Rachmad mBah Google,  semestinya jauh lebih banyak lagi yang dapat kita gali 
dari Google dan route atau tapak jalan kaki (pedestrian) itu pasti salah satu 
dari kian banyak yang sudah dapat kita nikmati, tapi rasanya kalau hanya 
software pengamatan dan interpretasi remote sensing jarak jauh saja, justru 
terlampau dalam dan akurat di satu pihak, sedangkan tetap kurang menarik kalau 
tidak dilengkapi data deskriptip (historis)  lain. Sekan-akan kita disajikan 
suatu masakan secara visual saja tanpa memberi nama,  rasa selera, atau 
karakteristik non fisik lain. Jadi semua bumbu seperti Rachmad sajikan itu 
menjadikan objeknya sangat menarik, jadi sebenarnya apa significance jalur dari 
Siola sampai ke Simpang toko Nam,  apa sebenarnya stretch malioboro antara rel 
kereta api sampai ujung kantor pos atau alun-alun,  dan apa sebenarnya kultus 
sophistikasi Braga yang tidak ditemukan di Jean street Cihampelas atau 
sebaliknya,  barangkali banyak dari pedestrian
 (shopping) streets itu juga sudah pudar, atau menemukan fungsi dan wajah baru. 
Tapi yang jelas adalah mode pejalan kakinya,  apa ini di Kalverstraat 
Amsterdam, Stroyet Copenhagen,  Lijnbaan Rotterdam,  off Ginza Tokyo atau mews 
di London,  Copacabana Rio, atau souk dan pasar di Maroko atau Istanbul , ah 
masih banyak yang pasti representatip dan mesra, tapi rasanya Google will never 
capture that sound smell and color. Sebetulnya banyak pedoman2 wisata sudah 
memberi saran route jalan kaki yang pendek sampai yang cukup jauh,  malahan ada 
juga track yang melintasi benua,  di Sulawesi ada juga route jalan sepeda dari 
utara ke selatang vice-versa, lalu ada juga kombinasi seperti jalan kaki, 
sepeda dan kapal sungai yang menawarkan tidur semalam antara dua kota, 
diselingi route sepeda, malahan sampai naik balloon. Itu sih sudah sangat 
sophisticated.  Kalau untuk pulau Jawa mungkin tapak tilas jalan Pos Raya dari 
Merak sampai Banyuwangi  dari tiap pos
 ganti kuda sampai ke railroad stretches seperti di Banaran Ambarawa , atau 
persinggahan passangrahan cukup scenic dan history 
loaded. Walaupun vernacularnya rada touristy saya sebetulnya agak allergi 
terhadap turis massal,  daya tarik spesifik dari seni, scene atau pemandangan 
sampai ke ekosistim bukan ekoturism yang munafik, tapi minat budaya atau ilmiah 
yang sungguh-sungguh ataupun lidah dan kerongkongan yang peka. dan terlatih. 
Memang mesti tergiur sampai 'mabuk' baru google itu bisa berguna. Salam dari 
Pak Wawo   



----- Original Message ----
From: Rachmad M <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, September 4, 2008 5:52:59 AM
Subject: [referensi] mBah Google dan Pembangunan Kita


mBah google memang menarik, semakin hari semakin lengkap saja informasi 
yang bisa kita proleh darinya. Kali ini saya ingin memanfaatkannya 
untuk sedikit saja mengintip apa kira-kira yang agak salah dari pola 
pembangunan di Indonesia.

Dulu saat saya msih kecil sangat senang jika diajak jalan-jalan. Dan 
saya cermati setiap kota sepertinya memang ada daerah pertokoan yang 
enak buat jalan-jalan. Misal di Surabaya ada Tunjungan kita bisa jalan 
dari Siola sampai Toko Nam (Simpang). Di Jogja ada Malioboro bisa jalan 
dari rel sampai keraton. Di Jakarta ada jalan Sabang dan di Bandung ada 
Braga. Pokoknya setiap kota selalu saja ada daerah yang enak buat 
pejalan kaki baik itu dewasa maupun anak-anak 

Lengkapnya di : http://rachmad. kuyasipil. net/?p=230

Salam

RM

 


      

Kirim email ke