I thought you might appreciate me sharing.

Warm Regards,
-K-


---------- Forwarded message ----------
From: Rudy Thehamihardja <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 2008/5/24
Subject: FW: [kota-bogor] Kampung Pesakitan, Sebentar Lagi Eradikasi Ulangan
Filariasis di Kota Bogor
To: Rudy Thehamihardja <[EMAIL PROTECTED]>



Potret lain dari keberhasilan pembangunan Indonesia.

Mudah2 an ada yang peduli dan membuat program yang tepat untuk mereka.

Apa karena tidak ada pelayanan transportasi yang tepat untuk mereka.
Mereka hanya berada kurang dari 60 km dari ibu pusat pemerintahan,
barangkali mereka itu terlupakan atau terlewatkan atau.....memang di
tumbalkan.

Rudy Th

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of Setiadjit (Gmail)
Sent: 24 Mei 2008 10:59
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [kota-bogor] Kampung Pesakitan, Sebentar Lagi Eradikasi Ulangan
Filariasis di Kota Bogor

rasanya bulan depan kota bogor akan melakukan kembali kegiatan eradikasi
penanggulangan penyakit kaki gajah sebagai lanjutan program tahun lalu;
entah di kabupaten bogor

bayugautama wrote:
Kampung Pesakitan

Pernah dengar Kampung Pesakitan? Pasti belum. Karena nama kampung ini
memang tidak ada dalam wilayah manapun di negeri ini. Sebutan Kampung
Pesakitan bukan nama sebenarnya, hanya sebuah nama yang dilabeli oleh
relawan ACT yang Selasa lalu (8/4) lalu mendatangi beberapa kampung
dan desa di Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Sebagai contoh adalah Desa Jagabita. Perekonomian yang carut marut
membuat masyarakat sangat tak berdaya untuk sekadar bertahan hidup
secara normal. Yang dimaksud normal disini yakni makan tiga kali sehari,
pendidikan berjalan lancar, dan kesehatan terjaga. Jika tiga hal ini
menjadi patokan standar kehidupan normal, maka nyaris seluruh warga di
desa ini bisa dibilang berkehidupan tak normal.

Ella misalnya, gadis 18 tahun ini menderita sakit kaki gajah sejak
usianya masih sekitar dua tahun. Ukuran kakinya saat ini sudah
benar-benar seukuran kaki gajah dan tak pernah diobati sama sekali.
Hanya sekali dibawa ke puskesmas untuk mendapat pemeriksaan, yakni pada
saat Ella berusia dua tahun. Sejak saat itu Ella tidak lagi mendapat
pengobatan, padahal kakinya terus membesar.

Usan (47 tahun), Ayah Ella, mengaku tidak punya uang untuk mengobati
penyakit anaknya. Sehari-harinya Usan hanya bekerja sebagai buruh
serabutan membuat anyaman topi pramuka dari bambu. Setiap hasil anyaman
topi itu Usan hanya mendapat upah lima ratus rupiah, dan dalam sepekan
ia hanya sanggup membuat tidak lebih dari 20 topi. Itu artinya,
penghasilan Usan hanya berkisar sepuluh ribu rupiah. Dengan uang sekecil
itulah ia menghidupi isteri dan ketujuh anaknya. "Buat
makan saja nggak ada pak, apalagi buat ke dokter", aku Usan kepada
relawan ACT.

Ibu Uun, relawan ACT yang menemani tim ACT ke desa tersebut pun
menjelaskan, bahkan untuk ongkos ojeg ke puskesmas pun mereka tidak
punya. Kini Ella sudah tidak bersekolah, selain karena terlalu berat
membawa-bawa kakinya yang membesar, ia juga malu karena sering diejek
teman-temannya. Gadis yang bercita-cita masuk pesantren agar bisa
menjadi guru ngaji itu sehari-harinya berdiam diri di kamar dan malu
keluar rumah.

Selain Ella, ada juga Rohilah, siswi kelas 2 SD yang mulai terkena kaki
gajah. Kaki kanan gadis kecil berusia sepuluh tahun ini memang belum
terlihat besar karena baru beberapa bulan menderita kaki gajah. Tetapi
dari waktu ke waktu kakinya akan terus membesar jika tidak diobati.

Tidak jauh dari rumah Ella, Mas'ud, 50 tahun, sudah tiga tahun tidak
bisa berjalan karena ada benjolan di lututnya. Ia tidak pernah
memeriksakan kakinya ke puskesmas karena tidak punya biaya. "Jauh pak,
harus naik ojeg. Pulang pergi naik ojeg tidak cukup sepuluh ribu.,"
keluhnya.

Gizi Buruk Tim relawan ACT juga menemui banyak kasus gizi buruk di desa
itu. Sebut saja Mamay, 3,5 tahun yang hanya memiliki bobot 8,5 kilogram.
Perutnya buncit, matanya sayu serta kulitnya yang layu. Anak-anak
seusianya sudah mampu berlari, sedangkan Mamay masih digendong ibunya,
Linda (22 tahun) karena belum sanggup berdiri. Ternyata, Mamay masih
punya adik yang berusia enam bulan. Total anak Linda berjumlah enam,
sementara suami Linda hanya bekerja sebagai guru ngaji.

"Mamay dikasih makan apa bu?" tanya relawan ACT. "Nggak mau makan,
paling-paling ASI bareng sama adiknya. Soalnya saya nggak punya uang
buat beli susu pak," ujar Linda. Rafli, 2 tahun, bobotnya hanya 8 kg.
Ikrima, anak kelima dari lima bersaudara berusia 2,5 tahun, berat
badannya pun tak lebih dari 9,5 kg. Adalagi Khaerul, bocah berusia tujuh
tahun, selain bongkok, ia pun menderita gizi buruk karena berat badannya
tidak lebih dari 13 kg. Anak yatim ini tidak terurus karena ayahnya
sudah meninggal sedangkan ibunya hanya berdagang asongan di pasar.
Khairul yang bongkok ini pun sering menjadi bahan olok-olok teman-temannya.

Tidak berbeda nasib dengan yang lain adalah Anisa. Ketika ditemui gadis
berusia dua tahun ini sedang bermain di kubangan lumpur. Eli, sang ibu
yang buta sejak kecil, tidak tahu kalau anaknya bergelimang lumpur.
Berat badan Anisa hanya 5,5 kg dengan perut membuncit. Anisa tidak
pernah mengenal Ayahnya, karena sang Ayah kabur saat gadis itu baru
dilahirkan.

Hari sudah gelap, padahal menurut ibu Uun masih banyak yang harus
dikunjungi. Selain jumlah balita gizi buruk yang sudah didata sampai
diangka 100, anak-anak dan warga dengan penyakit lainnya pun sangat
banyak. Ada yang sakit hernia, cacat mental, tumor kulit, TBC paru-paru,
dan masih banyak lagi sehingga cukup pantas menamakan wilayah ini
sebagai kampung pesakitan.

Ketidakberdayaan ekonomi, ketidaktahuan (baca: kebodohan), juga
ketidakadilan sistem kehidupan menjadi penyebab utama kondisi
memprihatinkan beberapa desa di wilayah Parung Panjang ini. Bahkan,
sebagian warga di Parung Panjang harus tinggal di atas tanah yang bukan
milik mereka sendiri, karena tanah-tanah itu sudah menjadi milik orang
kota.

Beberapa desa di kecamatan ini bisa dikategorikan sebagai desa
tertinggal, untuk bertahan hidup pun mereka harus bersusah payah
mengurangi frekuensi makan yang biasanya tiga kali menjadi dua kali,
bahkan sekali makan dalam sehari. Kesehatan seperti mimpi terindah yang
takkan pernah mereka rasakan, sebab untuk membuat kartu GASKIN (keluarga
miskin) pun mereka harus mengeluarkan sejumlah uang yang tak sedikit.
Padahal kartu GASKIN inilah satu-satunya harapan mereka bisa mendapat
perawatan kesehatan secara gratis. Adakah yang masih peduli?

Kampung Pesakitan, pasti bukan hanya di Parung Panjang. Di banyak
wilayah di negeri ini terdapat kampung sejenis, dengan ketidakberdayaan
ekonomi, ketertinggalan akses informasi, keterbatasan pengetahuan, serta
ketidakadilan system yang mengkerangkeng kehidupan masyarakat bangsa
ini. Lihatlah, berapa
banyak anak-anak menderita gizi buruk di negeri ini? (Gaw)

Informasi: Bayu Gawtama, 02132855165, 085219068581
Bantuan bisa disalurkan melalui rekening:

BCA 676 030 2021
Mandiri 128 000 4593 338

HOTLINE ACT: 021-7414482
[EMAIL PROTECTED]
<mailto:info%40aksicepattanggap.org<info%2540aksicepattanggap.org>
>
www.aksicepattangga

p.org
ww



------------------------------------

Milis kota-bogor ... media interaktif untuk 'orang Bogor' dan yang pernah
tinggal di Bogor.


-- 
Harya Setyaka
Duren Tiga Selatan 89
Jakarta Selatan 12760
Cell : +62 815 607 0927
T/F : +62 21 7997039
INDONESIA

Kirim email ke