Rekan Aby dan Pak Onnos,

Pak Onnos dengan tepat mengatakan bahwa Penataan Ruang  merupakan salah satu
pendekatan untuk meminimalkan kerusakan  lingkungan. Kemudian pembangunan
ekonomi perlu diintegrasi kan dengan masalah lingkungan. Lha.. yang jadi
persoalan, sejak dulu kan soal efektivitasnya, bahkan teman-teman dari dulu
mempertanyakan apakah Tata Ruang itu mengakomodasikan kondisi yang ada
(karena begitu banyaknya Tata Ruang harus direvisi, eg. Pantai Kapuk)
ataukah sebagai kerangka yang menjadi referensi bersama yang harus dipatuhi?

Rekan Eko Budi beberapa waktu lalu ada menyebut Lefebvre, sosiolog
dan filosof  Prancis yang terkenal dengan pemikirannya dalam "Production of
Space". Lefebvre mengatakan bahwa wujud space dipengaruhi oleh dua hal yang
saling berkaitan yaitu kekuasaan (power) dan identitas. Ada tiga bentuk
space menurut Lefebvre,yaitu "spatial practice", "representation of space"
dan "space of representation". Spatial practice menyangkut perilaku
masyarakat menurut kebiasaan dan adat istiadat, sementara "representation of
space" adalah persepsi tentang nilai space. Perspektif kapitalis melihat
ruang kota adalah tempat untuk akumulasi kapital, jadi buatlah hypermarket,
rumah mewah,  lapangan golf, dll atau, ekploitasi saja hutan. Untuk itu
perlu hegemoni kekuasaan.

Lha, kalau kekuasaan dan kebijakan kapitalistik beranggapan bahwa hutan
ataupun space kota adalah instrumen untuk mengakumulasikan kapital,
pertanyaan, tata ruang itu mau ideal untuk sustainable development ataukah
mengakomodasikan kekuasaan yang ingin membentuk "representation of space".

Kalau mau ideal, apakah "spatial practice" dan "space of representation"
sebagai identitas masyarakat sudah diakomodasikan?  Mungkin kira-kira begitu
argumentasinya.

Lepas pandangan Lefebvre yang kental dengan perspektif Marx, rasa-rasanya
sih, jika di mata kekuasaan "ruang" adalah instrumen untuk mengakumulasikan
kapital, tanpa memperhatikan identitas, kita masih akan tetap berdebat nggak
habis-habisnya...dengan argementasi yang itu itu juga.. Mau bikin
institusi? Who will be those people in the institution?
Sekedar menghangatkan suasana di bulan Ramadhan, bulan penuh perenungan,
bulan penuh ampunan, semoga kita menjadi lebih baik lagi.

Wassalam,

Nuzul Achjar

Kirim email ke