Dikutip dari Kompas 14 Mei 2008
   
  DKP Beri Contoh Energi Alternatif
  Sayang Respons dan Koordinasi Kurang
   
  Jakarta, Kompas - Sedikitnya 3.831 perangkat listrik tenaga surya dan 800 
reaktor biogas, yang dikembangkan Departemen Kelautan dan Perikanan dan telah 
dimanfaatkan di sejumlah daerah terpencil di 15 provinsi, telah menolong jutaan 
warga pedesaan dari tekanan ekonomi akibat mahalnya harga BBM saat ini.
  Karena itu, pemanfaatan energi alternatif listrik tenaga surya (LTS) dan 
biogas kotoran sapi merupakan alternatif jitu, terutama bagi warga di daerah 
yang sulit dijangkau, seperti pulau-pulau terpencil, di mana kenaikan harga BBM 
tidak bisa dikontrol karena mahalnya transportasi.
  Alex RW Retraubun, Direktur Pemberdayaan Pulau-pulau Kecil Departemen 
Kelautan dan Perikanan (DKP), memaparkan contoh program pengembangan energi 
alternatif yang sangat membantu penduduk miskin dari daerah terpencil itu, 
Selasa (13/5) di Kantor Harian Kompas, didampingi David Manariur, Direktur 
Utama PT Mulya Tiara Nusa, rekanan usaha DKP.
  Alex menjelaskan, sekaranglah saatnya pemerintah mengembangkan energi 
alternatif LTS dan biogas, yang justru mempunyai nilai sangat ekonomis untuk 
daerah-daerah terpencil. ”Data dan pengalaman DKP ini merupakan fakta yang 
harus mendorong pemerintah menyiapkan policy khusus yang menjadi kebutuhan 
mendesak sekarang,” kata Alex.
  Dengan jumlah pulau 17.504 dan 92 di antaranya pulau-pulau terluar/terpencil, 
selama ini pemerintah kita belum menganggap masalah pulau terpencil (single 
island) sebagai masalah serius. Padahal, pulau jenis ini biasanya tak memiliki 
hutan, tidak berlahan pertanian, dan sering tidak memiliki sumber air tawar. 
”Masyarakat yang tidak punya income tetap seperti ini rentan terhadap kenaikan 
bahan kebutuhan pokok, termasuk energi,” kata penulis buku Profil Pulau-pulau 
Kecil Terluar di Indonesia itu.
  ”Solar home system”
  Ia melukiskan, dua hari lalu, Senin, di Kecamatan Nanusa, Kepulauan Talaud, 
harga BBM sudah meroket. Harga solar menjadi Rp 8.700 per liter, bensin Rp 
15.000 per liter, dan minyak tanah Rp 9.000 per liter. Namun, karena teknologi 
LTS solar home system (SHS) sudah diterapkan untuk 700 rumah/KK di Kepulauan 
Talaud dan Sangihe, masyarakat jadi sangat tertolong. LTS SHS maksudnya, 
instalasi satu alat untuk satu rumah.
  Hal serupa ”menyelamatkan” masyarakat terpencil Pulau Tagalaya dan Pulau 
Meti, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, yang memperoleh bantuan 
LTS SHS dan merupakan proyek percontohan awal DKP tahun 2003. Alat seharga Rp 5 
juta per unit ini mudah dirawat, bisa digunakan 15 tahun, serta berdaya listrik 
untuk 3 bola lampu dan sebuah kulkas.
  Sejak 2007, 800 reaktor biogas kotoran sapi telah dikembangkan di daerah 
peternakan sapi Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, untuk listrik dan kebutuhan 
memasak. ”Sayang, program ini tidak diambil alih pemerintah. Pemerintah kurang 
responsif. Pernah kami tawarkan, tapi departemen itu bahkan menolak karena 
harus ada regulasi. Kalau harus menunggu PLN, tidak terwujud,” katanya. 
(NAW/HRD)
   

       

Kirim email ke