Halo Bung Dwi
1. Yang saya maksud dengan
pertumbuhan penduduk negatif di Jakarta itu penduduk domisili
administratif, yang sering dikatakan sebagai "penduduk malam",
sementara "penduduk siang" semakin bertambah. Jadi semakin
berkurang "penduduk malam" di Jakarta, maka akan semakin
bertambah "penduduk siang"nya. Misal sebelumnya "penduduk
malam" 9 juta dan "penduduk siang" 13 juta, maka bila
"penduduk malam" berkurang menjadi 8 juta, maka"penduduk
siang" akan bisa menjadi 15 juta. Logikanya, berkurangnya
"penduduk malam" itu karena terjadi konversi fungsi rumah
menjadi komersial. Bila dulunya sebuah rumah dihuni 5 jiwa, maka bila
diganti dengan komnersial, maka bisa men-generate sekitar 10 jiwa atau
lebih. Tentang bertumbuhnya apartemen sederhana, secara administratif
jumlah penduduk tidak bertambah karena KTP mereka tetap KTP Non-Jakarta.
Mereka hanya domisili pada 5 hari kerja saja. Menurut saya jumlah
apartemen sederhana yang dibangun itu tidak banyak, maklum tanahnya
terbatas. Jadi tidak berpengauh terhadap fenomena jumlah penduduk Jakarta
yang terus menurun.
2. Sebetulnya kalau Pemda DKI Jakarta
hanya mengurus penduduk domisili saja, yang hanya sekitar 8 juta dengan
APBD hampir mendekati Rp 20 triliun, maka kualitas pembangunannya bisa
lebih baik. Masalahnya yang dilayani Pemda DKI itu penduduk yang bukan
penduduk domisili, tapi para penglaju dengan jumlah besar yang tidak bayar
PBB, tidak bayar Pajak PPH pasal 21, tidak bayar BPKB,..mungkin mereka
hanya menyumbang pajak makanan-minuman saja, tapi itu tidak banyak karena
penduduk Botabek kebanyakan belanja di sektor informal yang tak mbayar
pajak.
3. He..he Jaringan Planner Liberal (JPL) tidak pernah
dideklarasikan. Anggotanya cuma satu yaitu saya. Jaringannya maya, mau
ikut ya nyantel saja, tidak ada kode etik, masuk - keluar bebas saja,
namanya liberal... tak terikat syariat-syariat faham planning yang
"mainstream".
Thanks. CU. BTS.
----- Original Message -----
From: Benedictus Dwiagus S.
To:
[email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Sent:
Wednesday, August 27, 2008 9:15 AM
Subject: RE: [referensi] Kompas
obok2 Planologi
Pak BTS dan rekan milister lainnya
1. Kalau pake ilmu futurologi, kira-kira akan tetap
terus negative growth tidak ya jakarta ini? Kalau melihat fenomena
apartemen dan rumah susun sederhana yang mulai bertumbuhan di Jakarta,
apakah akan ada arus pertambahan kota Jakarta kembali? Atau fenomena
apartemen ini akan sedikit terhambat oleh beberapa serangan kejutan gempa
di selat sunda yang sekali-kali membuat hati waswas?
2.
Memang pemda Jakarta tidak membangun kota. Sepertinya pemda Jakarta
meng-abuse istilah “Pemda sebagai fasilitator dan regulator
pembangunan” , sehingga membuat mereka hanya berdiri di belakang
meja dengan segala alat “pengendali penataan ruang” namun tak
berdaya,….. Mungkin sekali waktu Bang Foke harus di audit
kinerjanya,… kalau berasumsi pemda Jakarta bertambah kocek APBDnya,
maka mestinya harus pula linier dengan kualitas pembangunannya,…..
masak sih kalah dengan pemda-pemda lain yang lebih inovatif dan berani
berkarya.
3. Kapan deklarasi JPL itu,biar kita rayakan
Bersama,Pak BTS? J
Best regards,
B.
Dwiagus S.
Aliansi Planner untuk Kebebasan Berencana Indonesia
bdwiagus.blogspot.com
- aut viam
inveniam aut faciam -
I will either find a way or make one.
From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Bambang Tata Samiadji
Sent: 26 August 2008 22:49
To: [email protected]
Subject: [referensi] Kompas obok2 Planologi
Dear
Bung Wisnu dan milister lainnya.
Pertumbuhan penduduk Jakarta
itu tak pernah mencapai 4%. Pada periode 1990-2000 pertumbuhannya hanya
0,16% dan sekarang pertumbuhannya sudah negatif, alias jumlah penduduk
Jakarta semakin berkurang kira-kira sekitar 250000 jiwa pertahun
meninggalkan Jakarta. Mungkin yang dimaksud dengan pertumbuhan 4% itu
bukan Jakarta, tetapi "The Greater of Jakarta", yaitu Jakarta
plus daerah pinggiran (periphery) yang notabene masuk wilayah administrasi
Tangerang, Bogor, dan Bekasi.
Kata Pak Danisworo ada 3,5 juta
diantisipasi tinggal di kota-kota Tangerang, Bogor, dan Bekasi. Jumlah
penduduk 3,5 juta itu memang asli penduduk ketiga kota tersebut dan
pertumbuhannya, bukan berasal atau limpahan atau "spill over"
dari Jakarta. Limpahan penduduk Jakarta itu berada di Kabupaten Tangerang,
Bogor, dan Bekasi, ... bukan kota-kotanya. Berdasarkan gambaran ini, apa
relevan membicarakan Kota penyangga? La wong kota-kota Botabek itu tak
pernah berfungsi sebagai Kota penyangga koq. Sementara kabupaten-kabupaten
yang mendapat limpahan penduduk itu juga bukan penyangga, tapi penampung.
Lain lho arti Penyangga dan Penampung. Kalau Penyangga itu aktif menyangga
(countering), sementara Penampung itu pasif (receiving). Jadi selama ini
Blue-print konsep Jabotabek itu hanya rencana, apakah perkembangan sesuai
dengan rencana? Walahualam.... koq sepertinya yang membangun Jabotabek
selama ini bukan para perencana, tetapi Sudwikatmono dengan Jababeka-nya,
Ryadi dengan LIPPO (Lama-lama Indonesia Pan Punya Oe), ASTRA, dan PMA-PMA
itu.
Dalam perbincangan soal pengembangan tata ruang,
khususnya dalam Regional Planning, sering kita menemukan berbagai
permasalahan yang sebenarnya kita tahu jawabannya. Misalnya yang tidak
setuju dengan pembangunan jalan tol, toh mereka suka juga menggunakan jasa
jalan tol, jadi tahu jawabannya mengapa jalan tol itu dibangun. Yang anti
urbanisasi padahal dirinya salah satu pemigran (bukan penduduk asli) dan
penghuni kota besar. Jadi mereka tahu mengapa urbanisasi itu di kota-kota
besar itu tinggi dan tidak bisa mengarusbalik ke desa-desa atau ke
kota-kota kecil. Yang tidak setuju pengkotaan di Jawa tidak mau pindah ke
Luar Jawa dan maunya berdesak-desakan di Jawa saja. Mereka ini juga tahu
jawabannya bahwa tinggal di kota-kota besar di Jawa sebagai keputusan
terbaik. Yang merekomendasikan pembangunan pedesaan juga nggak mau tinggal
di desa karna hidup di desa itu tidak mudah dan kesepian. Yang
menganjurkan angkutan massal juga belum tentu suka naik bus umum yang
pengap ini. Jadi tahu jawabannya mengapa banyak orang lebih suka naik
mobil.
Thanks. CU. BTS dari JPL (Jaringan Planner Liberal).
----- Original Message -----
From: Wisnu Wijaya
To: [email protected]
Sent:
Monday, August 25, 2008 11:44 PM
Subject: [referensi] Kompas Obok2
Planolog(i)
No virus found in this incoming
message.
Checked by AVG - http://www.avg.com
Version: 8.0.138
/ Virus Database: 270.6.9/1634 - Release Date: 25/08/2008 20:48
Messages in this topic (5) Reply (via web post) |
Start a new topic
Messages | Files | Photos | Links | Database |
Polls | Calendar
Komunitas Referensi
http://groups.yahoo.com/group/referensi/
Change settings via
the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch
delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your
Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe Recent Activity
2New Members
Visit Your Group
Ads on Yahoo!
Learn more
now.
Reach customers
searching for you.
Y! Messenger
Instant hello
Chat in real-time
with your friends.
Real Food Group
Share recipes,
restaurant ratings
and favorite meals.
.