Dear sobats,
Mungkin kita pernah mendengar dan masih mengingat, bahwa nenek moyang kita mewariskan banyak kearifan lokal yang menarik tetapi seringkali dilupakan karena kita terjebak ingin sok modern dengan mengacu teori dari khasanah dunia lain. Ini tidak menyalahkan lho, tetapi hanya mengingatkan bahwa ada banyak warisan di sekitar kita yang belum diangkat menjadi teori setara teori-teori dalam teksbook. Soal antisipasi, misalnya....para orang tua di desa jaman dulu jika istrinya hamil, maka dia segera mencari satu butir kelapa yang baik kemudian disimpan di "pekiwan" alias kamar mandi ndeso. Mengapa ? Tempat itu selalu basah dan lembab, sehingga kelapa tadi akan terpelihara untuk berkembang menjadi bibit pohon siap tanam. Nah ketika sang bayi lahir (9 bulan kemudian) beliau segera pergi ke pekiwan itu lalu mengambil tunas kelapa tersebut terus ditanam di kebun di lobang yang sudah disiapkan. Isi hatinya, kelak kelapa ini akan menjadi makanan atau penjamin
hidup sang bayi.
Jika kita terapkan dalam kehidupan kini, bisa dilakukan banyak alternatif. Misalnya, jika membeli satu sepeda motor maka hati ini merasa wajib menanam beberapa batang pohon untuk mengeliminasi kemungkinan polusi akibat knalpot motor itu....Prinsipnya adalah menjaga keseimbangan, bukan budaya melarang....Bagaimana ? Importir motor atau pembeli motor atau mobil wajib melakukan itu....ini memang gagasan aneh...tapi jika realistis,,,kenapa tidak dilaksanakan ?
Salam,
Djarot
--- On Mon, 8/11/08, Benedictus Dwiagus S. <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Benedictus Dwiagus S. <[EMAIL PROTECTED]> Subject: RE: [referensi] :::: Kota dan Sepeda :::: To: [email protected] Date: Monday, August 11, 2008, 10:51 AM
Saya rasa memang tak perlu menyalahkan mereka yang memilih untuk bersepedamotor.
Tapi perencanaan mestinya membuat pilihan, memberikan pilihan,.. tanpa harus menjadikan salah satu pilihan tersingkirkan, yaitu pilihan untuk menggunakan sepeda yang jelas manfaatnya, kalau ingin mengikuti trend ke depan,…..
Jadi Memang penting untuk melihat trend,…
Bukankah sekarang trendnya go green and greener? Dan penggunaan energy yang bijak,….
Sepeda menjawab ini semua, (sambil menungu «blue energi » muncul di negara ini) …..
namun sayang, sepeda tersingkirkan.
Makasih Om Djarot, sharingnya,. .
Jadi pengen pulang kampung ke wonosari, pengen coba intip rumah mbah saya, barangkali ada sepeda onthel tersisa….atau mungkin sudah tergadaikan…..
Huehehehe
Benedictus Dwiagus S.
bdwiagus.blogspot. com

From: [EMAIL PROTECTED] ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. com] On Behalf Of arinynta Sent: 11 August 2008 10:37 To: [EMAIL PROTECTED] ps.com Subject: Re: [referensi] :::: Kota dan Sepeda ::::
dear milisters, saya boleh ikut sedikit ya....
kita ini sepertinya senang bernostalgia, melihat masa lalu itu serba indah, serba nyaman, serba menyenangkan. kenapa begitu, karena kita membandingkan dengan masa kini dengan waktu dan situasi yang berbeda.
salahkah, org2 di daerah itu menjadi lebih memilih naik motor daripada naik sepeda? menurut saya tidak. mereka memilih naik (membeli) motor karena menilai motor lebih cepat dibandingkan naik sepeda, selain juga tidak capek. (siapa pun tahu, mesin lebih cepat daripada manual). bisa jadi juga mereka sudah lebih baik kondisi perekonomiannya, jadi kebutuhannya berubah termasuk gaya hidupnya. terserah apakah itu dilihat sebagai kebutuhan atau konsumerisme atau buang-buang energi, tergantung darimana kita melihat.
tapi yang pasti, sekali lagi kita kurang bisa mengantisipasi masa depan. kita melihat masa depan dengan kondisi saat ini yg ceteris paribus, padahal
perubahan sangat-sangat (super duper) cepat dan tidak ada yg rentan. mungkin pelajaran yg kita bisa dapat adalah bahwa kita harus berpikir out of the box, tidak lagi sekadar berproyeksi berdasarkan tren.
salam.
nita
|