Pak Wawo, Bung Aunur dan rekans ysh, Kembali kepada respons kita atas blueprint Creative Industry nya Mari Pangestu (?), saya melihat sisi positifnya saja untuk mengingatkan bahwa dalam 'perang dagang' global saat ini kian mengarah bahwa "soft-ware" kian trade-able. Bahkan software lebih dinilai tinggi daripada hardware nya. Yang 'dicuri' tetangga bukanlah beribu-ribu 'benda Reog', tapi desain dari reog. Bukan berkoli-koli kain batik, tapi desainnya.
Tapi tentu saja yang 'dijual' sebaiknya bukanlah desainnya, tapi barangnya. Manifestasi fisik dari desain tersebut. Namun jangan seperti yang terjadi sekarang, yaitu 'barangnya direndahkan' karena penggarapannya yang belum halus, tapi diam-diam 'desain produk/software'nya oleh orang lain 'diambil/dicuri/dibayar murah' . Lalu oleh mereka proses produksinya diperhalus dengan teknologi dan sofistikasi. Desainnya mereka patenkan. Lalu gigit jarilah kita. Saat ini kita membayar mahal harga software komputer yang kita pakai, yang kalau ditotal lebih mahal dari hardwarenya. Juga, kalau ada developer mengundang arsitek Paul Rudolf (?) misalnya, yang dibeli kan bukan 'paket bangunan', tapi desain yang dibuatnya. Begitukah? Tapi kembali kepada regional development, bisakah creative industry itu dianggap salah satu ruh penggerak ekonomi suatu wilayah? Bagaimana caranya? Bung Aunur. Mengenai 'kejujuran'. Ya, akhirnya selain transaksi dagang yang menjamin kelangsungan klaster lagi-lagi memang trust. Salam, Risfan Munir --- In [email protected], Hannie Waworoentoe <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Rekan-rekan yang terutama mengikuti diskussi Urban-versus Rural yang sebetulnya dimulai tadinya dengan diskussi 'creative industries. Sebetulnya sudah agak lama saya tinggalkan rangkaian diskussi ini, sehingga saya juga tidak ikut dengan diskussi darat yang terakhir, yang saya duga sudah terselenggara beberapa waktu lampau, maklumlah juga oleh karena baru saja tertimpa wafatnya dua keluarga dekat, namun ingin saya coba untuk menemukan jalur diskussi ini kembali. > Barangkali masih tentang industri kreatip, yang harus saya anggap sangat menyesatkan, oleh karena sampai sekarang saya samasekali belum menemukan definisi ataupun reference yang jelas terhadap 'creative industries' itu. > Maafkan saya mengajukan beberapa pertanyaan atau analisa dasar: (1) if we assume there is such a thing as a creative industry, then there also must be a noncreative or uncreative industry > (2) still in the same line, what then qualifies an industry to become creative - or for the same token or reason not qualify it as being creative > (3) dan sebetulnya pertanyaan yang lebih mendasar lagi apa yang sebenarnya kita maksudkan dengan 'creative' kreatip 'creativity' daya-cipta? atau entah apa yang kini sedang kita kaitkan dengan seluruh pengertian industri yang maha besar itu. > Saya sengaja mengemukakan pertanyaan dasar diatas oleh karena kalau tidak ada jawaban atau kesimpulan yang tegas maka sebetulnya kita bisa menutup seluruh diskussi kita sebagai suatu diskussi di ruang hampa (in other words we are all talking nonsense). Tapi baiklah saya coba memberikan sedikit pencerahan: > First of all saya kira kita analisa pengertiancreation (nama benda) sebagai ciptaan itu sih cukup mudah, tapi ternyata jauh lebih sukar kita terjemahkan 'creative' wah itu menunjukkan suatu kemampuan untuk mencipta, tetapi tidak banyak dari kita yang mau mengakui bahwa mencipta itu memerlukan kemampuan yang tidak begitu mudah saja, apakah mendusta itu kreatip? well in a sense yes sebetulnya bisa tapi bukan mencipta kebenaran, apakah meniru itu kreatip?, yah bukan untuk para innovator asli atau mereka yang membela hak patent, apakah menulis itu kreatip ? well in a certain sense again yes , oleh karena mengarang sastera ataupun berpuisi itu diklassifikasi sebagai 'creative writing or poetry' wether this is fiction or a true documented story. Rasanya sudah agak jelas sekarang bahwa creation tends to be designated to original deeds, jadi ciptaan-ciptaan asli (originals) , and not massproduced copies. Jadi sebetulnya terutama untuk temuan atau > penemuan pertama saja. > Nah disini mulai kita meleset analisanya oleh karena the industrial process biasanya mengarah ke suatu proses produksi yang massal, there is nothing original in a million copies apa itu tablet atau buku atau resep makanan, atau celana jean, atau sepeda motor honda atau boeing 777. > So what the hell is a 'creative industry' yah mungkin ada tapi pasti bukan industri pabrik tempe atau juga bukan batik keris atau songket (bagaimanapun indah atau mahalnya) > A creative industry should be an industry that produces pure originals, jadi mungkin industri yang terus-terusan menghasilkan kreasi-kreasi baru, mungkin yang paling dekat adalah pencipta mode haute couture yang memang eksklusip (dan bukan yang branded), atau hasil production house (televisi, film), atau lab riset, atau teater drama, atau penggubah lagu ataupun penemu resep obat atau makanan epicurean di restoran eksklusip. > Well then we also have that very large field of 'industrial design' > ini bukan industri tapi sebagian dari proses industri yang menghasilkan konsep dan bentuk produk , apa itu sendok, tusuk gigi, semprotan cebok, kursi ergonomic penerbang, rumah mansion, atau kamar hotel, tempat tidur waterbed atau panci/kompor/dapur IKEA , seprei kasur atau sabun sampo, atau software dari silicon valley, atau hpnokia. > Jadi maaf si penemu 14 macam 'creative industries' , I think you got on the wrong track and have created a confusion, by cutting the industrial pie and the creative process the wrong way. > So back to basics, rekan-rekan kecuali kalau memang mau ngaco terus. You might end eating your own creativity . > Barangkali sudah ada juga yang menduga bahwa perbandingan antara paradigma urban-rural , dengan paradigma rich-poor, juga ada kechilafan retorika tersembunyi, barangkali sudah ada juga temen yang dapat memberi klarifikasi. Sebagai pancingan what about analysing urban design or for that matter rural design, traditional design versus modern design ? > I do think the ball is in your court now. > Maybe someday *(after Euro) we need to redesign football (stadia ) as well. Pak Wawo.- > > > > ----- Original Message ---- > From: Aunur rofiq [EMAIL PROTECTED] > To: [email protected] > Sent: Wednesday, June 18, 2008 12:50:36 AM > Subject: Re: [referensi] Re: Urban vs Rural untuk industri kreatif > > > Bung risfan dan teman-teman yang lain, > Sebenarnya sejak dulu Belanda membuat network di nusantara ini seperti Ambon dengan Surabaya sehingga banyak sekali orang Ambon yang tinggal di Surabaya. Padang dengan Jakarta. Mengenai bisnis bunga, saya pernah terjun, memang luar biasa networknya, sayangnya bisnis ini banyak pelakunya yang tidak jujur sehingga sering terjadi kecurangan-kecurang an. Padahal di Belanda yang saya pelajari bisnis ini dituntut kejujuran antar pemain. Bila salah satu menemukan jenis baru, maka yang ingin ikut harus mau membayar ongkos litbangnya, kalau disini saling curi. Karena itu waktu saya ingin kontrak dengan salah satu perusahaan belnda mereka keberatan, sistem di Indonesia kata mereka tidak kondusif untuk membangun industri kreatif. Tidak ada perlindungan hukum bagi inovator > > Salam > Aunur Rofiq > > >

