Rekan Johan D. 
Begitu kalau sudah masuk dalam suatu topic diskussi memang bisa menjalar terus, 
nostalgi menggunakan wajan besi cor, bukan wajan aluminum  atau panci berlapis 
teflon, tapi the real stuff itu besi cor ada macam-macam ukuran tapi biasanya 
dari no3 sampai no7, yang kecil cocok untuk goreng tahu atau goreng 
telur ceplok mata sapi , yang lebih gede untuk goreng mie, tumis sayur yang 
sekarang dibilang stir fry karena pakai sesedikit mungkin minyak. sampai no7 
untuk masak gula aren atau bikin dodol secara semi industrial, nah kalau mau 
lebih nostalgia lagi masak nasi liwet pakai langsem atau kwali besi juga no3 
sampai 5 lah, memang nasinya bisa ada kerak (orang manado bilang tustus)nya 
yang ditaruh di gelas air minum supaya airnya lebih lunak atau manis, kalau 
nasi yang dikukus dengan kukusan benar anyaman bambu jelas engga ada keraknya  
tapi harumnya lain dan orang sunda mesti kipas-kipas nasi liwet maupun nasi 
untuk tumpengan (tapi itu sih cuma 
 bentuk perhiasan) seperti bikin bolu bulet bukan pesegi, dan juga bukan browny 
kukus, atau nasi keluaran ricecooker merk toyota atau daihatsu, itu sih 
mechanical cooking kaya pakai microwave atau magnetron, pantesan aje keturunan 
kita jadi obese atau diabetic. 
Rasanya dimasa depan para fanatic budaya masak atau gourmet asli akan lebih 
banyak dan mungkin akan menghasilkan budaya-budaya baru juga, sehingga kita 
makin mengerti apa yang membikin kita lebih menikmati nilai-nilai lama itu. Di 
lain pihak ternyata juga ada banyak nilai tiruan atau surrogate, seperti 
hamburger atau sate atau pizza juga. Tapi saya memang masih fanatic masak 
dengan kayu api, atau api dari kayu api, walaupun memang bisa pollute juga, 
tapi pasti nilainya lebih tinggi dari microwave. 
Akhirnya saya kira soal masak itu memang asli indigenous dimana orang asing 
justru jadi tertarik dan malahan jadi budaya baru,  agaknya seluruh amerika 
latin itu juga budaya creole atau campuran indian negro dan sepanyol atau indo, 
kalau di indonesia itu seperti keroncong yang juga bukan murni lokal , gitu 
juga makanan gule, baryani, opor, atau gudegnya. budaya culiner itu memang 
sangat kaya. Selain bahasa maka citra selera pasti ada kaidah-kaidah atau rumus 
resepnya juga, begitu pula disiplin professinya. Selamat Prosit Cheers, Pak Wawo


----- Original Message ----
From: Johand Dimalouw <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, May 4, 2008 8:11:50 PM
Subject: Re: [referensi] Re: Jaman Penjajahan Belanda Teknologi Indonesia lebih 
Baik


Rekan-rekan yth,
Memang sangat menarik diskusi ttg bangsa kita dan budayanya yang demikian 
beragam. Sangat kayaraya kita, pikir saya. Rasanya kita hanya kalah kaya dari 
PPB dalam keberagaman. Luarbiasa. 
 
Sedikit komen untuk Pak Wawo yg bercerita ttg 'wajan besi'nya. (alias 'kuali' 
kah?). Pak Wawo tulis dan saya kutip: " ..... saya , masih simpan dan pakai 
wajan besi satu-satunya utk nasi goreng minyaknya ..." 
Kebetulan saya ketemu dgn seorang bule bernama Lange, di Atlanta, Georgia, USA. 
Dia merasa dirinya orang Indonesia,  padahal dia warga negara USA, keturunan 
Belanda. Dia ajak saya (krn saya orang Indonesia) ke rumahnya untuk ngobrol, 
karena dia sangat rindu pada Indonesia. Rupanya rumahnya sangat 'Indonesia.' 
Wajan besi alias 'kuali' bekas pakainya di gantung di dinding  ruangan tamunya 
dan dia segera bertanya apakah saya tahu barang dia yg begitu istimewa? 
Ternyata si Lange ini lahir di Batavia, Java dan terpaksa tinggalkan Batavia di 
tahun 1950an karena dia keturunan Belanda. (data ini dari pasportnya yg masih 
utuh dia simpan).  Dia merasa dia orang Indonesia dan sangat bangga.
    
Sedikit komen untuk Rekan RM. Rekan RM menulis dan saya kutip: " ... banyak 
juga yang merasa Indonesia itu baru ada 1950an,  padahal dunia mengakui 
Indonesia di kolonisasi Belanda sejak abad 17." 
Wah  yang disebut 'dunia' siapa? Mungkin mereka tijau dari suatu sudut pandang 
tertentu saja dan itu sudut pandang mereka. Jadi belum tentu mereka memahami, 
merasakan dan mengetahui keadaan kita di sini yg sebenarnya. Contohnya pulau 
Papua, dibagi tiga oleh Belanda, Inggris dan Jerman. Belanda dapat bagian 
Barat, Inggris dapat bagian Timur selatan dan Jerman dapat bagian Timur Utara. 
Garisnya lurus-lurus semua, kecuali di aliran sungai Fly, dgn titik referensi 
kordinat di peta saja.  Di buminya sendiri mereka kayanya tak paham. Mereka 
bagi2 sesuka hati mereka sendiri. Kenapa kita harus nurut dgn kemauan mereka? 
....  Aya-aya wae kalau di Republik Mimpi.
Memang kenyataannya sejarah kita berbeda-beda. Bila kita teliti di 
masing-masing daerah kita, keberadaan Belanda, yg di awali oleh para 
saudagarnya yg bergabung dalam perusahaan dagang terbuka dgn nama VOC 
(Vereenigde Oost-Indische Compagnie didirikan 1602 alias PT India Timur Bersatu 
Tbk bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia; atau United East Indian 
Company) dan mereka bertukar wilayah kita sesuka hati mereka. Bengkulu ditukar 
dgn Singapura dan ada beberapa wilayah dagang VOC yg kini tidak masuk wilayah 
Indonesia, spt Afrika Selatan, Bengal, Malaka, Goa, dll. Fokus mereka hanya 
pada perdagangan, jadi tidak semua daerah tersentuh. 
Kemudian Pemerintah Belanda masuk karena VOC bangkrut pada tahun 1800. Ketika 
Republik Indonesia diproklamirkan (17 Agustus 1945) dan pengakuan pemerintah 
Belanda, 1950 wilayah Irian Barat dipertahankan Belanda sebagai wilayahnya dan 
baru gabung dgn NKRI 1 Mei 1963.
Jadi kita memang "bersatu dalam keberagaman" alias 'Beragam tapi nyatu' 
;Bhineka Tunggal Ika.' 
 
Teimakasih
JD
 
 
----- Original Message ----
From: Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@ yahoo.com>
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Sent: Monday, May 5, 2008 8:06:31 AM
Subject: Re: [referensi] Re: Jaman Penjajahan Belanda Teknologi Indonesia lebih 
Baik


Rachmad, saya kebetulan sekarang sedang memugar suatu bangunan lama yang pada 
tahun 1919 sudah menampung Dewan Minahasa yang secara langsung memilih 
anggautanya dari masyarakat Minahasa, memang saya sendiri saja baru mulai 
menyadari betapa kayanya warisan kita dan itu bukan terbatas pada bangunan atau 
lembaga tapi kekayaan alam yang sayangnya memang kadang-kadang kena gelombang 
pembangunan post modern pasca kemerdekaan. Yah tapi kita memang tidak bisa 
larut, apalagi pasrah atau jadi bungkam, jadi memang benar perlu gigih dan 
kadang-kadang vokal tajam. 
Baru-baru saja kemenakan saya yang jadi cook di salah satu restoran Jakarta 
ceritera ada yang pesan nasi goreng tapi harus istimewa, yah lantas dia bikin 
dengan kobe beef yang mahal, tapi nasinya sih dari tukang nasi goreng kaki 
lima, cuma harganya 1/4 juta rupiah. Jah sah-sah saja. Tapi sampai sekarang 
saya masih simpan dan pakai wajan besi satu-satunya utk nasi goreng minyaknya 
harus jelantah, tapi bukan kobe beef tapi pakai ikan asin, lantas sambelnya 
mesti cabe hijau. Bung Eka dimana sebetulnya  national heritage kita, jah dalam 
cobet batu ulekan kayulah. Biarin gua goda si Hengky yang makan rumput lemon 
grass,  emangnya kelembak dimakan, no no hard feelings Hengky. Pak Wawo. 


----- Original Message ----
From: Rachmad M <[EMAIL PROTECTED] com>
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Sent: Sunday, May 4, 2008 5:14:44 PM
Subject: [referensi] Re: Jaman Penjajahan Belanda Teknologi Indonesia lebih Baik


--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Hannie Waworoentoe 
<waworoentoehannie@ ...> wrote:
>
> Hengky,
> Tadinya saya tidak mau menanggapi uraian panjang  Jaman Penjajahan 
Belanda Teknologi Indonesia lebih Baik, yang sebenarnya mengemukakan 
suatu pendapat yang tidak saja unik tapi memang juga sangat jujur. 
Sebetulnya Teknologi itu tidak saja terbatas pada teknologi pesawat 
terbang tapi hampir pada semua bidang sampai bikin keju saja orang 
Indonesia bisa, padahal orang belanda belum bisa bikin tempe atau 
tahu, jadi relatip kita memang cukup unggul. ......

Pak Wawo Ysh,

Terima ksih atas pencerahannya. memang banyak hal yang menjadi 
keprihatinan kita bersama setelah Indonesia merdeka lebih dari 60 
tahun ini. Jaman Belanda kita sudah punya Hutan Tanam Industri (HTI) 
yang berkelas kayu jati seperti di daerah Bojonegoro dan Alas Roban, 
sayangnya setelah merdeka malah hutan lestari yang dikapling-kapling 
dan di gunduli :-(

Kita juga punya banyak pintu air untuk irigasi, sayangnya daerah-
daerah subur malah dijadikan lahan industri ie. Cikarang-Kearawang :-(

Banyak juga yang merasa Indonesia itu baru ada 1950 an padahal dunia 
mengakui Indonesia di kolonisasi Belanda sejak abad 17.
http://rachmad. kuyasipil. net/?p=93

Salam

RM


________________________________
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. 
________________________________
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.  


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

Kirim email ke