Halo pak Wawo.... saya juga tadinya cuma mau ikutan baca saja dan senang liat tulisan rekan2 yang sangat mencerahkan ini. Tapi lama-lama ga tahan juga ikutan nimbrung . Pak Wawo, memang kita ga usah sedih ya kayaknya... karena saya juga masih ingat hehe ...romantis lagi nih, kan katanya jadi 'planner' itu adalah seorang yang 'specialist in generalist' ? Saya merasa seorang planner itu malah ga perlu pinter bikin desain fisik kota asal dia bisa memanfaatkan para ahli yang akhirnya bisa mendesain fisik kota kan ga masalah, dia bisa jadi koordinator saja sudah bagus ya...? malah ini kan yang susah? Tapi ini kan yang perlu? Sampai-sampai sang dirjen saya jadoel itu pernah bilang disini harus ada juga ahli antropologi.... hehe saya memang lihat sudah ada sarjana itu sekarang di DJPR yang baru lulus dari UNPAD, saya pernah bilang kedia anda harus membuat ilmu hibrida antara ilmu antropologi itu dengan hal-hal yang dikerjakan oleh penataan ruang, ini adalah sesuatu yang sangat menarik seperti yang pernah saya coba lakukan dengan para ahli hukum untuk penataan ruang. Memang ini adalah sesuatu yang akan membuat setiap desain fisik itu akan diRASAkan (bukan dilihat lho) berbeda untuk setiap lokasi dan akan memberi setiap situasi fisik itu tidak hanya berwujud tapi juga akan berjiwa, ada ruhnya kalau secara religi. Dan ini saya ingat dikatakan juga oleh pak Hendro... hehe romantisme lagi. Beliau mengatakan mengapa penataan ruang harus di Dep.PU, itu karena penataan ruang itu akan memberi jiwa bagi infrastruktur yang dilaksanakan PU itu. Ini juga saya ingat dikatakan oleh meneer Tan Sioe An (bener ya pak ada nama ini jadoel sebelum ke S'pore ya?) katanya 'kota adalah suatu organisme yang hidup' dan setiap lokasi mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, tidak ada yang sama' nah apa yang membuat hidup dan tidak sama kalau bukan 'jiwa' ? Apa yang ada dalam suatu jiwa kalau bukan mau disebut hidup? Tentu bukan sesuatu yang tanpa manusia ...iya khaaan? Jadi singkatnya sebagai planner ya harus mau belajar dan mau tau segala macam..... hehe ingat lagi romantisme waktu dimapram sama mas Wisnumurti yang nyuruh kita mengucapkan janji untuk 'akan membaca semua buku sampai ke kulit2nya' itu! Semua itu 'demi sang waktu, demi sang langit, demi sang bumi....demikian'. Sudah ya pak.... masa itu tak kan kembali, tercatat di sanubari untuk masa depan yang tak bertepi. Salam dan Selamat Malam. Amin 2ny
--- On Sun, 6/22/08, Hannie Waworoentoe <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Hannie Waworoentoe <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [referensi] Re: Khitah? Re: Paradigma? Re: Geser Dikit Kekota To: [email protected] Date: Sunday, June 22, 2008, 12:08 AM Reny, tadinya saya hanya ingin baca kissah-kissah komik yang dikumpul dan diterjemahkan bos kepala mandor, sersan mayor, kuncen, Hengky yang sebenarnya ahli sosiologi juga. Tapi Reny rada kelewat kredit atau referensi ... kalau saya pernah ngajar in ekonomi di planologi ITB... memang saya tidak akan menyangkal bahwa selama kira-kira tiga tahun 1959-60-61, saya terpaksa harus merangkap macam-macam pelajaran yang akan saya coba telusuri kembali, memang dari sono-nya saya mulai belajar teknik sipil, lantas membelot ke arsitektur tapi kurang setia dengan seni bangunan, yang rada menarik memang perencanaan kota pada waktu itu stedebouwkunde dan bukan planologi jadi rada urban design dari Thomas Karsten dan Prof J..P.Thysse yang nantinya ke Lembaga Sosial Development di The Hague. Jadi sesungguhnya dengan latar belakang teknik (bukan seni) arsitektur, saya ngelamar di Planning and Housing Columbia University , yang kini menjadi avant garde dari Public Policy dan Development Studies (mungkin karena adanya UN dan kuatnya Public Housing. Jadi sebetulnya sangat kurang ekonomi nya. Jadi Reny pada waktu Pak Emil Salim dan teman-teman lainnya di Berkeley dan Harvard atau Wisconsin sedang memperdalam development economics, I had to hurry up and come back to PU di Jakarta dan take the challenge of opening the first undergraduate planning school whatsoever. Saya kira tahun 58, 59 dan 60 indeed were those 'fortunate years that we had a rendezvous with destiny ' as Bill Doebele quoted Roosevelt. Yah mungkin 3 tahun pertama itu saya rada akal-akalan bikin curriculum, cari mahasiswa teknik yang bisa dirayu (udahlah engga usah jadi insinyur sipil basah atau kering, atau arsitek kraton atau pasar senen, insinyur pabrik kimia atau obat well planning had at least some style. ) Mungkin Reny merasa dosen-dosen kaya Kenneth Watts, Paula Milone , Jaq. Tyrwhitt, William Alonso, Bill Nash, George Hinds dan banyak lain itu ada pengaruhnya, memang benar, practically as their first and sometimes only counterpart, saya juga harus bisa jadi interface yang praktis. Barangkali persyaratan 'comprehensive' ness of a general planner telah memberi kesan 'serba bisa' nya planner pada waktu itu.. Barangkali juga kekhususan planologi yang mengarah ke regional planning yang tidak mungkin ada di arsitektur dan juga tidak definite dalam infrastruktur sipil. Barangkali lagi sumber utama dari Geografi dan dari sudut lain Demografi telah memberi kwalifikasi spesifik that unique program in Bandung. Tapi jelas ini tahun-tahun pertama saja, setelah angkatan-angkatan dosen pertama kembali ke Bandung , well then the school was practically established. Bukan pada waktu itu Pak Gijanto sudah sepenuhnya menjamin adanya pelajaran ekonomi. Those wild young years were gone. Jadi engga apa kan Reny hanyut sebentar dalam romantika dulu. Sayang sudah tidak banyak lagi rekan-rekan yang masih dapat menikmati masa itu. Sad maybe, but ne regrets. Sedih mungkin tapi tidak disayangkan. Salam Pak Wawo. ----- Original Message ---- From: Reny ansih <[EMAIL PROTECTED] com> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com Sent: Sunday, June 22, 2008 7:03:59 AM Subject: Re: [referensi] Re: Khitah? Re: Paradigma? Re: Geser Dikit Kekota Duh, duh... para ahli referensi yang berbahagia.. .. kemana aja ya anda-anda pada waktu UUPR 26/2007 itu disusun ? Kenapa hal ini baru sekarang muncul? Kenapa ga waktu masih RUU dighodok? Saya terus terang entah kenapa memang waktu masih RUU itu dibahas-bahas sudah ga pernah tersambung dengan milis ini, entah kenapa juga ga ngerti, tersambung lagi beberapa bulan belakangan ini setelah ketemu bung Eka. Tapi hal inilah yang waktu RUU ini dibahas atas undangan DPR-RI yang terhormat itu di Hotel Hilton, saya ingat betul karena walau ga diundang karena tau ya saya datang, dan waktu itulah saya mendengar dan melihat bagaimana pak Emil Salim marah besar karena konsep UUPR itu menurut beliau 'sangat hanya berorientasi ke fisik' saja. Beliau juga katanya ada yang nguping pernah menyatakan 'penataan ruang ga usahlah terlibat acara global warming lagi karena cuma mengurus fisik saja', global warming kan harus diurus secara multidisiplin bukan cuma urusan fisik yang dalam hal ini dianggap justru yang paling merusak lingkungan fisik Selain itu saya juga ingat salah satu dirjen di PU jadoel menyatakan DJPR itu harus bisa dulu melayani sektor dilingkungan PU, hehe lama-lama dia bilang DJPR itu ga perlulah selevel ditjen cukup aja selevel subdit Pak Benny pasti ingat siapa beliau, ...sooo .... itu perjuangan berat lho akhirnya DJPR masih tetap ada di Dep.PU. Itu suatu trauma yang harusnya rekan-rekan di DJPR mau tau dan belajar, jangan sampai terulang lagi. Memang tidak mudah kalau urusan penataan ruang itu berada di PU, kalau cuma mau desain fisik saja ya mungkin itu tadi jadi setingkat subdit saja, ntar dititipin lagi di DJCK di direktorat tata bangunan atau bina program, kaciaaan deh. Seorang dirjen PR jadoel yang lain juga pernah mengatakan jangan2 kita ini 'anak elang' yang dierami 'induk ayam' ...ngerti ya maksudnya ? Nah kalau sekolahnya di ITB memang ada pula seorang alumni PL yang bilang 'kan kita sekolah di ITB ini diajari physical planning, kenapa pula kita harus bikin UU yang harus melibatkan urusan segala sosial-ekonomi- politik-hankam- miskin dsbnya itu ? Nanti itu kan urusan Menko Kesra dan Menko Perekonomian? Rasanya kok bisa berbeda ya penangkapan tentang lulusan ITB yang dulu disebut jurusan PLANOLOGI itu? Seingatku dulu juga diajarkan ilmu ekonomi, ilmu sosiologi ...mmhm pak Wawo lho yang ngajarinnya. Apa betul jurusan PL itu jadoel pernah cuma mengajarkan ilmu fisik saja? Yang kurang jadoel itu memang rasanya ga pernah diajari sedikiiiit saja ilmu politik yang menurut saya perlu tuh diajarkan karena menurut seorang alumni ITB lain yang menurutku beliau lumayan sukses di politik praktis, kalau kita ga mau tau politik maka kita akan dipermainkan oleh politisi .....hiiii. Sekian salam manis dan Selamat Pagi Indonesia - 2ny --- On Sat, 6/21/08, abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED] com> Subject: Re: [referensi] Re: Khitah? Re: Paradigma? Re: Geser Dikit Kekota To: [EMAIL PROTECTED] ps.com Date: Saturday, June 21, 2008, 9:35 AM Setuju pak Aby, pak Risfan ysh, Waktu pindah dari pemikiran arsitek ke planner tahun 1970-an yll, pernyataan planner yg ngajarin saya waktu itu adalah kira-kira seperti ini: " kesalahan planner masa lalu adalah karena pengertian "plan" hanya dalam wujud produk, pengertian "plannig" bias kepada membuat "a plan" sebagai produk rencana fisiknya aristek, perluasan dari kegiatan merancang bangunan atau komplek bangunan. "plan" tidak difahami sebagai "to plan" masa depan yang lebih baik, bahkan tidak selalu harus dalam bentuk produk gambar "plan". Tidak seperti Corbusier, Niemeyer, dll. yang masih terbelenggu oleh wujud ke-fisik-an, esensi konsep Howard, dll-pun sudah bukan terikat kepada wujud plan fisik "kota baru"-nya tetapi terwujudnya lingkungan hidup yang sadar akan pentinganya mekanisme kehidupan bersama alamnya. Bukan "rumah, industri, jalan dan rekreasi" (wisma, karya, marga, suka?) tetapi "masyarakat, tempat dan kerja". Apalagi setelah Isard mengintroduksi "perencanaan wilayah" (yang menjadi cikal bakal studi pembangunannya orang ekonomi), Odum yang mendukung aspek ekologi sebagai dasar wawasan lingkungan, atau yang merembet ke aspek antroposistem lainnya yang melahirkan antara lain "policy planning", "advocacy planning", "community base development" , dll. Apalagi kalau mengaitkan dengan pandangan bahwa aspek-aspek komunikasi dan kolaborasi merupakan faktor penting dalam pendekatan perencanaan di abad 21 (Almendinger) . Itu semua akhirnya melahirkan tuntutan "sustainable development" (yang diintroduksi timnya Brundland) yang mampu meningkatkan kualitas hidup (tim IPCL), dan "cradle to cradle"-nya Braungard dan McDonought yang cenderung menuntut pendekatan "zero waste". Artinya, penataan ruang dimasa kini sudah bukan perencanaan ber-kacamata kuda tetapi bertanggung jawab pencapaian tujuan-tujuan mendasar penyejahteraan manusia yang menjadi "client"-nya, seperti pemerintah harus melayani kepentingan "client" utamanya, yaitu rakyat yang mempercayakan bagaimana mengupayakan peningkatan kesejahteraannya. Tentu saja, kembali, ada pembagian tugas dan "level-level" tanggung jawab para planner tersebut, sehingga konsep keterpaduan, sinergi dan metabolisme perkembanganmelalui sistem yang dinamis menjadi semakin muncul dalam praktek perencanaan akhir-akhir ini. Dalam era ke-mendunia- an belakangan ini, perencanaan tidak bisa mundur, harus bertanggung jawab terhadap semua aspek tersebut, sehingga konsep pembangunan menjadi dasar pertimbangan bagaimana suatu tata ruang perlu disiapkan. Itulah yang menjadi dasar perdebatan kenapa mutilasi cakupan penataan ruang PU yang sempat dikerdilkan untuk hanya berpikir aspek kimpraswil menjadi pertanyaan bagi mereka yang memahami bahwa penataan ruang merupakan salah satu alat penting untuk merealisasi tercapainya pembangunan nasional yang dicita-citakan. Itu pula yang menyebabkan bahwa UU 26/2007 tidak dapat lagi hanya dibaca dengan pengertian terbatas seperti UU 24/92 tetapi memiliki nuansa yang lebih mendasar. Itu juga kenapa di negara kepulauan ini, penataan ruang tidak hanya berkepentingan kepada bidang (terrestrial land-use) tetapi sudah me-ruang (darat, laut, udara, dan bawah tanah). wasalam, Abimanyu

