--- On Fri, 7/18/08, "yoshi" fajarkresnomurti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: "yoshi" fajarkresnomurti <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: saksikan pentas Babad Kampung FKY XX | GENERASI BIRU MERGANGSAN KIDUL
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Friday, July 18, 2008, 4:39 AM



Generasi Tanpa Masa Lalu? 

Pentas Babad Kampung FKY XX 2008
di Kampung Mergangsan Kidul “Belokan Seputar Kampus” 

Minggu, 20 Juli 2008, Jam 20.00 BBWI 





Apa yang akan terjadi bila generasi hidup tanpa masa lalu? Masa lalu tidak
hanya untuk dikenang dan disimpan rapat-rapat. Membuka dan merefleksikan
kembali justru akan membuat kita semakin sadar dan akhirnya dapat mengembangkan
pikiran kita. Tempo dulu, saat ini, dan saat mendatang adalah bagian dari
proses kehidupan yang saling berhubungan dan tidak bisa dilepaskan. 

Pentas Kampung Mergangsan Kidul dalam rangka acara Babad Kampung Festival
Kesenian Yogyakarta XX 2008 akan diisi berbagai atraksi sejak pagi hari, 
sepanjang
Hari Minggu 20 Juli 2008. Pentas utama berupa Teater berjudul “Belokan Sekitar
Kampus” akan diprediksikan mampu membangkitkan kembali semangat para anak muda
Mergangsan Kidul. Keresahan akan matinya kebersamaan dan saling menghargai
antar anak muda akhirnya dapat terjawab lewat pertujukan teater ini. Pentas
tersebut akan dimainkan oleh para anak muda tersebut pada malam hari pukul
20.00 di Balai Tri RT Mergangsan Kidul.

             Pentas
ini akan membawa kita untuk melihat kembali Kampung Mergangsan Kidul di tahun 
90-an.
Masa lalu yang justru dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat di
sana, justru tidak pernah lagi dijamah oleh anak-anak muda di sana. Kemajuan
teknologi dan persaingan global akhirnya mampu mengubah nilai-nilai masyarakat
disana. Kemunculan-kemunculan kampus di sekitarnya ternyata memberikan pengaruh
positif maupun negatif yang dapat memberikan citra tersendiri bagi Kampung
Mergangsan Kidul. Peredaran narkoba, pergaulan bebas ,merupakan
predikat-predikat tersendiri yang mengusik kenyamanan warga Mergangsan Kidul.
Aksi “premanisme” warga yang menyerbu anak-anak kos yang “reseh” banyak terjadi
di tahun-tahun itu. Mengeroyok anak kos, menggembosi ban sepeda motor oleh
warga sekitar merupakan bentuk ketidaknyamanan dengan keberadaan anak kos di
Mergangsan Kidul. 

                Namun,
masa lalu Mergangsan Kidul tak hanya diwarnai dengan kenegatifan saja. Dulunya,
anak kos sering memberikan kontribusi bagi warga disana dengan memunculkan
ide-ide untuk kegiatan kampung. Keaktifan dan bentuk saling menghargai warga
kos dan anak-anak kos dulu bisa terbentuk dengan baik. Lain halnya sekarang,
anak kos mulai menghilangkan nilai-nilai masyarakat yang seharusnya harus
mereka lakukan di tengah keberadaan mereka di sebuah tempat yang asing.

               Nah,
aksi premanisme yang dulu sering dilakukan ternyata tidak bisa dipandang dari
sudut negatif saja. Ternyata “premanisme” mampu membuktikan kepada kita semua
bahwa masyarakat dulu sangat peduli dan peka akan perkembangan kampung. Adanya
saling mengontrol dengan “kegiatan premanisme” terhadap keberadaan anak kos
menjadi nilai lebih tersendiri bagi warga sekitar. Mungkin karena anak kos
tidak bisa dibilangi (menurut mereka) maka kegiatan premanisme yang menurut
mereka benar akhirnya dilakukan.

               Teater
“Belokan Seputar Kampus” ternyata mampu menggugah masyarakat Mergangsan Kidul
untuk kembali membuka masa lalunya. Tanggapan positif dan sikap partisipasi
mampu menggugah semangat kebersamaan warga kembali khususnya kaum muda
Mergangsan Kidul. Kaum muda sebagai generasi penerus ternyata mau membuka
kembali pikirannya untuk mau berproses ke arah yang lebih baik dalam rangka
“pembentukan kampung yang baik”. 

             Bentuk
kesadaran kaum muda akan pentingnya membangun kampung memacu mereka untuk
membuka masa lalu mereka. Berpijak pada masa lalu bukan berarti salah. Masa
lalu tak hanya diisi dengan hal negatif saja. Masa lalu juga diwarnai dengan
hal yang positif juga. Dengan keterlibatan mereka inilah, kaum muda ingin
menujukkan kepada masyarakat bahwa mereka mampu memberikan kontribusi positif
bagi perkembangan kampung. Belajar masa lalu menjadi pijakan bagi mereka untuk
melakukan hal mana saja yang harus mereka lakukan kembali dan lestarikan.

               






      


      

Kirim email ke