Hengky, sebelum saya menjawab pertanyaan yang terutama diarahkan kepada 
rekan-rekan Koko, Dwi, Ekadj dan milister lain (jadi saya termasuk yang lain 
bukan), saya sebetulnya masih sangsi apakah masalah yang rada non publik ini 
dikemukakan dalam milis ini. Kalau saja secara tulisan text yang katakan saja 
menyangkut soal hukum (secara ilmiah) maka dapat kita bahas prinsip-prinsipnya, 
terserah pada Hengky untuk menganggapnya sebagai 'pencerahan' yang selabnjutnya 
dibawa ke lingkungan non publik di perumahan Henky itu.  Saya kira juga agak 
sukar kita dihadapkan dengan masalah 'developer' yang jelas non-publik, jadi 
dengan demikian milis kita sekaligus dijadikan ajang tempat menguji masalah 
publik (seperti hukum dan hak developer) dengan pertimbangan keamanan 
lingkungan secara teknis. 
Jadi saya mau coba bantu Hengky. Kalau sebagai konsultan non kommersial saya 
ada saran-saran praktis.
Kalau masalahnya adalah sekuriti yah ini lebih mudah dengan satpam atau penjaga 
saja yang mesti periksa setiap orang yang lewat, kalau ini dianggap masalah 
sipil teknis, yah terpaksa bikin jalan akses atau bikin jembatan lagi dan 
jangan campur-campur lalu lintas, this is all private, tapi jelas lebih mahal 
tapi katanya sih developer jadi mesti punya uang dong.  
Tapi kalau ini mau dijadikan masalah hukum murni, yah yang diperlukan adalah 
legal adviser, atau ahli hukum yang memang  menguasai seluruh undang-undang 
agraria, dari hak dan kewajiban milik sapai masalah-masalah public access, itu 
ada banyak buku-bukunya terutama untuk kaum yang katanya 'middle income' itu 
yang rada tanggung engga banyak duit tapi paling rewel. 
OK  Hengky you sih engga perlu saran atau apalagi pencerahan ,  yang lebih 
menarik kumpul-kumpul kasus lantas bikin buku lantas dijual, tapi itu juga 
terlalu repot, yang gampang sih bikin demonstrasi tapi itu juga perlu duit 
rokok, jadi yah gampangnya loncat pagar lantas naik ojek daripada pakai mobil.  
Ini mungkin saran yang rada Foucauldian yang post modernlah.  Pasti ada lain 
yang kasih saran juga. Pak Wawo



      

Kirim email ke