profesi. Banyak planolog yang bekerja di 
berbagai bidang, merasa diri 'keluar dari profesi', 'murtad'. Padahal mereka 
nyatanya masih menangani pembangunan wilayah, kota, daerah, hanya memang tidak 
di "tata ruang"nya, atau di sisi "perencanaannya" . Sungguh disayangkan hanya 
gara-gara persepsi yang dipersempit sendiri. Sekali lagi bukan (wacana) dunia 
yang meninggalkan planologi. Tapi planolog sendiri yang escape, terlalu sempit 
memposisikan dirinya. 



  Tentu saja penataan ruang tetap merupakan aspek profesi yang marketnya masih 
cukup potensial. Tetapi pada segmen ini planolog mesti memperluas peran, dari 
hanya main di sisi perencanaan, kepada aspek "manajemen pemanfaatan" atau 
pelaksanaan, dan pengendalian nya. Wah, maaf ngelantur dan panjang lagi.



  Salam,

  Risfan Munir




  Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

   

Kirim email ke