rekan Abimanyu,
Terima kasih atas reaksi tanggapan terhadap ulasan analisa saya yang memang 
tidak saya tujukan kepada pribadi-pribadi khusus dalam diskussi urban-rural 
yang saya mulai dari issue 'creative industries' yang saya simpulkan meleset 
itu, karena tidak beranjak dari definisi-definisi dasar  creativity dan 
industri itu. 
Tapi terserah kalau milis ini masih tetap ingin melanjutkan diskussi pada 
tafsiran yang meleset itu. 
Tetapi benar sekali tafsiran Abimanyu terhadap arsitektur umum dan arsitektur 
vernaculer secara khusus,  dan sekaligus juga  tanggapan comment rekan Risfan 
terhadap kasus diundangnya arsitek Paul Rudolph ke Indonesia umpamanya.  
Jadi definisi dasarnya sebetulnya sangat mudah, tidak ada yang bisa menyangkal 
bahwa pada azasnya setiap karya atau kreasi arsitektur  adalah asli, wether it 
is Borobudur Mendut ataupun Monas,  dan rumah di kampung Baduy atau kampung 
Cibaduyut, they are all originals and unik (cuma ada satu lah). 
Yang susah kalau kreasi itu dijadikan kommoditi yang lantas di produksi secara 
massal yah di industrialize seperti kita lihat dalam real estate,  sehingga 
saya sampai pada dogma yang agak kontroversial, langsung kalau suatu kreasi 
asli itu dijadikan produk industri maka kwalifikasi unik kreativitas itu 
hilang,  Untuk mengatasi masalah legal (pemilikan kreasi) manusia telah 
menemukan pengertian patent atau hak cipta (ini lagi-lagi membingungkan karena 
dikaitkan dengan pengertian hak which is even more confusing) 
Memang untuk karya-karya besar jarang kita menemukan copy dari Borobudur, tapi 
anehnya piramida sudah ada copynya (di Louvre Paris)dan mungkin di Dysneyland 
ada banyak copy-copy arsitektur kaya tembok Cina mungkin. 
Tapi kembali dulu pada produk-produk real estate atau katakan saja housing atau 
pemukiman massal, sebagai sekedar konsessi kepada para perencana mass housing  
maka konsep dan siteplan suatu estate bisa saja unik bentuk pola maupun sistim 
pembiayaan ataupun proses produksi dan teknologinya but that does not mean that 
they are all original unique cultural creations,  saya juga belum ketemu 
planner yang minta setiap hasil designya secara neighborhood desa maupun skala 
regional kaya randstad atau kota-kota di Dubai itu dimintakan patent. Indeed we 
now realize that we actually have created another monster yang tadinya justru  
diciptakan untuk melindungi kita. But somewhere the buck has or will stop (like 
the war in Irak) .  
Sebetulnya saya cenderung ke rekan Abiyoso yang telah melontarkan masalah atau 
kriteria ke miskinan. Nah pada tulisan saya yang lalu saya tanyakan apakah  
paradigma  urban-rural juga mau dikaitkan dengan masalah rich-poor.  Pasti hal 
ini juga tidak bisa sederhana dan cuma dilontarkan sebagai bola, but again we 
have to follow basic logics seperti falsafah-falsafah dasar dan teori-teori 
fundamental . Cuma cara semacam ini  sekarang sudah kurang populer karena 
banyak orang mengharapkan instant solutions (dengan akibat justru menghasilkan 
longterm problems but who cares pokoknya gua udah makan) .  
Well sebagai kesimpulan yang cepat tapi juga sangat gegabah maka saya lontarkan 
bahwa  prinsip patent (industrial) itu sebaiknya dibuang saja samasekali jadi 
sekarang semua orang bebas untuk berkreasi dan tidak ada hukum yang mengatur 
kreativitas - ini bunyinya cukup enak danm revolusioner 
tetapi konsekwensinya memang semacam hukum rimba, semua orang bisa mencuri 
mengcopy dan membajak well that is what the present situation is anyway, jadi 
seluruh atau sebagian dari industrial and corporate law itu akan dikubur dan 
kantor-kantor patent juga dituitup saja .  Well barangkali ini yang secara 
diam-diam juga di idam-idam kan oleh sosiolog ataupun Karl Marx suatu 
masyarakat yang tidak lagi ditindas oleh modal dan semua kroni-kroni atau 
bandit-bandit laissez faire. 
Masih tertinggal satu pertanyaan lagi  Bagaimana sebetulnya  dengan intelectual 
property itu?  Yah ini keduanya juga ciptaan manusia bukan, pertama   intelect 
atau kecerdasan  dan property  atau milik.  Pasti sudah ada rekan yang bisa 
menarik kesimpulan (walaupun kelihatannya masih mentah atau gegabah). 
Because even Bill Gates has to eat his own principles lalu kembali menjadi 
penderma..  Kaya nya sekarang sudah ada tanda-tanda of the demise or 
destruction of wealth jadi juga pengertian property akan hilang , jadi 
berlawanan dengan semua usaha-usaha untuk mengentaskan kemiskinan makin nyata 
futility usaha ini oleh karena hanya kemiskinan itu yang justru paling adil (so 
contrary to all conventional wisdom, is that we need poverty ) 
dan juga kemiskinan itu yang justru paling sustainable 
Apakah ini suatu contra reformasi ? well maybe  
Untuk para cendekiawan  apakah ilmu dan wisdom (kebijakan) itu juga sudah 
dijadikan suatu kommoditi? yah jelas,  karena masyarakat kita sudah lama 
memperdagangkannya  like politics as well
Bagaimana Aby, Risfan dan banyak rekan-rekan lain saya tetap menghargai semua 
usaha perjoangan anda . Kalau rekan Risman mungkin masih tersenyum menunggu 
diselesaikannya tiang-tiang monorail  atau sudah ada lelucon baru : there must 
still be some fun left in this sadly serious world. 
Rasanya saya bisa terhibur dengan kata-kata Pope Benedict: 
Mystery cannot be proven by reason:.... but it is extremely reasonable. Pak Wawo


----- Original Message ----
From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, June 18, 2008 12:34:59 PM
Subject: Re: [referensi] Re: Urban vs Rural untuk industri kreatif


Betul pak Wawo ysh, kita harus mulai dari akarnya.

Kalau kita pelajari buku bu Mari tersebut tampaknya tujuannya memang bukan 
untuk mendasar kepada aspek kualitas dari pengertian kreativitas tersebut namun 
lebih meng-ekonomi- kan (mengkuantitatifkan ) jualan yang dapat diberi logo 
"kreatif". Sebagai contoh arsitektur sebagai bagian dari industri kreatif untuk 
Indonesia antara lain diukur dari produktifitas  pembangunan real estate yang 
dianggap (otomatis?) mewakili kuanifikasi produk arsitek ???

Dari kajian yang mereka lakukan juga ternyata bahwa belum (tidak) ada 
keseragaman atau kesepakatan diantara negara-negara yang membuat klasifikasi 
istilah industri kreatif tersebut. Ada yang mengaitkan dengan aspek hak cipta 
ada yang tidak, dsb. Bagaimana dengan penilaian produk industri kreatif kita 
apabila karya arsitektur dalam industri properti di Indonesia yang banyak masih 
menganggap karya yang berbau luar negeri akan lebih bergengsi dan laku dijual 
daripada karya bangsa sendiri. Apalagi tolok ukur ekonomi umumnya bias ke 
produktifitas di kota-kota besar dan kurang memberi apresiasi kepada kualitas 
arsitektur vernakular misalnya yang lebih bernuansa kualitatif, membudaya 
bahkan menyejarah daripada mengekonomi.
Jadi pertanyaan dasar pak Wawo lebih merupakan teguran bagi pembela 
kuantifikasi kualitas agar  tidak terlalu cepat membela  yang  sudah salah 
kaprah dari sononya. 

Wasalam,

Abimanyu



2008/6/18 Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@ yahoo.com>:

Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe 
Visit Your Group 
Real Food Group
Share recipes,
restaurant ratings
and favorite meals.
All-Bran
10 Day Challenge
Join the club and
feel the benefits.
Y! Messenger
Instant smiles
Share photos while
you IM friends.
. 
 


      

Kirim email ke